
Malamnya tomy langsung mengajak jeny untuk sementara menempati kamar yang ada di lantai bawah. Pria itu benar benar sangat sensitif jika sudah menyangkut putranya.
Jeny menatap suaminya yang sedang mengayun putranya di dekat jendela yang tertutup dengan sangat lembut. Tomy bahkan bersenandung lembut agar putranya nyaman terlelap di gendonganya.
“By..” Panggil jeny pelan.
Tomy menoleh. Pria itu tidak menyaut namun menatap jeny dengan senyuman yang terukir di bibirnya.
Jeny tidak langsung mengatakan apa yang ada di pikiranya. Jeny merasa sepertinya pikiran tomy sedikit teralihkan dan itu karna insiden faraz yang menangis karna di gigit nyamuk.
“Kamu merasa nggak kalau kamu itu sudah sangat keterlaluan?” Tanya jeny pada suaminya.
Tomy mengangkat sebelah alisnya. Mengajak jeny untuk pindah kamar sementara bukanlah hal yang bisa di sebut keterlaluan. Itu semua tomy lakukan karna tidak mau lagi putranya menjadi sasaran empuk serangga terbang itu.
Tomy melangkah dengan pelan menuju ranjang kemudian membaringkan tubuh putranya disana. Pria tampan itu melakukanya dengan sangat hati hati dan penuh perasaan. Tomy sepertinya sangat tidak rela jika kulit putih bersih putranya sampai tersenggol sedikit saja.
Setelah membaringkan faraz tomy mendekat pada jeny yang duduk di tepi ranjang. Pria itu menempatkan dirinya tepat di samping jeny.
“Memangnya aku keterlaluan kenapa?” Tanya tomy bingung.
Jeny menghela nafas kemudian tersenyum geli menatap wajah kebingungan suaminya.
“Kamu tadi liatkan bibi sama mbak sisi buru buru banget beresin meja makan?” Tanya jeny.
Tomy menganggukan kepalanya menjawab. Bibi dan sisi memang malam ini sangat sigap membersihkan meja makan begitu jeny dan tomy selesai makan malam.
“Kamu tau nggak itu karna apa?”
Kali ini tomy menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan istri tercintanya. Tomy memang tidak tau kenapa bibi dan sisi begitu sigap bekerja malam ini.
“Memangnya kamu tau sayang?” Tanya balik tomy dengan wajah bingungnya.
Berlahan tangan jeny terangkat dan membelai lembut pipi tirus tomy.
“Mereka begitu sigap karna mereka sedang berburu nyamuk di kamar kita.” Jawab jeny.
__ADS_1
Tomy mengeryit.
“Berburu nyamuk?”
“Yah. Dan itu karna kamu yang menyuruh.” Angguk jeny kemudian mencubit pelan pipi tirus tomy.
Tomy tidak mengerti kenapa istrinya menyalahkanya. Tomy hanya menyuruh bibi dan sisi untuk membersihkan kamar mereka dan menangkap nyamuk yang menggigit lengan faraz.
“Kamu emangnya pernah dengar ada orang bisa nangkep nyamuk by? Membayangkanya saja rasanya tidak mungkin. Nyamuk itu terbang dan sangat kecil. Bagaimana bisa bibi dan sisi menangkapnya.”
Tomy langsung tersadar setelah jeny berkata. Pria itu menepuk jidatnya. Saking khawatirnya pada putra mereka tomy sampai menyuruh sesuatu yang sangat tidak mungkin pada kedua asisten rumah tangganya. Tomy memang tidak pernah mendengar ada orang yang bisa menangkap nyamuk. Apa lagi baik dirinya maupun jeny tidak tau nyamuk seperti apa yang menggigit faraz. Dan bagaimana kalau ternyata nyamuknya juga banyak. Bibi dan sisi pasti sangat kebingungan saat ini.
“Ya tuhan...” Sadar tomy.
Jeny ingin sekali tertawa tapi sebisa mungkin jeny menahanya. Kadang suaminya memang keterlaluan dalam menyikapi sesuatu.
“Kasihan bibi sama mbak sisi loh by..”
Tomy berdecak. Dirinya tanpa sadar sudah sewenang wenang pada kedua asisten rumah tangganya.
Sepeninggal tomy jeny tertawa. Wanita itu bahkan sampai membekap mulutnya takut suaminya masih bisa mendengar tawanya.
Sementara itu di london rolan dan rio juga susan dan tante tomy baru saja sampai di tempat penyekapan tuan chandra. Maria memang pintar memilih tempat penyekapan. Begitu sepi dan jauh dari keramaian kota. Selain itu di tempat tersebut banyak sekali pepohonan besar.
“Itu tempatnya.” Bisik susan pada rolan yang ada di sampingnya.
Rolan dan rio saling menatap sesaat. Mereka kemudian kembali menatap bangunan kecil seperti sebuah gudang bekas dengan coretan yang mengotori dindingnya. Rio dan rolan juga menatap satu persatu para penjaga bertubuh kekar yang berjumlah 6 orang itu.
“Hanya 6 orang?” Tanya rio pada rolan.
Susan tersenyum tipis. Jika hanya 6 orang sudah dari dulu dirinya dan mommy angkatnya membebaskan daddy nya.
“Mereka tidak hanya ada 6 orang. Di dalam masih ada 8 orang lagi. Dan tepat di depan pintu tempat penyekapan daddy ada 2 lagi.” Kata susan menjelaskan.
Rolan dan rio tertawa pelan. Kesiagaan maria memang patut di acungi jempol. Tapi jika menyekap 1 orang harus memerintah sampai 16 kepala orang itu sangat konyol.
__ADS_1
“Apa harus sebanyak itu untuk menyekap 1 orang saja. Ini konyol.” Tawa rio.
Susan hanya tersenyum saja. Maria mungkin tau bagaimana kemampuan bela diri daddy nya sehingga wanita itu begitu siaga dan sigap menyuruh banyak orang untuk berjaga jaga.
“Kalau kalian hanya bisa berkomentar tidak jelas seperti ini lalu kapan kalian bertindak menyelamatkan suami saya?”
Pertanyaan dengan nada kesal tante tomy membuat susan, rolan, juga rio menoleh. Mereka bertiga hanya diam menatap wajah kesal tante tomy.
“Mom.. Kita juga butuh strategi untuk masuk kesana. Tidak perlu khawatir.. Kita sudah disini. Malam ini daddy akan bebas.” Senyum susan berusaha menenangkan mommy nya.
Rolan kembali menatap bangunan serupa bekas gudang yang di jaga oleh 6 orang tersebut. Pria itu sedang berusaha mencari celah untuk masuk ke dalam bangunan itu.
“Kenapa tidak ada jendela sama sekali di bangunan itu.” Gumam rio dengan decakan kecilnya.
Susan ikut menatap bangunan tersebut. Di bagian depan bangunan itu memang sama sekali tidak ada jendela ataupun lubang angin. Hanya ada pintu masuk disana.
“Bagaimana kalau kita bagi tugas saja?”
Rolan dan rio menoleh cepat. Mereka menatap tidak mengerti pada susan yang malah menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.
“Kalian dari depan. Sedangkan aku dan mommy dari belakang. Kami akan mencoba mencari celah untuk masuk ke dalam. Bagaimana?”
Rio dan rolan menggelengkan kepalanya tidak percaya pada susan. Bagaimana mungkin mereka bisa masuk sedangkan susan mengatakan di dalam sana ada 8 orang lagi bahkan 2 orang lagi penjaga pintu tempat penyekapan tuan chandra.
“Jangan bercanda. Aku tidak mau mendapat amukan dari boss karna kalian berdua terluka. Tolong kerja samanya.” Kata rolan.
Tante tomy dan susan tersenyum penuh arti.
“Jangan meremehkan wanita anak muda.” Kata tante tomy.
“Oke.. Kita tunggu di dalam.” Senyum susan kemudian melangkah bersama mommy nya berlalu dari hadapan rio dan rolan dan berjalan mengendap endap menuju belakang bangunan tersebut.
“Rolan bagaimana ini? Bagaimana kalau sampai mereka kenapa napa? Boss pasti akan sangat marah pada kita.” Kata rio khawatir.
Rolan menghela nafas. Susan dan mommy nya sangat percaya diri saat berkata. Dan melihat mereka begitu percaya diri rolan yakin pasti keduanya juga punya kemampuan untuk melindungi dirinya.
__ADS_1
“Sudahlah kita usahakan saja yang terbaik.”