
”Anda bisa lihat sendiri bu jeny.. Posisi bayinya sangat bagus.. Pertumbuhanya pun bagus. Hanya mungkin pergerakanya memang belum terlalu aktif..”
Jeny tersenyum menatap gambar janin dalam kandunganya. Yah.. Wanita cantik itu memang sedang melakukan USG sekaligus memeriksakan kandunganya.
“Oya bu jeny apa anda juga ingin tau jenis kelaminya?” Tanya dokter wanita yang menjadi dokter kandungan yang di percaya tomy dan jeny.
Jeny terdiam sesaat. Mengetahui jenis kelamin terlebih dulu mungkin tidak akan menjadi kejutan untuknya dan tomy. Jeny hanya ingin memastikan saja posisi dan perkembangan janinya bagus.
”Eemm.. Nanti saja dok.. Lagian tidak ada suami saya disini.” Jawab jeny beralasan.
“Baiklah kalau begitu.” Senyum dokter wanita berambut cepol itu menyudahi meng USG jeny.
Jeny bangkit dari berbaringnya. Wanita itu menatap bingung juga malu pada dokternya. Jeny ingin menanyakan untuk memperjelas pengetahuanya tentang apa saja yang boleh di lakukan wanita hamil seperti dirinya termasuk masalah ranjang. Karna sejujurnya akhir akhir ini keinginan jeny untuk melakukanya sering mendesak dirinya. Jeny bahkan kadang menangis sendiri karna menahan rasa malu juga keinginanya. Jeny takut tomy menganggapnya wanita gampangan yang dengan gampang selalu meminta terlebih dulu.
Dokter sinta, nama dokter kandungan itu. Wanita cantik bertubuh proporsional itu menatap jeny yang terus diam. Sangat aneh menurutnya. Jeny biasanya selalu mengajaknya mengobrol dan menanyakan sesuatu yang memang perlu dia tau.
“Bu jeny.. Kenapa?” Tanya dokter cantik itu pelan.
Jeny menatap ragu dokter sinta. Jeny benar benar malu jika harus mengatakan yang sebenarnya.
“Apa bu jeny ada masalah?” Tanya dokter itu lagi perhatian.
Jeny menghela nafas. Dokter sinta begitu baik dan pengertian. Dokter sinta juga selalu menjelaskan apapun yang jeny tanyakan dengan penuh kelembutan.
“Dokter, boleh saya tanya sesuatu?” Tanya jeny ragu.
Dokter sinta menganggukan kepalanya dengan mantap. Wanita itu berdiri di depan brankar yang di duduki jeny. Kedua tanganya dia masukan ke dalam saku jas putihnya. Sedang pandanganya terus mengarah pada jeny yang berkali kali menghela nafas seolah sedang mengumpulkan keberanianya untuk bertanya.
“Dokter apakah peningkatan hormon pada wanita hamil itu wajar?” Tanya jeny pada dokter sinta.
Dokter sinta tersenyum.
“Ya bu jeny.. Hampir semua wanita hamil mengalami seperti itu. Dan peningkatan hormon itu bisa mempengaruhi dari segi emosional kita bahkan sampai tahap hubungan intim.” Jawab dokter sinta.
Jeny mengeryit.
“Hubungan intim?” Tanyanya penasaran.
__ADS_1
“Ya.. Misalnya muncul keinginan untuk melakukanya sering. Itu sangat wajar bu..” Jawab dokter sinta lagi.
Jeny terdiam. Itu artinya apa yang di alaminya juga rata rata di alami oleh wanita hamil pada umumnya.
“Eem.. Apa tidak apa apa jika melakukanya sering dokter?”
Dokter sinta mengeryit mendengar pertanyaan jeny kali ini.
”Eemm.. Maksud saya tidak setiap waktu. Mungkin setiap malam sebelum tidur.” Kata jeny menjelaskan maksud pertanyaanya.
Dokter sinta mengangguk. Meskipun jeny pun sama sama dokter seperti dirinya namun jeny bukanlah dokter kandungan. Dan ketidak tahuanya tentang pengaruh meningkatnya hormon wanita hamil sangatlah wajar.
“Itu tidak masalah asal tau posisi yang benar bu jeny..” Jawab dokter sinta.
Jeny mengangguk lagi. Rasanya lega setelah tau apa yang ingin dia tau. Dan jeny akan memberi tahukan pada suaminya nanti agar mereka berdua sama sama tenang juga nyaman.
“Oh iya bu... Anda belum timbang.” Kata dokter sinta mengingatkan.
Jeny tersenyum. Dirinya memang belum menimbang berat badanya. Jeny kemudian turun dari brankarnya dan menimbang berat badanya dengan berdiri di atas timbangan digital berwarna hitam.
“Halo..”
“Sayang, kamu dimana? Kenapa keluar tanpa memberitahu aku?” Tanya tomy dengan nada khawatir.
Jeny tersenyum. Jadwal cek kandunganya sebenarnya masih 2 hari lagi. Namun karna keingin tahuanya tentang pengaruh peningkatan hormon membuat jeny tidak sabar dan akhirnya memeriksakan sendiri kandunganya tanpa tomy.
“Aku di rumah sakit by.. Maaf nggak kasih tau kamu..” Jawab jeny pelan.
“Hh.. Tunggu disitu. Aku jemput sekarang.” Ujar tomy kemudian langsung memutuskan sambungan telephone nya.
Jeny menghela nafas. Wanita itu kemudian melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit namun baru beberapa langkah jeny menjauh dari ruangan dokter sinta, suara rani membuatnya berhenti melangkah.
“Jeny !!”
Jeny memutar tubuhnya dan tersenyum mendapati rani yang sedang melangkah menghampirinya dengan sangat buru buru.
“Kak rani..” Senyum jeny langsung memeluk tubuh rani begitu wanita itu sampai di depanya.
__ADS_1
“Ya tuhan... Jeny aku kangen banget sama kamu..”
Jeny tersenyum di balik punggung rani. Jeny juga sangat merindukan rani. Apa lagi jeny sudah menganggap wanita itu seperti kakaknya sendiri.
“Aku juga kak..” Balas jeny.
Rani kemudian melepaskan pelukanya. Wanita itu menatap jeny dari atas sampai bawah. Rani bahkan memundurkan langkahnya agar bisa dengan jelas memperhatikan tubuh jeny.
“Kamu..”
Jeny tersenyum. Wanita itu menundukan kepalanya. Jeny tau, rani pasti sedang memperhatikan perubahan pesat tubuhnya.
“Aku gendutan ya kak?” Tanya jeny menyadari perubahan tubuhnya sendiri.
Rani menganggukan kepalanya. Tubuh jeny memang mengalami banyak perubahan. Yang awalnya sangat ramping kini terlihat berisi.
“Eemm.. Nggak gendut sih. Cuma sedikit berisi. Tapi bagus. Kamu jadi tambah sexy.” Senyum rani.
Jeny terkekeh. Rani memang bukan orang yang suka mencela. Itu yang membuat jeny betah dan senang bersahabat dengan ibu anak satu itu.
“Gimana kabar kamu dan suami?” Tanya rani sambil menuntun jeny dan mengajaknya duduk di kursi tunggu yang berada di koridor rumah sakit.
“Aku baik kak... Suami juga baik.” Senyum jeny menjawab.
“Syukurlah.. Jen.. Tentang fani... Aku ikut berduka yah.”
Jeny menghela nafas. Semuanya sudah berlalu begitu cepat. Fani sudah tidak lagi bersamanya.
“Ya kak.. Semuanya seperti mimpi. Tapi mungkin ini yang terbaik. Supaya fani tidak terus terusan merasa sakit.” Senyum tipis jeny.
Rani menganggukan kepalanya. Rani memang tidak sedekat jeny pada fani. Tapi rani tau bagaimana berjuangnya gadis kecil itu melawan penyakit yang akhirnya membuatnya menyerah.
“Oya jen.. 3 hari lalu lorenzo kesini. Dia nyariin kamu. Kayanya dia nggak tau kalau kamu udah nggak kerja lagi disini.”
Jeny menghela nafas lagi. Jika lorenzo kembali mengganggunya, hubunganya dan tomy pasti akan memburuk. Bahkan bukan tidak mungkin mereka akan berdebat karna lorenzo.
“Aku heran sebenarnya sama dia. Pria macam apa dia itu. Egois, nggak mau nerima kenyataan. Udah tau kamu lagi hamil masih aja ngejar ngejar.”
__ADS_1