
Seminggu berlalu semenjak kembalinya susan ke rumah kedua orang tuanya baik tomy maupun jeny keduanya belum lagi berkunjung ke rumah orang tua tomy. Mereka hanya menanyakan kabar susan juga mamah dan papah tomy lewat sambungan telephone saja.
“Selamat 1 bulan ya sayangnya mamah..” Senyum jeny sambil mengusap kening putranya yang sedang asik menyusu padanya.
Jeny tidak menyangka waktu begitu cepat berlalu. Dan hari ini adalah tepat satu bulan usia putra pertamanya.
“Sayang...”
Jeny menolehkan kepalanya ketika mendengar suara berat suaminya. Wanita cantik itu tersenyum kemudian segera mendekat pada suaminya. Hari ini tomy memang tidak berangkat ke kantor karna kebetulan tepat sebulan usia putra mereka jatuh pada hari minggu.
“Eemm.. Anak papah udah mandi yah.. Wangi banget..” Senyum tomy sambil menciumi pipi gembul putranya.
Faraz menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan mulutnya yang terbuka. Bayi tampan itu seperti akan menggigit bibir sang papah yang begitu gemas padanya.
“Haha.. Di kira nenya kali by kamu..” Tawa jeny merasa lucu dengan respon putranya saat di cium oleh tomy.
Tomy ikut tertawa kemudian mengambil alih tubuh putranya dari gendongan jeny.
“Papah punya kejutan buat kamu..” Katanya.
Jeny menggelengkan kepalanya. Tomy mengatakanya seolah faraz sudah tau apa yang di katakanya.
“Buat mamah juga.” Lanjut tomy sambil mengedipkan sebelah matanya pada jeny.
Jeny mengeryit namun sedetik kemudian tertawa. Entah kejutan apa yang di maksud oleh suami tercintanya.
“Ayo sayang..” Ajak tomy.
Jeny menganggukan kepalanya. Wanita cantik itu melingkarkan tanganya di lengan kekar tomy kemudian berjalan beriringan dengan suami tampanya itu berlalu dari taman belakang rumahnya.
Jeny menatap 2 kado berukuran sedang yang berada di atas sofa ruang tengah.
“Itu untuk aku sama faraz?” Tanyanya menoleh pada tomy.
“Ya sayang, dan berhubung faraz belum bisa buka kadonya jadi kamu saja yang buka..” Jawab tomy tersenyum membalas tatapan istri tercintanya.
“Oke..” Angguk jeny menyetujui.
Jeny kemudian melangkah menuju sofa panjang dimana 2 kado berukuran sedang pemberian suaminya berada. Jeny meraih kado berwarna pink bertuliskan my wife kemudian menunjukanya pada tomy yang berdiri di depan pintu dengan menggendong faraz.
“Aku buka punyaku dulu ya by..” Katanya.
“No problem..” Balas tomy tersenyum tidak mempermasalahkanya.
__ADS_1
Jeny kemudian mendudukan dirinya di atas sofa dan mulai membuka kado pemberian suaminya.
”Permisi pak, bu..”
Jeny mengalihkan perhatianya dari kado yang di pegangnya pada bibi yang berdiri di samping suaminya.
“Kenapa bi?” Tanya tomy menoleh pada bibi.
“Di depan ada mbak susan, sama nyonya dan tuan bagaskara.” Kata bibi memberitahu.
Jeny dan tomy saling berpandangan. Mereka mempunyai pemikiran yang sama kali ini. Yaitu kedua orang tua tomy marah karna jeny dan tomy tidak pernah datang seminggu ini.
“Ya bi.. Tolong buatin minum yah.. Sebentar lagi kami keluar.” Senyum tomy kembali menatap pada bibi.
“Baik pak.” Angguk bibi kemudian berlalu.
Jeny menelan ludahnya. Wanita itu bangkit dari duduknya dan meletakan kembali kado yang hampir di bukanya. Jeny kemudian melangkah mendekat pada suaminya.
“By...” Lirihnya.
Tomy yang melihat ekspresi istrinya langsung bisa mengerti. Jeny pasti juga merasa khawatir sekarang.
“Ternyata kalian disini.”
“Papah..” Senyum tomy.
“Uuhh.. Cucu kesayangan opah.. Sini sini sama opah..”
Tomy langsung memberikan faraz pada papahnya. Tomy tau mungkin papahnya sangat merindukan cucu pertamanya.
“Tomy, jeny, faraz biar sama papah dulu yah.. Kalian temui mamah sama susan di depan.”
Jeny dan tomy kompak menganggukan kepalanya. Mereka berdua membiarkan faraz di bawa oleh papah tomy.
“Ayo..” Ajak tomy meraih tangan istrinya.
“Yah..” Angguk jeny.
Tomy dan jeny berjalan dengan tangan bertautan menuju ruang tamu untuk menemui susan dan mamahnya. Dan ketika sampai di ruang tamu ternyata tidak hanya ada susan dan mamah tomy, tetapi juga ada angel yang duduk di samping susan. Namun bukan itu yang membuat jeny dan tomy terdiam, melainkan wajah susan yang sudah kembali cantik seperti sedia kala.
“Susan..” Lirih tomy tidak percaya.
Susan tersenyum dan langsung bangkit. Wanita itu menyalimi jeny dan tomy bergantian dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.
__ADS_1
“Bagaimana kak? Aku udah pantes jadi model lagi belum?” Tanya nya dengan wajah bahagia.
Tomy dan jeny saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Tentu saja.” Jawab tomy tersenyum manis.
Angel yang sedari tadi diam ikut tersenyum. Angel memang sengaja datang untuk memberikan kado pada faraz yang hari ini berusia genap satu bulan.
Jeny mendekat pada mamah mertuanya kemudian menyaliminya.
“Kamu apa kabar jeny?” Tanya angel dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya.
“Seperti yang mbak lihat. Aku baik baik saja mbak.” Jawab jeny tersenyum.
“Ah ya mbak, kenalin ini mamah aku. Dan itu susan. Dia adik aku.” Senyum jeny memperkenalkan mamah mertua juga adik iparnya.
Angel menganggukan kepalanya. Wanita itu kemudian menyalimi mamah tomy dengan sangat sopan.
Tidak lama papah tomy muncul dengan menggendong faraz. Dan saat itu juga semua perhatian langsung tertuju pada putra juga cucu pertama keluarga bagaskara. Faraz juga mendapatkan banyak kado dari omah dan opahnya, dari tantenya, juga dari angel yang juga sengaja datang untuk faraz.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat jeny menolehkan kepalanya ke arah pintu. Senyuman di bibirnya langsung pudar saat mendapati sarah dan lorenzo juga elo yang berdiri di depan pintu. Tomy memang sudah mengatakan bahwa lorenzo di bebaskan. Tapi jeny tidak pernah menyangka lorenzo akan datang ke rumahnya.
Jeny menghela nafas. Tidak mau terkesan tidak menghormati tamu jeny pun bangkit dan mendekat pada sarah dan lorenzo.
“Kak sarah..” Senyum jeny tipis.
“Hy tante.. Ini elo bawain hadiah buat dede faraz..” Antusias elo yang langsung berhasil membuat semua perhatian teralihkan padanya.
Angel, susan, juga kedua orang tua tomy menatap sarah dan lorenzo yang masih berdiri di depan pintu. Dan mendapat tatapan penuh dari semua yang ada disitu membuat keduanya salah tingkah.
“Makasih ya anak ganteng..” Senyum jeny mengusap gemas rambut elo.
Jeny mempersilahkan sarah dan lorenzo masuk dan bergabung. Jeny memang masih merasa sedikit kecewa dengan apa yang sudah lorenzo lakukan. Tapi jeny juga tau memendam rasa benci sangatlah tidak baik.
“Aku sangat berterimakasih atas semua kebaikan kamu.. Aku sadar apa yang aku lakukan memang salah.”
Tomy tersenyum tipis mendengarnya. Lorenzo sengaja mendekat padanya hanya untuk mengatakan itu padanya.
“Berterimakasihlah pada sarah. Dia istri yang baik, yang rela memendam rasa sakit demi cintanya sama kamu. Dan jadilah orang tua yang baik untuk elo. Dia sangat mendambakan kasih sayang dari kamu.” Balas tomy tanpa menatap lorenzo yang berdiri di sampingnya.
Lorenzo mengangguk. Apa yang di lakukanya pada sarah memang sudah sangat keterlaluan. Apa lagi pada elo. Darah dagingnya sendiri.
__ADS_1
“Ya. Aku akan menebus semuanya.”