Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 174


__ADS_3

Malamnya jeny tampak sangat resah. Sampai waktu makan malam tiba tomy belum juga pulang. Tomy bahkan sama sekali tidak mengabarinya dari siang sampai sekarang. Dan itu sukses membuat jeny merasa sangat khawatir. Apa lagi hari ini nomor reyhan juga sangat sulit untuk di hubungi.


”Bu.. Kenapa cuma di lihatin makananya. Atau ibu mau saya masakan yang lain?” Tanya bibi yang merasa heran dengan jeny yang tidak menyentuh makanan di meja depanya.


“Ah, enggak bi. Saya cuma lagi nungguin bapak pulang aja. Handphone nya susah banget di hubungi. Saya takut terjadi sesuatu yang buruk.”


Bibi tersenyum.


“Bu.. Mungkin bapak sangat sibuk sampai nggak sempat buat nelephone ibu..”


Jeny hanya menghela nafas. Jeny berharap apa yang di katakan bibi memang benar.


“Semoga yah bi..” Senyum jeny.


Bibi hanya menganggukan kepalanya. Wanita tua itu kemudian pamit untuk kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaanya yang belum selesai.


Jeny kembali diam. Makananya sudah tidak lagi mengepulkan asap di atasnya. Itu berarti makanan itu sudah dingin. Padahal tadi jeny sendiri yang terjun ke dapur untuk membuatkan makan malam dengan bibi juga sisi yang membantu. Tapi sampai sekarang tomy belum juga pulang.


“Ya tuhan... By.. Kamu dimana sih..”


Jeny hendak bangkit dari duduknya ketika mendengar suara klakson mobil reyhan.


“Reyhan..” Gumam jeny bingung.


Penasaran jeny pun bangkit dari duduknya dengan terburu buru jeny melangkahkan kakinya keluar dari rumah mewahnya. Dan alangkah terkejutnya jeny ketika melihat tomy yang turun dari mobil reyhan dengan kepala yang di perban serta kaki pincang. Reyhan bahkan membantu tomy berjalan dengan memapahnya.


“Ya tuhan.. Tomy..”


Jeny langsung mencegat langkah tomy dan reyhan. Wanita cantik itu menangis melihat keadaan tomy yang mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya.


“Apa yang terjadi by..?” Tanya jeny menangis.


Tomy tersenyum. Pria tampan itu melepaskan tanganya dari papahan reyhan. Dengan lembut di usapnya pipi jeny menyeka air mata wanita cantik itu.

__ADS_1


“Aku nggak papa sayang. Cuma tadi ada sedikit kesalahan sama mobil aku.. Mungkin karna jarang di service.” Kata tomy berusaha menenangkan istrinya.


Jeny menggelengkan kepalanya. Mustahil jika tomy sampai tidak menyervice mobilnya. Pria itu sangat disiplin.


Melihat istrinya yang terus menangis, tomy akhirnya menyuruh reyhan untuk pulang. Meskipun sebenarnya sangat banyak yang ingin tomy bahas dengan asistenya itu.


Bibi dan sisi yang juga melihat keadaan tomy langsung berlari mendekat begitu juga pak satpam. Mereka bertiga membantu jeny memapah tomy sampai ke lantai 2 dimana kamar tomy dan jeny berada.


“Sayang.. Udah dong jangan nangis terus.. Aku nggak papa..” Ujar tomy menatap sendu jeny yang terus menangisi keadaanya.


“Nggak papa gimana sih by.. Kamu tuh sampe luka begitu kepala sama kakinya.” Tangis jeny.


Tomy terkekeh geli. Istrinya sedang sangat cengeng akhir akhir ini. Tomy kemudian merentangkan kedua tanganya menyuruh agar jeny masuk ke dalam dekapan hangatnya.


“Sayang.. Luka seperti bagi aku itu nggak masalah. Apa lagi istri aku dokter cantik yang hebat.. Aku pasti bakal sembuh dalam sekejap.” Kata tomy begitu jeny memeluk dan menyenderkan kepala di dada bidangnya.


Jeny berdecak. Tomy malah bercanda saat keadaanya sedang gawat. Bagaimana mungkin pria yang begitu hati hati seperti tomy bisa mengalami kecelakaan tunggal yang rata rata di alami oleh pemabuk, pengendara mengantuk, atau bahkan kendaraan yang rusak.


Jeny melepaskan pelukanya. Wanita itu menatap tomy dengan kedua mata menyipit. Jeny yakin ada sesuatu yang jeny tidak tau.


“Baiklah.. Oke oke aku jujur.”


“Sebenarnya ada seseorang yang menyabotase mobil aku sayang.. Aku nggak tau itu siapa. Tapi apa yang di lakukan orang itu terekam jelas di kamera CCTV perusahaan.”


Jeny menutup mulutnya mendengar apa yang di katakan oleh suaminya. Dan tiba tiba prasangka jeny tertuju pada lorenzo.


“Apa mungkin..”


“Sayang.. Reyhan sedang menyelidikinya. Aku nggak berani menuduh siapapun sebelum ada bukti yang jelas. Tapi yang pasti orang itu mempunyai dendam sama aku.”


Jeny menelan ludahnya. Dugaanya mengarah pada lorenzo bukan tanpa alasan. Selain karna tomy yang berhasil membuatnya bangkrut dengan membeberkan cara liciknya dalam berbisnis, lorenzo juga mungkin dendam pada jeny karna jeny mencaci maki bahkan mengusirnya dengan kasar kemarin malam.


“Udah ah sayang... Nggak usah terlalu di pikirin. Sebentar lagi juga bakal ketahuan siapa pelakunya.” Kata tomy tidak mau ambil pusing.

__ADS_1


“Nggak bisa gitu dong by.. Apa yang orang itu lakukan sudah sangat keterlaluan. Membahayakan nyawa orang lain. Pokonya aku mau begitu pelakunya ketemu dia harus di hukum seberat beratnya.”


Tomy tertawa pelan. Jeny memang suka sekali membesar besarkan masalah. Tapi apa yang di katakan jeny ada benarnya juga. Pelaku yang berani menyabotase dan merusak rem mobilnya harus di beri pelajaran agar jera.


“Iya iya sayang.. Kita bakal hukum pelakunya seberat mungkin.” Senyum tomy.


Jeny berdecak. Ternyata perasaan tidak enaknya dari sore karna suaminya yang mengalami kecelakaan. Beruntung tomy tidak mengalami luka berat.


“Ya udah kalau begitu aku mandi dulu ya sayang..”


“Apa? Mandi? Memangnya luka kamu nggak papa kalau kamu mandi?”


Pertanyaan jeny membuat tomy terdiam. Pria itu menatap kakinya yang di perban serta sayatan kecil di lenganya yang di tutupi perban.


“Tapi sayang.. Badan aku lengket banget. Masa nggak mandi sih?”


Jeny berdecak pelan. Wanita itu kemudian bangkit dari duduknya di tepi ranjang.


“Kamu tunggu disini sebentar. Aku mau ambil baskom sama handuk kecil.” Katanya kemudian berlalu.


“Hah? Untuk apa?” Tanya tomy bingung.


Jeny berhenti melangkah ketika sampai di ambang pintu kamarnya. Wanita itu tersenyum manis menatap wajah bingung suaminya.


“Luka kamu untuk sementara tidak boleh terkena air dulu. Jadi aku mau lap badan kamu.” Jawab jeny kemudian melanjutkan langkahnya keluar kamar.


Tomy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu salah tingkah. Tomy lupa jika istrinya adalah seorang dokter yang tentu tau tentang luka dan cara merawatnya.


Jeny kembali dengan membawa baskom kecil serta handuk. Wanita itu dengan telaten mengelap tubuh kekar suaminya. Jeny bahkan tidak ragu menelanjangi tomy yang hanya pasrah berbaring di atas ranjang.


Selesai mengelap tubuh tomy jenypun membantu tomy mengenakan baju ganti. Jeny juga mengganti perban tomy sebelum akhirnya mereka berbaring bersama di atas ranjang.


“Hhh... Sayang banget yah.. Padahal kan kita mau cari posisi yang pas.”

__ADS_1


Kedua mata jeny langsung membulat sempurna. Kedua pipi wanita itu bahkan memanas mendengar ucapan suaminya.


“Apaan sih kamu by.”


__ADS_2