
“Halo, adikku sayang.”
Jeny mengeryit bingung mendengar tomy yang bahkan memanggil maria dengan sebutan adikku sayang. Entah rencana apa yang di pikirkan suaminya saat ini. Tapi jeny merasa aura dingin dan kejam suaminya sangat terasa hingga membuat jeny merasa merinding.
“Kakak panggil aku sayang?” Tanya maria dengan nada gembiranya di seberang telephone.
Tomy meraih tubuh istrinya dan mendekapnya erat. Pria itu seakan sedang mendinginkan kepalanya yang terasa panas mendengar suara memuakan maria dengan cara mendekap tubuh istrinya mencari ketenangan dengan menghirup aroma khas mawar dan vanilla yang menguar dari tubuh mungil jeny.
“Ada apa susan?” Tanya tomy dengan nada sedikit menekan.
“Emm.. Kak, malam ini aku mau main ke rumah kakak, boleh?”
Tomy mencium kening jeny lembut. Tomy tidak akan bisa menahan amarahnya jika melihat maria. Apa lagi setelah melihat rupa menyeramkan adiknya yang tidak lain karna perbuatan maria.
“Aku mau ajak kakak ke rumah mamah sama papah. Kita jenguk papah sama sama.” Lanjut maria.
“Maaf susan, aku sibuk malam ini.” Balas tomy berbohong.
Maria menghela nafas mendengarnya. Wanita itu kemudian merengek manja pada tomy berharap tomy mau menemaninya menjenguk papahnya. Bukan menjenguk sebenarnya, tapi membuat onar dengan tujuan menumbangkan papah tomy.
Tidak mau lama lama mendengar suara memuakan maria, tomy pun segera memutuskan sambungan telephone itu. Tomy bahkan juga langsung menonaktifkan ponselnya agar maria tidak bisa lagi menghubunginya.
“By...”
Jeny yang masih berada di dekapan tomy mendongak menatap wajah tampan suaminya yang tampak sedang memikirkan masalah yang di hadapinya.
“Ya sayang..” Saut tomy menempelkan keningnya dengan kening jeny.
Jeny terdiam sesaat. Jeny tidak mau suaminya terus terbebani dengan masalah yang sedang di hadapinya. Jeny tidak mau suaminya menjadi sakit jika terlalu memikirkan tentang maria.
“Boleh aku tanya sesuatu?” Tanya jeny berniat mengalihkan topik pembicaraan mereka tentang maria yang tentu membuat pusing kepala.
“Apa itu?” Tanya tomy sedikit memberi jarak wajahnya pada wajah cantik jeny.
Jeny menghela nafas. Jeny berharap caranya berhasil. Bukan tidak mau tomy memikirkan adiknya. Karna meskipun jeny belum mengenal siapa dan bagaimana susan yang sebenarnya tapi jeny yakin susan pasti orang yang baik. Sama seperti tomy dan kedua orang tuanya.
“Hey. Kenapa melamun istriku yang cantik?”
Tomy menoel ujung hidung mancung jeny karna merasa gemas.
__ADS_1
Jeny terkejut. Wanita itu kemudian mengecup singkat pipi terus suaminya. Mungkin sebuah kecupan bisa membuat pikiran suaminya teralihkan dari masalah tentang maria.
“Bagaimana dengan klinikku?” Tanya jeny pelan.
Tomy mengeryit. Tomy sedang tidak memikirkan apapun selain keadaan adiknya yang jauh darinya saat ini.
“Apa aku boleh membukanya kembali?” Tanya jeny lagi.
Tomy menghela nafas. Jika dirinya mengatakan sedang tidak memikirkan apapun selain memikirkan masalah tentang susan, jeny pasti akan salah faham dan menganggap tomy tidak perduli padanya dan hanya memikirkan keluarganya saja. Tapi tomy tidak bisa bohong. Tentang klinik yang di bangunya untuk jeny tomy benar benar tidak punya rencana apapun saat ini. Tomy juga belum tau akan mengizinkan atau melarang jeny membuka kembali kliniknya atau tidak.
“By...”
Tomy tersadar mendengar panggilan lembut jeny. Pria itu tidak tau harus menjawab apa.
Jeny yang melihat kebingungan suaminya pun sebenarnya mengerti. Pikiran suaminya sedang tertuju pada adiknya saat ini. Jeny tidak berniat membuat suaminya semakin merasa terbebani. Jeny hanya sedang mencari perhatian suaminya agar pikiran pria itu sedikit beralih dari masalah berat yang di hadapinya.
“Sayang.. Maaf sebelumnya. Untuk klinik mungkin itu bisa kita bicarakan nanti. Lagian faraz juga masih sangat kecil. Aku juga nggak mau kamu kecapek an. Dan lagi, kalau kamu membuka klinik faraz pasti akan kekurangan perhatian kamu.. Dia masih sangat membutuh semuanya penuh dari kamu sayang.”
Jeny menganggukan kepalanya. Wanita itu mengerti jika suaminya tidak ingin membahas tentang kliniknya. Semua itu tidak lain karna masalah yang sedang di hadapinya yang tentunya sangat penuh dengan misteri.
“Oke kalau begitu.” Lirih jeny mengerti.
“Jangan salah mengerti sayang. Kamu tau kan masalah tentang susan tidak semudah itu.”
Jeny memejamkan sejenak kedua matanya. Rencananya untuk mengalihkan sebentar pemikiran suaminya tidak berhasil.
“Ya. Aku mengerti.” Balas jeny menundukan kepalanya.
Tomy melepaskan dekapanya pada jeny. Kedua tanganya menangkup pipi chuby jeny dengan sangat lembut. Tatapanya mengarah tepat pada kedua manik mata indah jeny yang selalu berhasil menghipnotisnya.
“Sayang.. Aku..”
Ucapan tomy terhenti karna tiba tiba faraz terbangun dan menangis menjerit. Jeny yang terkejut langsung melepaskan tangan tomy dari pipinya dan berlari masuk ke dalam kamarnya meninggalkan tomy di balkon sendirian.
Mendengar tangisan anaknya yang seperti kesakitan, tomy pun ikut berlari menyusul jeny masuk ke dalam kamar mereka.
Jeny langsung menggendong tubuh gempal putranya yang terus saja menangis menjerit. Jeny mengayunya pelan memberitahu pada putranya bahwa dirinya ada di sampingnya namun bayi tampan itu terus menangis. Tidak kehabisan akal jeny pun membawa faraz duduk di tepi ranjang berniat memberikan bayinya asi namun faraz melengos menolak dan tetap menangis.
“Ya tuhan.. Ada apa ini?” Lirih jeny dengan kedua mata berkaca kaca.
__ADS_1
Tomy yang berada disana segera mendekat pada istrinya. Pria itu mencoba menenangkan putranya yang terus menangis dengan menggenggamkan jari besarnya pada tangan kecil faraz.
“Ssstt... Nak, mamah sama papah disini.. Udah yah..”
Jeny meneteskan air matanya. Faraz tidak pernah menangis seperti itu. Kalaupun bangun dan menangis biasanya faraz akan langsung diam saat jeny memberikanya asi.
Tangisan faraz semakin kuat membuat tomy dan jeny semakin khawatir. Bibi dan sisi yang mendengarnya dari lantai bawahpun segera naik ke atas lari tunggang langgang saking khawatirnya.
Tomy terus berusaha menenangkan putranya yang menangis. Pria tampan itu menggoyang goyangkan pelan tanganya yang di genggam faraz mencoba menarik perhatian putra sulungnya. Kedua mata tomy membulat sempurna saat melihat memar merah di lengan putranya.
“Ya tuhan..” Kejutnya panik.
Tomy menatap istrinya yang menangis dalam diam karna ketakutan putranya terus menangis.
“Sayang.. Faraz di gigit nyamuk..” Kata tomy memberitahu.
Tomy menunjukan lengan memerah putranya pada jeny. Tidak mau putranya kenapa napa tomy pun segera mencari obat untuk lengan memerah putranya. Dengan sangat penuh kasih sayang juga khawatir tomy mengoleskan salep pada putranya. Tomy berharap itu bisa meredakan rasa gatal akibat gigitan nyamuk tersebut.
Jeny menghela nafas lega. Jeny mencoba memberikan lagi asinya dan kali ini faraz tidak menolak. Bayi itu langsung melahap dan menyedot kuat asi jeny sampai jeny meringis merasakan perih pada bagian sensitifnya.
“Kenapa sayang?” Tanya tomy khawatir.
Jeny menggelengkan kepalanya menjawab.
“Nggak papa by.” Katanya.
Tomy kemudian mengedarkan pandanya ke seluruh sudut kamarnya. Kedua matanya dengan sangat jelli mengarah ke udara mencari tersangka yang telah berani menggigit dan membuat putranya menangis.
“Kenapa bisa sampai ada nyamuk di kamar kita?”
Jeny mengglengkan kepalanya pertanda tidak tau. Sebelumnya jeny sudah memastikan obat nyamuk selalu menyala. Dan ini kali pertama faraz di gigit oleh serangga terbang itu.
Tomy kemudian menoleh pada bibi dan sisi yang berdiri di ambang pintu.
“Kalian, segera bersihkan kamar ini dan tangkap nyamuk yang menggigit faraz.”
Bibi dan sisi melongo mendengarnya. Bukan karna di suruh membersihkan kamar jeny dan tomy melainkan karna ucapan majikanya yang menyuruh mereka menangkap nyamuk yang menggigit faraz.
“Menangkap nyamuk?”
__ADS_1