Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 110


__ADS_3

Selama beberapa hari mereka berada di amsterdam, tomy benar benar merasakan balasan cinta dari istrinya. Meskipun cara wanita cantik itu sangat langka dalam mengungkapkan perasaanya. Juga jeny yang belum secara langsung mengatakan cinta padanya. Namun semua hal manis yang di laluinya bersama wanita itu baginya sudah sangat cukup. Jeny sudah mau kembali menerimanya saja tomy sudah sangat bahagia.


“Beneran mau pulang nih?” Tanya tomy ketika menuntun jeny naik ke jet pribadinya.


Jeny terkekeh. Masa senang senangnya di negeri kincir angin itu sudah cukup memuaskan untuknya. Dan sekarang jeny harus kembali dengan tugasnya sebagai seorang dokter.


“Memangnya kalau aku merengek meminta menetap disini kamu mau?” Tanya balik jeny tersenyum menatap wajah tampan tomy.


“Eemm.. Nggak deh.. Pulang aja.” Jawab tomy.


Jeny terkekeh mendengar jawaban suaminya. Baginya seindah apapun negeri itu, akan lebih baik jika jeny berada di negerinya sendiri.


“Pelan pelan sayang..” Kata tomy ketika mendudukan jeny di kursi yang lebih pantas di sebut sofa.


“Jangan berlebihan tomy.. Aku nggak akan kenapa napa.” Senyum jeny.


Tomy ikut tersenyum. Mungkin jeny selalu yakin dirinya akan baik baik saja. Tetapi bagaimanapun juga waspada juga penting bagi tomy karna wanita itu sedang mengandung buah hatinya. Dan lagi wanita itu adalah separuh dari jiwa dan raganya.


“I love you..” Bisik tomy sambil mencium singkat pipi chuby jeny.


Kedua pipi jeny langsung merona. Tomy sangat romantis. Sikapnya yang penuh cinta dan kelembutan padanya membuat jeny selalu merasa nyaman dan terlindungi.


“Permisi pak.. Bisa kita terbang sekarang?” Tanya reyhan yang muncul dari depan pintu yang tidak jauh dari tomy juga jeny.


“Oh iya..” Angguk tomy menjawab dengan senyuman di bibirnya.


Reyhan mengangguk. Pria berjambul itu kemudian kembali masuk ke dalam ruangan darimana tadi dia muncul. Reyhan berniat memberitahukan sang pilot agar segera menerbangkan jet mewah itu kembali ke indonesia.


“Sayang...” Panggil tomy meraih tangan jeny dan menggenggamnya lembut.


“Ya..” Saut jeny menoleh.


Jeny mengeryit menatap tomy yang tampak ingin mengatakan sesuatu namun ragu.


“Kenapa suamiku?” Tanya jeny penasaran.


Tomy tersenyum tipis. Jeny memanggil semua orang yang lebih tua darinya dengan sebutan kakak. Mulai dari rani sampai lorenzo. Tapi dari dulu sampai sekarang tomy menjadi suaminya bahkan sebentar lagi akan menjadi ayah dari anak yang di kandungnya jeny sama sekali tidak memiliki panggilan khusus untuknya.


“Ah nggak.. Nggak papa..” Jawab tomy.

__ADS_1


Jeny mengeryit. Rasanya tidak mungkin jika tomy tidak ingin mengatakan sesuatu padanya. Jeny tidak bodoh. Dari ekspresi wajah tampan suaminya jeny tau ada yang yang sedang di pikirkan oleh pria itu.


“Tom... Ngomong aja...” Senyum jeny menumpukan satu tanganya lagi pada tangan tomy yang menggenggam tanganya.


Tomy terdiam. Jeny pasti akan menolak untuk memberikan panggilan khusus padanya. Jeny juga akan menganggapnya kekanak kanakan dan terlalu berlebihan.


“Nggak.. Nggak papa.. Oya sayang.. Kamu capek nggak?”


Jeny mengeryit. Hari ini mereka tidak kemana mana selain mengunjungi keluarga asisten rumah tangga yang membersihkan apartemen tomy untuk memberikan seluruh belanjaanya.


“Aku nggak suka di bohongin loh.. Dan aku bisa ngambek.. Bahkan bisa aduin kamu ke mamah papah.”


Kedua mata tomy mendelik. Jeny sedang mengancamnya.


“Sayang tapi aku beneran.."


“Aku nggak bodoh tomy..” Sela jeny tenang.


Tomy menghela nafas. Tidak mungkin jika tomy mengatakan ingin mempunyai panggilan khusus dari istrinya. Jeny pasti akan menertawakanya.


“Ngomong aja terus terang.. Aku bakal dengerin kok..” Kata jeny lagi.


“Kalau misalnya aku minta sesuatu gimana?” Tanya tomy pelan.


“Akan aku turutin kalau aku bisa.” Jawab jeny mantap.


Tomy terdiam sesaat. Di tatapnya wajah cantik jeny. Wanita itu terlihat sangat manis saat tersenyum.


“Eemm jen.. Kamu kan panggil dokter rani kakak.. Kamu juga panggil lorenzo dengan sebutan kakak.. Tapi kenapa sama aku kamu nggak punya panggilan khusus?”


Senyum di bibir jeny memudar. Jeny memang tidak punya panggilan khusus untuk tomy dari dulu. Itu semua karna jeny sudah terbiasa memanggil nama tomy dari kecil. Dan selama itu juga tomy tidak pernah protes dengan panggilanya. Tomy selalu terlihat nyaman meskipun jeny memanggil namanya langsung.


“Kalau masalah usia.. Aku juga jauh lebih tua dari kamu jen.. Aku juga mungkin lebih tua dari dokter rani.” Sambung tomy.


Jeny menghela nafas. Wanita itu menunduk dan mengusap pelan tangan besar tomy yang masih menggenggam tanganya.


“Memangnya kamu mau aku panggil apa?” Tanya jeny mendongak kembali menatap wajah tampan suaminya.


Tomy menghela nafas. Pria itu tidak ingin di panggil dengan sebutan kakak seperti rani dan lorenzo. Tomy ingin jeny memanggilnya dengan panggilan yang berbeda dan hanya khusus untuknya.

__ADS_1


“Tomy.. Kok diem?” Tanya jeny lagi.


Tomy melepaskan genggamana tanganya pada jeny. Entah kenapa tiba tiba tomy merasa galau dengan pertanyaan jeny. Wanita itu seakan tidak menganggapnya spesial sehingga untuk sebuah panggilan saja jeny balik bertanya padanya.


“Terserah kamu sih mau panggil aku apa. Yang penting jangan sama sama manggil kakak. Aku suami kamu bukan kakak kamu.” Katanya pelan.


Jeny terkekeh geli. Tomy mulai merajuk padanya. Jeny meraih tangan tomy dan kini dirinya yang menggenggam lembut tangan besar pria itu.


“Biar aku pikirkan sebentar.” Senyumnya menatap tomy yang memasang wajah datar.


Jeny terdiam. Wanita itu memikirkan dan sedang mencari panggilan yang pas dan khusua untuk suaminya. Jeny tau tomy juga pasti ingin memiliki panggilan khusus sebagai seorang suami.


“Bagaimana kalau by?” Tanya jeny menatap tomy.


Tomy mengeryit. Panggilan itu terdengar aneh dan sangat pendek. Hanya satu kata saja.


“By? Kan sama sama bibi. Ntar yang ada yang di panggil aku yang datang bibi terus bisa juga sebaliknya. Yang di panggil bibi yang dateng aku.”


Jeny tertawa pelan. Wanita itu merasa sangat lucu dengan apa yang di katakan suaminya.


“Tomy kalau bibi kan pake i kalau by kan pake y.”


“Terus apa maksudnya panggilan by?” Tanya tomy penasaran.


Jeny tersenyum malu. By adalah panggilan singkat baby. Dan jeny merasa malu jika harus mengatakanya pada tomy.


“Udah pokonya aku panggil kamu by aja mulai sekarang yah.. Itu udah paling spesial. Dari pada aku panggil kamu kakak atau bapak.”


Tomy berdecak. Jeny menolak untuk memberitahukan arti panggilan by padanya. Tapi meskipun begitu tomy tetap merasa senang karna jeny mau memanggilnya dengan panggilan yang lain dari pada yang lainya.


“Hhh.. Oke.” Angguk tomy setuju.


Jeny tertawa senang. Wanita itu langsung bangkit dari duduknya kemudian duduk di pangkuan tomy. Jeny juga mengalungkan kedua tanganya di leher tomy dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.


“Sayang.. Ini di pesawat loh..” Kata tomy sambil melingkarkan tanganya di pinggang jeny.


“Aku tau." Balas jeny terus menatap tomy.


“Terus?” Tanya tomy mengangkat sebelah alisnya sedikit mendongak menatap jeny yang sedikit labih tinggi darinya karna duduk di pangkuanya.

__ADS_1


“Aku hanya ingin selalu dekat sama kamu.”


__ADS_2