
Krek
Suara ranting kering yang terinjak oleh rolan membuat 6 orang bertubuh kekar yang sedang berjaga di depan bangunan usang itu menoleh ke arah persembunyian rolan dan rio. Mereka terlihat berbincang cukup serius sebelum akhirnya ke 2 orang dari ke 6 nya melangkah mendekat ke arah pohon besar tempat rolan rio bersembunyi.
“Ya tuhan.. Mereka mendekat.” Lirih rio khawatir.
Rolan memutar jengah kedua bola matanya. Rio memang sering bersikap bodoh seperti orang yang sama sekali tidak memiliki kemampuan.
“Takut apa? Ayo maju.” Tegas rolan yang segera keluar dari persembunyianya untuk menghadapi 2 orang yang sedang mendekat ke arahnya.
Rio membulatkan kedua matanya. Rio bukan takut, hanya sedikit merasa was was melihat tubuh kekar dan tinggi mereka yang tentunya sangat jauh dari ukuran tubuhnya dan rio.
“Rolan jangan gegabah.” Pekik rio.
Rolan menegakan kepalanya menantang pada pria besar bertubuh kekar itu. Rolan tidak gentar juga tidak takut sama sekali meskipun ukuran tubuhnya dengan tubuh pria bule menyeramkan itu sangat jauh berbeda. Rolan bahkan seperti anak SD saat berdiri berhadapan dengan pria suruhan maria itu.
“Ya tuhan.. Bule itu kaya hulk.” Gumam rio menelan ludahnya.
Rio memejamkan sejenak kedua matanya. Pria itu tidak tau harus maju atau lari saja dan lapor polisi. Namun jika dirinya lari rolan pasti akan mengatainya pengecut. Di samping itu rolan juga sahabatnya. Rio tidak mungkin meninggalkan rio dalam bahaya seperti sekarang.
“Oke rio.. Tenang.. Tenang..” Gumam rio menarik nafasnya dalam dalam kemudian menghembuskanya berlahan.
“Huft.. Pergi kerja bersama, Berhasil pun harus bersama.”
Setelah meyakinkan dirinya sendiri, rio pun keluar dari persembunyianya. Saat itu juga kedua matanya membulat sempurna melihat rolan yang terjatuh karna pukulan pria berbadan besar itu.
“Ya tuhan..”
Rio sudah menduga, dirinya dan rolan tidak mungkin bisa dengan mudah mengalahkan pria berbadan kekar itu. Meskipun memang dirinya juga rolan sempat menyombongkan diri di depan susan dan tante tomy.
“You !” Tunjuk pria bule itu pada rio yang mematung di tempatnya berdiri.
Rolan yang tersungkur di tanah kembali berusaha untuk bangkit. Rolan tidak menyangka pria itu sangat kuat sampai tangan rolan sakit sendiri saat memukul perut ratanya.
“Brengsek !” Umpat rolan kesal.
Pria itu meringis memegangi perutnya yang terkena pukulan keras tangan besar pria bule berbadan besar itu.
Berbeda dengan susan dan tantenya yang berada di belakang bangunan tua itu. Kedua wanita itu tersenyum penuh makna saat melihat ada sebuah jendela yang cukup besar. Tidak mau banyak membuang waktu, keduanya pun segera melangkah mendekat pada jendela tersebut.
__ADS_1
“Terkunci mom..” Beritahu susan pada mommy nya setelah berusaha membuka jendela tersebut.
Tante tomy tersenyum kemudian melangkah maju. Wanita cantik yang sudah tidak lagi muda itu mengeluarkan sesuatu dari kantong celana hitam yang di kenakanya. Tidak sampai semenit tante tomy berhasil membuka jendela itu dengan mudah.
“Ayo masuk.” Ajaknya.
Susan menganggukan kepalanya. Mereka berdua kemudian masuk lewat jendela tersebut dengan susan yang mendahului.
Ketika sudah berada di bangunan tua itu, Susan dan tante tomy langsung mengedarkan pandanganya. Tidak ada apa apa dan siapapun disana. Namun kedua wanita itu yakin bangunan itu tidak mungkin kosong dari penjagaan.
“Ini..”
Susan menoleh ketika tante tomy menyodorkan sesuatu padanya. Wanita berwajah cacat itu mengeryit bingung mendapati mommy angkatnya memberikan sebuah pistol padanya.
“Pistol?” Tanya susan tidak percaya.
Selama ini daddy dan mommy angkatnya selalu melarangnya menggunakan senjata api itu. Meskipun memang keduanya selalu mengajarkan apa yang memang harus di pelajari oleh susan. Seperti ilmu bela diri dan tata cara menggunakan berbagai senjata.
“Ayo ambil. Untuk melindungi diri.” Senyum tante tomy.
“Mom tapi ini akan melukai mereka..” Lirih susan tidak mau melukai siapapun dengan senjata api tersebut.
Susan menatap tidak mengerti pada mommy angkatnya yang tidak lain juga adalah tantenya sendiri.
“Hanya obat tidur sayang..” Jelas tante tomy.
Susan tertawa pelan. Mommy angkatnya memang tidak pernah kehabisan akal dalam bertindak sesuatu. Andai saja tomy mengetahui tentang maria yang menyamar menjadi dirinya sejak dulu pastilah daddy angkatnya tidak akan terlalu lama menderita dan di kurung bahkan di siksa semau maria.
“Ayo kita jalan.” Ajak tante tomy.
Susan menganggukan kepalanya. Wanita itu menyiapkan senjatanya terlebih dulu waspada jika tiba tiba orang suruhan susan muncul di depanya.
“Hey !”
Susan dan mommy angkatnya langsung berhenti ketika mendengar seruan seseorang. Tidak mau sampai dirinya juga mommy angkatnya terluka susan pun langsung mengarahkan pistol yang di bawanya dan melesatkan pelurunya tepat ke arah lengan pria suruhan susan.
“Awh..”
Pria bule berbadan tinggi juga kekar itu meringis kemudian terduduk lemas di lantai dan langsung tertidur tak bergerak.
__ADS_1
“Wow.. Ini hebat mom..” Takjub susan.
Susan benar benar tidak menyangka obat tidur dalam peluru itu sangat cepat sekali bereaksi.
“Ayo kita lanjut jalan lagi..” Senyum tante tomy.
Susan dan mommy angkatnya kembali melangkah menuju tempat penyekapan tuan chandra. Mereka melangkah pelan dengan sangat waspada. Dan begitu mereka sampai di depan ruangan tempat daddy angkat susan di sekap, mereka langsung di sambut dengan gelak tawa dan kata kata ledekan dari ke 9 orang di depan ruangan itu.
Susan yang merasa kesal langsung saja menembak satu persatu pria itu. Mereka sempat menghindar namun kelihaian susan dalam menembak tidak bisa di remehkan. Setiap peluru yang di lepaskan dari senjata di tanganya langsung menancap dengan tepat di lengan dan kaki para pria besar itu.
“Sayang, jangan emosi.” Kata tante tomy memperingati.
“Mereka sangat mengesalkan mom..” Gerutu susan.
Para pria itu langsung tergeletak tak sadarkan diri. Bahkan ada pula yang mengorok saking lelapnya.
Tante tomy menggelengkan kepalanya. Wanita itu kemudian menatap satu persatu 9 pria yang tergeletak di sekitarnya. Senyumnya mengembang ketika mendapati salah satu dari mereka menggunakan kalung dimana tergantung kunci ruangan tempat suaminya di sekap.
“Selamat beristirahat.” Gumam tante tomy tersenyum setelah mengambil kunci tersebut.
“Mom, aku bantu rolan dan rio dulu..” Kata susan yang tiba tiba merasa khawatir pada kedua orang suruhan kakaknya.
“Emm.. Sayang. Biar mommy saja. Kamu bebaskan daddy. Lagi pula pelurumu juga sudah habis.”
Susan menatap senjata yang ada di tanganya kemudian mengeceknya. Benar saja, peluru dalam pistol itu sudah habis.
“Oke.. Mom. Hati hati.” Angguk susan mengambil kunci yang di sodorkan oleh mommy nya.
Tante tomy segera berlari keluar untuk membantu rio dan rolan. Dan ketika sampai di luar, wanita itu tidak bisa menahan tawanya melihat rio dan rolan yang meledek ke 6 orang berbadan besar itu seperti anak kecil yang sedang meledek orang dewasa.
Rolan dan rio bahkan sesekali memeletkan lidahnya membuat para pria besar itu emosi dan berlari mengejarnya.
“Lucu sekali mereka..” Tawa tante tomy.
Merasa tidak tega pada rio dan rolan yang sudah basah oleh keringat karna di kejar oleh para pria tersebut, tante tomy pun segera menembak satu persatu pria itu yang tentu saja akan langsung tertidur lelap di tempatnya tumbang.
“Hah? Mereka langsung mati?” Bingung rio menatap satu persatu 6 pria di sekitarnya dengan nafas tersengal sengal.
Rolan hanya menggelengkan kepalanya tidak perduli. Pria itu langsung menjatuhkan dirinya di tanah dan berbaring disana dengan dada naik turun begitu cepat.
__ADS_1
“Aku capek.” Keluhnya.