Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 134


__ADS_3

Tomy mengklakson mobilnya begitu sampai di depan gerbang. Pria tampan itu menghela nafas menunggu pak satpam membukakan pintu gerbang untuknya. Ketika pak satpam sudah membukakan pintu gerbang tersebut tomy pun menurunkan kaca mobilnya. Tomy ingat, jeny sangat tidak suka dengan sikapnya yang seenaknya. Maka dari itu tomy ingin merubah sikapnya pelan pelan.


“Terimakasih pak..” Senyum tomy menatap pak satpam yang berdiri di samping pintu gerbang.


“Sama sama pak..” Saut pak satpam.


Pelan pelan tomy melajukan mobilnya masuk ke dalam pekarangan luas rumah kedua mertuanya. Tomy tidak takut apa lagi gentar. Masalahnya dengan jeny harus benar benar terselesaikan malam ini juga. Dan tomy harus bisa membawa jeny kembali pulang bersamanya malam ini juga.


Tomy turun dari mobilnya. Pria tampan itu menghela nafas lagi. Entah sudah berapa kali pria tampan itu menghela nafas. Ketika hendak melangkahkan kakinya tiba tiba hidungnya mencium aroma harum makanan. Dan mendadak perutnya terasa sangat lapar. Tomy terkekeh pelan, tomy yakin mamah mertuanya sedang memasak sekarang.


“Tom.. Kok nglamun disitu?”


Tomy menolehkan kepalanya. Pria itu meringis ketika mendapati papah jeny yang sudah berdiri di ambang pintu utama rumahnya. Dengan langkah cepat tomy menghampiri mertuanya itu kemudian menyaliminya sopan.


“Pah...” Senyum tomy.


“Kamu baru pulang?” Tanya papah jeny menatap bingung penampilan tomy.


Bagaimana tidak? Biasanya pria tampan itu selalu memakai setelan formalnya. Tapi sekarang pria itu hanya mengenakan celana pendek selutut serta kaos putih pendek berkerah V. Tomy juga hanya menggunakan sabdal rumahan sebagai alas kakinya. Rasanya tidak mungkin jika tomy baru pulang dari kantor setelah bekerja seharian.


“Eemm.. Iya pah..” Jawab tomy tersenyum tipis.


Papah jeny menganggukan kepalanya meskipun ragu. Pria baya itu kemudian merangkul bahu tomy dan mengajaknya masuk. Papah jeny membawa tomy ke meja makan dimana jeny dan mamahnya sedang mencicipi cemilan buatanya.


Tomy berhenti melangkah begitu juga dengan papah jeny. Pria tampan itu tersenyum menatap istrinya yang tampak sangat bahagia dengan senyuman lebar.


“Mereka lagi bangga banget karna berhasil buat donat kentang.” Kata papah jeny.


Tomy terkekeh mendengarnya. Sepertinya jeny tidak menceritakan tentang masalah yang sedang mereka berdua hadapi. Buktinya papah jeny masih bersikap seperti biasanya pada tomy.

__ADS_1


“Sebenarnya bukan mereka berdua yang bikin tom.. Tapi si mbak.” Sambung papah jeny memberitahu.


Tomy tertawa pelan. Tidak heran jika bukan jeny dan mamahnya yang membuat. Karna jika rumah sudah memiliki pekerja pasti sangat jarang sang pemilik mau turun tangan sendiri mengerjakan sesuatu. Dan itu tomy rasakan sendiri sebagai seorang pemilik yang menikmati jasa asiaten rumah tangga.


Tatapan mamah jeny tiba tiba terarah pada tomy juga suaminya. Wanita itu tersenyum kemudian memberi kode pada jeny lewat kedipan matanya.


Jeny yang asik mengunyah donat dalam mulutnya mengeryit bingung. Wanita cantik itu kemudian menolehkan kepalanya ke samping kanan dimana suami juga papahnya berdiri berjajar dengan senyuman yang terukir di bibirnya.


Jeny terdiam. Tatapanya langsung mengarah pada tatapan penuh harap tomy. Jeny menghela nafas. Kedua orang tuanya tidak tau jika dirinya dan tomy sedang ada masalah.


Jeny menaruh donat yang sudah di gigitnya kembali ke piring kosong yang ada di depanya. Wanita itu kemudian mengukir senyum manisnya menyambut kedatangan suaminya. Tomy mau mengejarnya sampai ke rumah orang tuanya meskipun memang memerlukan waktu yang cukup lama. Tapi jeny menghargainya.


Jeny bangkit dari duduknya dan menghampiri tomy juga papahnya. Jeny kemudian menyalimi tomy dan bersikap seolah mereka sedang tidak ada masalah.


“Baru pulang by?” Tanya jeny.


Tomy mengeryit. Entah apa yang di maksud oleh istrinya. Tapi meskipun bingung tomy tetap menganggukan pelan kepalanya.


Lagi tomy hanya bisa menganggukan kepalanya. Tomy takut salah bicara jika membuka mulut karna bagaimanapun juga istrinya sedang sangat sensitif sekarang. Tomy tidak mau jika sampai jeny membludak emosi di depan kedua orang tuanya.


“Eemm.. Sayang kalau begitu mamah sama papah ke atas yah... Kalian berdua makan saja dulu. Dan sekarang juga sudah malam. Lebih baik kalian berdua menginap.” Kata mamah jeny.


Jeny menganggukan kepalanya begitu juga dengan tomy. Keduanya kemudian melangkah beriringan menuju meja makan. Sedangkan kedua orang tua jeny berlalu dan memberi waktu berdua pada tomy dan jeny.


“Sayang aku..”


“Makan dulu..” Sela jeny datar.


Tomy hanya menghela nafas. Untuk saat ini mungkin lebih baik tomy bersabar. Jeny masih mau menemuinya saja itu sudah untung baginya.

__ADS_1


Selesai menemani tomy memakan donat, Jeny pun mengajak tomy menuju lantai atas untuk ke kamarnya. Meskipun wanita itu terus bersikap dingin pada suaminya namun jeny tidak mengusirnya. Jeny benar benar tidak mau kedua orang tuanya sampai tau dan ikut campur dalam masalah rumah tangganya.


“Sayang...”


Tomy langsung memeluk lembut tubuh jeny dari belakang begitu mereka masuk ke dalam kamar. Pria itu mengecup bahu jeny dengan kedua mata terpejam. Tomy tidak bisa jika harus bertengkar terlalu lama dengan jeny. Tomy ingin hubunganya dan jeny selalu harmonis dan bahagia.


“Jangan marah lagi.. Aku sudah memblokir nomor rachel, tapi dia menggunakan nomor lain untuk menelephone. Dan aku.. Aku juga sudah memberi pelajaran pada dia agar tidak lagi mengganggu rumah tangga kita.”


Jeda sejenak. Tomy tidak tau bagaimana menjelaskanya. Tapi tomy benar benar merasa tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita itu.


“Aku bersumpah sayang.. Aku bener bener nggak ada hubungan apapun sama rachel...Dan tentang kedua orang tuanya, mungkin rachel tidak mengatakan bahwa aku sudah punya istri. Dan aku juga hanya sekali bertemu dengan kedua orang tua rachel. Eem.. Maaf maksud aku 2 kali sama kemarin.” Lanjut tomy.


Jeny menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskanya berlahan. Jeny menyadari semuanya memang hanya karna masalah sepele. Dan dalam perjalanan menuju kerumah kedua orang tuanya jeny memikirkan kembali sebab masalahnya dengan tomy. Mungkin semuanya karna mood nya gampang naik juga turun sehingga emosinya bisa tiba tiba membludak.


“Tolong percaya sama aku.. Aku hanya cinta sama kamu.. Aku benar benar tidak bohong..”


Jeny meraih kedua tangan tomy yang memeluknya dari belakang. Dengan pelan di lepaskanya kedua tangan tomy yang terpaut mengurung tubuh sintalnya.


“Sudahlah.. Lupakan saja.” Katanya.


Tomy menggelengkan kepalanya. Entah apa yang di maksud lupakan saja oleh istrinya.


“Sayang...”


“Aku yang terlalu berlebihan tadi.. Maaf. Tapi kamu nggak perlu melakukan apapun pada rachel. Dia wanita juga sama seperti aku.” Sela jeny.


Terlambat. Tomy sudah terlanjur berbuat kasar pada wanita itu.


Jeny membalikan tubuhnya dengan pelan. Di tatapnya dalam kedua mata tomy. Jeny tau tomy pasti sudah sangat frustasi saat dirinya pergi dari rumah.

__ADS_1


“Kedepanya aku akan mencoba menahan apa yang aku rasa..”


__ADS_2