Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 290


__ADS_3

Susan keluar dari kamar yang di tempatinya di lantai 1. Wanita dengan wajah cacat itu tersenyum saat menatap jam yang menunjukan pukul 18:15 WIB.


“Waktunya masak untuk makan malam nih..” Gumamnya tersenyum senang.


“Susan.”


Susan mengurungkan niatnya untuk melangkah ketika mendengar suara tomy memanggilnya. Wanita itu menoleh ke arah sumber suara tepatnya ke arah tangga dimana tomy berdiri dengan menggendong faraz.


“Kakak..” Senyum susan senang kemudian mendekat pada tomy.


“Ini faraz ya kak? Aku belum sempet ketemu tadi siang.. Boleh tidak aku gendong?”


Tomy tersenyum mendengarnya. Inilah susan yang sebenarnya. Susan yang lemah lembut juga penuh kasih sayang pada anak kecil.


“Memangnya kamu bisa gendong bayi?” Tanya tomy tersenyum menatap adik satu satunya itu.


“Bisa dong..”


“Ya udah.. Tapi kamu hati hati banget yah.. Faraz masih sangat kecil soalnya..” Kata tomy kemudian menyerahkan faraz pada susan.


“Kakak tenang aja, susan sudah biasa gendong bayi kok. Susan bahkan pernah membantu orang bersalin tau.”


Dari belakang tomy dan susan jeny mendengarnya. Wanita itu benar benar merasa semakin tidak ada apa apanya di banding susan. Susan memang sudah terlihat begitu lihai dalam segala hal.


“Tadi kamu mau ngapain dek?” Tanya tomy menatap susan yang terus tersenyum menatap faraz di gendonganya.


“Oh tadi.. Tadi niatnya aku mau ke dapur kak.. Ini kan udah waktunya masak buat makan malam. Siapa tau di dapur ada yang butuh bantuan aku kan?” Jawab susan santai.


Jeny menelan ludahnya. Susan benar benar wanita yang sempurna menurutnya. Sangat jauh berbeda darinya yang tidak bisa melakukan apapun.


“Kamu nggak usah repot repot dek.. Udah ada mbak sisi dan bibi yang masak.. Masakan mereka enak banget loh..”


Jeny merasakan sesak di dadanya mendengar pujian tomy pada bibi da sisi. Jeny berpikir andai pujian itu tertuju untuknya pastilah jeny akan sangat merasa bahagia juga bangga, tidak sedih seperti saat ini.


“Mbak sisi? Bibi? Kayanya aku belum ketemu sama mereka ya kak?” Tanya susan.


“Ya. Kan kamu langsung istirahat dari siang. Mereka itu asisten rumah tangga disini. Mereka berdua sangat baik sama aku juga jeny.. Makanya kami sudah menganggap mereka seperti keluarga.” Jawab tomy.


Susan menganggukan kepalanya. Kakaknya adalah orang yang sangat baik. Tidak heran jika banyak kebaikan pula yang mengelilinginya. Salah satunya adalah keberuntunganya memiliki istri seperti jeny.


“Eemm.. Ya udah kak kalau begitu aku ke dapur aja kali yah buat kenalan sama bibi juga mbak sisi.. Nanti tapi aku gendong faraz lagi..” Kata susan sambil menyerahkan faraz pada tomy kembali.

__ADS_1


“Eh dek.. Kakak udah bilang sama reyhan supaya bawa maria kesini setelah makan malam. Kamu siapkan?”


Susan tersenyum kemudian menganggukan kepalanya.


“Ya kak. Kapanpun aku siap.”


“Oke..” Angguk tomy tersenyum lega.


Susan berlalu dengan cepat menuju dapur setelah itu. Wanita itu berniat membantu juga berkenalan dengan kedua asisten rumah tangga di rumah sang kakak.


Tomy menghela nafas dengan senyuman di bibir tipisnya melihat punggung susan. Tomy merasa sangat lega sekarang. Adiknya sudah berada di sisinya dengan keadaan baik baik saja. Meskipun memang tomy selalu merasa kasihan melihat wajahnya yang rusak akibat ulah maria.


Tomy hendak berlalu saat pandanganya tidak sengaja tertuju pada kaca berukuran sedang yang menempel di dinding. Saat itu tomy mendapati istrinya yang berdiri tidak jauh darinya tepatnya di tengah tangga. Tomy yakin jeny bukan baru disana. Dan tomy juga yakin jeny pasti mendengar percakapanya dengan susan tadi.


Tomy tertawa pelan. Istrinya memang terlihat sedikit berbeda hari ini. Jeny banyak terdiam dan cenderung lebih suka di kamar seperti sedang menghindari sesuatu. Dan sebagai seorang yang tidak bodoh tomy bisa membaca cara pemikiran istrinya yang memang terlihat khawatir juga was was.


“Kamu menguping sayang?” Tanya tomy yang berhasil membuat jeny terkejut.


Kedua mata jeny membulat sempurna. Wanita itu tidak menyangka jika suaminya bisa menyadari kehadiranya.


Tomy kemudian memutar tubuhnya dan tersenyum lembut menatap istrinya yang tampak jelas sekali terkejut dan mematung di tempatnya berdiri.


Jeny menelan ludahnya. Malu sekali rasanya karna ketahuan menguping pembicaraan suaminya dengan adik iparnya. Kesanya seperti jeny sedang tidak mempercayai suaminya sendiri.


Pelan pelan jeny melangkah menuruni anak tangga. Wanita itu mendekat pada suaminya yang menunggunya dengan menciumi wajah tampan putranya.


“Kita ke ruang tengah yah..” Senyum tomy..


“Ya by..” Angguk jeny berkata dengan lirih.


Jeny melangkah lebih dulu menuju ruang tengah dengan tomy yang mengekori di belakangnya. Tomy juga tidak lupa menyuruh istrinya untuk mengunci pintu ruang tengah agar tidak ada seorangpun yang mendengar obrolanya dengan jeny.


“Duduk sayangku..” Perintah tomy lembut.


Jeny menurut. Wanita itu mendudukan dirinya di sofa panjang dengan kepala tertunduk.


Tomy menghela nafas melihatnya. Melihat kediaman jeny dengan kepala tertunduk rasanya seperti tomy sedang menyalahkan istrinya.


“Jangan menunduk seperti ini sayang.. Katakan apa yang sedang mengganggu hati dan pikiran kamu.. Aku akan mendengarkanya.”


Jeny memejamkan kedua matanya. Jika pria lain mungkin akan marah karna memergoki istrinya menguping pembicaraanya dengan adiknya. Tapi suaminya, suaminya adalah pria yang baik dan bijaksana.

__ADS_1


“Aku tidak bermaksud menguping. Aku hanya tidak sengaja mendengarnya.”


“Bukan itu yang aku tanyakan sayang. Yang aku tanya apa yang mengganggu kamu?”


Jeny tidak tau harus bagaimana mengatakanya. Meskipun memang suaminya sangat mengerti dirinya tapi tomy juga pasti akan marah jika tau jeny mempunyai pikiran yang tidak baik tentang susan adiknya.


“Apa kamu tidak suka pada susan?”


Jeny langsung menegakan kepalanya. Tatapanya menatap tidak percaya pada tomy yang terus berdiri tanpa berniat mendekat padanya.


Jeny menggelengkan kepalanya.


“Bukan by.. Bukan begitu..” Jawabnya lirih.


Tomy tersenyum tipis. Tomy sendiri juga tau wanitanya bukan orang yang seperti itu.


“Lalu?”


Jeny kembali menundukan kepalanya. Mungkin dirinya bisa di katakan merasa minder dan tidak percaya diri dekat dengan susan yang bisa melakukan segala hal sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman saat berada dekat dengan adik iparnya itu.


“Aku.. Aku malu by..” Jawab jeny lirih dengan suara bergetar menahan tangis.


Tomy menghela nafas. Pria itu kemudian mendekat dan mendudukan dirinya tepat di samping jeny.


“Malu kenapa?” Tanya tomy lembut.


Jeny meneteskan air matanya. Seharusnya memang jeny tidak boleh merasakanya. Merasakan malu juga tidak percaya diri yang tanpa sadar juga menimbulkan rasa sedikit tidak suka pada adik iparnya sendiri.


“Aku dan susan.. Kami sangat berbeda.. Susan bisa segalanya. Dia multitalent. Dia juga pandai memasak dan membersihkan rumah.. Sedangkan aku.. Aku tidak bisa apa apa by.. Aku malu..”


Tomy menghela nafas. Satu tanganya terulur menyentuh dagu jeny dan mengangkatnya mengarahkan agar jeny menatapnya.


“Untuk apa malu.. Kamu dan susan memang berbeda. Kamu istri aku dan dia adik aku. Susan bisa segalanya mungkin itu kelebihanya.. Tapi percaya sama aku susan tidak sesempurna yang kamu pikir... Dia juga punya kekurangan. Sama halnya dengan kamu.. Mungkin kekurangan kamu.. Kamu nggak bisa memasak, nggak bisa membersihkan rumah.. Tapi kamu juga punya kelebihan sendiri.. Dan aku.. Aku tidak mempermasalahkan kamu bisa masak atau tidak.. Aku siap menerima semua kekurangan kamu sayang.. Kamu nggak perlu malu.. Kamu harus tetap percaya sama diri kamu sendiri.. Karna nggak semua wanita itu memiliki kelebihan dan kekurangan yang sama.”


Air mata jeny semakin deras menetes mendengar penuturan suaminya. Tomy memang tidak pernah mengomentari apapun kekuranganya. Tomy juga tidak pernah protes meskipun jeny tidak pernah menyuguhkan hasil masakanya untuk tomy.


“Percaya sama apa yang kamu bisa sayang.. Kamu sudah sangat sempurna di mata aku..” Lirih tomy sambil mengusap air mata yang membasahi pipi chuby jeny.


Jeny menganggukan kepalanya. Jeny memang tidak seharusnya memiliki pemikiran seperti itu pada suaminya sendiri.


“Maaf..”

__ADS_1


__ADS_2