Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 170


__ADS_3

“Makasih yah tante...” Ujar elo sambil mengusap air matanya setelah jeny membersihkan luka dan mengobatinya.


“Sama sama elo..” Jawab jeny tersenyum manis.


Sarah yang sedari tadi hanya diam memperhatikan ikut tersenyum. Wanita itu merasa lega sekarang karna putranya sudah tidak lagi menangis kesakitan.


“Makasih ya jen..” Katanya pelan.


Jeny menoleh. Wanita cantik dengan rambut di kuncir tinggi itu tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Sama sama kak.” Jawabnya.


Sarah kemudian terdiam. Sarah tidak menyangka bisa masuk ke klinik jeny.


“Kalau boleh aku tau kenapa elo sampai bisa terluka seperti ini kak?” Tanya jeny menatap sarah.


Sarah terdiam. Wanita itu mendekat pada putranya kemudian menghela nafas. Dan entah perasaan jeny saja atau memang benar, tapi jeny melihat kedua mata sarah berkaca kaca.


“Elo jatuh saat naik sepeda tadi..” Jawab sarah dengan suara seraknya.


Jeny mengeryit.


“Jatuh dari sepeda?” Tanya jeny memastikan.


Sarah menganggukan kepalanya. Dan tanpa sadar air mata jatuh menetes membasahi pipinya. Namun dengan cepat sarah langsung mengusapnya.


Jeny menatap sarah dalam diam. Rasanya tidak mungkin jika elo jatuh dari sepeda. Kalaupun iya sarah tidak mungkin melarikanya ke klinik jeny.


“Elo jatuh kalna kejal mobil papah tante. Bukan kalna jatuh dari sepeda.” Kata elo jujur.


Kedua mata jeny mendelik sempurna. Berlahan kepalanya menggeleng tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh anak kecil itu.


Jeny menghela nafas. Wanita itu menatap sisi yang masih diam dengan membawa nampan.


“Mbak sisi tolong bawa elo main yah..” Senyum jeny meminta tolong pada sisi.


Sisi menganggukan kepalanya. Gadis itu kemudian menggendong elo dan membawanya berlalu dari hadapan jeny dan sarah.

__ADS_1


Jeny menyuruh sarah untuk duduk di sofa. Bukan bermaksud untuk ikut campur. Tapi jeny tidak tega jika kekerasan dalam rumah tangga sampai mengorbankan anak. Jeny tidak mau jika ada korban lagi setelah fani karna ketidak harmonisan rumah tangga dan keegoisan suami istri.


“Kakak bisa cerita sama aku kalau mau.” Senyum jeny menatap sarah yang terus menangis dalam diam.


Sarah menggelengkan kepalanya. Air matanya menangis begitu deras menyebrangi pipinya.


“Lorenzo...”


Jeny mengeryit bingung saat tiba tiba sarah membawa nama lorenzo dalam tangisnya.


“Dia.. Hiks hiks. Dia papahnya elo jen.. Dia suami aku..” Lanjut sarah dengan badan bergetar hebat karna isak tangisnya.


Jeny terdiam. Jeny tidak pernah tau bahwa lorenzo sudah menikah. Apa lagi dengan sarah. Yang jeny tau lorenzo masih sendiri karna dulu hampir setiap hari lorenzo menghampiri jeny dan tidak pernah absen mengajaknya jalan jalan.


“Tapi.. Sejak kapan?” Tanya jeny tidak percaya.


“Sejak lulus kuliah jen.. Pernikahan kami di rahasiakan. Dan lorenzo tidak pernah mau mengakui aku sebagai istrinya.” Jawab sarah.


“Tapi kak lorenzo...”


“Dia memang menutupi semuanya dari dunia luar jeny. Kakek dan neneknya bahkan tidak di beri tahu apa lagi kamu...” Sela sarah masih terus menangis.


Sampai menjelang malam jeny terus memikirkan apa yang di katakan sarah. Ucapan sarah seperti pukulan keras untuknya. Kenyataan bahwa lorenzo adalah papah kandung elo membuat jeny tidak bisa melupakan tangis anak kecil itu.


Sisi yang melihat jeny hanya diam sambil menatap hidangan makan malam di depanya merasa bingung. Wanita itu terus diam dan sama sekali tidak menyentuh makanan yang ada di piring di depanya.


“Ibu kenapa bi?” Tanya sisi bingung.


“Bibi juga nggak tau si... Sejak siang tadi ibu memang terus diam. Ibu bahkan tidak habis saat makan siang.” Jawab bibi.


Tiba tiba sisi teringat pada sosok sarah. Sisi ingat bagaimana wanita itu menangis ketika anaknya mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Namun setelah itu jeny malah meminta tolong padanya untuk membawa anak kecil itu bermain.


“Bi tadi..”


“Aku pulang...”


Suara tomy membuat jeny menolehkan kepalanya cepat. Wanita itu langsung bangkit dari duduknya kemudian berlari menghampiri dan langsung memeluk tubuh tegap tomy erat.

__ADS_1


“By.. Hiks hiks hiks.”


Senyum tomy langsung sirna. Perasaan bahagianya langsung berubah menjadi perasaan khawatir karna tiba tiba jeny menangis dalam pelukanya.


“Sayang.. Kenapa?” Tanya tomy sambil membalas pelukan erat istrinya.


Jeny menggelengkan kepalanya. Wanita itu sungguh sangat merasa bersalah pada sarah. Bagaimana mungkin jeny menerima ajakan lorenzo sebelum tomy pulang. Dan jeny merasa secara tidak langsung sudah sangat menyakiti sarah. Meskipun tanpa di sengaja.


“Sayang.. Ada apa? Kenapa kamu nangis? Apa ada yang nyakitin kamu?”


Jeny menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan jeny. Bukan dirinya yang di sakiti tapi dirinya yang menyakiti.


Tomy menghela nafas. Pria itu menatap sisi dan bibi yang hanya diam saja. Tomy bertanya kenapa dengan jeny pada bibi dan sisi namun keduanya malah menggelengkan kepala pertanda tidak tau dengan apa yang terjadi pada jeny.


Sekali lagi tomy menghela nafas. Tomy kemudian mengangkat tubuh jeny dan membawanya naik ke lantai atas.


Sesampainya di lantai 2 tepatnya di kamarnya tomy langsung membaringan jeny di atas ranjang.


“Sayang kamu kenapa? Ada yang sakit? atau kamu mau aku belikan sesuatu?” Tanya tomy sambil mengusap lembut pipi basah jeny.


Jeny kembali menggelengkan kepalanya. Bukan maksud jeny untuk menyakiti sarah. Jeny benar benar tidak tau bahwa lorenzo sudah menikah saat itu.


“Ya tuhan...” Gumam tomy bingung.


Tomy meraih tubuh jeny dan memeluknya penuh sayang. Pria itu membiarkan jeny menumpahkan segala rasanya lewat tangisanya. Tomy dengan sabar menunggu sampai jeny berhenti menangis dan mau menceritakan semua padanya.


Hampir 20 menit jeny terus saja menangis. Air mata wanita itu bahkan sampai mengotori dan membashi kemeja putih tomy.


“Sayang.. Sekarang kamu tarik nafas dalam dalam terus hembuskan dengan pelan..”


Jeny mengikuti apa yang di katakan tomy dengan tetap memeluk erat pinggang pria tampan itu.


“Sekarang kamu tenangkan hati kamu terus pelan pelan coba kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi..” Lirih tomy sambil mengusap lembut lengan jeny.


Jeny memejamkan matanya. Sarah sama sekali tidak menyalahkanya dan itu membuat rasa bersalah jeny justru semakin besar. Sarah bahkan tidak pernah mendatanginya dan marah padanya. Sarah memendam semuanya seorang diri. Menghadapi ke egoisan dan kekasaran lorenzo. Padahal mereka masih tinggal dalam satu kota. Tapi sekalipun sarah dan jeny tidak pernah bertemu. Terakhir bertemu adalah saat sarah mengatakan habis makan siang bersama tomy.


“By.. Aku jahat.. Aku nyakitin kak sarah..” Lirih jeny dengan suara bergetarnya.

__ADS_1


“Sstt.. Sayang jangan nangis lagi. Kamu nggak jahat sayang.. Kamu wanita yang baik. Ceritakan pelan pelan yah...”


__ADS_2