Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 81


__ADS_3

Tomy menghentikan mobil nya di halaman luas depan rumah nya. Pria tampan itu menghela nafas dan memejamkan sesaat kedua matanya setelah mematikan mesin mobil nya. Pekerjaan nya cukup menguras tenaga juga pikiran nya hari ini. Di tambah ucapan reyhan yang membuat mood nya langsung turun.


Tomy menolehkan kepalanya kemudian tersenyum mengingat keberadaan jeny di dalam sana. Mendadak mood nya kembali baik. Jeny tidak bekerja hari ini. Itu artinya jeny sedang berada di dalam menunggu kepulangan nya.


Tomy tersenyum. Dengan semangat pria tampan itu turun dari mobil nya kemudian melangkah cepat memasuki kediaman nya.


Langkah tomy berhenti ketika mendapati sisi yang sedang mengelap meja di ruang tamu.


“Mbak sisi.” Panggil tomy.


Sisi langsung menoleh dan berhenti mengelap meja kaca berukuran sedang itu.


“Ya pak..” Angguk sisi menatap tomy.


“Jeny mana?” Tanya tomy.


“Ibu ada di dapur pak." Jawab sisi.


Tomy tersenyum mendengar nya. Jeny tidak pernah berkutat di dapur selama tomy mengenal nya. Tapi mulai pagi tadi wanita itu sudah mau terjun sendiri ke dapur.


“Oke.” Angguk tomy kemudian melangkah cepat menuju dapur dimana jeny sekarang berada.


Di dapur jeny menghela nafas. Senyum nya mengembang ketika mendapati omelet keju buatan nya. Jeny memang hanya bisa membuat omelet saat ini. Itu pun belum tau bagaimana rasanya.


“Semoga tomy suka deh..” Gumam nya.


Jeny meraih teflon yang dia gunakan untuk memasak omelet nya kemudian menaruh nya di tempat cucian piring.


“Kamu lagi apa sayang?”


Jeny tersentak ketika tiba tiba tomy bertanya dengan memeluk lembut tubuh nya dari belakang. Jeny menghela nafas kemudian tersenyum. Sikap lembut tomy membuat nya berlahan merasa luluh.


“Aku abis masak..” Jawab jeny.


Tomy tersenyum. Tomy yakin rasanya akan sama seperti pagi tadi.


“Masak apa?” Tanya tomy lagi.


Jeny melepaskan lembut tangan tomy yang memeluk perut ratanya. Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu membalikan badanya kemudian mengulurkan tangan nya pada tomy.


Tomy yang melihat nya mengeryit bingung. Tangan jeny mengudara di depan nya dengan senyuman manis yang terukir di bibir merah alaminya.


“Apa?” Tanya tomy bingung.


“Salim tomy..” Jawab jeny tertawa pelan.


Tomy menganggukan kepalanya. Pria itu kemudian menjabat tangan jeny. Ketika tomy hendak melepaskan nya jeny menahan nya dan mencium punggung tangan nya.

__ADS_1


Tomy terdiam. Rasanya sangat aneh tapi juga indah dan menyenangkan hatinya. Jeny mengecup punggung tangan nya seperti mamah nya yang selalu mengecup tangan papah nya setiap berangkat maupun pulang kerja.


“Aku bikin omelet buat kamu. Aku cuma bisa masak ini. Kamu cicipin yah?” Senyum jeny melepaskan tangan besar tomy.


Tomy menganggukan kepalanya. Tomy masih tidak percaya melihat perubahan derastis jeny. Di tatap nya jeny yang meraih sendok kemudian memotong sedikit omelet buatanya dan menyodorkan nya pada tomy.


Tanpa berpikir bagaimana rasanya tomy langsung membuka mulut menerima suapan istrinya. Tomy tidak perduli jika memang rasanya akan keasinan seperti nasi goreng tadi pagi. Tomy sangat bahagia karna jeny mau berusaha memasak untuk nya.


“Aah.. Uah..”


Jeny membulatkan kedua matanya ketika melihat tomy yang ngap ngapan sambil mengunyah ngunyah omelet buatan nya. Padahal jeny sama sekali tidak menaruh sambal di omelet buatan nya tetapi ekspresi tomy seolah sedang memakan makanan yang super pedas.


“Ya tuhan.. Kenapa?” Tanya jeny khawatir.


Jeny segera meraih gelas dan mengambilkan air putih untuk tomy kemudian segera menyerah kan nya.


“Minum dulu..” Kata jeny.


Tomy menerima segelas air putih dari jeny dan langsung menenggak nya habis.


“Kenapa sih? nggak enak yah?” Tanya jeny penasaran.


Mendengar pertanyaan jeny tomy malah tersenyum. Di raih nya pinggang jeny kemudian memeluk nya mesra.


“Panas sayang.” Jawab tomy tersenyum geli.


“Tapi sayang... Omelet nya enak banget. Nggak asin kaya tadi pagi.” Kata tomy lembut dengan tatapan penuh cinta nya pada jeny.


Jeny menoleh kembali pada tomy. Berlahan senyuman di bibir nya mulai terukir.


“Kamu nggak bohong kan?” Tanya jeny masih tidak percaya.


Tomy berdecak. Pria itu melepaskan pelukan nya di pinggang jeny kemudian meraih sepiring omelet dan sendok yang tadi di gunakan jeny untuk menyuapinya. Tomy memotong omelet buatan jeny menggunakan sendok kemudian menyodorkan nya pada jeny.


“Cobain deh..” Senyum nya.


Jeny menelan ludah nya. Tatapan nya terlihat ragu pada sepotong omelet di sendok yang berada di depan nya. Jeny takut jika rasanya masih sama seperti pagi tadi.


“Nggak ah..” Tolak jeny mendorong tangan tomy yang memegang sendok.


“Cobain dulu sayang. Aku nggak bohong loh. Rasanya enak banget.” Kata tomy berusaha meyakinkan jeny.


“Tapi...”


“Apa perlu aku suapin pake ini?” Tanya tomy sambil memoyongkan bibir nya pada jeny.


Jeny menggelengkan kepalanya. Takut jika tomy benar benar melakukan nya, jeny pun segera membuka mulut nya menerima suapan dari tomy.

__ADS_1


Jeny terdiam begitu sepotong omelet itu berada di dalam mulut nya. Tidak ada rasa keasinan ataupun aroma bumbu mentah yang membuat mual.


“Enak kan?” Tanya tomy tersenyum manis.


Pelan pelan jeny mulai mengunyah omelet dalam mulut nya. Jeny benar benar tidak percaya jika omelet itu adalah omelet buatanya.


“Ini.. Ya tuhan..” Senyum jeny merasa senang dan puas dengan hasil masakan nya meskipun hanya sebuah omelet.


Tomy tersenyum lagi. Pria itu kemudian meletakan sepiring omelet buatan jeny di atas meja pantri.


“Aku nggak bohong kan?” Tanya nya.


Jeny menganggukan kepalanya. Dengan cepat jeny berhambur memeluk tomy. Rasa senang nya melebihi rasa senang saat jeny mendapat nilai paling tinggi di kelas.


“Ini yang kedua kalinya aku rasain omelet enak buatan kamu sayang.” Kata tomy tersenyum di balik punggung jeny.


Senyum jeny langsung pudar. Dengan segera jeny melepaskan pelukan nya kemudian menatap tomy dengan sebuah keryitan di kening nya.


“Dua kali? Bukan nya baru kali ini aku bikin omelet buat kamu?” Tanya jeny bingung.


Tomy dengan gemas mencubit ujung hidung mancung jeny sampai sebuah ringisan kecil terdengar dari bibir merah alami dokter cantik itu.


“Dasar pikun.” Kata tomy.


“Biar aku ingatkan kamu.” Lanjut tomy.


Jeny mencebikkan bibir nya dengan mengusap pelan ujung hidung mancung nya yang di cubit oleh suaminya tadi.


“5 Tahun lalu kamu pernah memberikan aku sebuah kotak makan berwarna biru berisi omelet yang sangat enak banget. Aku aja sampai masih mengingat bagaimana rasanya. Dan jujur lebih enak omelet itu dari pada yang ini.” Senyum tomy mengingat kembali saat jeny memberikan nya makanan sebelum kelas di mulai saat masih kuliah dulu.


Jeny mengeryit bingung. Dirinya tidak pernah merasa terjun ke dapur selama hidupnya sebelum ini apa lagi sampai membuatkan omelet yang katanya tomy sangat enak bahkan lebih enak dari buatan nya sekarang.


“Kapan sih?” Tanya jeny bingung.


“Dulu sayang. Pas baru berapa hari kita nikah loh. Kamu kasih aku omelet di dalam kotak makan warna biru...” Jawab tomy menjelaskan.


Jeny berusaha mengingat ingat namun dirinya tetap merasa tidak pernah memasak sebelum hari ini. Namun mendengar kata kotak makan warna biru jeny pun mengingat nya.


“Ohh.. Itu. Itu sih bukan aku yang bikin tom..”


Tomy mengeryit namun akhir nya mengangguk. Mungkin mamah jeny yang memasak nya.


“Itu omelet buatan mommy nya charlie.” Senyum jeny.


Kedua mata tomy membulat sempurna. Pikiran nya tentang omelet ter enak yang pernah di makan nya itu ternyata salah. Tomy maklum jika memang itu masakan mamah jeny. Tapi mommy charlie, sama sekali tidak pernah tomy kira.


“Kok bisa kamu..”

__ADS_1


“Iyah.. Jadi waktu itu tuh aku di kasih omelet sama charlie. Terus aku terima. Dan berhubung kamu belum sarapan ya aku kasih ke kamu.”


__ADS_2