Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 149


__ADS_3

Tomy kembali terlelap begitu sampai di rumah. Kali ini pria itu bahkan tidur di sofa ruang tamu saking tidak bisa menahan rasa kantuknya. Jeny yang melihatnya hanya bisa menghela nafas.


Jeny mendudukan dirinya di samping tomy yang terduduk dengan bersender dan kedua mata tertutup. Nafas pria tampan itu begitu tenang dan teratur pertanda sudah benar benar terlelap dalam tidurnya.


Jeny menghela nafas lagi. Di letakanya tas yang jeny pakai di atas meja di depanya. Jeny menatap penampilan suaminya. Penampilanya jauh dari kata rapi. Rambut yang acak acakan, kemeja yang juga tidak terkancing rapi tanpa dasi yang mengikat kerahnya. Entah sekeras apa perjuangan suaminya sehingga sampai terlelap begitu masuk ke dalam rumah. Tapi salutnya meski sedang menahan kantuk, pria itu bisa tetap fokus menyetir.


“Bu...”


Jeny menoleh mendengar suara bibi. Wanita itu langsung menempelkan jari telunjuknya memberi kode agar bibi lebih memelankan suaranya.


Bibi yang mengerti dengan maksud jeny langsung menutup mulutnya. Wanita tua itu kemudian mengangguk dan kembali masuk ke dalam meninggalkan tomy dan jeny berdua.


Sampai menjelang sore tomy baru terbangun. Namun ketika bangun posisinya sudah berubah menjadi berbaring.


“Ya tuhan...”


Tomy meringis ketika merasakan denyutan di kepalanya. Mungkin karna terlalu lama tertidur sehingga kepalanya terasa sakit dengan mulut terasa pahit.


“Kamu udah bangun..?”


Jeny muncul dari dalam dengan secangkir teh hangat di tanganya. Tomy langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Dan saat itu juga tiba tiba tomy bersendawa begitu keras.


Jeny meringis mendengarnya. Sendawa tanpa makan biasanya di akibatkan karna banyaknya angin di dalam perut. Dan dapat di pastikan tomy masuk angin.


“By kamu..”


“Kepalaku sakit banget sayang...” Rengek tomy kemudian menyenderkan kepalanya di bahu jeny.


Jeny menghela nafas. Wanita itu menempelkan punggung tanganya di kening tomy. Rasa panas seketika terasa di kulit punggung tangan jeny.


“Kamu masuk angin by..” Katanya lembut.


Tomy hanya memgangguk saja. Pria itu kembali memejamkan kedua matanya. Bukan karna ngantuk tapi karna rasa nyeri di kepalanya yang sampai terasa pegal di kedua matanya.


“Pindah ke kamar yah?” Tanya jeny.


Lagi tomy menganggukan kepala sebagai jawabanya. Namun sebelum membantu tomy bangkit, jeny terlebih dulu memberikan teh hangat buatanya dan membantu tomy meminumnya.

__ADS_1


Jeny dengan telaten mengurus suaminya. Wanita itu melakukan semuanya sendiri mulai dari mengelap tubuh lengket tomy, menyuapi, bahkan memberikan obat. Tidak hanya itu saja, jeny bahkan turun tangan sendiri saat membuatkan bubur yang akan di makan oleh tomy. Bukan tidak percaya pada bibi ataupun sisi. Jeny hanya ingin mengurus suaminya sendiri tanpa harus merepotkan orang lain.


Jeny menghela nafas. Tubuh tomy terus menggigil meskipun sudah di selimuti. Karna hal itu akhirnya jeny ikut masuk ke dalam selimut dan mendekap penuh kelembutan kepala suaminya di dada. Mungkin ini adalah efek dari kelelahan suaminya beberapa hari ini.


Deringan ponsel tomy membuat jeny menoleh. Pelan pelan jeny melepaskan dekapanya. Wanita itu kemudian bergerak pelan meraih ponsel milik suaminya di atas nakas.


“Papah..” Gumam jeny ketika melihat nama papah tertera di layar menyala ponsel tomy.


Jeny tidak langsung mengangkatnya. Papah tomy bukan tipe orang yang suka mengobrol jika tidak penting. Dan tiba tiba pikiran jeny mengaitkanya dengan apa yang di lakukan tomy tadi siang di perusahaan lorenzo.


Jeny memejamkan kedua matanya. Wanita itu kemudian kembali menaruh ponsel milik tomy. Jeny tidak tau harus berkata apa jika sampai papah mertuanya bertanya. Merasa tidak punya jawaban jeny pun akhirnya memutuskan untuk tidak mengangkat telephone dari papah mertuanya.


Jeny menghela nafas. 3 kali ponsel suaminya berbunyi hingga akhirnya berhenti beberapa menit setelah jeny meletakan kembali di tempatnya. Jeny takut salah bicara pada papah mertuanya. Karna meskipun jeny tau akar permasalahanya tetapi jeny tidak bisa menjelaskanya secara terperinci.


”Sayang...”


Jeny menoleh dan kembali mendekap tomy. Tubuh pria itu terus menggigil dan tubuhnyapun terasa sangat panas. Jeny sendiri sampai keringetan karna terus mendekap kepala tomy.


“Sayang...”


Pelan pelan tomy membuka kedua matanya. Meskipun denyutan di kepalanya semakin terasa namun tomy tetap menahanya.


Tomy tersenyum. Dengan lembut di lepaskanya dekapan jeny. Tomy kemudian mengubah posisinya menjadi sejajar dengan jeny. Pria itu tersenyum meskipun wajahnya begitu pucat dengan bibir kering.


“By kamu...”


“Aku kangen kamu..” Lirih tomy.


Jeny terdiam. Jeny tau apa arti kata kangen yang di katakan suaminya. Tapi untuk saat ini rasanya tidak mungkin jika jeny melayaninya. Tomy sedang sakit. Tubuhnya sangat panas juga lemas. Bukan tidak mungkin tomy akan semakin parah jika melakukanya.


“Kamu sedang sakit by.. Lebih baik kamu tidur lagi..”


“Sayang tapi...”


“Please by.. Aku janji setelah kamu sembuh aku bakal turutin apa aja mau kamu.” Sela jeny.


Tomy terdiam sesaat. Namun berlahan seulas senyum terukir di bibirnya. Rasa sakit di kepalanya mendadak tidak terasa. Tubuhnya yang sedari tadi dingin menggigil berlahan mulai menghangat. Apa yang di katakan jeny benar benar sangat berpengaruh pada keadaanya saat ini.

__ADS_1


“Kamu nggak bohongkan?” Tanya tomy memastikan.


“Enggak. Aku janji.” Jawab jeny tersenyum.


“Oke.. Aku tidur.” Semangat tomy langsung membaringkan kembali tubuhnya.


Jeny yang melihatnya terkekeh geli. Tomy begitu bersemangat setelah mendengar janjinya. Tomy bahkan menutup matanya dengan bibir yang terus mengembangkan senyuman.


“Nggemesin banget sih..”


Jeny menoel ujung hidung mancung suaminya. Jeny tau tomy belum benar benar terlelap karna pria itu masih terus mengukir senyuman di bibirnya.


Jeny menghela nafas sekali lagi.


“By...Tadi papah kamu telephone.”


Ucapan jeny berhasil membuat tomy kembali membuka kedua matanya. Pria tampan itu mengeryit. Papahnya tidak akan menelphone jika tidak ada yang penting.


“Aku nggak angkat. Aku takut papah nanyain tentang apa yang kamu lakukan. Aku juga takut salah bicara.” Lanjut jeny.


Tomy menelan ludahnya. Kemungkinan besar memang mungkin papahnya akan menanyakan tentang hal itu.


“Emm.. Sayang bisa tolong ambilkan hanphone aku?” Tanya tomy lembut.


Jeny menganggukan kepala. Wanita cantik itu kemudian memutar tubuhnya dan meraih ponsel milik suaminya. Jeny memberikan ponsel bercasing hitam itu pada tomy.


“Makasih sayang...” Senyum tomy menerim ponselnya.


“Sama sama suamiku..” Balas jeny tersenyum juga.


Tomy terkekeh pelan. Pria itu segera menghubungi kembali sang papah. Tomy akan menjelaskan jika memang papahnya bertanya tentang apa yang di lakukanya pada lorenzo.


“Halo..”


“Ya pah.. Maaf tadi tomy ketiduran jadi nggak kedengeran papah telephone.” Ujar tomy sambil melirik jeny yang sedang menatapnya penasaran.


“Sepertinya tidur kamu cukup nyenyak nak.” Kata papah tomy yang di sertai dengan kekehan.

__ADS_1


Tomy ikut terkekeh. Bagaimana tidak nyenyak. Jeny mengurusnya dengan sangat telaten dan penuh kelembutan. Apa lagi aroma lembut mawar yang menguar dari tubuh jeny membuatnya semakin merasa nyaman.


__ADS_2