
Susan sedang berendam di dalam bak mandi saat mendengar ponselnya berdering. Wanita itu memutar kedua bola matanya merasa jengah. Bagaimana tidak hampir seharian dirinya berdiam diri di apartemen sang kakak tanpa bisa melakukan hal yang sangat di sukainya yaitu memasak.
“Nggak pada perduli banget sama aku kayaknya. Kakak juga nggak nyiapin makanan apapun buat aku disini. Nggak tau aku juga butuh makan apa ya?” Gerutu susan dengan bibir di cebikkan.
Susan meraih ponselnya dengan malas. Namun ekspresi wajahnya langsung berubah sumringah ketika mendapati nama sang kakak tertera di layar benda pipih itu.
“Kakak..” Girangnya langsung menggeser layar ponselnya untuk menerima telephone dari pria yang sangat di cintainya itu.
“Hal...”
“Aku di depan pintu apartemen sekarang.” Sela tomy dengan nada dinginya.
Susan menutup mulutnya tidak percaya. Wanita itu kemudian langsung bangkit dan meraih handuknya. Susan keluar dari kamar mandi dan segera berlari keluar dari kamarnya berniat membukakan pintu untuk tomy. Susan tidak perduli bagaimana penampilanya sekarang. Yang ada di pikiranya sekarang adalah pria tampan itu. Pria yang berhasil menarik perhatianya. Pria yang juga berhasil menguasai hati dan pikiranya.
“Kakak kamu..”
Ucapan susan terhenti ketika melihat tomy yang berdiri dengan mamahnya. Ekspresi wajah susan langsung berubah melihat wanita yang mengaku sebagai mamah kandungnya berada tepat di depanya.
“Ya tuhan susan.. Kamu..”
Mamah tomy menggelengkan kepalanya melihat putri bungsunya yang hanya mengenakan handuk dari atas dada sampai lutut.
“Nggak sopan hanya mengenakan handuk di depan mamah sama kakak sayang..” Sambung mamah tomy.
Susan berdecak pelan. Sejujurnya susan percaya bahwa wanita itu adalah mamah kandungnya. Hanya saja susan tidak bisa menerima apa yang sudah di lakukan kedua orang tuanya dengan memberikanya pada mommy dan daddy nya.
“Kakak ngapain sih bawa nyonya ini kesini?” Tanya susan malas menatap mamahnya.
Mamah tomy langsung terlihat lesu. Harapan terbesarnya datang adalah sambutan hangat susan tapi nyatanya susan bahkan tidak mengharapkan kehadiranya.
“Susan jaga mulut kamu. Dia mamah kita..” Kesal tomy dengan rahang mengeras.
“Mamah kita? Dia mamah kamu kak bukan mamah kita. Kecuali kita menikah baru nyonya bagaskara ini menjadi mamah aku juga..” Balas susan santai.
__ADS_1
Mamah tomy menggelengkan kepalanya. Memberikan susan pada adik sepupu suaminya ternyata adalah sebuah kesalahan besar. Kalau susan tidak bisa mengakuinya juga suaminya mamah tomy bisa memakluminya. Tapi susan mencintai tomy yang jelas adalah kakak kandungnya adalah suatu yang sangat tidak bisa di maklumi.
“Kamu gila susan.” Geleng tomy menatap susan jijik.
“Ya kak aku memang gila. Aku gila karna mencintai pria setampan dan sehebat kamu..” Senyum susan menggigit bibir bawahnya menggoda tomy.
Plak !!
Satu tamparan keras mendarat di pipi tirus susan dari mamahnya. Wanita itu dengan kedua mata berkaca kaca serta bibir bergetar benar benar tidak menyangka putri bungsunya berani menggoda kakak kandungnya sendiri tepat di depanya.
“Jaga bicara kamu susan. Mamah bisa maklum kamu tidak mengakui mamah.. Tapi mencintai kakak kamu sendiri mamah benar benar sangat menentang itu.” Lirih wanita itu.
Tomy yang melihat itu hanya bisa diam. Terkejut juga di rasakan tomy. Tapi tamparan itu memang pantas susan dapat karna berani menggodanya begitu terang terangan.
Susan tertawa kemudian menyentuh pipinya yang terasa panas juga perih karna tamparan keras mamahnya. Mommy dan daddy nya selalu memanjakanya. Mereka bahkan tidak keberatan dengan perasaan susan pada tomy. Tapi wanita yang adalah mamah kandungnya malah menamparnya dan menentang perasaan indah itu.
“Tamparan nyonya sangat keras. Ini perih nyonya.” Katanya dengan nada meledek.
Mamah tomy menutup mulutnya. Wanita itu tidak bermaksud menyakiti putrinya sendiri. Tapi perilaku susan benar benar seperti wanita murahan yang sangat tidak di sukainya.
“Tidak apa apa nyonya. Ini memperjelas bahwa nyonya memang bukan mamah aku.” Sela susan tersenyum.
Susan kemudian beralih menatap tomy yang hanya diam di samping mamahnya. Susan tersenyum manis dan hendak meraih tangan tomy namun dengan sigap langsung di tahan oleh mamahnya dengan mencekal pergelangan tanganya.
“Jangan keterlaluan susan. Kak tomy kakak kamu.”
Susan melirik mamahnya kemudian menatap tangan wanita itu. Dengan kasar di hempaskanya tangan sang mamah hingga tubuhnya terpental kebelakang. Beruntung tomy dengan sigap langsung menahan kedua bahu sang mamah sehingga tubuh mamahnya tidak jatuh tersungkur ke lantai.
“Susan !!” Bentak tomy marah.
Susan tampak tidak perduli meskipun tomy membentaknya. Wanita itu justru berkacak pinggang menatap santai pada sang mamah yang menangis karna perlakuan kasarnya.
“Tolong jangan sentuh aku nyonya.”
__ADS_1
“Ya tuhan...” Lirih mamah tomy menutup mulutnya tidak percaya melihat kelakuan putri bungsunya.
“Susan kamu..”
“Kak yang aku mau itu kakak balas perasaan aku. Kakak datang kesini dan peluk aku dengan hangat dan penuh cinta. Bukan malah membawa nyonya ini kemari.”
“Susan cukup !!” Bentak tomy menyela.
Tomy benar benar tidak habis pikir dengan apa yang di lakukan oleh adiknya. Entah bagaimana om dan tantenya mendidik adiknya sehingga memiliki sikap kasar, arogan, dan tidak menaruh rasa hormat pada orang yang lebih tua darinya. Bahkan pada mamah kandungnya sendiri.
“Kamu...”
“Udah tomy.. Mamah nggak papa..” Sela mamah tomy tersenyum dalam tangis kesedihanya.
Bagi wanita itu kesalah fahaman susan mempunyai dasar. Wajar jika susan tidak mengakuinya karna susan hanya tau dirinya di berikan pada om dan tantenya yang kini susan panggil mommy dan daddy.
“Kak aku mau jalan jalan.. Aku jenuh disini sendirian..”
Tomy menggelengkan kepalanya lagi tidak menyangka. Susan sama sekali tidak merasa bersalah setelah apa yang di lakukanya pada sang mamah. Susan bahkan masih berani merengek manja pada tomy.
“Lebih baik kita pulang mah.. Nggak ada gunanya kita disini.” Kata tomy meraih pergelangan tangan mamahnya lembut bermaksud mengajak sang mamah pergi.
“Nak tapi..”
“Mah.. Anggap saja susan sudah mati.” Sela tomy kemudian menarik lembut tangan sang mamah pergi dari depan apartemenya.
“Tomy tapi..”
“Mah.. Tolong dengarkan tomy. Dan jangan pernah kesini tanpa tomy di samping mamah..” Sela tomy lagi.
Mamah tomy mengusap air matanya. Wanita itu menoleh kembali ke belakang dimana susan masih berdiri di ambang pintu dengan gaya angkuhnya. Mamah tomy berharap susan memanggilnya dan langsung meminta maaf padanya. Tapi nyatanya susan malah menatapnya malas dan masuk kembali ke dalam apartemen kemudian menutup pintunya dengan keras.
“Mah ayo...” Ajak tomy sedikit memaksa.
__ADS_1
“Susan pasti kecewa banget sama mamah... Dia merasa mamah sama papah nggak sayang sama dia tomy.. Susan anak yang baik.. Mamah tau itu.”
Tomy menghela nafas. Tomy memaklumi keyakinan hati mamahnya. Tomy sendiri sekarang adalah seorang papah. Jadi tomy juga merasakan sendiri bagaimana sayang dan cintanya tomy pada anaknya.