
Pagi menjelang
Jeny tersenyum menatap suaminya yang masih meringkuk dengan bertelanjang dada. Pria itu tidur dengan sangat tenang dan sama sekali tidak terjaga. Posisinya bahkan tidak berubah sama sekali dari semalam. Dari situ jeny tau bahwa suaminya benar benar sangat kelelahan.
Jeny menoleh menatap ponsel tomy yang terus bergetar. Sepertinya pria itu memang sedang tidak mau di ganggu sampai ponselnya pun di silent sehingga hanya getaran saja tanpa ada deringan nyaring seperti biasanya.
Jeny melangkahkan kakinya. Wanita itu meraih ponsel tomy yang ada di atas nakas kemudian segera mengangkat telephone yang ternyata dari reyhan.
“Selamat pagi pak.. Maaf sebelumnya. Pak tomy dimana? Semua pemegang saham di Renzo gruop sudah menunggu.. Dan rapat akan segera di mulai.”
“Apa?!”
Jeny terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh reyhan. Renzo group adalah perusahaan lorenzo. Dan tiba tiba saja tomy bisa rapat bersama para pemegang saham di perusahaan itu. Sangat aneh menurutnya.
”Ya tuhan...” Lirih reyhan dari seberang telephone.
Jeny menelan ludahnya. Wanita itu menoleh menatap suaminya yang masih terlelap damai di atas ranjang.
“Apa maksudnya rey? Untuk apa tomy rapat bersama para pemegang saham?” Tanya jeny terus menatap tomy yang terus saja terlelap damai.
“Eemm.. Bu..”
“Jemput saya sekarang.” Sela jeny cepat.
Jeny menutup sambungan telephone nya. Jeny tau dirinya akan sangat lancang jika menghadiri rapat penting suaminya. Tapi jeny ingin tau apa yang di lakukan tomy sehingga bisa menjadi bagian dari pemilik saham di perusahaan lorenzo.
Tidak mau mengganggu tidur suaminya jeny pun segera bergegas. Wanita itu merias dirinya sedemukian cantik. Bukan untuk memamerkan kecantikan pada para pria disana. Tapi untuk menunjukan bahwa dirinya adalah istri seorang tomy bagaskara. Pengusaha sukses yang memiliki segalanya.
Setelah di rasa penampilanya cukup jeny pun keluar dari kamarnya. Wanita itu menutup pintu kamarnya pelan kemudian melangkah menuruni anak tangga dengan terburu buru.
Ketika langkah jeny sampai di ambang pintu utama, mobil reyhan tepat memasuki gerbang rumahnya. Jeny terdiam. Jeny harus tau apa yang di lakukan oleh suaminya. Bukan karna perduli pada lorenzo. Tapi karna takut suaminya berbuat sesuatu yang tidak seharusnya.
__ADS_1
“Bu...”
Reyhan turun dari mobilnya dengan wajah bingung. Jeny pasti akan sangat marah pada tomy nantinya dan itu juga akan sangat berimbas kepadanya.
“Kita berangkat sekarang.” Kata jeny cepat.
“Emm.. Bu tapi..”
“Kenapa?” Tanya jeny menyela dengan tatapan datar pada reyhan.
Jeny tau reyhan pasti tau segala hal yang di lakukan tomy tentang pekerjaan. Apa lagi pria itu sangat setia dan menurut pada tomy. Reyhan juga pasti tau rencana tomy.
Reyhan tidak bisa menjawab. Jika dirinya tidak menuruti jeny, jeny pasti akan menganggapnya dan tomy melakukan sesuatu yang tidak baik. Padahal pada kenyataanya mereka hanya sedang mencoba menghentikan kejahatan lorenzo.
“Reyhan. Saya bilang berangkat sekarang.” Kata jeny penuh penekanan.
Dengan sangat terpaksa reyhan menganggukan kepalanya. Pria itu kembali memasuki mobilnya. Dalam hatinya reyhan sangat berharap tomy secepatnya menyusul dan sampai lebih dulu sebelum dirinya. Dan sambil menuju ke tujuan reyhan akan terus memikirkan cara untuk mengulur waktu.
Di sisi lain tomy mulai merasa terganggu karna suara getaran ponselnya yang bergesek dengan kayu mejanya. Padahal seingatnya tomy sudah meng silent nya namun getaranya tetap terdengar. Tomy berdecak. Dengan pelan dia bangkit terduduk di ranjang. Kedua matanya masih sedikit tertutup ketika menoleh menatap ponsel miliknya.
“Ck. Ganggu banget sih.” Kesalnya mengumpat.
Tomy meraih ponselnya. Kedua matanya langsung melebar ketika melihat nama reyhan tertera disana. Tomy ingat dirinya ada rapat bersama pemegang saham di renzo group untuk membahas tentang cara penjualan licik lorenzo di pasaran.
Namun yang membuat tomy lebih terkejut lagi adalah pesan dari reyhan yang mengatakan bahwa jeny sedang dalam perjalanan menuju renzo gruop bersamanya.
Setelah membaca pesan dari reyhan. Tomy langsung melompat dari ranjang. Pria itu dengan buru buru mencuci wajah dan menyikat giginya. Tomy bahkan tidak sempat untuk mandi. Pria itu langsung berganti baju kemudian keluar dari kamarnya dengan langkah cepat.
“Selamat pagi pak..”
“Saya buru buru.” Sela tomy sambil berlari menuruni anak tangga melewati sisi yang menyapanya.
__ADS_1
Ketika sampai di ambang pintu utama rumahnya tomy berdecak. Pria itu lupa membawa berkas yang baru kamarin di berikan reyhan padanya. Tomy kembali berlari menuju ruang kerjanya untuk mengambil berkas tersebut. Tomy tidak perduli dengan penampilanya sekarang. Yang tomy pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya tomy bisa sampai lebih dulu di perusahaan lorenzo dan menyelesaikan semuanya sebelum jeny datang.
Setelah mengambil berkas yang di butuhkanya tomy langsung berlari keluar rumahnya. Tomy bahkan tidak memanaskan mobilnya terlebih dulu. Tomy langsung mengendarinya dengan kecepatan maximal.
“Ada apaan yak?” Pak satpam yang melihat cara tomy menyetirpun bertanya tanya karna majikanya itu bahkan hampir menabrak gerbang.
“Reyhan. Kenapa sepertinya kamu sengaja mengulur waktu?”
Pertanyaan jeny membuat reyhan gelagapan. Reyhan tidak menyangka jeny bisa dengan cepat mengetahui rencananya.
“Kamu sengaja bawa saya muter muter? Kenapa tidak lewat jalan biasanya?” Tanya jeny kesal.
Reyhan menelan ludahnya. Reyhan terpaksa melakukanya agar tomy bisa menyelesaikan semuanya sebelum jeny sampai.
“Bu.. Maaf.. Saya memang sengaja lewat jalan ini karna di jalan biasanya ada kecelakaan beruntun yang menyebabkan macet.”
Jeny mengangkat sebelah alisnya curiga. Jeny tidak bisa percaya begitu saja pada reyhan. Pria itu sangat setia pada suaminya. Bukan tidak mungkin mereka berdua juga sudah berencana untuk membohongingya.
“Kalau begitu turunkan saya disini.” Tegas jeny.
Reyhan semakin bingung. Tomy akan semakin marah padanya jika sampai reyhan membiarkan jeny pergi seorang diri.
“Eemm.. Bu tapi..”
“Reyhan. Berhenti sekarang juga. Saya mau turun disini.” Lagi jeny menyela ucapan reyhan.
Kekesalan juga amarah jelas terlihat dari wajah juga cara bicara wanita itu.
Reyhan berdecak. Reyhan tidak mungkin terus memaksa jeny agar mau bersamanya. Wanita itu sangat keras kepala. Apa lagi padanya, tomy pun di lawanya saat itu.
Reyhan menghentikan mobilnya. Pria itu siap menerima kemarahan tomy nantinya. Dan reyhan siap jika harus mendapat bogeman mentah dari boss besarnya.
__ADS_1
Jeny langsung turun dari mobil reyhan. Wanita itu langsung menyetop taxi dan masuk ke dalamnya. Reyhan yang masih memperhatikanya tidak bodoh. Pria itu tetap mengikuti taxi yang di tumpangi jeny dan memastikan kemanan wanita itu terjamin.