
Setelah jeny selesai di tangani, dokter sinta mengambil kembali bayi bertubuh gempal itu dari tomy kemudian dengan pelan meletakanya di atas dada jeny yang sudah di buka. Jeny menerimanya dengan rasa haru. Tanganya mengusap usap lembut punggung putranya dan langsung aktif mencari asi.
Mamah jeny dan tomy yang melihatnya tertawa bahagia. Jeny bisa melewati semua proses persalinanya dengan lancar tanpa menangis saat berjuang bertaruh nyawa demi bayi bertubuh gempal itu.
“Panjang tubuh bayi anda 52 cm pak tomy. Dan untuk berat badan bayi anda adalah 4 kg.” Kata dokter sinta tersenyum menatap tomy dan jeny bergantian.
“Ya tuhan.. Pantas saja badanya sangat montok.” Geleng mamah jeny menutup mulutnya.
Tomy tertawa pelan mendengarnya. Bayinya begitu sehat dan besar.
Tidak lama jeny pun di pindahkan ke ruang rawat. Sedang bayinya kembali di ambil oleh perawat untuk di pakaikan baju juga di imunisasi.
“Nak..”
Jeny menoleh dan tersenyum menatap papahnya yang masuk ke dalam ruang rawatnya. Jeny mrngulurkan tanganya yang langsung di sambut hangat oleh pria itu. Dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya jeny menyalimi sang papah yang sudah begitu jarang di temuinya.
“Kamu hebat nak.. Papah bangga sama kamu.. Terimakasih sudah memberikan papah cucu yang begitu sehat juga tampan.” Kata papah jeny.
Jeny tertawa pelan mendengarnya. Jeny sendiri tidak menyangka jika anak nya bergender laki laki. Pantas saja tendanganya saat masih berada dalam kandunganya begitu kuat sampai jeny kadang tertawa merasa geli.
“Jeny yang harusnya berterimakasih sama mamah sama papah.. Terimakasih sudah datang untuk menemani jeny melewati perjuangan ini..” Balas jeny terus menggenggam erat tangan besar papahnya.
Mamah jeny yang sedang mengupas buah apel dan jeruk tersenyum mendengarnya. Wanita itu menjadi saksi bagaimana mencintainya tomy pada jeny. Dan wanita itu juga menjadi saksi bagaimana tangguh dan hebatnya putri manjanya.
“Yah.. Ya sayang..” Angguk papah jeny kemudian mengecup lembut kening putri semata wayangnya itu.
Di ruangan lain tomy terus menatap penuh bahagia jagoan kecil nya yang baru saja di beri imunisasi. Bayi tampan yang hadir dari buah cintanya dan jeny itu tampak sangat aktif bergerak gerak membuat tomy merasa sangat gemas ingin meraih tubuh gempalnya.
“Dokter apa boleh saya menggendongnya?” Tanya tomy tidak sabaran.
Dokter sinta tertawa pelan mendengarnya. Baru kali ini wanita itu mendengar penuturan seorang pria yang baru saja berstatus sebagai orang tua tampak sangat tidak sabaran sampai berani bertanya padanya bak anak kecil.
__ADS_1
“Tentu saja boleh pak tomy.. Tapi ada baiknya jika kita biarkan bayi anda untuk mendapat asi dulu dari bu jeny.” Balas dokter sinta tersenyum tipis.
Tomy menghela nafas dan menganggukan kepalanya. Pria itu kemudian mengikuti perawat yang mendorong box bayinya menuju ruang rawat istrinya.
Setelah tiba di ruang rawat jeny, perawat itu segera memberikan bayi tampan itu pada jeny dan menyuruh jeny untuk memberikan asi. Sedang tomy, pria itu mendudukan dirinya di samping pundak jeny yang duduk bersender di brankar sembari menatap putranya yang begitu antusias dan semangat menyedot asi jeny.
“Sakit nggak sayang?” Tanya tomy pada jeny.
Jeny menggelengkan kepalanya dengan senyuman dan tatapan yang terus tertuju pada wajah tampan putra pertamanya itu.
“Nggak by.. Cuma sedikit geli.” Jawab jeny.
Tomy tersenyum mendengarnya. Tangan besarnya dengan sangat lembut dan hati hati mengusap kepala kecil putranya. Tomy benar benar masih tidak menyangka jika dirinya sudah menjadi papah sekarang.
“Oya by kamu sudah kasih tau mamah sama papah kamu?” Tanya jeny menoleh pada tomy yang asik memandangi wajah putra mereka.
Tomy langsung tersadar. Karna terlalu cemas dengan keadaan jeny tomy sampai tidak sempat memberitahu kedua orang tuanya. Tomy hanya menelephone mamah jeny seperti yang di minta oleh istri tercintanya.
Jeny menggelengkan kepalanya. Sangat langka sekali seorang tomy bisa lupa.
“Ya udah sebentar aku telephone mamah dulu..”
Tomy langsung meraih ponselnya dan menghubungi mamahnya. Padahal siang tadi wanita itu yang menemani jeny tapi karna saking cemas dan khawatirnya tomy sampai lupa untuk memberitahu mamahnya sendiri.
Tidak lama setelah tomy menelephone papah dan mamah tomy datang. Mereka mencaci maki tomy yang hanya meringis karna tidak memberitahu perihal tentang jeny yang sedang berada di rumah sakit.
“Udah nggak papa.. Yang pentingkan cucu kita sehat.. Dan dia lahir dengan sempurna..” Kata mamah jeny mencoba meredam kemarahan mamah tomy.
Sedang jeny yang mendengar itu hanya bisa tertawa saja. Mamah mertuanya memang selalu mewanti wanti agar baik jeny maupun tomy langsung memberitahunya saat merasakan hal sekecil apapun.
“Tapi anak ini keterlaluan may.. Padahal siang tadi aku abis nemenin jeny.. Tapi dia nggak ada bilang apa apa.” Balas mamah tomy masih merasa kesal.
__ADS_1
Tomy mengerucutkan bibir mendengarnya. Tidak biasanya mamahnya bawel seperti itu. Dan lagi, tomy juga tidak tau jika hari ini istrinya akan melahirkan.
“Mah.. Sudah.. Liat tuh cucu kita lagi bobo.. Kasihan nanti bangun loh denger suara cempreng kamu..” Lerai papah tomy yang merasa iba pada putra sulungnya itu.
Mamah tomy hanya menghela nafas kemudian melangkah mendekat pada baby box dimana cucu pertamanya tengah anteng dan tenang memejamkan matanya setelah mendapat asi.
“Sabar ya suamiku..” Kata jeny tertawa pelan menatap tomy yang terus setia berada di sampingnya.
“Mamah sadis banget.” Adu tomy dengan bibir mengerucut sebal.
Jeny hanya tertawa menanggapinya. Jeny memaklumi sikap mertuanya. Wanita itu memang begitu sangat perhatian dan tidak pernah telat menanyakan keadaanya meskipun hanya lewat telephone dan pesan singkat. Wajar jika mamah mertuanya marah dan merasa kesal karna tomy telat memberitahunya tentang jeny yang melahirkan.
“Ya ampun.. Cucu oma ganteng banget..” Puji mamah tomy begitu melihat dari dekat cucu pertamanya itu.
Mamah jeny yang berada di samping kiri baby box itu tersenyum. Wajah cucunya memang sangat tampan. Apa lagi hidungnya yang mancung yang membuatnya sangat mirip sekali dengan jeny.
“Pah.. Cucu kita..” Senyum mamah tomy menangis haru.
“Iya mah.. Cucu kita sangat tampan.” Angguk papah tomy mengusap kedua bahu istrinya dengan senyuman bangga.
Tomy dan jeny yang melihat para orang tua itu mengerubungi baby box dimana bayinya sedang terlelap hanya bisa tertawa pelan. Mereka sangat antusias melihat cucu pertamanya yang memang sangat menggemaskan.
“Eem.. By kamu sudah siapin nama untuk anak kita kan?”
Tomy mengalihkan perhatianya penuh pada jeny. Dengan lembut di belainya pipi chuby jeny. Tomy benar benar merasa sangat beruntung memiliki istri tangguh dan hebat seperti jeny yang sekalipun tidak pernah mengeluh padanya.
“Sudah sayang..” Jawabnya.
“Siapa namanya?” Tanya jeny penasaran.
Sebenarnya jeny sudah mempunyai daftar nama untuk anaknya. Tapi jeny merasa akan lebih spesial jika tomy yang memberikan nama pada bayi mereka.
__ADS_1
“Namanya Sarfaraz rasya putra bagaskara.”