Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 114


__ADS_3

Siangnya.


Tomy menutup laptopnya kemudian bangkit dari duduknya. Ketika hendak melangkah tiba tiba pintu ruanganya terbuka memunculkan reyhan yang masuk dengan membawa sebuah map biru di tanganya.


“Reyhan...” Lirih tomy mengeryit.


Reyhan melangkah cepat mendekat pada tomy dan berdiri tepat depan meja kerja pria tampan itu.


“Permisi pak..” Senyum reyhan dengan menganggukan pelan kepalanya.


Tomy hanya diam saja. Tatapanya terarah pada map yang di bawa oleh reyhan dengan tatapan penuh rasa penasaran.


“Rey.. Ada apa?” Tanya tomy langsung.


Reyhan meletakan map yang di bawanya di atas meja. Pria berjambul itu menatap tomy dengan senyuman yang terus terukir di bibirnya.


“Ini adalah laporan tentang perusahaan pak lorenzo.” Jawab reyhan.


“Kamu dapat darimana? Dan untuk apa?” Tanya tomy bingung.


Reyhan terkekeh pelan. Lucu sekali jika tomy lupa dengan rencananya sendiri.


“Pak tomy.. Ini perlu pak tomy baca untuk mengetahui semuanya. Bagaimanapun juga pak tomy adalah pemilik saham terbesar setelah pak lorenzo.” Senyum reyhan.


Tomy menganggukan kepalanya. Pria tampan itu kemudian meraih map yang di letakan reyhan di meja kerjanya.


“Nanti akan saya baca kalau saya ada waktu senggang.” Katanya.


Reyhan mengangguk mengerti. Reyhan tau tomy pasti sudah akan pergi untuk menjemput jeny agar bisa makan siang bersama.


“Kalau begitu saya permisi pak. Selamat siang.” Senyum reyhan kemudian melangkah meninggalkan tomy sendiri di ruanganya.


Selepas keluarnya reyhan dari ruanganya tomy menghela nafas. Tomy sungguh sangat tidak ingin berurusan dengan lorenzo sebenarnya. Namun karna pria itu yang terus gencar mengejar istrinya membuat tomy melakukan hal yang sebenarnya tidak boleh di lakukan.


“Apa jeny akan marah kalau tau tentang ini?” Gumam tomy bertanya pada dirinya sendiri.


Tomy menatap map yang berada di tanganya. Tomy tidak bisa jika harus kembali bersitegang dengan istrinya. Tomy juga tidak mau jeny berburuk sangka padanya. Tapi lorenzo benar benar tidak bisa di biarkan begitu saja.


“Nggak.. Jeny nggak boleh tau apapun tentang ini. Sebisa mungkin semua ini harus tertutupi dari jeny.” Geleng tomy kemudian meletakan kembali map yang di berikan reyhan di atas meja kerjanya.


Tomy menghela nafas. Pria tampan itu kembali melanjutkan niatnya dengan melangkah keluar dari ruanganya untuk menjemput jeny di rumah sakit.

__ADS_1


“Dokter. Bagaimana kalau dokter axel jadi papah aku?”


Pertanyaan yang keluar dari mulut fani membuat senyuman di bibir jeny pudar. Wanita cantik itu benar benar tidak menyangka dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh fani.


“Dokter axel? Jadi papah kamu? Bagaimana mungkin?”


Fani tersenyum saja. Gadis kecil itu kemudian menyentuh rambut palsunya dan mengusapnya hati hati seakan takut merusak sehelai saja rambut palsu itu jika dirinya terlalu kasar mengusapnya.


Deringan ponsel yang berada di pangkuanya membuat jeny mengalihkan perhatianya. Senyumnya mengembang ketika mendapati nama suaminya terpampang di layar menyala benda pipih itu.


Tidak mau membuat suaminya menunggu, jeny pun segera meraih ponsel di pangkuanya dan mengangkat telephone dari tomy.


“Halo sayang.. Kamu dimana? Aku udah ada di ruangan kamu nih..”


Jeny terkekeh geli mendengar serentet ucapan suaminya. Jelas sekali pria tampan itu sedang sangat tidak sabar.


“Aku di taman samping.. Sama fani.”


Hening.


Hanya terdengar suara helaan nafas dari seberang telephone dan itu membuat jeny bingung.


“By.. Kenapa? Kok diem?” Tanya jeny pelan.


Pertanyaan balik tomy membuat jeny terdiam. Wanita cantik itu menoleh ke sampingnya dimana fani berada. Jeny tidak keberatan jika fani ikut bersamanya dan tomy. Jeny justru merasa senang akan hal itu. Tapi dokter axel pasti akan menghalanginya. Pria itu pasti akan sangat menentang nya dan tomy juga melarang untuk membawa fani pergi bersama.


“Eemm.. By.. Aku rasa nggak bisa semudah itu.. Dokter axel pasti akan sangat menentang.” Jawab jeny pelan.


“Biar aku yang bicara dengan dokter axel. Sekarang.”


Tomy memutuskan sambungan telephone nya. Kebetulan saat itu dokter axel sedang melintas tidak jauh darinya. Tomy segera melangkah cepat dan mendekati dokter tampan itu.


“Dokter axel.” Panggilnya.


Merasa ada yang memanggil namanya dokter axel pun berhenti melangkah kemudian memutar tubuhnya menghadap tomy yang berdiri tegap di hadapanya saat ini.


“Ya. Saya..” Keryit dokter axel membalas.


“Saya tomy bagaskara. Suaminya dokter jeny.” Kata tomy memperkenalkan dirinya pada dokter axel.


“Ya.. Saya sudah tau.” Angguk dokter axel yang memang sudah tau siapa tomy.

__ADS_1


“Istri saya bilang anda adalah dokter yang menangani fani. Apa benar?”


“Ya benar.” Meskipun bingung namun dokter axel tetap menjawab jujur pertanyaan tomy.


Tomy tersenyum tipis. Pria itu dengan gaya cool nya melipat kedua tanganya di depan dada.


“Saya mau membawa fani untuk makan siang bersama istri saya.” Kata tomy.


Rahang dokter axel terlihat mengeras. Tatapan bingungnya langsung berubah menjadi tatapan tidak suka pada tomy yang tampak begitu santai mengatakan ingin mengajak fani pergi bersamanya dan jeny.


“Saya tidak mengizinkan.” Balas dokter axel dingin.


Tomy terkekeh mendengarnya. Pria itu menggelengkan kepalanya kemudian menghela nafas dan kembali menatap dokter axel yang berada di depanya.


“Dokter.. Saya tidak sedang meminta izin dari dokter. Saya hanya memberitahu.”


Kedua tangan dokter axel mengepal mendengarnya. Amarahnya mulai terlihat menguasainya. Dan itu dapat di lihat dan di rasakan dengan jelas oleh tomy.


“Anda bukan siapa siapanya fani. Dan dokter jeny juga bukan siapa siapa. Dan saya. Saya melarang anda membawa fani pergi.” Ujar dokter axel dengan penuh penekanan.


Tomy tertawa. Lucu sekali mendengarnya. Karna pria yang berdiri di depanya juga bukan siapa siapa fani.


“Anda benar benar sangat lucu dokter. Anda sendiri juga bukan siapa siapa. Anda juga bukan keluarga, kerabat, atau bahkan teman untuk fani. Anda hanya dokter yang menanganinya. Dan anda melakukanya juga karna anda di bayar bukan?”


Dokter axel tidak bisa menjawab. Tatapanya semakin tajam menatap tomy yang begitu santai menanggapi ucapanya.


“Dokter axel !!”


Pekikan fani membuat dokter axel menoleh. Sebelah alisnya langsung terangkat ketika mendapati jeny dan fani yang sudah tidak lagi mengenakan baju pasien seperti biasanya. Mereka berdua melangkah dengan tangan saling bertaut mendekat pada dokter axel dan tomy.


“Fani..” Lirih dokter axel.


“Dokter.. Siang ini aku mau makan siang sama om tomy dan dokter jeny..” Senyum manis fani menatap dokter axel.


Dokter axel menelan ludahnya. Fani pasti akan sangat kecewa dan sedih jika dokter axel menghalanginya. Namun jika dokter axel membiarkan juga tidak akan baik bagi kesehatan gadis kecil itu.


“Nggak papa kan dokter?” Tanya fani dengan tatapan penuh harap menatap dokter axel.


Dokter axel melirik jeny dan tomy yang berdiri berselahan. Kesal sekali rasanya melihat pasangan suami istri itu.


“Dokter.. Ini pertama kalinya buat aku loh bisa keluar dari rumah sakit ini..”

__ADS_1


Dokter axel tidak bisa berkata apa apa. Hanya sebuah anggukan yang mewakili persetujuanya atas apa yang di inginkan oleh gadis kecil itu.


“Hati hati...” Lirih dokter axel mengusap lembut pipi tirus fani.


__ADS_2