
Tomy berdecak menatap dokter axel yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat fani. Tomy sangat yakin pria itu pasti masih bersikeras melarangnya dan jeny untuk menemui fani.
“By? Kenapa? Kok berhenti?” Tanya jeny bingung.
Tomy menoleh dan menatap jeny dengan tatapan datarnya.
“Ada dokter axel di dalam ruang rawat fani.” Jawabnya.
Jeny langsung terdiam. Wanita cantik itu menatap ruang rawat jeny. Pintunya tertutup rapat. Mungkin apa yang di katakan suaminya benar. Ada dokter axel di dalam sana.
“Gimana? Mau lanjut atau berhenti aja?” Tanya tomy.
Jeny tidak langsung menjawab. Dokter axel memang pasti akan sangat melarang nya dengan keras untuk menemui fani. Tapi bagaimanapun juga jeny merasa harus tetap tau bagaimana keadaan gadis kecil itu. Jeny sangat mengkhawatirkanya. Dan jeny sangat ingin melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa gadis kecil itu sudah baik baik saja.
“Kalau nggak jadi sekarang aku ke kantor.” Lanjut tomy.
Jeny mengeryit. Tomy sudah mengatakan akan menemaninya hari ini untuk menjenguk fani. Tapi tiba tiba tomy bilang akan ke kantor.
“Ke kantor? Kamu kan udah bilang tadi mau nemenin aku jenguk fani?” Tanya jeny menatap wajah datar tomy.
“Ya kan ada dokter axel. Kamu juga mau kerja. Terus aku ngapain? Duduk santai liatin kamu mondar mandir kerja begitu?”
Jeny menggelengkan kepalanya. Jeny sudah izin pada pihak rumah sakit untuk menambah cutinya sehari. Dan tentang dirinya yang membawa jas khas dokternya adalah agar jeny bisa leluasa menemani fani.
“Tomy kamu...”
“Aku ke kantor dulu..” Sela tomy.
Tomy langsung berlalu setelah menyela ucapan jeny. Tomy benar benar tidak habis pikir dengan jeny. Wanita itu jelas jelas masih terlihat lemah bahkan wajahnyapun terlihat pucat saat bangun tidur pagi tadi. Tapi dengan keras kepalanya jeny tetap bersikukuh untuk bekerja.
“Tomy tunggu !!”
Seruan jeny berhasil menghentikan langkah jeny. Jujur tomy tidak ingin bertengkar dengan istri tercintanya itu. Tapi keras kepala jeny benar benar membuatnya jengkel pagi ini.
Jeny buru buru mendekat pada tomy. Wanita itu menatap serius wajah tampan suaminya dari samping. Tomy sama sekali tidak mau menatapnya.
“Kenapa?” Tanya tomy dengan wajah datar.
“Aku cuti lagi hari ini.” Kata jeny.
__ADS_1
Tomy menolehkan kepalanya cepat. Pria itu menatap jeny yang juga mendongak menatap wajahnya bingung.
“Tapi kamu..”
“Aku nggak kerja hari ini. Dan aku.. Aku mau berhenti bekerja seperti yang kamu inginkan.” Sela jeny.
Tomy terdiam. Dirinya tidak bisa berkata apapun pada jeny yang tiba tiba saja mengatakan hal yang sama sekali tidak pernah terbesit di benak tomy.
Tomy pikir jeny sangat mencintai profesinya dan jeny tidak mungkin mau menuruti keinginanya.
“Jeny.”
Suara berat lorenzo berhasil membuat tomy dan jeny menoleh.
“Kak lorenzo..” Gumam jeny tidak percaya.
Jeny pikir lorenzo sudah berhenti mengejarnya. Namun ternyata pria bermata sipit itu masih bersikukuh mengejarnya.
“Ya.. Ini aku..” Senyum lorenzo menatap jeny.
Tomy berdecak. Pria tampan itu tiba tiba teringat dengan berkas yang sempat di berikan reyhan padanya. Tomy sama sekali belum sempat membacanya.
Jeny hanya diam saja. Entah harus bagaimana caranya jeny menjauh dari lorenzo. Pria itu selalu ada dan mengejarnya kemanapun dirinya pergi.
Sedangkan tomy, pria itu masih tetap diam dan menunggu respon jeny dengan apa yang baru saja di katakan oleh lorenzo.
“Beri aku kesempatan untuk membuktikan semuanya jen.. Aku akan menjadi yang terbaik untuk kamu juga anak yang berada di dalam kandungan kamu.”
Kedua tangan tomy langsung mengepal erat. Rahangyapun mengeras mendengar apa yang baru saja lorenzo katakan.
Bagaimana tidak? Lorenzo seperti sedang menyudutkanya sebagai suami yang tidak baik untuk jeny.
“Kak.. Aku bener bener nggak bisa.. Apapun alasan kakak.. Aku nggak bisa nerima dan membalas perasaan kakak.. Aku sudah punya tomy.” Balas jeny.
Lorenzo tersenyum lagi. Pria itu kemudian melangkah mendekat pada jeny dan berdiri tepat di depan tomy dan jeny.
“Aku tidak akan bosan menunggu jen.. Sampai kamu luluh dan menjadi milik aku seutuhnya.” Katanya lagi.
Kepalan tangan tomy semakin mengerat di kedua sisi tubuhnya. Lorenzo sepertinya benar benar menantangnya.
__ADS_1
“Cukup !” Tegas tomy.
Lorenzo beralih menatap tomy kemudian tersenyum sinis.
“Kenapa? Anda takut? Anda takut saya berhasil menguasai hati jeny?” Tanya lorenzo meledek tomy.
Jeny yang berada di samping tomy menoleh. Wanita itu tau suaminya sedang berusaha menahan emosinya pada lorenzo. Di sentuhnya lembut kepalan tangan tomy. Jeny mengusapnya pelan berusaha untuk meredam amarah yang sedang menguasai suaminya.
“Kita pulang yah..” Ajak jeny pelan.
Tomy menghela nafas. Pria itu kemudian menoleh pada jeny yang sedang tersenyum menatapnya.
“Aku capek..” Rengek jeny manja.
Tomy menelan ludahnya. Tidak bisa di pungkiri sentuhan lembut jeny di tanganya memang berhasil membuat nya merasa sedikit tenang. Amarah yang menguasainya pun berlahan mulai mereda.
“Oke.. Kita pulang.” Angguk tomy setuju.
Tomy menggandeng tangan jeny kemudian membawa wanita cantik itu berlalu begitu saja melewati lorenzo.
Lorenzo menghela nafas. Lorenzo tidak akan menyerah. Selama jeny belum menjadi miliknya lorenzo akan tetap berusaha.
“Aku nggak akan nyerah jen.. Apapun caranya aku akan terus berusaha merebut kamu dari tomy..” Gumam lorenzo menatap tomy dan jeny yang berlalu meninggalkanya.
Tidak jauh di belakang lorenzo dokter axel berdiri. Pria itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum sinis mendengar gumaman lorenzo. Dokter axel tidak munafik, dia mengakui tomy dan jeny adalah orang yang baik. Buktinya mereka mau mengambil resiko demi untuk membuat fani bahagia.
“Berusaha merebut milik orang lain adalah perbuatan seorang yang jahat.” Katanya sambil melangkah mendekat pada lorenzo yang berdiri membelakanginya.
Lorenzo langsung membalikan tubuhnya. Pria itu mengeryit menatap dokter axel yang sama sekali tidak di kenalnya.
“Apa maksud anda?” Tanya lorenzo mengangkat sebelah alisnya menatap dokter axel bingung.
Dokter axel menghela nafas. Jeny sudah sangat baik pada putrinya. Jeny juga selalu menghibur dan menemani fani di saat gadis kecil berkepala botak itu merasa kesepian.
“Dokter jeny juga pak tomy adalah sahabat saya. Dan apapun masalah mereka itu juga akan menjadi masalah saya.”
Lorenzo masih tidak mengerti dengan maksud dokter axel. Setahunya jeny hanya dekat dengan dokter wanita yang bernama rani.
“Jadi saya peringatkan pada anda untuk tidak macam macam.” Kata dokter axel memperingati.
__ADS_1
Dokter axel berlalu dari hadapan lorenzo setelah itu. Dokter axel yakin apa yang di lakukanya sudah benar. Jeny dan tomy sudah begitu baik pada putrinya. Dan menurut dokter axel dengan melindungi hubungan mereka dari lorenzo adalah cara yang baik untuk membalas keduanya.