
Tomy menatap bingung pada reyhan yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu padanya namun tampak ragu. Tomy tau betul bagaimana sikap asistenya itu. Reyhan selalu berani mengungkapkan pendapatnya tentang masalah apapun bahkan selain masalah pekerjaan.
“Kalau begitu saya permisi untuk kembali bekerja pak.” Kata reyhan menganggukan kepalanya.
“Emm.. Tunggu rey.” Cegah tomy membuat reyhan yang hendak bangkit berdiri kembali mendudukan dirinya lagi.
“Ya pak. Ada yang bisa saya bantu lagi?” Tanya reyhan menatap tomy.
Tomy menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan reyhan. Tomy ingin tau apa yang ingin reyhan bicarakan namun coba reyhan pendam sendiri.
“Ada apa?” Tanya tomy tenang sambil menyenderkan punggungya di senderan kursi kebesaranya itu.
Reyhan mengeryit bingung. Pria tampan dengan gaya rambut jambulnya itu tidak mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh bos besarnya.
“Saya tidak bodoh reyhan. Saya tau kamu sedang memikirkan sesuatu. Saya juga tau kamu ingin mengatakanya. Jadi katakan saja. Jangan di pendam sendiri.” Kata tomy menjawab kebingungan reyhan.
Reyhan menelan ludahnya. Kebingunganya bukan tentang uang yang di pakai oleh susan. Melainkan sikap susan yang menurut reyhan sangat aneh dan tiba tiba itu.
“Maaf sebelumnya pak. Saya memang ada yang ingin di bicarakan dengan pak tomy.. Tapi saya ragu. Saya takut pak tomy salah paham.. Karna ini pemikiran saya tentang mbak susan.”
Tomy mengangkat sebelah alisnya. Tomy merasa sangat penasaran ingin tau apa yang di pikirkan reyhan tentang susan.
“Memangnya kenapa dengan susan?” Tanya tomy.
Reyhan menghela nafas kemudian menundukan kepalanya. Tomy tidak pernah marah sekalipun padanya sebelumnya. Tapi tentang pemikiran reyhan pada susan mungkin bisa membangkitkan amarah pria bermarga bagaskara itu.
“Katakan saja rey..” Suruh tomy tenang.
Reyhan menghela nafas sekali lagi. Pria itu kemudian mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap wajah tampan atasanya.
“Maaf pak.. Saya merasa ada yang aneh dengan mbak susan.. Rasanya sangat berbeda sekali dengan mbak susan yang dulu.. Meskipun memang wajah dan rupanya tetap sama tapi sikap dan kelakuanya sangat berbeda pak.”
__ADS_1
Tomy memejamkan kedua matanya. Pemikiran reyhan dan jeny hampir sama. Tapi dirinya tidak pernah sampai berpikir sejauh itu. Tomy tidak pernah merasa aneh ataupun curiga dengan perubahan sikap susan yang sangat derastis itu.
“Jeny juga mempunyai pikiran yang sama dengan kamu rey.. Maka dari itu saya menyuruh orang untuk menyelidiki tentang hal ini.”
Reyhan terkejut mendengarnya. Tidak biasanya tomy melakukanya sendiri. Padahal biasanya tomy selalu menyuruh dan mempercayakan apapun padanya.
“Kamu jangan salah sangka dulu. Saya bukan tidak percaya sama kamu rey.. Saya hanya ingin kamu fokus dengan susan disini. Saya yakin kamu bisa menangani susan dengan baik. Dan selama susan disini saya menyuruh orang untuk menyelidiki tempat susan tinggal dengan om dan tante..” Lanjut tomy yang tidak ingin reyhan salah menangkap maksudnya.
Mendengar itu reyhan mengangguk faham. Jika dirinya yang melakukan penyelidikan itu mungkin susan akan curiga.
“Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk membantu pak?” Tanya reyhan kemudian.
Tomy tersenyum mendengarnya. Tomy sangat menyukai sikap tanggap dan pengertian reyhan. Reyhan juga tidak egois meskipun kemampuanya dalam menangani sesuatu memang patut di acungi jempol.
“Kamu harus bisa menangani susan rey.. Kita lakukan semuanya dengan pelan dan hati hati.” Jawab tomy.
Reyhan mengangguk lagi. Pria itu kemudian berpikir apa yang akan di lakukan tomy jika memang susan bukanlah susan yang sebenarnya.
“Kenapa lagi rey?”
“Apa yang akan pak tomy lakukan setelah semuanya terbongkar nanti?”
Pertanyaan reyhan membuat tomy langsung mengingat bagaimana kasarnya susan menghempaskan tangan mamahnya. Beruntung saat itu tomy menemani mamahnya untuk menemui susan. Jika tidak, mungkin mamahnya akan terluka tidak hanya di hati tapi juga di fisiknya.
“Saya akan menghukumnya.” Jawab tomy yakin.
“Lalu bagaimana dengan tuan dan nyonya bagaskara pak? Apa mereka tau tentang hal ini?”
“Tidak. Mereka tidak akan tau selama tidak ada yang memberitahu rey..” Jawab tomy.
“Maka dari itu saya benar benar minta tolong sama kamu kawal kemanapun susan pergi. Kamu baca gerak geriknya dan segera kasih tau saya jika ada yang mencurigakan.”
__ADS_1
Reyhan menganggukan lagi kepalanya. Kecurigaanya pada susan mempunyai dasar dan tomy pun juga merasa demikian. Hal itu membuat reyhan merasa semangat untuk menyelidiki tentang siapa wanita yang mengaku sebagai susan beberap tahun terakhir ini.
“Saya akan melakukanya dengan baik pak.” Senyum reyhan.
“Ya. Saya percaya sama kamu rey..” Balas tomy membalas senyuman reyhan.
Reyhan bangkit dari duduknya setelah pamit pada tomy untuk kembali bekerja. Pria berjambul itu kemudian melangkah keluar dari ruangan tomy dengan langkah mantap.
Sedangkan tomy, pria itu menghela nafas merasa capek dengan semua masalah yang melanda dan mengancam keharmonisan rumah tangganya. Tomy pikir setelah lorenzo tertangkap dirinya dan jeny akan hidup tenang tanpa gangguan. Tapi tidak di sangka tiba tiba susan datang dan berniat memporak porandakan hubungan manisnya dengan jeny.
“Tuhan.. Lindungi keluarga hamba..” Gumam tomy memohon pada sang pencipta.
Deringan ponsel milik tomy yang berada di samping tumpukan berkas membuat tomy mengalihkan perhatianya. Pria itu langsung meraih benda pipih miliknya kemudian tersenyum ketika mendapati nama sang mamah yang tertera di layar ponselnya. Namun kali ini bukan mamahnya yang menelephone melainkan mamah mertuanya.
“Halo mah..”
“Ya tomy.. Tomy mamah telephone beberapa kali ke handphone jeny tapi tidak kunjung di angkat. Apa jeny baik baik saja?” Tanya mamah jeny tanpa basa basi.
Tomy tersenyum mendengarnya. Semenjak putranya lahir jeny memang jarang memegang ponselnya. Wanita itu selalu fokus pada putranya sehingga siapapun yang menelephone nya akan sangat mustahil mendapat jawaban.
“Jeny baik baik aja mah.. Jeny memang selalu sibuk dengan faraz mah.. Jadi jeny selalu mengabaikan ponselnya akhir akhir ini.”
Mendengar jawaban dari tomy mamah jeny menghela nafas. Wanita itu sudah sangat khawatir pada putrinya yang memang tidak pernah lagi sempat menelephone nya semenjak melahirkan.
“Baiklah.. Sampaikan pesan mamah padanya yah.. Sore ini mamah dan papah akan pergi ke bandung untuk urusan pekerjaan. Kamu jaga baik baik jeny.. Mamah akan kembali ke jakarta jika memang pekerjaan papah selesai di bandung.”
“Loh, kenapa mamah tidak ke rumah dulu. Atau setelah ini tomy pulang dan akan membawa jeny ke rumah mamah sama papah.” Kata tomy.
“Jangan nak.. Kasihan jeny pasti sudah capek mengurus faraz. Katakan saja sama jeny mamah dan papah ke bandung.” Tolak mamah jeny.
Tomy menganggukan kepalanya. Sadar mamah mertuanya tidak akan tau meskipun dirinya menganggukan kepala tomy pun segera bersuara.
__ADS_1
“Baiklah. Mamah sama papah hati hati. Tidak perlu khawatir tentang jeny. Tomy akan menjaganya dengan sangat baik.”