
Tomy terus merasa bersalah pada kedua orang tuanya. Apa lagi papahnya yang sering sakit karna kondisi jantungnya yang memang tidak selalu stabil. Tapi di satu sisi tomy tidak mungkin mengabaikan pekerjaanya apa lagi jeny.
“Masih mikirin papah sama mamah?” Tanya jeny yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.
Tomy menghela nafas. Pria tampan itu tersenyum menatap istrinya yang sedang menyisir rambut panjangnya. Dan tiba tiba ingatan tomy kembali pada masa masa kuliah dulu dimana jeny suka mengecat rambutnya dengan warna pirang.
“Nggak kok.. Aku lagi mikirin kamu sayang..”
Jeny mengeryit. Wanita cantik itu kemudian menguncir rambut panjangnya rendah dan menoleh menatap tomy bingung.
“Memangnya aku kenapa?” Tanya jeny penasaran.
Tomy menepuk tempat di sampingnya memberi isyarat pada jeny agar mendekat dan berbaring di sampingnya. Kebetulan siang itu adalah jadwalnya jeny istirahat siang dengan di temani oleh tomy.
Jeny melangkah pelan menuju ranjang king zise mereka dimana tomy berbaring santai. Wanita itu dengan sangat pelan naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya menggunakan lengan kekar suaminya sebagai bantal. Begitu jeny berbaring di samping tomy tiba tiba jeny merasakan sesuatu yang terasa melintir di bagian pinggang belakangnya. Wanita itu terdiam sesaat mencoba memahami apa yang sedang di rasakanya.
“Tau nggak sayang.. Liat rambut panjang terus hitam kamu tiba tiba aku jadi ke inget rambut pendek pirang kamu dulu..” Kata tomy dengan di selingi tawa pelanya.
Jeny tersenyum mendengarnya. Gonta ganti gaya dan warna rambut memang menjadi hoby nya dulu.
“Namanya juga ABG by..” Balasnya membela diri.
“Iya sih.. Tapi kalau di pikir pikir kamu tuh dulu sedikit alay tau nggak sayang..”
Jeny mengerucutkan bibirnya mendengar ledekan suaminya. Jeny juga menyadari hal itu sebenarnya. Tapi jeny tidak pernah menganggap dirinya alay. Jeny menganggap masa itu adalah masa dimana jeny mulai mencari jati dirinya sebagai seorang ABG yang menuju dewasa.
“By tapi kan..”
Jeny langsung terdiam ketika kontraksi itu dia rasakan kembali. Jeny memejamkan matanya sejenak. Wanita itu berpikir mungkin itu hanya kram saja.
“Sayang.. Kenapa? Ada yang sakit?” Tanya tomy langsung menoleh menatap khawatir pada jeny yang memejamkan kedua matanya.
Jeny membuka kedua matanya kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Nggak papa by.. Hanya ada rasa ngilu sedikit di bagian pinggang belakang.” Jawab jeny jujur.
__ADS_1
“Ya tuhan.. Sayang.. Pasti kamu kecapek an deh.. Atau nggak kamu naik turun tangga nggak pelan pelan..”
Jeny hanya tersenyum tipis. Wanita itu tau tomy sedang mengkhawatirkanya. Jeny ingin menyangkal bahwa dirinya tidak naik turun tangga hari ini selama tomy pergi tapi jeny merasa tidak perlu. Tomy tidak sedang mengomel padanya. Pria tampanya hanya sedang menunjukan perhatianya.
“Kamu lucu banget sih by.. Aku nggak papa kok..”
Tomy menghela nafas kesal mendengarnya. Jeny selalu saja mengatakan tidak apa apa padahal sebenarnya mempunyai keluhan.
“Yang lucu itu kamu.. Sama suami sendiri kaya sama orang lain.. Apa susahnya sih jen bilang jujur apa yang kamu rasakan..?”
Jeny terkekeh kecil. Dan rasa melintir di pinggang belakang nya terasa lagi membuatnya meringis.
Tomy yang melihat itu semakin merasa khawatir.
“Bagian mana yang sakit sayang?” Tanya tomy menatap jeny.
Jeny langsung memiringkan tubuhnya ke samping kiri. Wanita itu menyentuh pinggang bagian belakangnya dan mengusapnya pelan.
“Pinggang bagian belakang aku agak melintir by..” Katanya.
“Kalau ada yang di rasa itu ngomong sayang.. Jangan diem aja.. Aku ngerti kok gimana rasanya jadi kamu.. Meskipun memang aku tidak bisa merasakanya.”
Jeny tersenyum bahagia mendengarnya. Rasa melintir itu mulai menghilang namun beberapa menit kemudian terasa kembali. Jeny benar benar tidak bisa menahan untuk tidak meringis. Meskipun tomy terus mengusap usap pinggangnya dengan lembut namun rasa melintir di barengi rasa panas itu tetap terasa.
“By.. Ini kok rasanya kadang hilang kadang dateng yah... Melintir sama panas gituh..” Adu jeny pada tomy.
Tomy mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Biasanya jeny langsung terlelap jika dirinya mengusap usap atau memijit pelan pinggang nya.
“Aku telephone dokter sinta ya sayang..?” Tanya tomy dengan wajah cemas menatap jeny dan bangkit dari berbaringnya.
Jeny menggelengkan kepalanya. Wanita itu tidak ingin dokter sinta yang datang tapi kedua orang tuanya.
“Jangan by.. Telephone mamah sama papah aku aja..” Tolak jeny.
“Sayang.. Aku bakalan telephone mamah sama papah... Tapi sebelum itu aku akan telephone dokter sinta dulu.. Ini penting sayang.. Aku takut kamu kenapa napa..”
__ADS_1
Jeny hanya diam saja dan meringis kembali saat rasa melintir itu kembali terasa. Tanpa sadar jeny meneteskan air matanya merasakan itu. Jeny tidak pernah merasakan rasa seperti itu sebelumnya.
“Sebentar sayang..”
Tomy meraih ponsel yang ada di atas nakas kemudian segera mencari kontak dokter sinta dan menghubunginya.
“Halo dokter.. Dokter istri saya merasakan melintir di pinggang bagian belakangnya.. Dan katanya rasa melintir itu kadang hilang dan terasa kembali setelah beberapa menit..” Adu tomy tanpa basa basi pada dokter sinta.
“Baik pak.. Sebaiknya segera bawa bu jeny ke rumah sakit.. Bisa jadi itu tanda tanda mau melahirkan..” Jawab dokter sinta tenang.
“Ya tuhan..” Lirih tomy.
Tomy langsung mematikan telephone pada dokter sinta kemudian beralih menelephone reyhan menyuruh asistenya itu untuk segera datang.
“By.. Kenapa?” Tanya jeny lirih sambil sesekali meringis dan memejamkan kedua matanya.
“Sayang.. Kita ke rumah sakit sekarang..” Kata tomy cepat.
“Tapi mamah by... Ya tuhan..” Lirih jeny lagi dan kembali meringis merasakan melintir yang kini juga di sertai rasa mules di perut buncitnya.
Tidak mau membuang waktu tomy segera membopong tubuh jeny dan membawanya melangkah keluar dari kamarnya dengan sangat buru buru. Tomy menuruni anak tangga dengan berteriak memanggil bibi dan sisi yang saat itu sedang sibuk di dapur menyiapkan makan siang.
“Ya tuhan.. Pak, ibu kenapa?” Tanya bibi yang terkejut melihat jeny yang sesekali meringis di gendongan tomy.
“Ibu mau melahirkan. Bi, mbak, tolong siapkan semua keperluan bayi saya dan ibu.. Jangan lupa sertakan juga baju untuk ibu..” Jawab tomy berusaha tenang meskipun rasa paniknya memang tidak bisa terbendung.
“Baik pak..” Angguk bibi yang langsung berlari menaiki anak tangga menuju lantai 2.
Sedangkan sisi, gadis belia itu berlari ke dapur untuk mematikan kompor yang masih menyala kemudian menyusul bibi untuk membantu menyiapkam apa yang di perlukan tomy.
“By.. Perut aku mulai mules.. Pinggang aku melintir sama panas..” Adu jeny pada tomy yang sedang membawanya melangkah keluar dari rumahnya.
“Ya sayang.. Sabar yah... Kita ke rumah sakit..”
Tomy ingin sekali menangis. Ketakutan yang sangat ingin di hindarinya terjadi. Dan sekarang perjuangan antara hidup dan mati istrinya akan segera di mulai. Jeny akan menpertaruhkan nyawa demi melahirkan anak mereka.
__ADS_1
“Kamu wanita hebat sayang.. Aku percaya sama kamu..” Lirih tomy dengan suara dan bibir bergetar.