Cintai Aku

Cintai Aku
Cinta Yang Sama


__ADS_3

Pagi itu Zena sedang menyiapkan sarapan untuk Arcielo, hari ini Arcielo masuk PAUD. putra nya itu cukup pintar, walaupun putra nya baru menginjak usia 3 tahun namun Arcielo sudah memiliki tekad yang tinggi untuk belajar. Bahkan Arcielo sendiri yang meminta Zena untuk mendaftarkan nya ke sekolah PAUD. Menurut Zena, putra nya itu masih terlalu kecil untuk masuk ke PAUD, namun Arcielo ingin sendiri, lagi pula putra nya itu memang sudah tumbuh dengan baik dan pintar, alhasil Zena pun menuruti keinginan putra nya dan membiarkan putra nya untuk belajar di PAUD.


Selesai sarapan, Arcie masuk ke kamar nya lalu mengambil tas nya sendiri, tak lupa Ia juga membawa buku gambar nya sendiri lalu di masukan ke dalam tas. Zena hanya terdiam memperhatikan putra nya itu. Ya, Arcielo memang anak yang mandiri, bahkan Arcielo menyiapkan sendiri buku yang ingin di baca nya nanti di PAUD. Zena masih tak menyangka jika putra nya akan tumbuh dengan baik meski tanpa kasih sayang dari seorang ayah.


Lalu Zena datang menghampiri Arcielo yang kala itu tengah kebingungan sendiri. Arcielo memegang dua buku di tangan nya seraya bingung ingin membawa yang mana. "Ada apa, Arcielo?" tanya Zena duduk berjongkok untuk menyamakan tinggi nya dengan sang putra.


"Ibu, menurut ibu aku harus bawa buku gambar yang mana? Buku yang ini atau yang ini?" pertanyaan polos sang anak membuat Zena tersenyum, karena kedua buku gambar yang di pegang oleh sang putra adalah buku gambar yang sama, hanya saja berbeda warna.


Zena pun balik bertanya. "Arcie suka warna apa? Biru atau merah?" Zena mengajarkan putra nya untuk bisa memilih sendiri sesuai pendapat nya. Zena ingin kelak jika Arcielo tumbuh dewasa nanti, Arcielo bisa membuat keputusan sendiri. Zena juga ingin Arcielo memiliki prinsip hidup.


Arcielo pun terdiam seraya memperhatikan dua buku gambar dengan warna berbeda di tangan nya. "Em... Arcie suka warna merah, karena warna merah melambangkan warna seorang ksatria pemberani, benar kan bu?" ocehan polos Arcie lagi lagi membuat Zena tersenyum kagum. Lalu Zena mengangguk seraya mengusap lembut rambut Arcielo. Zena menatap wajah polos sang putra. "Jika Arcie besar nanti, Arcie akan tumbuh kuat dan berani sama seperti ayah, karena warna merah adalah warna kesukaan ayah, iya kan bu?" lanjut nya.


Deg! seketika senyum Zena memudar, tanpa di sadari air mata Zena sudah berkumpul di mata nya dan siap untuk tumpah. Mengapa tiba tiba Arcielo membahas soal Rey? Soal pria yang sangat Ia cintai? Apa yang Arcielo ketahui soal Rey? Zena bingung, perkataan Arcielo membuat Zena sedih, di tambah lagi wajah sang putra terus mengingatkan nya pada Rey. "Arcielo, siapa yang mengatakan hal itu pada mu?"


"Paman Rio yang bilang bu, kata paman Rio kalau nanti aku besar, aku harus tumbuh menjadi anak yang kuat dan berani seperti ayah ku" jelas Arcielo hingga membuat Zena tertegun. "Paman Rio juga bilang pada ku, kalau wajah ku sangat mirip sekali dengan ayah ku, benarkah bu?" lanjut nya.


Akhir nya air mata Zena pun menetes di kedua pipi nya. Namun dengan cepat Zena langsung mengusap air mata nya. Arcielo pun memperhatikan wajah Zena. "Mengapa ibu menangis? Apa kah aku membuat ibu sedih?" tanya Arcielo dengan polos.


Zena tersenyum. "Tidak Arcie, mata ibu tadi kelilipan debu, tapi sekarang sudah tidak apa apa, ibu baik baik saja" Zena beralasan seraya merapikan pakaian sang putra. Putra nya benar benar sangat tampan dan mirip sekali dengan Rey. Andai Rey tahu kalau putra nya sudah tumbuh besar dan mirip dengan nya? Pasti Rey bangga, pikir Zena.


"Ingat ya Arcie, hari ini adalah hari pertama mu di sekolah, tidak boleh nakal dan tidak boleh bertengkar dengan teman mu ya, kau mengerti?" pesan Zena.


Arcielo mengangguk mengiakan pesan Zena, putra nya itu memang sedikit berbeda dari anak lain nya. Arcielo sudah mengerti dan paham dengan apa yang di katakan oleh Zena. Setelah itu, Zena berniat mengantar putra nya untuk ke sekolah PAUD.


Namun baru ingin membuka pintu, tiba tiba saja Zena di kejutkan dengan kedatangan Rio. Rupa nya Rio sudah menunggu diri nya dan berdiri di depan pintu dengan pakaian rapih. Sejujur nya, Zena masih kesal dengan Rio karena kejadian kemarin malam, kejadian yang hampir membuat diri nya di lecehkan oleh rekan kerjasama nya Rio Anggara. Jika saja Zena tidak menunggu Rio di ruangan gedung itu, mungkin malam itu Zena sudah pulang sendiri dan tidak di ganggu oleh rekan kerjasama Rio.


"Tuan Rio?" ucap Zena

__ADS_1


"Hai" sapa Rio melambaikan tangan. "Ayo! aku akan mengantar kalian" tawar Rio lalu tersenyum.


"Tidak usah tuan Rio, aku bisa sendiri" Zena ingin beranjak dari sana namun di halangi oleh Rio.


"Zena, aku tahu kau pasti marah pada ku soal kejadian semalam, maaf karena aku telat menjemput mu di sana, jika saja aku tidak telat menjemput mu, mungkin kau tidak akan mengalami-"


"Tolong tuan Rio, jangan bahas hal itu lagi di sini!" tukas Zena lalu melirik ke arah putra nya. "Apa lagi di depan Arcielo, aku tidak suka!"


"Maaf, sekali lagi aku minta maaf" ucap Rio penuh penyesalan.


Arcie menggoyangkan tangan Zena. "Ibu, mengapa ibu dan paman Rio bertengkar?" tanya Arcielo yang sedari tadi kebingungan dengan percakapan kedua orang dewasa di depan nya.


Seketika Zena dan Rio menoleh ke arah Arcie, lalu pandangan mereka kembali bertemu, di sana Rio yang memberikan pengertian pada Arcielo. Rio duduk berjongkok menyamakan tinggi nya dengan Arcielo lalu tersenyum di depan Arcielo. "Tidak Arcie, aku dan ibu mu tidak bertengkar, tapi... kami hanya beradu suara saja, ternyata suara ibu mu seperti burung beo" ledekan Rio membuat Arcielo terkekeh lalu tertawa. Zena pun menghela nafas nya dengan kasar seraya menahan rasa kesal di hati. "Ayo! Kita harus berangkat ke sekolah sekarang, bukan kah pahlawan paman ini ingin belajar?" lanjut nya lalu menggandeng tangan Arcielo.


Arcielo mengangguk menuruti perkataan Rio, mereka berdua berjalan lebih dulu ke arah mobil. Sementara Zena, Ia terdiam di tempat seraya menghela nafas nya. Akhir nya Zena mengalah, mau tidak mau Zena pun mengikuti mereka berdua yang kala itu sudah masuk ke dalam mobil. Rio memang suka seperti itu, jika Zena merajuk pada Rio maka Rio akan senantiasa meminta maaf lebih dulu lalu menghibur Zena agar Zena tidak bersedih lagi. Masalah mereka berdua kini telah berlalu, Zena juga tidak mau lagi memperpanjang kejadian malam kemarin.


Nelson tengah merapihkan pakaian nya di dalam kamar, Nelson memasukan semua pakaian nya ke dalam koper nya. Hari itu adalah hari terakhir mereka di Villa, selesai promosi mereka memang berencana akan pulang ke Jakarta.


Rey mengetuk pintu lalu membuka nya, Rey memperhatikan Nelson yang kala itu sibuk merapihkan pakaian nya untuk di masukan ke dalam koper. "Nel, apa kau ingin kembali ke Jakarta hari ini?" tanya Rey


"Aku? tidak! Kita berdua kan memang harus pulang Rey hari ini, bukan kah kau sendiri yang mengatakan pada ku selesai promosi kita akan pulang ke Jakarta, dan kemarin promosi kita telah berhasil, Rey" jelas Nelson


"Aku tidak ingin pulang ke Jakarta, Nel" ucap Rey. Seketika pergerakan Nelson berhenti, Ia menoleh lalu menatap wajah Rey dengan tatapan bingung. "Kau saja yang kembali ke Jakarta untuk mengurus semua nya di sana, biarkan aku di sini dulu untuk menenangkan diri ku" lanjut nya.


"Menenangkan diri? menenangkan diri dari apa, Rey?"


"Menenangkan diri dari berbagai macam hal yang tidak enak di hati, inti nya aku masih ingin berada di sini, Nel" kekeh Rey

__ADS_1


Dahi Nelson pun mengerut. "Katakan pada ku dengan jelas Rey, aku tidak mengerti dengan mu, kau sendiri kan yang bilang pada ku kalau hari ini kita akan pulang ke Jakarta, lalu mengapa sekarang kau ingin tetap berada di sini? apa karena Zena?"


Rey terdiam sejenak lalu menatap Nelson tanpa arti jelas. "Zena? Tidak!" tegas Rey.


"Kau tidak usah berbohong pada ku lagi Rey, aku tahu sebenar nya kau mencintai Zena, kan? hanya saja kau gengsi mengakui nya" ledek Nelson.


"Sudah ku katakan pada mu kalau aku tidak mencintai gadis itu, Nel!" kekeh Rey dengan reaksi berbeda, Rey terlihat sedikit gugup lalu segera mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Rey tidak berani menatap Nelson, Nelson pun duduk di samping Rey. Nelson tahu kalau alasan sebenar nya bukan karena ingin menenangkan diri melainkan Rey ingin memantau Zena di sini.


"Benarkah? lalu apa alasan mu?"


Rey menoleh. "Aku sudah bilang kan pada mu kalau aku ingin menenangkan diri di sini, Nel" tegas Rey sekali lagi, tentu saja dengan alasan yang tak masuk akal. Namun Nelson tetap mengiakan perkataan Rey. "Dan... jika hari ini aku pulang, ibu pasti akan mencecar ku dan membahas soal pertunangan ku dengan Celine" jelas Rey.


"Memang nya kenapa? Bagus kan kau bisa menikahi putri dari pengusaha terkenal? Kau bisa hidup bahagia dengan Celine, di tambah lagi kalian sekufu, kalian serasi"


"Nel, bukan itu masalah nya, masalah nya aku tidak bisa menikahi Celine karena aku tidak mencintai Celine sama sekali, Celine sudah ku anggap seperti sahabat bagi ku, lalu bagaimana pernikahan ini bisa bahagia jika aku saja tidak mencintai Celine?"


"Kau pengecut, Rey!" ucapan Nelson mampu membuat Rey terdiam seketika lalu segera menoleh dengan tatapan tajam nya. "Kau itu pengecut!" Nelson kembali mengulang kata kata pedas nya hingga membuat Rey kesal dan mulai marah.


"Apa maksud ucapan mu, Nel?" suara Rey mulai meninggi. Rey bangun dari duduk nya lalu menatap Nelson dengan tajam, seolah olah siap untuk bertarung dengan Nelson di sana. "Tarik kembali kata kata mu!" perintah Rey seraya mengepal tangan nya.


Ya, Rey paling tidak suka di bilang pengecut karena Rey menyakini kalau diri nya bukan seorang pengecut. Rey adalah orang yang berani dalam hal apapun dan hal itu tentu saja di sadari oleh Rey sendiri. Namun Rey lemah jika sudah menyangkut soal hati dan perasaan nya. Bagaimana bisa pria yang di kenal tidak mempunyai hati bisa lemah pada perasaan nya sendiri? Ya, Rey adalah orang yang berani mengambil resiko apapun ter kecuali soal hati. Jika sudah mencintai, Rey tidak pernah main main. Walaupun begitu, kata kata pengecut seperti nya tidak ada dalam kamus nya.


Nelson bangun dari duduk nya lalu berdiri di depan Rey dengan tegap. "Aku tidak akan pernah menarik kata kata ku jika kau masih bersembunyi seperti pengecut, Rey" jelas Nelson. Rey tidak langsung menjawab, Rey diam mencerna perkataan Nelson, Rey di buat pusing dengan perkataan Nelson yang menurut nya terlalu berbelit belit.


Rey menatap Nelson dengan kedua alis yang menyatu sempurna. "Rey, dengarkan aku! Kau tidak bisa terus menerus seperti ini, kau harus jujur pada perasaan mu sendiri, mau sampai kapan kau terus menyembunyikan cinta mu pada Zena? Hah! Akui lah jika kau memang mencintai Zena, karena jika tidak, kau akan menyesali nya seumur hidup mu!" lanjut Nelson lalu pergi dari hadapan Rey.


Lagi dan lagi, Rey kembali terdiam dengan perkataan Nelson. Rey seperti tertampar dengan apa yang di ucapkan oleh sahabat nya itu. Mungkin Nelson benar? Selama ini Rey menyembunyikan perasaan nya untuk Zena, Rey mungkin berani dalam mengambil resiko apapun tetapi tidak dengan perasaan nya. Ada rasa takut pada diri Rey, Rey takut akan sebuah penolakan karena selama Zena menjadi istri nya, Rey selalu menyiksa nya. Lalu bagaimana mungkin gadis yang selalu di siksa oleh nya akan menerima perasaan nya? Rasa nya tidak mungkin jika Zena juga mencintai diri nya, pikir Rey.

__ADS_1


__ADS_2