Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 202


__ADS_3

Dokter axel menatap bingung pada reyhan, rolan, juga rio yang sudah lebih dulu sampai darinya dan tomy. Ketiga pria itu masih masing berdiri dan menyender di kap depan mobilnya dengan gaya santai.


“Pak tomy kita mau ngapain? Kenapa harus ada orang lain selain kita?”


Tomy hanya tersenyum saja. Pria tampan itu menatap sekilas pada dokter axel yang tampak bingung dengan kehadiran reyhan dan kedua detektif tengil suruhan dokter axel juga leo.


“Pak tomy..”


Tomy tidak menghiraukan pertanyaan dokter axel. Tomy melepas seatbelt nya kemudian turun dari mobilnya.


Reyhan yang melihat tomy turun di ikuti dokter axel dari mobil langsung mendekat berikut rio dan rolan.


“Apa yang bisa kami bantu pak?” Tanya reyhan pada tomy sopan.


Tomy melirik dokter axel sekilas sebelum menatap rolan dan rio yang tampak santai berdiri di belakang reyhan.


“Kalian bertiga, masuk diam diam dan sandera semua orang yang ada di rumah itu kecuali dokter malik. Ingat jangan ada kekerasan fisik. Dan bersikaplah lembut jika yang kalian temui adalah anak anak.” Kata tomy memerintah dengan tegas.


“Baik pak.” Kompak reyhan, rio, dan rolan menjawab.


Ketiga pria tampan satu profesi itu kemudian segera menyelinap masuk ke dalam rumah dokter malik. Dokter axel yang melihatnya hanya mampu menelan ludahnya bingung juga khawatir.


“Ya tuhan.. Apa yang anda lakukan pak tomy.. Ini perbuatan kriminal..” Lirih dokter axel.


Tomy tertawa pelan mendengarnya. Tomy tidak bermaksud untuk menyakiti ataupun menakuti keluarga dokter malik. Tomy hanya sedang berusaha. Tomy yakin reyhan bisa menjalankan tugasnya dengan baik tanpa harus menyakiti siapapun.


“Dokter untuk menangkap belut yang licin dengan tangan kosong kita perlu alat semacam sarung tangan bukan? Dengan begitu kita baru bisa menangkapnya tanpa takut licin.” Kata tomy santai.


Dokter axel hanya diam saja di samping tomy. Dokter axel tau bagaimana sifat detektif seperti rio dan rolan. Mereka akan melakukan cara apa saja demi tugasnya.


“Dokter, anda cukup tenang dan menunggu. Begitu reyhan menelephone baru kita masuk.” Senyum tomy melipat kedua tanganya di depan dada menatap kediaman mewah dokter malik.


Dokter axel menghela nafas. Tomy memang orang yang baik. Namun caranya kali ini benar benar sangat di luar batas. Tomy berniat menyandera seluruh keluarga dokter malik demi membuat pria tua itu mengaku.


“Pak tomy saya..”


Ucapan dokter axel terhenti ketika tiba tiba ponsel tomy berdering. Tomy mengangkat tanganya meng isyaratkan agar dokter axel berbicara padanya nanti. Pria tampan itu kemudian tersenyum menatap layar ponselnya dan segera mengangkat telephone yang ternyata dari reyhan.


“Ya rey..”


“Pak, pak tomy dan dokter axel sudah bisa masuk. Semuanya sudah sesuai apa yang pak tomy katakan.” Kata reyhan di seberang telephone.


“Oke..” Angguk tomy tersenyum senang.

__ADS_1


Dokter axel yang ada di samping tomy hanya mampu menggelengkan kepalanya. Dokter tampan itu tidak menyangka pria sebaik tomy bisa melakukan hal yang sangat licik. Dan dokter axel tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada dokter malik jika sampai tomy bertindak menggunakan tanganya sendiri.


“Tidak sampai 5 menit kan dokter?” Senyum tomy menatap dokter axel yang terus diam dengan berbagai pikiran negatifnya pada tomy.


“Kita sudah bisa masuk.” Kata tomy lagi.


Tomy kemudian memasukan kembali ponsel miliknya ke dalam saku jasnya. Dengan gaya coolnya pria tampan itu melangkah memasuki area luas kediaman dokter malik kemudian masuk ke dalam rumah mewah dokter malik.


“Ya tuhan.. Iblis apa yang sedang merasukinya.” Gumam dokter axel masih tidak percaya.


Tidak mau membiarkan sesuatu yang buruk menimpa orang yang salah dokter axelpun segera berlari menyusul tomy. Pria berkemeja biru muda dengan lipatan dilenganya itu tampak sangat khawatir. Bukan khawatir pada dokter malik, tapi khawatir pada keluarga dokter tua itu yang tidak tau apa apa.


“Apa apaan ini?! Lepaskan keluarga saya!” Pekik dokter malik dengan dada kembang kempis khawatir melihat istri, anak, bahkan cucunya berada di sandera orang yang tidak di kenalnya.


Rio, rolan, juga reyhan yang sedang menggendong anak kecil berusia 6 tahun itu hanya diam saja. Namun ketiganya terus memastikan agar sanderanya tidak lepas.


“Apa mau kalian ! Dan siapa yang menyuruh kalian !”


Saat itulah tomy dan dokter axel masuk. Tomy tersenyum menatap hasil kerja reyhan dan 2 temanya.


“Dokter axel.. Dan..” Lirih dokter malik dengan kedua mata membulat melihat tomy dan dokter axel muncul.


Tomy menghela nafas. Pria tampan itu kemudian melangkah santai mendekat pada dokter malik yang tampak sangat marah menatapnya.


Tomy tertawa menanggapinya. Dengan santai di putarinya tubuh pendek dokter malik. Tomy kemudian menatap istri dan anak dokter malik yang tampak diam ketakutan karna rolan dan rio menodongkan pistol pada mereka. Sedang untuk anak kecil yang tomy tebak adalah cucu dokter malik, anak itu begitu tenang tidur di gendongan reyhan.


“Dokter axel apa apaan ini? Anda benar benar tidak tau diri !”


Kali ini dokter malik menatap tajam pada dokter axel yang hanya diam di samping reyhan.


“Apa mau kalian?!” Marah dokter malik.


“Mau kami?” Tanya balik tomy dengan santainya.


Dokter malik menatap tomy dengan tatapan penuh bencinya. Pria itu tidak menyangka jika tomy dan dokter axel bisa berbuat selicik itu.


“Yang kami mau adalah anda dokter.”


Rahang dokter malik mengeras.


“Kalau memang saya yang kalian inginkan kenapa harus menyandera keluarga saya hah?!” Teriak marah dokter malik.


“Sstt.. Tidak usah berteriak. Itu bisa membangunkan si kecil.” Balas tomy santai.

__ADS_1


“Katakan apa mau kalian brengsek !”


Tomy tertawa lagi. Rasanya sangat lucu mendengar seorang pria brengsek justru berteriak brengsek pada yang lain.


“Simpan tenaga terbatasmu pak tua.” Ledek tomy menahan tawa.


“Kau..”


“Nggak mau. Tolong jangan.. Aku nggak mau.. Hiks hiks..”


Tangisan seorang wanita yang tidak lain adalah anak dokter malik membuat dokter malik dengan cepat menoleh. Pria itu membulatkan kedua matanya ketika melihat dokter axel yang hendak meminumkan obat pada putrinya.


“Dokter axel apa yang anda lakukan !” Teriak marah dokter malik.


Ketika dokter malik hendak mendekat pada dokter axel tomy dengan sigap langsung menghadangnya.


“Minggir ! Anak saya dalam bahaya brengsek !!”


Tomy tertawa. Sebenarnya tomy sangat tidak tega melakukanya. Bagaimanapun juga anak dan istri dokter malik tidak bersalah. Tapi tomy tetap harus melakukanya. Asalkan tidak ada yang terluka itu yang terpenting untuk tomy.


“Ya. Anak anda memang dalam bahaya. Anak anda akan gila seperti angel jika sampai menelan obat itu.”


Dokter malik terdiam. Di tatapnya putri semata wayangnya yang meronta di tangan rio dan dokter axel.


“Bukan hanya anak anda dokter. Tapi istri bahkan si kecil yang menggemaskan itu.” Tambah tomy tersenyum licik.


“Ya tuhan...”


Air mata dokter malik menetes. Pria itu menggelengkan kepalanya tidak bisa membayangkan jika sampai anak, istri, bahkan cucu semata wayangnya menjadi gila seperti angel.


“Jangan.. Saya mohon jangan lakukan itu..” Lirih dokter malik tidak tega melihat putrinya yang terus meronta menolak obat yang siap di masukan ke dalam mulutnya oleh dokter axel.


“Kenapa? Anda bisa melakukanya pada angel. Kenapa kami tidak bisa melakukanya pada anak dan istri anda?” Tanya tomy tersenyum remeh menatap dokter malik.


Dokter malik menggelengkan kepalanya. Pria tua itu sudah salah menduga. Dokter malik pikir dokter axel pria yang bodoh dan gampang di kelabuhi. Tapi nyatanya pria itu begitu licik dan penuh tak tik.


“Jangan dokter.. Saya mohon. Mereka tidak bersalah. Mereka tidak tau apa apa..” Mohon dokter malik sambil menangis.


Rahang dokter axel mengeras. Pria itu mengingat luka di lengan angel yang pernah di lihatnya secara tidak sengaja. Dokter axel yakin itu adalah perbuatan dokter malik.


Dokter axel memasukan paksa pil itu ke mulut anak dokter malik kemudian meraih segelas air putih yang ada di atas meja tidak jauh darinya.


“Saya akan jelaskan semuanya !!”

__ADS_1


__ADS_2