Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 119


__ADS_3

Sesampainya di rumah jeny langsung membersihkan dirinya. Setelah itu jeny turun dan menuju ke dapur menghampiri bibi dan sisi yang sedang menyiapkan makan malam untuknya dan tomy.


“Kalian masak apa?” Tanya jeny menatap sisi dan bibi yang sedang sibuk dengan pekerjaan memasaknya.


Mendengar suara jeny, bibi dan sisi menoleh. Mereka tersenyum mendapati jeny yang sudah berdiri di belakangnya dengan baju santai dan rambut panjangnya yang basah dan tergerai.


“Eh ibu... Sudah pulang?” Tanya bibi dengan senyuman di bibirnya.


“Udah dari tadi bi.. Masak apa kalian berdua?”


“Oh ini bu.. Saya dan sisi mau masak sayur asem sama gurameh goreng.” Jawab bibi.


Jeny menganggukan kepalanya. Wanita itu melongokan kepalanya menatap sayuran dan gurameh yang sedang di bumbui oleh sisi.


“Saya boleh bantuin nggak?”


Bibi dan sisi saling pandang kemudian kembali menatap jeny yang tersenyum penuh harap.


“Eemm.. Maaf bu.. Tapi sebaiknya tidak usah.. Ibu kan masih capek baru pulang kerja.. Ibu lebih baik tunggu saja sampai makananya siap.”


Ekspresi jeny langsung berubah sendu. Jeny ingin sekali bisa membantu agar bisa sekalian belajar memasak bersama bibi dan sisi.


“Begitu yah?” Tanya jeny tidak semangat.


Bibi dan sisi hanya menganggukan kepalanya. Keduanya merasa tidak enak sebenarnya. Tapi mereka akan lebih merasa tidak enak lagi jika jeny sampai terjun ke dapur sendiri membantunya memasak. Jeny baru pulang kerja.


“Ya sudah kalau begitu saya ke meja makan saja.”


Dengan wajah sendu jeny melangkah menuju meja makan. Jeny benar benar kecewa karna bibi dan sisi tidak memperbolehkanya untuk ikut membantu memasak.


Sesampai nya di meja makan jeny langsung menarik kursi. Ketika hendak mendudukan dirinya di atas kursi, tiba tiba jeny meringis dengan memegangi perutnya.


“Aawwh...”


Sejenak jeny memejamkan kedua matanya. Ada rasa tidak nyaman pada perut bagian bawahnya. Rasanya seperti tertarik dan berat.


“Ya tuhan.. Perutku..” Gumam jeny sambil terus meringis.

__ADS_1


Jeny mendudukan dirinya dengan pelan di kursi. Kedua tanganya memegang erat perutnya yang terasa sakit.


“Sayang mamah.. Jangan begini..” Lirihnya.


Di lantai 2 tepatnya di dalam kamar tomy baru saja selesai membersihkan dirinya. Pria tampan itu menggosokan handuk putihnya ke rambutnya yang masih basah.


Ketika hendak mendudukan dirinya di tepi ranjang tiba tiba ponselnya yang terletak di nakas berdering.


Tomy menghela nafas. Sungguh tomy sedang tidak ingin di ganggu saat ini. Tubuh juga pikiranya sudah cukup lelah seharian ini. Selain karna keadaan fani yang memburuk juga karna kemarahan dokter axel dan pengakuanya sebagai orang tua fani.


Tomy meraih ponselnya. Sebuah keryitan muncul di keningnya ketika melihat nomor yang tertera di layar ponselnya.


“Nomor polisi?” Gumamnya bingung.


Penasaran tomy pun segera mengangkat telpon tersebut.


“Halo. Selamat malam. Bisa bicara dengan bapak tomy?”


“Ya. Dengan saya sendiri. Ada apa pak?” Tanya balik tomy bingung.


“Pak kami dari kepolisian mengabarkan bahwa saudari rachel mengalami kecelakaan tunggal pak. Tepatnya di jalan mawar.”


“Sebelumnya maaf pak. Kami menghubungi bapak dengan nomor polisi karna handphone saudari rachel rusak dan mati saat kami hendak menelphone nomor bapak yang terakhir di hubungi.”


Tomy berdecak. Rachel tidak punya saudara di indonesia. Kedua orang tuanya sudah menetap di belanda. Dan setau tomy rachel adalah anak tunggal yang berarti tidak punya kakak maupun adik.


“Terimakasih atas informasinya pak. Saya akan segera kesana.”


“Baik pak.. Saat ini saudari rachel sedang dilarikan menuju ke rumah sakit kasih bunda.”


Tomy langsung memutuskan sambungan telephone nya. Pria tampan itu buru buru menyampirkan handuknya kemudian membuka pintu lemari bajunya dan meraih jaket kulitnya. Tomy bahkan sampai membiarkan rambut basah awut awutanya dan memilih meraih kunci mobilnya kemudian berlari keluar dari kamarnya.


Dengan langkah cepat tomy menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Melihat jeny yang sedang duduk di kursi di meja makan tomy langsung menghampirinya. Pria tampan itu langsung mencium kening jeny singkat.


“Sayang... Aku ada urusan sebentar. Kamu jangan lupa makan juga minum susunya.” Ujarnya kemudian buru buru berlalu tanpa mendengarkan apa yang ingin di katakan oleh jeny.


“Tomy... Tunggu..” Lirih jeny terus memegangi perutnya.

__ADS_1


Melihat suaminya yang berlari menjauh jeny menangis. Baru kali ini tomy tidak peka dengan apa yang sedang di rasakanya. Tomy bahkan tidak mengatakan tentang urusanya yang membuatnya begitu terburu buru meninggalkanya.


“Perut aku sakit...” Tangis jeny terus memegangi perutnya.


Jeny tidak tau harus bagaimana sekarang. Jeny tau mungkin perutnya sakit karna dirinya yang terlalu lelah seharian ini.


“Ya tuhan.. Nak.. Kamu harus baik baik saja.. Maafkan mamah..”


Dalam perjalanan menuju rumah sakit tomy terus saja menambah kecepatan laju mobilnya. Jarak dari rumahnya ke rumah sakit kasih bunda memang cukup jauh dan memakan waktu.


Tomy berdecak ketika jalanan tiba tiba padat sampai macet. Tomy bukan mengkhawatirkan rachel. Tomy hanya merasa kasihan pada rachel yang tidak memiliki keluarga di indonesia.


20 menit kemudian tomy sampai di depan gedung rumah sakit kasih bunda. Tomy segera keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam gedung rumah sakit kasih bunda tempat rachel di tangani. Dengan terburu buru tomy segera menanyakan tentang keberadaan rachel pada petugas rumah sakit. Setelah tau dimana rachel berada tomy segera menuju ruang rawat wanita itu.


Tomy menghela nafas ketika sampai di depan kamar VIP bernomor 145. Andai saja orang tua rachel ada tomy tidak mungkin membuang waktunya dan meninggalkan jeny begitu saja di rumah.


“Permisi pak..”


Tomy yang hendak meraih knop pintu ruang rawat rachel langsung menoleh. Tomy tersenyum ketika mendapati seorang dokter berdiri di sampingnya.


“Apakah anda keluarga pasien yang bernama rachel?” Tanya dokter tersebut.


Tomy terdiam sesaat. Tomy tidak merasa sebagai siapapun bagi rachel.


“Ah.. Saya hanya kenalanya dokter.” Jawabnya.


“Kalau begitu apa bisa saya minta tolong pada anda?” Tanya dokter tersebut.


“Apa?” Tanya tomy mengeryit bingung.


“Tolong hubungi keluarganya. Ada sesuatu yang harus saya sampai kan.” Jawab dokter tersebut.


Tomy terdiam lagi. Kedua orang tua rachel ada di belanda. Rasanya tidak mungkin jika keduanya bisa sampai dengan waktu singkat ke indonesia. Apa lagi keduanya juga mempunyai segudang kesibukan. Kalaupun tomy menghubunginya belum tentu keduanya langsung merespon.


“Bisa pak?” Tanya dokter itu lagi.


“Oh iya pak.. Nanti akan saya hubungi.” Jawab tomy.

__ADS_1


“Kalau begitu terimakasih pak. Tolong nanti suruh saja keluarganya ke ruangan saya. Nama saya fadly.” Senyum dokter tersebut ramah.


“Baik dokter.” Angguk tomy membalas.


__ADS_2