
Tomy terbangun dari tidurnya karna merasakan lengket juga psnas di tubuhnya. Pria tampan itu meringis ketika bergerak karna merasakan sakit di bagian perutnya. Tomy kemudian menghela nafas. Di tolehkan kepalanya ke samping kanan dimana istrinya berada. Wanita cantik itu terlelap dengan menghadapnya juga dengan jarak yang sangat dekat. Meskipun jeny memang tidak memeluknya karna mungkin wanita itu takut menyenggol luka di perut tomy.
Pelan pelan tomy mencoba menurunkan selimut yang menutupi tubuhnya sampai batas leher. Pria tampan itu terkekeh setelah menyadari ada 2 lembar selimut yang menimpa tubuhnya.
“Pantas terasa sangat panas.” Gumamnya.
Tomy mengusap peluh yang membasahi kening bahkan seluruh wajahnya. Tubuhnya terasa sangat lengket juga panas karna keringat. Entah apa yang terjadi padanya namun tomy merasa sangat tidak betah sekarang. Tomy ingin mandi tapi rasanya tidak mungkin. Lukanya belum kering. Dan pasti akan sangat berbahaya jika tomy tetap mandi.
Tomy menghela nafas pelan. Mulai besok mungkin dirinya akan kembali di batasi dalam beraktivitas. Dan semua itu karna luka di perutnya.
Tiba tiba ingatan tomy kembali pada kejadian tadi siang. Jika saja sarah tidak datang tepat waktu mungkin yang berbaring di rumah sakit sekarang bukan lorenzo melainkan dirinya. Dan tomy merasa sangat berhutang budi pada sarah. Wanita itu begitu baik padanya. Sarah bahkan nekat menembak lorenzo. Meskipun tomy memang yakin sarah melakukanya bukan demi melindunginya melainkan untuk menghentikan kejahatan suaminya, lorenzo.
“By...” Panggil jeny dengan suara seraknya.
Tomy menoleh dan tersenyum. Pria itu ingin sekali memeluk tubuh jeny tapi tidak mungkin karna jeny pasti akan menolak.
“Kenapa bangun?” Tanya jeny sambil mengecek suhu tubuh tomy dengan menempelkan punggung tanganya di kening tomy.
“Panas banget sayang..” Jawab tomy tersenyum.
Jeny ikut tersenyum. Wanita itu kemudian mendudukan dirinya dan meraih kotak tisu yang ada di nakas samping tempat tidurnya.
“Syukurlah demam kamu sudah turun.. Soalnya dari sore kamu demamnya tinggi banget terus juga menggigil jadi aku selimutin 2.” Kata jeny sambil mengelap wajah dan leher basah tomy menggunakan tisu.
Tomy mengeryit. Tomy memang merasakan dingin yang amat sangat serta kepalanya yang sakit. Tapi tomy tidak menyangka jika dirinya demam selama itu.
“By.. Kamu kenapa sih ngebiyarin luka di perut kamu begitu lama? Itu bahaya banget loh... Demam kamu itu gejala infeksinya. Untung dokter axel mau kesini dan langsung nanganin kamu.. Coba kalau nggak..”
Tomy tersenyum mendengarnya. Tomy tidak berniat membuat istrinya khawatir. Tomy hanya tidak ingin ingkar janji apapun alasanya.
__ADS_1
“Maaf sayang.. Aku hanya ingin menepati janji sama kamu untuk pulang sebelum hari gelap.” Balas tomy.
Jeny menghela nafas kemudian tersenyum. Meskipun niat suaminya memang baik untuk menepati janji tapi tetap saja jeny khawatir. Tapi jika di pikir kembali kalau tomy pulang malam juga jeny pasti akan kelimpungan tidak jelas saking khawatirnya.
“Oke.. Tapi jangan ulangi lagi yah.. Dahulukan kesehatan kamu..”
Tomy menggelengkan kepalanya. Tomy tidak mungkin mendahulukan dirinya sendiri.
“Kenapa?” Tanya jeny mengangkat sebelah alisnya bingung.
“Karna kamu nomor satu untuk aku.” Jawab tomy tersenyum manis.
“Huu.. Dasar lebay.” Tawa jeny.
Tomy ikut tertawa. Jika perutnya sedang tidak terluka mungkin sekarang dirinya sedang memeluk tubuh istrinya.
“Oya by bagaimana lorenzo?” Tanya jeny kemudian.
“Lorenzo tertembak.” Jawab tomy pelan.
“Ya tuhan...” Jeny menutup mulutnya terkejut. Lorenzo tertembak dan suaminya terluka.
“Sarah menembak lorenzo saat lorenzo menodongkan pistol sama aku. Dan lorenzo langsung tidak sadarkan diri setelah terkena tembakan di punggung sebelah kirinya oleh sarah.”
Jeny menggelengkan kepalanya.
“Tapi bagaimana mungkin kak sarah.. Dia mencintai lorenzo by..”
Tomy tersenyum. Dengan lembut di belainya pipi chuby jeny. Jika sarah tidak mengatakan mencintai lorenzo mungkin jeny tidak mau berteman dengan wanita itu.
__ADS_1
“Aku nggak tau. Yang jelas sarah melakukanya bukan untuk melindungiku sayang.. Karna setelah menembak lorenzo sarah menangis bahkan sampai tidak sanggup berdiri.”
“Kamu ajak kak sarah?”
Tomy menggelengkan kepalanya.
“Saat aku menggeledah tempat persembunyian lorenzo ternyata di rumah sederhana itu ada sarah yang di sekap. Sarah bilang lorenzo membawanya saat hendak pergi keluar kota. Dan lorenzo menyekapnya di rumah itu.”
“Ya tuhan...”
Jeny ingat. Saat itu sarah menelephone nya hanya untuk menanyakan makanan khas manado yang di sukainya. Dan itu artinya lorenzo menyekap sarah cukup lama.
“Sayang kamu tau saat aku masuk ke rumah orang tua sarah aku melihat elo yang tidak mau di tinggal oleh lorenzo.. Saat itu juga aku teringat fani. Dan kamu tau bodohnya lorenzo? Dia menendang elo dari lantai 2 sampai tubuh kecilnya terhempas ke udara dan hampir terbanting ke lantai 2. Untungnya aku masih memiliki tenaga untuk berlari dan menangkap tubuh kecilnya..” Cerita tomy dengan pandangan lurus ke depan.
Jeny hanya bisa menelan ludahnya. Jeny tidak menyangka jika lorenzo bisa sejahat itu pada anak dan istrinya.
“Aku nggak bermaksud untuk menjelekan lorenzo. Tapi memang itu kenyataanya.” Kata tomy menoleh menatap jeny yang hanya diam.
Jeny mengangguk dengan senyuman di bibirnya. Beruntung jeny tidak terlena dengan kebaikan palsu lorenzo. Dan tekadnya untuk mempertahankan rumah tangganya dengan tomy adalah pilihan yang tepat.
“Sayang aku...”
Ucapan tomy terhenti ketika ponsel jeny berdering. Wanita cantik itu menoleh kemudian langsung meraih benda pipih miliknya.
“Waktunya luka kamu di obati lagi..” Senyum jeny sambil menunjukan alarm di layar ponselnya pada tomy.
Tomy menghela nafas. Pria itu merutuk dalam hati karna lagi lagi kembali menyusahkan istrinya. Ini adalah untuk yang kesekian kalinya jeny harus ekstra merawatnya.
Jeny meletakan kembali ponsel miliknya di atas nakas kemudian meraih botol salep berukuran kecil pemberian dari dokter axel. Dengan sangat pelan jeny menyingkap selimut yang menutupi tubuh tomy sampai batas perut. Setelah itu jeny membuka pelan pelan kaos rajut lengan panjang yang di kenakan tomy di bagian perutnya. Luka tomy memang tidak di perban karna untuk memudahkan jeny mengoles salep pencegah infeksi tersebut.
__ADS_1
“Dokter axel bilang aku harus olesin salep ini 4 jam sekali. Makanya aku pasang alarm biar bisa tepat waktu ngolesinya.” Kaya jeny.
Tomy meringis merasakan perih saat salep itu di oleskan dengan pelan di jahitan lukanya. Tomy sebenarnya merasa kasihan pada istrinya yang harus bangun tengah malam hanya untuk mengoleskan salep di lukanya. Sedangkan jeny sedang hamil tua yang tentunya perlu banyak istirahat lagi karna badanya yang pasti sangat kecapek'an.