
Bukan nya menjawab, Zena malah mengajak Rey ke rumah nya. Rey pun mengikuti Zena, rasa ingin tahu Rey begitu besar. Saat itu Zena tidak mau memberi jawaban perihal pertanyaan Rey barusan. Mengapa jika ingin tahu kebenaran nya Rey harus ikut dengan Zena ke rumah? Mengapa tidak langsung saja Zena jelaskan hari itu juga.
Setiba nya di kediaman rumah Zena, Zena langsung berjalan menuju kamar nya, Rey pun masih mengikuti Zena dari belakang. Lalu Zena mengeluarkan sebuah dokumen, seperti nya dokumen itu penting.
"Kau ingin tahu semua jawaban nya kan, tuan Rey?" tanya Zena seraya memberikan dokumen penting tersebut pada nya. Rey terdiam lalu menerima dokumen itu dengan kebingungan di wajah nya. "Kau bisa buka surat yang ada di dalam dokumen itu" lanjut Zena.
Dengan rasa penasaran dan pertimbangan, akhir nya Rey pun membuka dokumen itu dengan perlahan. Satu persatu Rey melihat surat itu, raut wajah Rey seketika berubah. Rey terkejut dengan apa yang Ia lihat. Lalu Rey mendongak menatap Zena dengan raut wajah terkejut nya. "Apa maksud semua ini, Zena? mengapa golongan darah Arcielo sama dengan ku, Jadi selama ini...."
"Ya! Arcielo memang benar putra mu, Arcie darah daging mu!" jelas Zena secara jujur.
"Arcielo Ranaka Putra Atmaja!" Rey membaca nama yang tertulis di surat Akte kelahiran, di sana tertera juga nama kedua orang tua kandung Arcielo, yaitu Rey Atmaja dan Zena Agatha. Namun Rey masih belum percaya dengan semua bukti yang Zena berikan. "Ini tidak mungkin! Kau pasti berbohong kan, Zena?"
Zena menggeleng lalu menatap Rey dengan kesal, dengan penuh kekesalan Zena pun menarik lalu mencengkram kerah baju Rey. "Untuk apa aku berbohong pada mu, tuan Rey? Kau sendiri kan yang ingin tahu soal kebenaran nya? Jika kau tidak percaya, kau boleh melakukan tes DNA untuk mengetahui kebenaran nya!" ucap Zena tegas. "Dan biar ku perjelas lagi, Aku hanya melakukan nya dengan mu tuan Rey, malam itu.... Apa kau lupa? Hah!" jelas Zena lalu melepas kembali cengkraman tangan nya.
Rey pun terdiam seraya mengingat kembali kejadian pada empat tahun lalu. Malam itu, Rey memaksa Zena untuk melayani nya, Rey memaksa Zena untuk melakukan hubungan suami istri secara paksa, dengan niat untuk membalas dendam atas kematian kekasih nya, Nayra. Walaupun Zena menolak, namun Rey terus memaksa nya hingga hal yang tidak di ingin kan akhir nya terjadi, mereka benar benar melakukan nya pada malam itu.
Walaupun demikian, Zena selalu meminum pil khusus agar diri nya tidak hamil, namun Tuhan berkehendak lain, entah bagaimana bisa terjadi tapi yang jelas Zena benar benar positif hamil. Zena terkejut saat mengetahui bahwa diri nya hamil, padahal Zena masih berstatus sebagai istri Rey, harus nya tidak perlu khawatir bukan? namun Zena malah menyembunyikan kehamilan nya dari Rey karena Zena pikir Rey sama sekali tidak menginginkan kehadiran anak yang di kandung nya itu.
Rey menggeleng cepat. "Ini tidak mungkin! Bukan kah kau bilang kau selalu minum pil yang aku berikan? lalu bagaimana bisa kau hamil? Mengapa kau tidak memberitahu ku dari awal soal kehamilan mu ini? Hah!"
"Karena kau membenci ku, tuan Rey! Jadi untuk apa aku memberitahu mu? tidak ada guna nya aku memberitahu mu soal ini, lagi pula kau tidak benar benar menginginkan kehadiran Arcielo bukan? Lalu untuk apa aku memberitahu mu?" jelas Zena.
Rey terdiam mendengar ucapan Zena, Rey masih tidak percaya dengan apa yang Zena jelaskan barusan. Memang benar, saat itu Rey masih memiliki rasa benci pada Zena walau hanya sedikit, namun tidak dengan anak yang di kandung Zena. Jika saja Zena memberitahu diri nya dari awal mungkin situasi nya akan berbeda. Mungkin Rey akan menerima kehadiran janin yang di kandung oleh Zena.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, semua nya telah terjadi begitu saja. Rey merasa menjadi manusia paling jahat di dunia karena telah menyia nyiakan Zena dengan membiarkan Zena mengalami masa kesulitan seorang diri. Mengandung putra nya bukan lah hal yang mudah di jalani oleh Zena. Meski begitu Zena tetap melahirkan dan membesarkan putra nya dengan baik.
Rey menatap Zena. "Oh... Jadi begitu alasan mu, itu sebabnya kau pergi meninggalkan ku dulu? mengapa kau baru memberitahu ku soal ini, Zena? mengapa kau menutupi kebenaran ini dari ku? Bagaimana masa depan Arcielo nanti nya? kau membiarkan Arcielo hidup tanpa kasih sayang dari seorang ayah! Apa kau tega?" ucap Rey kesal.
"Biar ku perjelas, tuan Rey! aku pergi bukan karena keinginan ku sendiri, tapi karena masa kontrak pernikahan palsu kita telah berakhir, aku hanya mengikuti aturan main nya saja!" Zena mulai meneteskan air mata usai menjelaskan semua. "Dan... soal masa depan Arcielo, kau tidak perlu khawatir soal itu, karena Arcielo selalu mendapatkan kasih sayang penuh dari tuan Rio maupun Paman Derry!" jelas Zena
Kedua tangan Rey mengepal sempurna, Rey merasa kesal jika mendengar nama paman Derry di sebut. Hati nya terasa panas, entah mengapa Rey mendadak jadi tidak suka saat mendengar nama Rio di sebut sebut dalam percakapan mereka. Rey masih terdiam dan menahan amarah dalam diri nya.
__ADS_1
Zena melangkah mendekati Rey. "Kau juga tidak perlu khawatir soal kehidupan Arcielo, Karena aku memiliki uang tabungan yang cukup untuk Arcielo, aku yakin kehidupan Arcielo akan terjamin!"
Rey menyeringai usai mendengar ucapan Zena. "Terjamin? Kau sangat percaya diri sekali, Zena? Apa kau yakin uang tabungan mu cukup untuk mencukupi kehidupan putra ku? atau... kau akan menggoda Rio Gantara nanti nya untuk mendapatkan simpatik dan harta dari keluarga Gantara? Iya?"
PLAK!!!
Kepala Rey langsung tertoleh ke samping usai mendapat tamparan dari Zena. Zena tidak menyangka jika Rey akan berkata jahat seperti itu, hati Zena sakit mendengar Rey mengatakan hal rendahan seperti itu, Zena begitu kesal dan marah dengan perkataan Rey. "Apa kau pikir aku menggoda tuan Rio Gantara? Aku bukan lah wanita rendahan seperti yang kau pikirkan tuan Rey! Tolong, jaga ucapan mu!" tekan Zena
Rey menoleh ke arah Zena lalu menyentuh sudut bibir nya yang berdarah. Rey pun tersenyum lalu menarik tekuk leher Zena ke depan hingga membuat Zena terkejut bukan main. Tatapan mereka kini bertemu, Zena terdiam menatap Rey dengan tatapan kesal nya. Sementara Rey, menatap Zena penuh kelembutan. Jarak kedua nya kini dekat, Rey maupun Zena saling tatap.
"Lepaskan aku, tuan Rey!" pinta Zena lalu mencoba untuk melepaskan diri, namun tangan Rey langsung menarik pinggang ramping Zena hingga membuat tubuh Zena makin merapat dan menempel pada Rey.
"Setelah berani menamparku? kau ingin aku melepaskan mu begitu saja? Tidak! aku akan memberi mu hukuman karena telah berani menamparku, Zena!" ucap Rey dengan tenang.
"Kau memang pantas untuk di tampar, tuan Rey! Bahkan kau juga pantas untuk-" belum sempat melanjutkan ucapan nya, bibir Rey langsung membungkam bibir Zena hingga membuat Zena terkejut.
Zena berupaya untuk menghentikan aksi gila yang di lakukan oleh Rey, Zena pun terus meronta agar Rey melepaskan diri nya, namun nyata nya hal itu malah makin membuat ciuman Rey kian liar. Alhasil, Zena pun hanya bisa pasrah dengan apa yang di lalukan oleh Rey. Setelah di rasa tenang, Rey mulai melepaskan ciuman nya pada Zena, Rey tersenyum lalu mengusap bibir ranum Zena, ada noda darah nya yang menempel di sudut bibir Zena.
Zena langsung mendorong tubuh Rey agar menjauh dari nya lalu Zena mengusap kasar bibir nya. "Kau gila! Aku benci kau, tuan Rey!" lanjut Zena penuh emosi. Nafas Zena terlihat naik turun karena menahan kesal nya sedari tadi.
Perkataan Rey membuat Zena naik pitam, Ia pun kesal lalu mengangkat satu tangan nya bersiap untuk menampar Rey lagi, namun hal itu di gagalkan oleh Rey karena dengan sigap Rey langsung menangkap tangan Zena. "Jika kau menampar ku lagi, maka aku akan melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman! Aku bisa melakukan yang lebih dari ini, Zena!" peringat Rey seraya menatap Zena.
Lalu Zena menarik paksa tangan yang di genggam oleh Rey. "Dasar gila! Aku benci pada mu!" ucap Zena kesal.
Lalu terdengar suara klakson mobil di luar, Zena dan Rey pun menoleh bersamaan ke arah jendela kamar. Lalu Zena menatap Rey dengan tatapan sinis, bukan nya marah, Rey malah tersenyum. Setelah itu, Zena pergi keluar untuk melihat siapa pemilik mobil yang terpakir di halaman depan rumah nya.
Zena membuka pintu rumah nya, di sana sudah ada Rio Gantara yang berdiri seraya menggendong Arcielo. Arcielo tertidur pulas dalam gendongan Rio, Zena pun meminta Rio untuk masuk ke dalam rumah. Di dalam kamar, Rio merebahkan tubuh Arcielo lalu keluar bersama Zena. Mereka berbincang di ruang tamu.
"Maaf ya tuan Rio, karena aku merepotkan mu lagi!" ucap Zena
"Tidak apa apa, Zena. Lagi pula Arcie sudah seperti putra ku sendiri, jadi... santai saja!" jawab Rio lalu pandangan nya menoleh ke arah Rey yang saat itu tengah berjalan ke arah ruang tamu. Rey duduk di sana tanpa di minta. "Kau di sini Rey? Sejak kapan? Aku pikir kau sudah pulang ke rumah!" lanjut Rio.
__ADS_1
"Iya, aku ingin menginap di sini, aku ingin menemani Arcielo" jelas Rey lalu menatap Zena. Dahi Zena seketika mengerut seraya menatap kesal pada Rey, namun Rey tidak peduli dengan tatapan Zena.
"Oh begitu rupa nya, ya sudah kalau begitu aku pamit pulang! Jaga Arcielo dengan baik" ucap Rio lalu beranjak pergi dari rumah Zena. Zena dan Rey mengantar Rio sampai depan pintu rumah nya.
Setelah kepergian Rio, Zena terus menatap ke arah mobil Rio yang sudah melaju jauh. Rupa nya pandangan Zena tertangkap jelas oleh Rey yang kala itu berdiri di samping nya. Rey di buat kesal dengan Zena, pasal nya Rio sudah pergi jauh dari rumah nya, tapi mengapa Zena masih sibuk menatap nya dari jauh seperti itu. Hal itu memicu rasa cemburu dalam diri Rey.
"Mau sampai kapan kau menatap mobil Rio seperti itu? Apa kau menunggu sampai mata mu keluar?" ucap kesal Rey
Dahi Zena mengerut heran lalu menoleh ke arah Rey. "Apa peduli mu? Urus saja diri mu sendiri!" Zena pun masuk meninggalkan Rey di sana.
Setelah itu, Zena masuk ke dalam kamar nya di ikuti oleh Rey di belakang nya. Menyadari hal itu, Zena pun menahan Rey lalu segera mengusir nya keluar. "Kau ingin apa, tuan Rey? Keluar!" usir Zena seraya mendorong tubuh kekar itu.
"Aku ingin tidur dengan mu!" ucap Rey
"Apa? Kau sudah gila! Keluar! Ayo keluar!" Zena terus mendorong tubuh Rey dengan sekuat tenaga nya, Zena benar benar tidak menyangka jika tubuh Rey begitu kuat. "Kau tidur di luar, tuan Rey!" ucap nya lagi.
Rey menahan diri di ambang pintu. "Tidak! Tolong biarkan Aku tidur di kamar bersama mu, Zena!" Rey masih mempertahankan diri di ambang pintu.
"Tidak!"
Lalu Zena menutup paksa pintu kamar nya, namun tanpa sengaja hal itu melukai tangan Rey, Rey pun langsung mengaduh kesakitan karena tangan nya terjepit pintu. Hal itu lah yang membuat Zena menghentikan aksi tutup pintu nya. Zena memegang tangan Rey untuk melihat luka nya. Dan benar saja, kuku Rey terluka dan berdarah karena ulah nya sendiri. "Tuan, apa yang kau lakukan? Lihat! Kau terluka kan sekarang!" omel Zena lalu mengajak nya untuk duduk di ranjang.
Zena mencari kotak obat milik nya lalu mulai mengobati luka di tangan Rey. Rey terdiam memandangi wajah Zena dari dekat, Zena sibuk menotol obat serta meniup niup luka di tangan Rey. Sikap Zena makin membuat Rey jatuh hati, Rey tahu kalau Zena sebenar nya juga mencintai diri nya, hanya saja Zena gengsi mengakui nya.
"Selesai!" ucap Zena lalu menatap Rey, rupa nya Rey tertangkap basah menatap nya. Hal itu membuat Zena heran sendiri. "Mengapa kau selalu membuat ku kesal, tuan? Untung saja luka mu tidak parah!" lanjut nya.
"Maafkan aku"
Lalu Zena menghela nafas, Zena melihat ada luka lain di sudut bibir Rey. Tentu saja Zena ingat apa yang membuat sudut bibir Rey terluka. "Apa kau tidak merasakan perih?" Zena menyentuh sudut bibir yang luka itu.
Rey terdiam sejenak seraya menatap Zena, lalu tangan nya menyentuh Zena. "Tidak apa apa, Zena! Aku baik baik saja" ucap Rey.
__ADS_1
Zena menatap Rey dengan sedih. "Aku minta maaf, maaf sudah menampar mu, tuan Rey!" Zena benar benar merasa bersalah karena telah menampar Rey.
Lalu Rey merangkum wajah Zena. "Hey, aku tidak apa apa Zena, sungguh!" Setelah itu, Zena meniup luka di sudut bibir Rey, hal itu menimbulkan reaksi tidak biasa pada Rey. Tanpa aba aba, Rey langsung mencium bibir Zena, Zena pun membalas ciuman Rey.