
“Mamah kenapa banyak polisi.. Dimana aslama papah?” Tanya elo polos.
Sarah menelan ludahnya. Entah harus bagaimana cara dirinya menjelaskan pada elo. Putranya masih terlalu kecil untuk mengerti dengan kondisi lorenzo saat ini.
“Elo..”
Suara tomy membuat elo menolehkan kepalanya. Anak kecil itu menatap tomy yang duduk di kursi kemudi di samping sarah. Tidak ada jeny di dalam mobil itu karna memang jeny tidak mau untuk ikut sehingga tomy mengajak sarah untuk satu mobil denganya.
“Kenapa om? Kenapa papah malah satu mobil dengan om om selem itu. Nanti kalau papah elo ketakutan gimana?”
Tomy terkekeh pelan. Elo tidak jauh berbeda dengan fani. Anak kecil itu sangat mendambakan kasih sayang dari lorenzo seperti fani mendambakan kasih sayang dari angel.
“Soalnya om sama mamah kamu nggak bisa jagain papah kamu..” Jawab tomy dengan tatapan terus lurus ke kantor polisi dimana banyak para polisi yang berjalan kesana kesini. Tomy merasa lega karna sebentar lagi lorenzo akan mendapatkan hukuman atas perbuatanya. Namun tomy juga merasa kasihan pada elo yang pasti akan merasa kehilangan sosok lorenzo di sampingnya.
Elo terlihat berpikir. Anak kecil itu tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh tomy. Menurutnya sang papah sudah besar dan tidak perlu lagi di jaga seperti anak kecil.
“Tapi om..”
“Ssstt.. Jangan banyak nanya yah.. Kita sudah sampai. Ayo turun.” Sela sarah lembut.
Elo menganggukan kepalanya dengan wajah sendu. Anak kecil itu kemudian memeluk sarah yang memangkunya.
Tomy turun dari mobilnya di ikuti sarah yang menggendong elo. Namun ketika sarah hendak melangkah tomy menghentikanya. Tomy menyuruh sarah untuk menurunkan elo.
“Untuk apa?” Tanya sarah bingung.
“Mungkin elo mau menuntun papah nya.” Jawab tomy tersenyum.
Sarah terdiam. Di tatapnya wajah polos elo yang memang terus mengarah pada lorenzo yang berdiri di tengah tengah bisma dan roy di samping mobil. Sarah menghela nafas. Elo sangat menyayangi lorenzo meskipun lorenzo tidak pernah menyayanginya.
“Elo mau jalan bareng sama papah?” Tanya sarah pelan.
__ADS_1
Elo langsung menatap wajah cantik sarah yang begitu dekat denganya. Dan dengan cepat elo menganggukan kepalanya.
“Ya mamah..” Jawabnya antusias.
Sarah kemudian menurunkan elo dari gendonganya. Dan anak kecil itu langsung berlari menghampiri lorenzo yang hendak di apit oleh kedua body guard tomy.
Tomy yang melihatnya hanya diam saja. Tomy masih sangat jelas mengingat bagaimana kejamnya seorang lorenzo yang dengan entengnya menendang elo dari lantai 2. Tomy bahkan masih tidak berani membayangkan bagaimana jadinya elo jika dirinya tidak datang tepat waktu saat itu.
“Sarah..”
“Bisa tolong kamu ringankan hukuman untuk lorenzo? Elo sangat mendambakan kasih sayang lorenzo.. Aku tidak tega jika harus melihat elo sampai bolak balik ke tempat seperti ini dan melihat papahnya di kurung di balik jeruji besi.” Sela sarah yang langsung menoleh menatap tomy yang berdiri di sampingnya.
“Sarah tapi..”
“Tomy aku tau.. Aku tau lorenzo sudah sangat keterlaluan. Tapi tolong kamu coba pahami anakku..” Sela sarah lagi.
Tomy menghela nafas mendengarnya. Apapun permohonan sarah itu tidak akan mampu mengubah keputusanya. Lorenzo sudah bersalah dan lorenzo patut untuk di hukum. Adapun cara memahami elo tomy punya cara tersendiri untuk membuat anak kecil itu tidak berkecil hati karna papahnya berada di penjara.
“Maaf sarah. Suami kamu sudah sangat keterlaluan. Hukuman tetap hukuman.” Tegas tomy.
“Tomy tapi..”
Tomy melangkah enggan mendengar apapun yang di katakan sarah. Lorenzo tidak akan jera jika tidak di beri hukuman. Tomy tau itu.
Lorenzo menatap elo yang begitu erat menggenggam tanganya. Anak kecil itu terlihat begitu bahagia dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya. Dan baru kali ini lorenzo melihatnya. Biasanya anak kecil itu selalu rewel dan menangis ketika dirinya hendak pergi.
“Papah tenang aja nanti elo sama mamah bakal seling seling tengokin papah kesini.. Papah belajal yang pintel yah..” Kata elo sembari melangkah mengimbangi langkah lebar lorenzo.
Lorenzo berhenti melangkah. Entah apa yang di maksud oleh putranya. Lorenzo di tempatkan disitu bukan untuk belajar melainkan untuk menjalani hukuman.
Elo ikut berhenti. Elo mendongak menatap lorenzo yang menatapnya tidak mengerti.
__ADS_1
“Inikan aslama papah. Om tomy bilang papah disini untuk belajal agal jadi olang yang pintal telus jadi olang yang baik.. Bial nggak malah malah telus sama mamah sama elo..”
Lorenzo menelan ludahnya. Tomy menutupi sikap buruknya dari elo.
“Papah janji akan menjadi orang yang lebih baik.” Senyum tipis lorenzo mengusap lembut pipi chuby elo.
Tomy tersenyum menatap lorenzo yang akhirnya menempati tempat yang seharusnya. Meskipun memang harus ada sandiwara dan drama keluarga lebih dulu karna elo yang tidak mau berpisah dengan lorenzo. Tapi sekarang elo sudah di bawa pulang oleh sarah dengan di antar oleh bisma dan roy.
“Tomy..” Panggil lorenzo yang kini sudah berada di balik jeruji besi dengan baju yang sudah di ganti dengan baju tahanan.
“Aku minta maaf.. Aku sadar aku salah.. Tapi tolong usahakan agar elo jangan sampai tau tentang ini..”
Tomy terkekeh pelan mendengarnya. Pria tampan itu memasukan kedua tanganya ke dalam saku celana hitamnya kemudian melangkah pelan mendekat pada lorenzo.
“Sejak kapan kamu perduli sama elo? Bukankah kamu berniat membunuhnya? Kamu lupa lorenzo? Kamu menendang elo dari lantai 2 dengan sangat kejam.”
Lorenzo menundukan kepalanya. Dirinya memang sangat jahat. Dan saat itu hati lorenzo benar benar di butakan oleh rasa cintanya pada jeny sehingga lorenzo menghalalkan segala cara demi bisa mencapai tujuanya untuk memiliki jeny.
“Dengar lorenzo. Apapun yang terjadi hukuman kamu tetap akan berjalan.. Dan tentang elo. Aku tau apa yang harus aku lakukan.”
Lorenzo menegakkan kepalanya kemudian tersenyum. Di tatapnya tomy yang menatapnya dengan tatapan datar.
“Terimakasih tomy..”
“Aku melakukan ini bukan untuk kamu. Tapi untuk elo.” Kata tomy dingin.
Lorenzo menganggukan kepalanya. Jika saja peluru itu sampai menembus jantungnya mungkin lorenzo tidak akan bisa merasakan perasaan bahagia selain mencintai jeny. Dan perasaan bahagia itu muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam karna kepintaran dan kelucuan elo yang baru di sadarinya.
“Besok adalah sidang untuk menentukan hukuman yang pantas untuk orang licik seperti kamu.” Kata tomy lagi tersenyum miring merasa puas karna berhasil menjebloskan lorenzo ke dalam penjara.
“Tidak masalah.” Balas lorenzo tersenyum tipis.
__ADS_1
Tomy melengos. Muak rasanya melihat senyuman tipis lorenzo yang licik dan penuh taktik. Tidak ingin lama lama berada di tempat itu tomy pun akhirnya melangkah pergi meninggalkan lorenzo yang tersenyum menatap punggungnya.
“Elo, tunggu papah.” Gumam lorenzo lirih.