
Reyhan membunyikan klakson mobilnya saat sampai tepat di depan pintu gerbang menjulang kediaman mewah tomy. Pria itu melirik sekilas pada susan yang tidak biasanya mau duduk di sampingnya. Padahal biasanya wanita itu duduk di kursi belakang dan bersikap seperti seorang penumpang di taxi online.
Reyhan memutar jengah kedua bola matanya. Baginya lebih baik susan duduk di belakang dari pada di sampingnya. Selain membuatnya merasa tidak nyaman, reyhan juga merasa risih melihat cara berpakaian susan yang terlalu terbuka. Seperti sekarang ini contohnya. Entah apa tujuan wanita itu berpakaian sangat terbuka. Reyhan bergidig ngeri ketika melirik bagian dada susan yang seperti akan menyembul keluar karna gaun berdada sangat rendah yang di kenakanya.
“Jangan menatapku seperti itu rey..”
Reyhan melengos. Menatap susan membuat matanya terasa sakit juga pandanganya ternoda. Susan tampak seperti wanita murahan yang siap menjajakan dirinya di pinggir jalan.
“Cih, tidak sudi.” Gumam reyhan kembali melajukan mobilnya karna saat itu pak satpam pun sudah membukakan pintu gerbang untuknya.
Ketika mobil reyhan berhenti, susan menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskanya lewat mulut. Seulas senyum kemudian terukir di bibirnya mengingat malam ini tomy dengan penuh kelembutan menelephone nya dan menyuruhnya untuk datang ke rumahnya untuk makan malam bersama.
“Aku harap hanya aku dan kakak yang makan malam berdua.”
Reyhan bergidig mendengarnya. Susan benar benar sangat berbeda dengan susan yang dulu. Wanita itu benar benar seperti psykopat yang tidak perduli apapun demi mendapatkan apa yang di inginkanya.
“Sudah sana keluar. Jangan terlalu lama mengotori mobilku.” Ketus reyhan jengkel.
Susan mendelik mendengarnya. Wanita berdress sexy itu merasa sangat terhina karna ucapan reyhan. Kedua tanganya mengepal erat menatap reyhan penuh amarah.
“Jaga mulut kamu reyhan. Atau aku akan membuat kamu menyesal seumur hidup.” Ancam susan.
Reyhan melengos. Entah wanita jenis apa susan itu sehingga bisa dengan gampang melontarkan ancaman yang mampu membuat siapa saja bergidig mendengarnya.
“Aku tidak takut.” Balas reyhan menantang.
Susan berdecak kemudian membuka pintu mobil reyhan. Wanita dengan dress merah menyala itu menutup mobil reyhan dengan membantingnya sangat keras membuat reyhan terkejut.
“Dasar wanita gila.” Gerutu reyhan.
Ketika reyhan menoleh, pria tampan itu mendapati tas merah kecil susan yang tertinggal. Penasaran dengan identitas wanita kejam yang mengaku sebagai adik atasanya reyhan pun meraih tas tersebut. Reyhan tidak perduli jika di katakan lancang membuka dan memeriksa tas susan karna pada kenyataanya memang begitu. Reyhan merogoh tas kecil milik susan dan mengeluarkan dompet lipat kecil berwarna coklat susu milik wanita itu. Tidak mau membuang waktu reyhan pun segera membuka dompet tersebut untuk melihat kartu tanda penduduk milik wanita itu.
__ADS_1
Reyhan mengeryit ketika tidak mendapati kartu tanda penduduk milik susan disana. Namun di dompet itu ada kartu tanda penduduk yang sepertinya memang bukan milik susan karna photo dan namanya pun bukan susan.
“Siapa wanita ini. Kenapa ada di dompet mbak susan.” Gumam reyhan.
Reyhan menatap susan yang baru mau memasuki pintu utama rumah mewah atasanya. Reyhan menghela nafas kemudian tampak berpikir.
“Kalau aku ambil ini mbak susan pasti akan curiga..” Gumam pria itu sedikit kebingungan.
Kedua mata reyhan terbelalak ketika susan malah memutar langkahnya dan hendak melangkah mendekat kembali ke mobilnya. Mungkin wanita itu teringat dengan tasnya yang ketinggalan di mobil reyhan.
“Ya tuhan..”
Reyhan tidak kehilangan akal. Pria itu langsung merogoh ponsel dalam saku jas dalamnya kemudian mengambil gambar kartu tanda penduduk itu jika suatu waktu di perlukan.
Setelah berhasil mengambil gambar dari kartu tanda penduduk tersebut, reyhan kembali memasukan dompet susan ke dalam tasnya. Reyhan pun berpura pura untuk tenang dan biasa saja begitu susan kembali membuka pintu mobilnya.
“Apa lagi?” Tanya reyhan dengan nada dinginya seolah tidak melakukan apapun.
“Tas aku ketinggalan.” Jawabnya kemudian kembali menutup pintu mobil reyhan dengan cara di banting.
Reyhan berdecak. Susan benar benar tidak mempunyai sopan santun pada siapapun. Wanita itu bersikap seenaknya seolah dunia adalah miliknya.
Sementara susan, wanita itu menatap tas yang kini berada di tanganya bingung. Entah kenapa susan merasa aneh dengan tasnya. Padahal seingatnya susan sudah menutup risletingnya. Tapi entah kenapa tas itu tiba tiba terbuka namun masih berada di tempatnya.
“Apa mungkin reyhan buka tas aku...” Gumamnya curiga.
“Tapi untuk apa?” Tanya susan kemudian pada dirinya sendiri.
Susan tampak berpikir sejenak. Rasanya tidak mungkin jika reyhan membuka tasnya. Tapi mengingat tas itu berada di dalam mobil reyhan tidak mungkin jika orang lain yang membukanya.
“Sudahlah. Mungkin aku yang lupa.”
__ADS_1
Susan menoleh kembali pada mobil reyhan. Entah sedang mendumel apa pria tampan itu karna kaca mobilnya yang gelap sehingga susan tidak tau sedang apa reyhan saat itu. Entah sedang menatapnya atau tidak.
“Hh.. Sudahlah.”
Susan kemudian kembali melangkah menjauh dari mobil reyhan dan masuk ke dalam rumah tomy dengan gaya elegan juga angkuhnya. Susan melangkah masuk tanpa lebih dulu mengetuk pintu bahkan langsung menuju meja makan seperti berada di rumahnya sendiri.
“Mana kakak?” Tanya susan saat melihat bibi dan sisi yang sedang menata makanan di meja makan.
Bibi dan sisi langsung menoleh. Mereka kompak menatap susan dari atas sampai bawah kemudian saling menatap satu sama lain.
“Ini bi mbak susan?” Tanya sisi berbisik pada bibi.
“Ya si. Kamu tunggu disini yah. Awasi dia. Jangan sampai dia berbuat macam macam. Bibi mau ke atas panggil bapak sama ibu..”
“Iya bi..” Angguk sisi mantap.
Susan mendelik mendengar 2 asisten rumah tangga tomy dan jeny yang malah asik mengobrol dengan berbisik dan mengabaikanya.
“Eh kalian. Aku tanya mana kakak? Budeg yah?” Tanya susan kesal.
Bibi dan sisi kembali menoleh pada susan. Mereka tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya menatap susan.
“Sebentar mbak, saya panggilkan bapak sama ibu. Eemm.. Mbak duduk aja dulu..” Senyum bibi berkata dengan sopan dan hati hati pada susan.
“Ya udah sana cepet panggil.” Suruh susan kemudian langsung menarik kursi dan mendudukan dirinya disana.
Bibi langsung buru buru melangkah untuk memanggil tomy dan jeny yang masih berada di lantai 2 di kamarnya.
Sedangkan sisi, gadis belia itu diam diam menatap susan yang dengan angkuhnya duduk dan memainkan ponsel barunya.
Merasa di perhatikan susan pun langsung menoleh membuat sisi gelagapan karna ketahuan menatap susan. Gadis belia itu langsung salah tingkah tidak tau harus bagaimana. Tomy dan jeny sebelumnya sudah memberitahunya dan bibi bagaimana sikap susan agar bibi dan sisi tidak kaget dan rerkejut begitu berinteraksi langsung dengan wanita angkuh itu.
__ADS_1
“Apa kamu liat liat?!”