
Jeny tidak keluar dari kamarnya meskipun mendengar deru suara mobil tomy sore itu. Wanita itu benar benar marah karna aturan suaminya. Bagaimana mungkin jeny harus menjauhi teman temanya. Bagaimana jika tiba tiba rani datang. Tidak mungkin jeny membiarkan dan tidak menemuinya.
Sedang tomy, pria itu merasa aneh karna jeny tidak menyambutnya. Padahal biasanya wanita itu menyambutnya penuh kehangatan. Jeny bahkan langsung menubruk tubuhnya dan memberi ciuman singkat sebelum menyaliminya.
“Jeny mana?” Tanya tomy ketika melihat sisi dan bibi yang sedang mengelap pernak pernik di ruang tamu.
Mendengar suara berat tomy bibi dan sisi langsung menoleh. Mereka kemudian meletakan guci kecil yang sedang di pegangnya.
“Ibu ada di kamarnya pak. Mungkin belum bangun.” Jawab bibi.
Tomy mengangkat sebelah alisnya. Hari sudah menjelang petang. Rasanya tidak mungkin jika jeny belum bangun.
“Oke. Saya ke atas.” Kata tomy kemudian berlalu.
Bibi dan sisi hanya diam saja. Mereka berdua tau suasana hati jeny sedang tidak baik. Itu sebabnya jeny tidak keluar dari kamarnya setelah pulang tadi siang.
“Semoga nggak ada masalah apa apa ya bi..” Hela nafas sisi menatap sendu punggung lebar tomy yang akhirnya menghilang di balik tembok.
“Ya si.. Semoga saja.” Saut bibi.
“Udah ayo si kita selesein ini. Abis ini kita harus masak loh buat makan malam.”
“Iya bi..”
Sisi dan bibi kembali melanjutkan pekerjaanya yang sempat terjeda saat tomy bertanya. Mereka menyesaikan dengan cepat pekerjaanya untuk kemudian memasak untuk makan malam.
Di lantai 2 tepatnya di depan pintu kamarnya tomy terdiam. Tomy tau dan tomy sadar jeny mungkin marah padanya. Tapi tomy tidak bisa terus menerus membebaskan jeny sedangkan pelaku yang mencelakainya saja belum di ketahui siapa. Jika memang angel pelaku utamanya angel pasti tidak mungkin tiba tiba gila hanya karna perbuatanya terbongkar.
Tomy menghirup dalam dalam oksigen di sekitarnya kemudian menghembuskanya berlahan. Tomy meraih handle pintu kamarnya kemudian memutar dan mendorongnya pelan sehingga pintu itu terbuka.
Pemandangan pertama yang di lihat tomy ketika pintu kamarnya dia buka adalah ruangan kosong tanpa sosok cantik istrinya. Tomy menelan ludahnya. Mungkin jeny ada di balkon kamar, pikirnya.
__ADS_1
Tomy melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya. Tebakanya mungkin benar karna pintu penghubung ke balkonya terbuka.
Tomy meletakan tas kerjanya di atas nakas kemudian membuka jas juga sepatunya. Jeny pasti tau kepulanganya. Hanya saja wanita itu sedang marah sehingga mengabaikan dan tidak menyambut kepulangan suaminya. Sesaat tomy terdiam. Pria itu kemudian mendudukan dirinya di tepi ranjang. Tomy tidak bermaksud membuat jeny merasa terkekang. Tomy hanya ingin melindungi jeny. Tomy tidak ingin sesuatu yang tidak inginkan terjadi. Tomy hanya ingin istrinya aman dan bahagia bersamanya.
“Ya tuhan.. Apa yang harus aku lakukan sekarang..” Lirih tomy mengusap kasar rambut panjang berponinya.
Tomy tidak ingin seperti sekarang. Tomy ingin seperti biasanya. Tomy ingin jeny terus bersikap manja padanya. Mengadukan segala keluh kesahnya. Juga meminta semua yang di inginkanya.
Tomy berdecak. Jeny sangat keras kepala. Jika dirinya terus memaksa untuk jeny memaafkanya jeny mungkin akan semakin marah padanya.
“Kamu udah pulang..?”
Suara jeny membuat tomy menoleh cepat kearah pintu yang menghubungkan ke balkon. Pria tampan itu terdiam menatap wajah cantik istrinya. Tidak ada tatapan lembut manja istrinya.
Tomy bangkit dari duduknya di tepi ranjang. Sebisa mungkin tomy menahan dirinya untuk tidak berlari memeluk tubuh wanita itu. Tomy tidak ingin kalah. Tomy ingin mempertahankan pendirianya. Dan tomy ingin jeny mengikuti caranya untuk melindungi wanita itu.
“Yah. Aku pulang udah dari 10 menit lalu.” Jawab tomy pelan.
Tidak ingin berlama lama hingga akhirnya pertahananya runtuh tomy pun memilih menghindar dengan cara masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Sedang jeny, wanita itu terus berdiri di ambang pintu dalam diam. Tomy tampak kikuk saat menjawab pertanyaanya. Meskipun memang pria itu tidak lagi menatap datar padanya namun sekarang justru pria itu menghindarinya.
“Apa memang aku yang salah?” Gumam jeny bertanya pada dirinya sendiri.
Jeny memejamkan kedua matanya. Jeny tau tomy mengekangnya mungkin memang untuk melindunginya. Tapi jeny mengenal sarah, rani, juga yang lainya dengan baik. Rasanya tidak mungkin jeny menghindarinya. Mereka pasti akan salah faham dan berprasangka buruk padanya.
20 Menit kemudian tomy keluar dari kamar mandi. Pria itu tetap diam dan seakan mengabaikan jeny yang menunggunya duduk di atas ranjang sambil sesekali mengusap usap perut buncitnya.
“Tadi dia nendang keras banget. Sampe aku nggak bisa tidur siang.”
Tomy menghentikan tanganya yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk mendengar cerita jeny.
__ADS_1
“Kayanya dia bakal lincah banget kalau udah lahir nanti. Tuh nendang lagi. Haha..” Sambung jeny di sertai tawa kecilnya.
Berlahan seulas senyum terukir di bibir tipis tomy. Anaknya pasti akan sangat membanggakan. Anaknya juga pasti akan lahir dengan selamat, akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan mampu melakukan segala hal.
Tomy meletakan handuknya di atas meja kecil yang berada tepat di samping lemari bajunya. Dengan langkah pelan tomy menghampiri jeny dan berdiri tepat di depanya.
“Bisa tanyakan apakah anak kita merindukan aku?” Tanya tomy hampir seperti bisikan.
Jeny terdiam. Bukan hanya anaknya yang merindukan tomy tapi juga dirinya. Padahal hanya beberapa jam mereka berpisah. Namun jeny tidak bisa memungkiri keinginanya untuk selalu berada dekat dengan tomy meskipun dirinya sedang marah pada pria itu.
“Mungkin kamu bisa menanyakanya sendiri.” Jawab jeny pelan.
Tomy terdiam. Itu artinya jeny tidak akan menolak jika tomy menyentuhnya.
“Bolehkah?” Tanya tomy memastikan.
Jeny tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan suaminya. Rasanya sangat tidak nyaman jika harus berdiam diaman dengan tomy.
Tomy kemudian semakin mendekat pada jeny yang duduk di tengah ranjang dengan kaki selonjoran. Pria tampan itu naik ke atas ranjang dan duduk sedikit berjarak dengan istrinya.
Berlahan jeny membaringkan tubuhnya dengan posisi terlentang. Wanita itu menatap langit langit kamarnya menunggu tomy membelai lembut perut buncitnya.
Tomy tersenyum melihatnya. Pria itu kemudian ikut membaringkan tubuhnya dengan kepala tegak dan wajah menghadap perut buncit jeny. Pelan pelan dan penuh sayang tomy mulai menyentuh perut jeny. Dan tidak di sangka respon dari anaknya yang berada di kandungan jeny begitu cepat. Tendanganya begitu terasa di tangan besar tomy.
“Nak.. Bantuin papah yah... Kita jaga mamah sama sama..” Katanya lirih.
Jeny yang mendengar itu memejamkan kedua matanya. Jeny tau tomy tulus mengatakanya.
“Kamu kebanggaan papah dan mamah.. Mari kita bekerja sama untuk membuat mamah bahagia.” Lanjut tomy masih dengan suara lirihnya yang tentu saja dapat di dengar jelas oleh jeny.
Air mata jeny menetes. Jeny merasa sangat bersalah mendengar apa yang di katakan tomy.
__ADS_1