Cintai Aku

Cintai Aku
Ungkapan Hati


__ADS_3

Rey melangkahkan kaki nya untuk masuk ke dalam rumah sederhana milik Zena. Kedua mata nya mulai mengedar memperhatikan isi dari rumah tersebut, lalu Zena berbalik arah menghadap ke Rey.


"Tuan Rey, silakan duduk!" ucap Zena seraya mempersilakan Rey untuk duduk di atas kursi kayu panjang. Tidak ada jawaban dari Rey, Rey hanya mengangguk lalu duduk di sana. "Aku permisi ke dapur sebentar" Zena beranjak pergi menuju arah dapur.


Kedua mata Rey mulai memperhatikan lagi isi rumah Zena. Bukan tanpa alasan, rupa nya Rey tengah mencari sosok anak kecil yang tadi bersama Zena. Lalu tiba tiba saja terdengar suara ledakan kecil dari balik kamar yang tidak jauh dari ruang tamu tempat Rey duduk. Dengan gerak cepat Rey pun bangun dari duduk nya lalu berjalan ke arah sumber suara, kebetulan pintu kamar tersebut tidak di tutup sempurna, maka dari itu Rey masih bisa melihat ke dalam isi nya.


Dengan rasa penasaran, Rey mencoba untuk melihat lebih jelas lagi. Rupa nya di sana lah sosok anak kecil yang Rey cari, anak laki laki itu tengah asik bermain seorang diri. Lantas suara apa tadi barusan? Setelah di lihat lagi rupa nya asal muasal suara itu dari balon yang pecah, terlihat dari bekas sisa balon karet bercecer di lantai kamar. Lalu anak laki laki itu menoleh ke arah belakang seraya menatap Rey.


Dan benar dugaan nya di awal, Rey pernah bertemu anak laki laki di depan nya itu saat berada di toko kue pada beberapa minggu yang lalu. Pantas saja wajah nya tidak asing bagi Rey. Rey pun tersenyum lalu masuk ke dalam kamar itu. "Hai, kau Arcielo kan? akhir nya kita bertemu lagi, kita pernah bertemu sebelum nya di toko kue, apa kau ingat pada ku?" ucap Rey lalu duduk bersama Arcielo.


Arcielo pun tampak terdiam sejenak seraya memperhatikan kembali wajah Rey. Setelah di rasa ingat, Arcielo baru tersenyum pada Rey. "Iya paman, aku ingat, paman di toko!" ucap nya dengan polos


Rey kembali tersenyum. "Apa yang sedang kau lakukan di sini, Nak? mau aku temani bermain?" tanya Rey dengan antusias nya, Arcielo pun menggangguk semangat lalu mulai mengajak Rey untuk bermain dadu ular tangga dengan Arcielo di sana. Mereka memainkan sebuah dadu dengan penuh kesenangan. Tak ada amarah di dalam diri Rey, padahal Rey itu terkenal sombong dan arogan, namun tidak dengan anak kecil.


Dari balik pintu rupa nya ada dua pasang bola mata yang sedari tadi memperhatikan kedekatan Rey dengan Arcielo secara diam. Ya, Zena tersenyum tipis seraya mengintip ke dalam kamar untuk melihat kedekatan Rey dengan Arcielo. Arcielo tampak senang dan bahagia saat bermain bersama Rey. 'Ya Tuhan, apa ini? Apa sudah saat nya aku memberi tahu semua nya?' batin Zena.


Karena terlalu fokus memperhatikan wajah Rey, Zena tidak menyadari jika pandangan mata nya akhir nya tertangkap oleh kedua mata Rey. Sontak saja Zena pun terkejut dan langsung mengalihkan pandangan nya ke arah lain. Rey tersenyum lalu bangun dari duduk nya, Rey membiarkan Arcielo untuk bermain sendirian. Rey menghampiri Zena yang kala itu sudah ketahuan mengintip di balik pintu.


Rey berdiri tepat di depan Zena. "Maaf jika aku lancang masuk ke dalam kamar putra mu" ucap Rey


Zena menoleh. "Tidak apa apa tuan Rey, tidak perlu minta maaf" setelah mengatakan itu, Zena beranjak pergi, namun tangan nya di pegang oleh Rey. Zena menoleh lagi dengan pandangan mengarah ke arah tangan nya. "Iya tuan Rey?" lanjut nya.


Rey menatap Zena. "Zena, ada yang ingin aku katakan pada mu, apa bisa kita bicara sebentar?"


Zena menoleh ke arah Arcielo yang kala itu tampak asik bermain sendiri. "Baiklah, tapi tidak di sini, ada Arcielo"

__ADS_1


Setelah itu, mereka berdua berlalu pergi dari kamar Arcielo menuju ruang tengah. Zena dan Rey duduk saling berhadapan. Di atas meja sudah ada makanan ringan dan juga teh hangat. Zena mempersilakan Rey untuk meminum teh buatan nya lebih dulu.


"Bagaimana kabar mu, tuan? Apa luka di sudut bibir mu sudah sembuh?" Zena memperhatikan luka di sudut bibir Rey.


"Iya, luka ini sudah sembuh" Rey kembali menyeruput teh nya lalu meletakan nya kembali di atas meja, Rey memperhatikan Zena. "Kau tidak banyak berubah, hanya saja kini kau sudah menikah dan punya seorang putra yang tampan, berapa usia putra mu?" lanjut nya.


"Arcielo berusia 3 tahun"


Rey mengangguk paham. "Oh iya, di mana suami mu? Apa aku boleh bertemu dengan nya?"


Zena sedikit terkejut dengan ucapan Rey, pasal nya Zena belum pernah menikah lagi setelah bercerai dengan Rey. Rey tampak menunggu jawaban dari Zena. "Emm... Aku-"


Suara ponsel Zena tiba tiba saja berdering, seketika ucapan Zena terhenti, Zena pergi menjauh dari Rey lalu menerima panggilan masuk tersebut. Dari kejauhan, Rey hanya terdiam memperhatikan Zena, sebenar nya ada banyak sekali yang ingin Rey katakan pada Zena, soal perasaan dan isi hati nya yang paling dalam, satu hal yang masih mengganjal di pikiran Rey, apakah Zena sudah menikah lagi? Karena jika Zena sudah menikah maka Rey tak akan menganggu Zena lagi, namun jika Zena belum menikah lagi itu adalah sebuah satu kesempatan yang bagus untuk nya.


"Tuan Rey?" suara Zena membuyarkan lamunan Rey. "Maaf telah membuat mu menunggu" lanjut nya.


"Em... bukan, kami sudah lama berpisah" jawab Zena seada nya.


Rey mengangguk paham. "Zena, ada yang ingin aku katakan pada mu, ini penting" Rey langsung berjalan mendekat ke arah Zena, Zena tampak tegang dan diam di tempat. "Zena, sebenar nya aku...." Rey menggantung ucapan nya seraya terus melangkah maju mendekat ke arah Zena dengan tatapan mendominasi.


"Tuan Rey?" getaran suara Zena terdengar takut, Zena melangkah mundur ke belakang. Tatapan mata dan gerak tubuh Rey makin mendekat ke arah nya. "Tu-tuan, apa yang kau lakukan?" lanjut nya seraya melangkah mundur.


Langkah Zena pun terhenti karena dinding, tubuh Zena kini menempel pada dinding ruangan, Zena ingin sekali menghindar dari kecanggungan saat ini, namun tangan dan tubuh nya sudah di tahan oleh Rey. Rey mengurung tubuh Zena di dinding, tatapan mata kedua nya sangat dekat, Rey menatap kedua mata Zena dengan jarak yang cukup dekat, kini Zena berada dalam kungkungan nya.


Zena menelan berat saliva nya saat kedua mata nya bertemu dengan Rey, ketakutan Zena kembali muncul namun Zena berusaha untuk tetap tenang dengan situasi nya saat ini. "Tuan Rey, tolong jangan seperti ini" ucap Zena pelan.

__ADS_1


"Zena, aku menginginkan mu" ucapan Rey nyaris membuat jantung Zena berhenti berdetak, Zena langsung menatap Rey tidak percaya dan heran.


"Apa maksud mu, tuan Rey?"


Rey merangkum wajah Zena. "Zena, seperti nya aku harus mengakui kekalahan ku kali ini, aku kalah Zena, aku kalah!" lanjut nya.


"Tuan Rey-"


"Aku mencintai mu, Zena Agatha!" tukas Rey hingga membuat Zena tertegun. Zena shock di buat nya, Zena tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar, Zena menggeleng pelan berusaha menyangkal pendengaran nya. "Iya, aku kalah dengan perasaan ku, aku mencintai mu Zena Agatha, aku benar benar mencintai mu!" tegas Rey sekali lagi hingga membuat Zena hampir menangis haru.


Air mata Zena menetes. "Tuan, apa kau lupa? aku hanya lah anak dari seorang pembunuh, kau ingat dengan yang kau katakan pada ku dulu?"


"Zena, aku tahu dulu sikap ku sangat buruk, mungkin aku tidak pantas di maafkan, tapi aku tidak bisa mengendalikan diri ku Zena, aku hancur tanpa mu! Aku kehilangan diri mu Zena, selama ini aku selalu mencari mu, entah sejak kapan perasaan ku muncul, tapi yang jelas aku benar benar mencintai mu, apa kau tahu? aku selalu berdoa pada Tuhan agar di pertemukan lagi dengan mu, dan hari ini Tuhan berpihak pada ku, aku benar benar mencintai mu" jelas Rey


Zena menggeleng pelan. "Maaf tuan Rey, tapi aku tidak bisa" Zena melepas tangan Rey dan ingin beranjak dari sana, namun tubuh Zena di tahan oleh Rey, Zena pun kembali berada dalam kungkungan Rey. "Tuan Rey, tolong jangan seperti ini" lanjut nya.


"Zena, katakan pada ku sekali saja tentang perasaan mu, apa kau mencintai ku?" Rey menatap kedua mata Zena, Rey benar benar ingin tahu isi hati Zena yang sebenar nya. Jika memang Zena mencintai nya, maka Rey akan berusaha untuk mempertahankan Zena dan perasaan nya. Namun jika Zena tidak mencintai nya, maka Rey akan tetap mencintai Zena meski harus mengikhlaskan Zena hidup bersama pria lain.


Cukup lama Zena terdiam menatap Rey, lalu tiba tiba muncul di dalam ingatan Zena soal berita perjodohan Rey dengan Celine yang di beritakan oleh media televisi, memang rasa nya sangat menyesakan hati saat tahu kalau pria yang selama ini Zena cintai akan bertunangan dengan Celine. Zena menghela nafas nya dengan pasrah. "Maaf tuan Rey, tapi aku tidak mencintai mu" ucap Zena.


Rey menatap mata Zena untuk mencari cari kebenaran di sana. "Kau berbohong!"


"Tuan Rey, aku sudah menjawab pertanyaan mu" jelas Zena sekali lagi seraya menahan tangis nya. "Sekarang pergi lah, kau sudah mendapat jawaban mu" lanjut nya.


Deg! Setelah mendengar jawaban dari Zena, Rey langsung melepas genggaman tangan nya pada Zena lalu melangkah mundur ke belakang. "Aku tahu itu bukan lah jawaban mu yang sebenar nya, Zena. Mungkin saat ini kau butuh waktu" ucap Rey lalu berbalik arah ingin beranjak pergi, namun sebelum benar benar pergi Rey menoleh lagi ke arah Zena. "Besok aku akan kembali ke Jakarta, temui aku besok siang di taman Indah, aku akan menunggu jawaban mu yang sebenar nya di sana"

__ADS_1


"Tuan Rey, aku-"


Rey menatap Zena dengan tajam. "Aku akan tetap menunggu kedatangan mu di taman, Zena Agatha!" tukas Rey dengan tegas lalu pergi dari rumah Zena.


__ADS_2