
Seminggu berlalu setelah kepergian fani, jeny kembali dengan aktivitasnya yaitu menerima para pasien dari kampung sebelah kompleks mereka. Tidak hanya dari luar kompleks, warga di dalam kompleks itu juga banyak yang memeriksakan kondisinya jika kurang enak badan di klinik jeny.
“Sayang.. Jangan kecapek an dong.. Kamu kan juga harus cukup istirahat..” Kata tomy yang dari tadi menemani istrinya memeriksa pasienya.
Jeny tersenyum. Waktu istirahatnya memang sengaja jeny kurangi. Apa lagi sekarang jika dirinya seorang diri bayangan fani akan terus menguasai penglihatanya.
“Aku nggak papa kok by.. Lagian juga orang hamil kan nggak boleh kebanyakan tidur..” Balasnya tersenyum.
Tomy menghela nafas. Terlalu banyak tidur memang tidak baik. Tapi terlalu menguras tenaga juga akan lebih tidak baik lagi bagi kesehatan jeny juga janin dalam kandunganya.
Tomy diam menatap istrinya yang sedang meracik obat untuk para pasienya. Jeny memang sangat tekun dan telaten jika melakukan sesuatu. Tapi tomy takut kesehatan jeny akan terganggu jika tomy membiarkanya terus seperti itu.
“Sayang.. Bagaimana kalau kita ke rumah dokter axel?”
Jeny langsung berhenti dengan aktivitasnya ketika mendengar pertanyaan bernada ajakan yang di lontarkan oleh suaminya. Jeny hampir saja melupakan pria itu. Dokter axel pasti sangat kesepian dan merasa kehilangan setelah kepergian fani.
“Kita jenguk dia yuk? Sekalian jalan jalan. Emang nggak bosen di rumah terus?” Tanya tomy lagi.
Jeny tampak nemikirkan ajakan suaminya. Mungkin menjenguk dokter axel juga bisa membuat pria itu merasa di perdulikan dan tidak sendiri.
“Tapi.. Aku nggak tau alamat rumahnya.” Kata jeny.
Tomy terdiam. Tomy juga tidak tau dimana dokter axel tinggal. Tomy menghela nafas. Bertanya pada angel rasanya sangat tidak mungkin. Karna untuk bertemu dan menatap wanita itu saja tomy rasanya malas.
Tin tiiinn...
Suara klakson mobil membuat tomy dan jeny menoleh. Keduanya saling menatap kemudian mengedikan kedua bahunya.
Tomy bangkit dari duduknya di atas sofa yang berada di dalam ruang praktek istrinya kemudian melangkah keluar di ikuti jeny.
“Itu mobil siapa?” Tanya jeny bingung.
Sedang tomy, pria itu berdecak melihat mobil orang tua rachel yang berada di depan gerbang rumahnya. Tomy sadar dirinya memang bersalah pada orang tua itu. Tapi tomy benar benar tidak mau lagi ada hubungan dengan rachel maupun orang tuanya.
“By.. Kamu kenapa?” Tanya jeny bingung.
__ADS_1
Tomy menghela nafas. Hubunganya dan jeny sudah sangat baik dan harmonis. Tomy benar benar tidak mau lagi ada gangguan sedikitpun.
“Itu mobil orang tuanya rachel.” Jawab tomy.
Jeny terdiam. Mungkin orang tua rachel datang untuk menuntut atas apa yang tomy lakukan pada rachel.
“Untuk apa lagi orang tua itu kesini.” Gumam tomy mengepalkan tanganya.
Jeny yang melihat suaminya mulai emosi tersenyum. Jeny percaya tomy mencintainya setelah apa yang mereka lalui bersama. Dengan lembut jeny meraih tangan tomy dan menguraikan kepalan tangan erat suaminya.
Tomy yang merasakan sentuhan lembut jeny di tanganya pun menolehkan kepalanya. Pria itu terdiam menatap jeny yang malah tersenyum begitu manis padanya.
“Kita hadapi sama sama. Aku percaya sama kamu.” Senyum jeny berkata.
Tomy tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Sentuhan lembut serta senyuman manis jeny membuat emosinya yang hampir meluap mereda seketika.
“Oke..” Angguk tomy kemudian menggenggam tangan jeny dan menuntun wanita itu melangkah menuju gerbang mendekat pada mobil orang tua rachel.
“Pak tolong buka gerbang nya.” Senyum tomy pada pak satpam yang sedari tadi diam menatap mobil orang tua rachel.
Tomy terus menggenggam erat tangan jeny. Pria itu seakan sedang bergantung pada jeny sebagai kekuatanya menghadapi orang tua rachel.
Kedua orang tua rachel turun dari mobilnya ketika tomy mendekat. Mereka berdua menatap tomy datar kemudian membuka pintu mobil belakangnya. Mereka membantu rachel turun dari mobilnya.
Tomy menghela nafas. Rachel sudah tampak sehat meskipun masih menggunakan kursi roda sebagai alat bantu untuknya bisa beraktivitas.
“Hay..” Sapa rachel begitu sampai di dekat tomy dan jeny.
Tomy hanya diam saja. Pria itu bahkan melengos tidak mau menatap rachel yang berada di depanya.
Berbeda dengan tomy, jeny justru membalas sapaan rachel dengan ramah. Wanita itu tersenyum manis menatap rachel yang bersikap begitu ramah padanya dan tomy.
“Kalian berdua apa kabar?” Tanya rachel masih mempertahankan senyuman di bibirnya.
“Kami baik. Bagaimana dengan kamu?” Jawab jeny kemudian bertanya balik.
__ADS_1
Rachel tersenyum.
“Sepertinya yang kamu lihat. Aku baik.” Jawabnya.
“Syukurlah..” Angguk jeny.
Rachel ikut menganggukan kepalanya. Wanita berambut ikal itu kemudian menatap tomy yang hanya diam dan membuang pandanganya ke arah lain. Rachel tau apa yang di lakukanya pada tomy memang salah.
“Aku kesini mau minta maaf.. Dan aku juga turut berduka cita atas meninggalnya fani.”
Jeny mengeryit. Rachel mengenal fani. Sepertinya tidak mungkin. Namun jeny tidak ingin banyak bicara. Jeny hanya menganggukan kepalanya saja.
“Oya jen.. Aku kesini mau pamit sama kalian berdua. Aku sadar setelah apa yang tomy lakukan sama aku waktu itu.. Bertahun tahun aku mencoba meraih hatinya tapi nyatanya sampai saat ini aku tidak juga berhasil mendapatkanya.” Kata rachel.
Jeny hanya diam saja mendengarkan. Wanita itu tidak tau harus berkata apa pada rachel.
“Aku juga sadar wanita yang tomy cintai hanya kamu. Maka dari itu aku mundur.. Aku menyerah. Dan aku memilih untuk pergi kembali ke amsterdam.” Lanjut rachel.
“Syukurlah kalau kamu sadar. Dan mulai sekarang tolong jangan ganggu saya dan keluarga saya lagi. Anggap saja kita tidak pernah mengenal satu sama lain.” Balas tomy tegas.
Jeny menoleh. Apa yang di katakan tomy sedikit keterlaluan menurutnya. Tapi apa yang di katakan tomy ada benarnya juga. Lebih baik tidak lagi saling mengenal dari pada sama sama menyimpan dendam.
“Oke.. Nggak masalah. Asal kalian berdua mau memaafkan aku.” Angguk rachel menyetujui.
Rachel kemudian mengulurkan tanganya pada jeny. Wanita itu tersenyum manis pada jeny yang terus diam mendengarkan apa yang di katakanya.
“Semoga kalian bahagia.” Katanya tersenyum pada jeny.
Jeny terdiam sesaat. Senyuman rachel terlihat begitu tulus tidak sinis dan meledek seperti sebelumnya. Jeny menelan ludahnya. Meskipun rasa ragu masih ada di hatinya akan ketulusan rachel meminta maaf padanya dan tomy. Tapi jeny juga sangat berharap apa yang rachel katakan benar benar tulus dari hatinya.
Jeny menjabat tangan rachel mantap. Seulas senyum berlahan terukir di bibirnya.
“Terimakasih..” Balasnya.
Rachel menganggukan kepalanya. Wanita itu kemudian melepaskan jabatan tanganya dengan jeny. Rachel memutar sendiri kursi rodanya dan mendekat kembali ke ayah dan ibunya.
__ADS_1
“Ayo ayah... Ibu..”