Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 89


__ADS_3

“Kamu nggak nanya kak lorenzo kesini ngapain?”


Tomy yang hendak naik ke atas ranjang langsung terdiam. Pria itu menoleh menatap jeny yang sedang duduk memainkan ponselnya di atas ranjang.


“Memangnya ngapain?” Tanya tomy kemudian.


Tomy memang tidak ingin terlalu tau untuk apa pria itu datang. Yang terpenting adalah dirinya mendengar sendiri bagaimana tegasnya jeny menyikapi lorenzo.


Jeny menghela nafas jengah. Malas menjawab pertanyaan tomy jeny kemudian meletakan ponselnya di nakas samping tempat tidur. Wanita itu memilih untuk membaringkan tubuh nya memunggungi tomy.


Tomy tersenyum melihatnya. Dengan pelan pria itu ikut membaringkan tubuhnya. Tomy mendekat dan memeluk tubuh jeny dari belakang. Tanganya mengusap usap lembut perut jeny.


“Sayang...” Panggilnya mesra.


Jeny tidak menyaut. Jeny merasa tomy sudah tidak lagi perduli padanya dan perasaanya. Padahal pria itu selalu melarangnya bertemu dengan lorenzo. Namun begitu mendapati lorenzo menyambangi rumahnya tomy justru tampak tidak perduli.


“Kamu marah sama aku?” Tanya tomy lembut.


Jeny berdecak. Jeny tidak marah. Hanya sedikit kesal dengan reaksi santai tomy. Padahal jeny juga menunggu pertanyaan tomy seputar kedatangan lorenzo salama mereka makan malam. Namun tomy sama sekali tidak menanyakanya.


“Hadap sini dong.. Aku bikin deket sama baby kita.” Kata tomy mengecup rambut lurus jeny.


Jeny tetap tidak bergeming. Meskipun wanita itu tidak menolak pelukan hangat juga usapan tangan tomy di perutnya.


“Eemm.. Sayang. Memangnya kak lorenzonya ngapain sih kesini?”


Kedua mata jeny membulat mendengarnya. Dengan cepat jeny membalikan tubuhnya dan memelototi tomy.


“Apa maksud kamu?” Tanyanya penuh penekanan.


Tomy tersenyum geli. Di usapnya pinggang ramping jeny dengan sangat lembut. Berlahan tangan tomy turun dan menyelusup masuk ke dalam kaos oblong jeny mengusap lembut perut mulus istrinya penuh rasa sayang.


“Aku tanya ngapain lorenzo kesini..”


“Tadi nggak gitu kamu nanyanya. Kamu ngledek aku dengan ikut ikutan manggil dia kak.” Ketus jeny masih memelototi tomy.


Tomy mengeryit. Jeny memang dari dulu selalu memanggil lorenzo dengan sebutan kakak. Namun tidak pada dirinya. Padahal tomy juga jauh lebih tua dari jeny.


“Emang kamu manggil dia kak lorenzo kan?” Tanya tomy.


Jeny menghela nafas kesal. Jeny memanggil lorenzo dengan sebutan kakak karna pria itu adalah seniornya di universitas dulu.


“Aku panggil dia begitu karna dia itu senior di kampus dulu.”


“Lalu bagaimana dengan aku? Aku juga senior kamu kan di kampus dulu?” Tanya tomy cepat.

__ADS_1


Jeny terdiam. Bibirnya mengerucut dengan perasaan sebal menatap wajah tampan suaminya. Jeny tidak memanggil tomy dengan sebutan kakak karna menurutnya tomy sudah bukan orang lain.


“Kenapa kamu nggak panggil aku kakak juga?”


“Ya kan kamu sahabat aku. Kita kenal juga udah lama banget kan? Dari kecil malah.” Jawab jeny.


“Tapi kan tetap aku lebih tua dari kamu.” Kukuh tomy.


Jeny semakin merasa sebal karna tomy yang mempermasalahkan panggilanya pada lorenzo. Padahal dari dulu juga tomy tidak pernah keberatan dengan panggilan kakak jeny pada lorenzo.


“Terus mau kamu apa?” Tanya jeny menyingkirkan tangan tomy dari perutnya.


“Aku juga mau punya panggilan khusus dari kamu.” Senyum tomy menjawab.


Jeny mengeryit. Tomy sangat kekanak kanakan.


“Aku nggak mau.” Ketus jeny hendak memutar tubuhnya untuk kembali memunggungi tomy namun langsung di cegah oleh tomy.


“Tomy..”


Cup


Satu kecupan lembut tomy daratkan di bibir jeny membuat ucapan wanita itu terhenti karna terkejut dengan ciuman tiba tiba suaminya.


“Coba kamu panggil aku dengan sebutan mas atau sayangku atau boleh juga cintaku.” Katanya menyarankan.


“Jangan berlebihan. Aku ngantuk.”


Tomy terkekeh. Pria itu kemudian merengkuh tubuh jeny ke dalam dekapan hangatnya. Meskipun jeny memang belum bisa mengimbangi sikapnya namun tomy tetap merasa senang karna jeny mau berusaha mencintainya. Apa lagi jeny mengatakanya dengan sangat tegas di depan lorenzo tadi.


“Oke.. Selamat malam sayang.” Kata tomy kembali mendaratkan ciumanya. Namun kali ini di kening jeny.


Senyum jeny mengembang di dalam dekapan hangat suaminya. Jeny tidak bisa menampik rasa nyaman dan juga rasa terlindunginya ketika berada di dekapan hangat pria tampan itu.


Baru beberapa detik jeny menutup kedua matanya tiba tiba bayangan senyum sinis rachel terbayang di matanya. Jeny langsung membuka kembali matanya dan melepaskan dekapan hangat suaminya.


“Kenapa?” Tanya tomy bingung karna tiba tiba jeny menjauh darinya.


“Siapa sebenarnya rachel?”


Tomy mengeryit. Tomy sudah pernah mengatakan siapa rachel pada jeny. Namun tiba tiba wanita itu kembali menanyakan tentang rachel padanya.


“Aku kan udah pernah bilang sama kamu rachel itu temen aku pas masih kuliah di amsterdam.” Jawab tomy hendak meraih kembali tubuh jeny namun tanganya langsung di tepis oleh jeny.


“Kalau memang hanya teman kenapa dia sampai menyusul kamu kesini?” Tanya jeny lagi.

__ADS_1


Tomy menghela nafas. Tomy tau jeny tidak suka pada rachel. Dan tomy suka jika memang jeny cemburu dengan rachel. Tapi jika jeny terus menuntut untuk tomy menjelaskan tentang siapa rachel baginya tomy tidak bisa banyak menjelaskan karna tomy memang tidak pernah menganggap rachel penting di hidupnya.


“Untuk itu kamu bisa tanyakan sendiri pada rachel.” Jawab tomy tenang.


Jeny berdecak. Jangankan menanyakan langsung pada wanita itu. Bertatap muka langsung dengan rachel saja membuat jeny muak.


Jeny bangkit dari berbaringnya kemudian melipat kedua tanganya di bawah dada. Jeny benar benar sangat tidak puas dengan apa yang tomy katakan padanya tentang rachel.


Tomy ikut bangkit. Senyumnya mengembang. Tomy berharap rasa tidak suka jeny pada rachel karna rasa cinta yang mulai tumbuh di hati jeny untuknya.


“Sayang...”


Tomy mendekat dan memeluk kembali tubuh jeny dari belakang. Pria itu menempelkan dagunya di bahu jeny. Sedangkan tanganya kembali mengusap usap lembut perut rata jeny.


“Kamu cemburu ya?” Tanyanya menggoda jeny.


Jeny terdiam. Jeny tidak merasa cemburu. Jeny hanya merasa tidak suka dengan rachel yang begitu manja pada suaminya.


“Jangan GR.” Ketus jeny.


Tomy terkekeh. Memang tidak mudah memahami perasaan sendiri. Sama seperti tomy yang tidak sadar dengan rasa cintanya dari dulu pada jeny.


“Aku bukan GR. Tapi aku bahagia.” Senyum tomy mengecup bahu jeny dengan kedua mata terpejam.


“Bahagia?” Tanya jeny mengeryit.


“Ya. Aku bahagia karna kamu mau tau tentang aku.” Jawab tomy.


“Sayang..” Panggil tomy kemudian.


“Kenapa?” Tanya jeny mengeryit.


“Boleh aku minta sesuatu sama kamu?” Tanya tomy mulai kembali menyelusupkan tanganya masuk ke dalam kaos oblong yang dikenakan jeny.


“Apa?”


Jeny mengeryit penasaran. Wanita itu membiarkan tomy mengusap perutnya dengan leluasa. Jeny berpikir mungkin tomy hanya ingin memberikan kasih sayang nya pada anak dalam kandunganya.


“Aku mau apapun yang terjadi kamu selalu ada buat aku.” Kata tomy.


Jeny tidak menjawab. Jeny tidak bisa berjanji meskipun dirinya memang berniat untuk memperbaiki hubunganya.


“Aku janji sayang. Aku bakal selalu ada untuk kamu dan anak kita. Aku akan selalu melindungi dan menjaga kalian..”


Jeny tersenyum mendengarnya. Jeny menyentuh tangan tomy yang terus mengusap usap perutnya. Meskipun wanita itu tidak menyentuh tangan suaminya secara langsung karna terhalang kaos yang dikenakanya.

__ADS_1


“Aku percaya.”


__ADS_2