Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 221


__ADS_3

“Elo, jangan kebanyakan ngajak papah ngobrol dulu yah.. Kan papah masih sakit..” Ujar angel tersenyum menatap putranya yang duduk di kursi di samping brankar tempat lorenzo berbaring.


Elo memang terlihat sangat antusias mendapati lorenzo yang tidak pergi jauh darinya. Anak kecil itu selalu mengajak lorenzo mengobrol tentang nilainya di sekolah bahkan sampai memberitahu tentang teman temanya yang nakal, yang cengeng, juga yang paling pintar di kelasnya.


Sedang lorenzo, Pria itu hanya diam seperti patung dengan tatapan datarnya. Lorenzo sama sekali tidak menanggapi setiap apa yang di katakan oleh putra sulungnya itu.


“Tapi mah... Elo belum selesai celita sama papah.. Elo juga belum kasih tau papah kalau hali ini nilai olahlaga elo 9..” Kata elo dengan nada cedalnya.


Sarah tersenyum. Wanita cantik itu melirik lorenzo yang terus saja diam dengan tatapan datarnya. Sedari tadi elo terus saja mengoceh namun lorenzo sama sekali tidak menanggapi. Hal itu membuat sarah merasa kasihan pada putranya. Lorenzo terus mengabaikan elo yang dengan setia selalu menjenguknya sepulang sekolah seperti siang ini misalnya.


“Papah memang bagian mananya yang sakit? Papah di cubit sama om tomy yah sampe papah sakit begini? Tenang pah nanti kalau elo ketemu om tomy elo balesin cubit om tomy..”


Lorenzo tersenyum tipis tanpa sadar. Pria sipit itu baru menyadari kelucuan dan kepintaran putranya.


“Nggak usah. Papah nggak papa.” Balasnya menatap elo.


Sarah yang melihatnya terdiam. Seminggu mendampingi lorenzo di rumah sakit baru kali ini sarah mendengar suaranya. Biasanya pria itu terus saja diam dengan tatapan lurus ke depan serta ekspresi datarnya. Dan tadi lorenzo bersuara dengan senyuman tipis di bibirnya menolak ajuan balasan untuk tomy pada elo.


“Elo sudah yah.. Biarkan papah istirahat yah.. kita pulang dulu.. Kamu kan juga harus bobo siang..” Senyum sarah meraih tas elo yang berada di atas sofa seberang brankar lorenzo.


Elo menghela nafas. Wajahnya terlihat sendu. Elo tidak pernah bisa menceritakan apapun pada lorenzo. Maka dari itu elo memanfaatkan kesempatan bertemu berkali kali dengan lorenzo untuk menceritakan apapun yang dia alami.


“Tapi elo masih mau disini mah.. Boleh tidak elo bobo siangnya disini aja? Di sofa juga nggak papa kok mah.”


Lorenzo melengos mendengarnya. Pria itu merasa sangat tidak pantas mendengar penuturan putranya. Lorenzo sudah sangat keterlaluan pada elo sehingga merasa tidak pantas mendapat perhatian dari anak sulungnya itu.


Sarah menghela nafas. Wanita itu tau lorenzo pasti bosan mendengar ocehan putranya. Apa lagi sekarang keadaanya sedang tidak baik baik saja. Lorenzo juga pasti merasa terganggu dengan kehadiran elo.


“Nak.. Papahnya masih sakit..”


“Mah.. Elo kan nggak pelnah bisa temenin papah sepelti sekalang ini.. Elo juga nggak pelnah bisa celita ini itu sama papah.. Elo cuma mau punya waktu banyak sama papah..”

__ADS_1


Sarah menghela nafas. Wanita itu tau putranya memang sangat mendambakan kasih sayang lorenzo. Tapi sepertinya semua keinginanya untuk terus bisa bersama lorenzo sangat susah untuk di raih. Lorenzo sama sekali tidak pernah mengharapkanya. Padahal anak itu adalah darah dagingnya sendiri. Meskipun memang kehadiranya karna sebuah kesalahan.


“Elo..”


“Kamu bisa bobo disini kalau mau. Nggak usah di sofa.”


Ucapan sarah terhenti ketika tiba tiba lorenzo menyela. Pria bermata sipit itu bahkan dengan susah payah menggeser tubuhnya sendiri memberi tempat pada elo untuk berbagi tempat tidur dengan anak kecil itu.


“Benelan papah?” Tanya elo antusias.


“Ya.” Jawab lorenzo tersenyum tipis sambil menepuk pelan tempat di sampingnya.


Sarah terdiam. Rasanya seperti mimpi melihat lorenzo mau berbicara bahkan berbagi tempat dengan putranya. Biasanya pria itu selalu menghindar bahkan sempat memarahi elo yang selalu mengejarnya jika ingin pergi.


“Tapi papah nggak bakal malah malah kan nanti sama elo?”


Pertanyaan elo membuat senyuman tipis di bibir lorenzo langsung sirna. Lorenzo menghela nafas kemudian menggelengkan kepalanya.


“Tidak.” Jawabnya lirih.


“Elo boleh peluk papah?”


Mencari kesempatan dalam kesempitan itulah yang sedang di lakukan elo. Anak kecil itu sepertinya tidak ingin menyia nyiakan sikap lorenzo yang sedang baik padanya.


“Em.. Ya. Boleh.” Angguk lorenzo.


Sarah tidak bisa mengatakan apapun melihatnya. Lorenzo pasrah saat di peluk oleh elo itu sangat langka. Dari elo baru lahirpun lorenzo tidak mau menyentuhnya. Tapi sekarang pria itu bahkan rela berbagi tempat dengan anaknya.


“Ya tuhan..” Lirih sarah tersenyum haru melihat kebersamaan putra dan suaminya.


Ocehan elo terus berlanjut. Meskipun lorenzo hanya menanggapinya dengan senyuman tipis tapi sarah dapat dengan jelas melihat kebahagiaan yang terpancar dari tatapan mata putranya.

__ADS_1


Tidak mau mengganggu waktu putra dan suaminya bersama, sarah pun dengan pelan melangkah keluar dari ruang rawat lorenzo. Sarah akan menunggu di luar. Dan sarah yakin kali ini lorenzo tidak akan menyakiti putranya.


Sarah menatapa 2 body guard berbadan besar bernama bisma dan roy. Mereka adalah body guard suruhan tomy yang di utus untuk menjaga ketat ruang rawat lorenzo. Sarah paham dan mengerti. Perbuatan suaminya memang sudah sangat di luar batas. Dan sarah tidak keberatan dengan apa yang di lakukan tomy. Lorenzo sudah bersalah dan lorenzo harus menanggung hukuman atas apa yang di perbuatnya selama ini.


“Pak lorenzo sudah siuman dari seminggu yang lalu pak.” Kata reyhan memberitahu tomy yang duduk di seberangnya.


“Biarkan dia sembuh dulu. Tapi tetap perketat penjagaanya. Jangan lengah.” Balas tomy tegas.


“Baik pak. Kalau begitu saya permisi.” Angguk reyhan.


“Ya.”


Reyhan bangkit dari duduknya kemudian berlalu dari hadapan tomy dan meninggalkan bos besarnya duduk sendiri di ruang tamu.


“Kenapa by?” Tanya jeny yang muncul dari dalam dengan membawa sepiring potongan buah apel dan buah naga di tanganya.


Tomy menoleh kemudian tersenyum. Pria tampan itu menepuk pelan tempat di sampingnya mengisyaratkan agar jeny duduk di sampingnya.


Jeny yang mengerti maksud suaminya tersenyum kemudian melangkah pelan dan mendudukan dirinya tepat di samping tomy.


“Reyhan bilang lorenzo sudah sadar.” Kata tomy.


Jeny berhenti mengunyah buah apel yang sedang di makanya. Wanita cantik itu menoleh menatap suaminya.


“Lalu?” Tanyanya pelan.


“Aku akan tetap memproses semuanya.” Jawab tomy.


Jeny menganggukan kepalanya setuju. Lorenzo memang harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanya.


“Sayang.. Kamu tidak keberatan kan?” Tanya tomy menatap jeny.

__ADS_1


Jeny mengeryit bingung. Wanita cantik itu kemudian meraih sepotong buah apel dan menyuapkanya pada tomy dengan lembut.


“Kalau aku mempunyai kekuatan seperti wonder woman aku mungkin juga akan membalaskan luka kamu dengan tanganku sendiri pada lorenzo.”


__ADS_2