Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 96


__ADS_3

“Bagaimana?” Tanya tomy menatap reyhan yang duduk di depanya dengan wajah serius.


Reyhan tersenyum tipis. Pria berjambul itu kemudian menyerahkan map yang di bawanya pada tomy.


“Kita sudah berhasil menguasai 30% saham dari perusahaan pak lorenzo pak..” Kata reyhan.


Tomy mengeryit. Mungkin sedikit bermain dengan lorenzo bisa membuat pria bermata sipit itu jera dan tidak lagi mengganggunya dan jeny.


“Hanya 30%?” Tanya tomy sambil membuka map yang di sodorkan oleh reyhan.


Reyhan tersenyum lagi. Boss besarnya memang tipe orang yang tidak suka bertele tele. Namun menurut reyhan untuk mengendalikan lorenzo tidak harus bertindak gegabah sekaligus.


“Pak.. Saya pikir jika kita menguasainya secara langsung itu tidak cukup menarik.”


Sebelah alis tomy terangkat. Pria tampan itu menatap kembali pada reyhan dan menutup map berisi beberapa berkas tentang kepemilikan saham yang di beli reyhan dari perusahaan lorenzo.


“Maksud kamu?” Tanya tomy bingung.


“Saya yakin pak tomy tau apa maksud saya.” Senyum reyhan.


Tomy hanya diam saja. Rasa kesalnya pada lorenzo membuat tomy tidak bisa lagi bersabar. Pria bermata sipit itu sudah sangat keterlaluan karna berani mengakui anak dalam kandungan jeny adalah anaknya. Lorenzo bahkan dengan tidak tau malunya menantang jeny untuk tes DNA.


“Baiklah.. Saya percayakan semuanya sama kamu rey..” Kata tomy menghela nafas.


“Saya akan berusaha sebisa saya pak.” Angguk reyhan masih dengan senyumanya.


“Oya rey bagaimana dengan keberangkatanku ke amsterdam dengan jeny. Apa sudah kamu siapkan semua?” Tanya tomy memgalihkan pembicaraan.


“Sudah pak.. Pak tomy bisa langsung berangkat besok pagi..” Jawab reyhan.


Tomy mengangguk. Memang tidak salah jika tomy sangat percaya pada reyhan. Selain dapat di percaya reyhan juga sangat pintar dan penuh dengan taktik dalam melakukan sesuatu.


“Kalau begitu saya pulang dulu..”


Tomy bangkit dari duduknya. Pria tampan itu menepuk 2 kali bahu tegap reyhan sebelum berlalu keluar dari ruanganya.


Reyhan menghela nafas. Apa yang di lakukanya untuk tomy bukan hanya bentuk profesionalnya dalam bekerja saja. Namun juga bentuk balas budinya pada tomy yang membuatnya bisa berdiri dan memiliki jabatan sampai sekarang.


“Tuhan... Semoga yang ku lakukan tidak salah..” Gumam reyhan lirih.


_________________________________________________


“Dokter axel !!”


Dokter axel berhenti melangkah ketika mendengar pekikan jeny yang menyerukan namanya. Pria berambut cepak itu langsung membalikan tubuhnya dan tersenyum menatap jeny yang berjalan cepat menghampirinya.

__ADS_1


“Dokter jeny.. Ada yang bisa saya bantu?” Tanyanya dengan senyuman manis di bibirnya.


Jeny terdiam sesaat. Selain dokter axel tidak ada lagi dokter lain yang tau jelas tentang keadaan fani.


“Dok.. Bagaimana keadaan fani?” Tanya jeny langsung.


Senyum di bibir dokter axel langsung memudar. Selama ini tidak ada seorangpun yang ingin tau tentang pasien kecilnya itu. Bahkan kedua orang tuanya sekalipun.


“Semuanya baik baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Jawab dokter axel dingin kemudian langsung berbalik dan melangkah meninggalkan jeny.


Jeny mengeryit. Nada bicara dokter tampan itu langsung berubah begitu jeny menanyakan tentang keadaan fani.


“Dokter axel !!”


Jeny kembali berseru memanggil nama dokter tampan itu. Dan seruanya berhasil menghentikan kembali langkah dokter axel.


Setelah dokter axel berhenti jeny kembali melangkah mendekat. Jeny tau dokter axel sangat perduli pada fani. Karna jeny sering melihat sendiri bagaimana telatenya dokter axel menyuapi fani baik saat sarapan, makan siang, bahkan makan malam. Dokter axel juga selalu berbicara lembut pada gadis berkepala botak itu ketika hendak memberinya obat.


“Saya ingin tau bagaimana keadaan fani dokter.” Kata jeny tidak menyerah.


Dokter axel menghela nafas. Bukan tidak mau memberitahu. Dokter axel hanya merasa jeny bukanlah siapa siapa untuk pasien kecilnya itu.


“Untuk apa dokter? Anda bukan keluarganya.” Balas dokter axel dingin dan tetap memunggungi jeny.


Jeny sadar dirinya memang bukan siapa siapa. Namun rasa perdulinya pada gadis kecil itu membuat jeny ingin tau dan ingin selalu ada untuknya.


“Dokter jeny saya dengar anda sedang hamil.. Selamat karna sebentar lagi anda akan menjadi seorang ibu. Dan untuk masalah fani anda tidak perlu repot dan khawatir. Saya bisa menjaganya. Saya permisi.”


Dokter axel melangkah lebar tanpa menoleh pada jeny yang masih terpaku di tempatnya. Entah apa salahnya sehingga dokter itu bersikap dingin padanya dan terus menutupi tentang keadaan fani padanya.


“Sayang..”


Jeny tersentak ketika mendengar suara berat tomy. Cepat cepat jeny membalikan tubuhnya. Kedua matanya membulat sempurna ketika mendapati tomy yang sudah begitu sangat dekat denganya.


“Ya tuhan.. Tomy..”


Jeny hendak memundurkan langkahnya namun kedua tangan tomy dengan cepat merangkul pinggang jeny dan memeluknya mesra.


“Kamu kenapa dengan dokter itu?” Tanya tomy dengan wajah sendu menatap jeny.


Jeny menghela nafas. Tomy pasti mulai mencurigainya lagi.


“Kenapa kamu mau mengerjarnya?” Tanya tomy lagi.


Jeny terkekeh. Wajah tampan suaminya sangat menggemaskan jika menatapnya seperti itu.

__ADS_1


Jeny menangkup kedua pipi tirus tomy dengan kedua tanganya. Gemas sekali rasanya. Jeny menekan kedua pipi suaminya sehingga bibir tomy menjadi sedikit maju.


“Aku hanya bertanya tentang fani. Jangan cemburu.” Kata jeny kemudian melepaskan pipi tomy.


Tomy menghela nafas lega. Tomy percaya jika istrinya adalah wanita setia. Tapi dengan dokter axel, tomy takut jika pria berambut cepak itu sampai terpesona dengan kecantikan istrinya.


“Baiklah... Aku percaya.” Pelan tomy.


“Ya.. Kamu memang harus bahkan wajib percaya sama aku.” Senyum jeny.


Jeny melepaskan pelan pelukan tomy di pinggangnya. Wanita cantik berambut lurus itu kemudian menarik pergelangan tangan suaminya mengajaknya menuju ruanganya.


“Bukanya kita mau pulang sekarang?” Tanya tomy bingung.


“Ya suamiku. Tapi ada sesuatu yang tertinggal.” Jawab jeny.


Tomy tersenyum mendengar kata suamiku yang baru saja terlontar dari bibir jeny. Hubunganya berkembang dengan sangat pesat. Sejak mengetahui kehamilanya jeny memang mulai terbuka padanya. Jeny juga mau menerimanya semalam.


“Sayang..” Panggil tomy.


“Heem...” Saut jeny sambil membuka pintu ruanganya.


“Nanti lagi yah..” Kata tomy dengan senyuman di bibirnya.


Jeny mengeryit. Wanita itu berbalik menatap tomy setelah meraih ponselnya yang terletak di samping tumpukan map di atas meja kerjanya.


“Maksud kamu?” Tanya jeny bingung.


Tomy melangkah mendekat. Pria itu meraih kembali pinggang jeny dan memeluknya mesra.


Jeny yang di perlakukan begitu lembut dan mesra hanya diam saja. Wanita itu benar benar tidak bisa berkutik di buat oleh tomy.


“Semalam.. Kamu indah..” Bisik tomy tepat di depan wajah cantik jeny.


Nafas jeny mulai tidak beraturan seiring dengan bertambah cepatnya detak jantungnya. Dengan susah payah jeny menelan ludahnya kemudian memejamkan kedua matanya.


Tomy yang melihatnya tersenyum. Jeny memejamkan kedua matanya mungkin bermaksud menghindari tatapanya. Di kecupnya singkat bibir pink jeny.


“I Love you..” Bisik tomy dengan bibir yang hanya berjarak 1 cm dari bibir jeny.


Jeny membuka kedua matanya. Tomy tidak lagi memaksakan kehendaknya seperti saat itu. Pria itu begitu lembut dan penuh kasih memperlakukanya.


“Kita pulang sekarang.” Bisik tomy lagi.


Jeny menganggukan kepalanya. Wanita itu hanya diam saja saat tomy kembali mengecup singkat bibirnya. Jeny juga menurut ketika tomy menuntunya keluar dari ruanganya.

__ADS_1


__ADS_2