
Jeny menatap tumpukan kado dan buket bunga yang hampir memenuhi sebagian besar dari ruangan tempatnya berada. Entah dari siapa saja kado kado besar itu. Karna hampir setiap saat sepertinya ada kurir yang wara wiri mengantar kado kado tersebut ke ruang rawatnya.
Sedangkan tomy, pria tampan itu kini sedang berada di perusahaanya karna ada metting bersama pada direksi.
Jeny menghela nafas. Tidak banyak yang bisa jeny lakukan 3 hari ini. Jeny hanya jalan jalan di dalam ruang rawatnya dan menengok ke jendela kaca yang langsung menghadap ke halaman rumah sakit. Dan para pemburu berita itu masih ada yang betah disana.
“Ada apa ini sebenarnya?” Gumam jeny bingung.
Deringan ponselnya membuat jeny menoleh. Wanita itu buru buru melangkah kembali menuju brankarnya dan meraih ponsel miliknya karna tidak ingin membuat tidur lelap putranya terganggu.
Jeny mengeryit ketika melihat nomor tanpa nama yang tidak di kenalnya. Selama ini yang menelephone menggunakan nomor baru dan belum terdaftar di kontak jeny hanya lorenzo. Dan rasanya tidak mungkin jika lorenzo yang menghubunginya. Pria bermata sipit itu sedang mendekam di penjara atas perbuatanya sekarang. Pihak kepolisian juga tidak mungkin membiarkan lorenzo membawa ponsel.
“Siapa yah?” Gumam jeny bingung.
Merasa penasaran jeny pun segera mengangkat telephone tersebut.
“Halo..”
“Mana kakak aku?”
Jeny mengeryit bingung mendengar langsung pertanyaan dari seorang wanita di seberang telephone. Dan lagi wanita itu tiba tiba menanyakan kakaknya yang jeny sendiri saja tidak tau siapa kakaknya.
“Maaf ini siapa ya? Dan kenapa tiba tiba menanyakan kakak anda ke saya?” Tanya jeny penasaran juga sedikit merasa gondok dengan nada pertanyaan wanita di seberang telephone tersebut.
Wanita di seberang telephone itu menghela nafas kemudian berdecak.
“Kamu jeny bukan? Istrinya tomy bagaskara?” Tanya wanita di seberang sana dengan nada sebalnya.
__ADS_1
“Ya.” Jawab jeny singkat.
Jeny bingung sebenarnya kenapa tiba tiba ada seorang wanita menelephone nya dan menanyakan tomy yang mungkin di klaim sebagai kakaknya. Jeny tidak pernah tau tomy memiliki adik. Selama mereka bersama dari kecil sampai sekarang tomy tidak pernah bercerita bahwa dia punya adik.
“Aku susanti bagaskara. Adik kandung kak tomy.” Katanya memperkenalkan diri dengan nada sombongnya.
Jeny tertawa mendengarnya. Suaminya memang orang yang sangat sukses juga kaya. Tapi menurutnya sangat tidak wajar jika tiba tiba ada seseorang mengaku sebagai adik tomy bahkan sampai memakai marga besar bagaskara demi meyakinkanya.
“Jangan membuat lelucon. Suami saya tidak punya adik.” Tawa jeny pelan.
“Hey jaga bicara kamu yah.. Jangan mentang mentang kamu istri kakak kamu bisa seenaknya. Asal kamu tau jeny. Sesayang dan secintanya kak tomy sama kamu kalau aku yang meminta untuk dia meninggalkan kamu dia pasti akan lakukan. Karna aku adik kesayanganya dia dari dulu.”
Jeny semakin tertawa mendengarnya. Wanita itu benar benar gila karna bahkan sampai mengatakan tomy akan meninggalkanya jika wanita itu yang meminta.
Jeny menghela nafas. Wanita itu menggelengkan kepalanya kemudian langsung memutuskan sambungan telephone nya tidak mau mendengarkan omong kosong wanita yang sama sekali tidak dia tau juga tidak di kenalnya.
Ketika jeny hendak menaruh benda pipih itu kembali di atas brankarnya tiba tiba deringanya kembali terdengar. Jeny menatap layar ponselnya dan tersenyum merasa lega karna ternyata bukan wanita yang mengaku sebagai adik suaminya lagi yang menelephone.
Jeny pun segera mengangkat telephone dari sarah.
“Halo kak..”
“Ya halo jen.. Kamu gimana keadaanya jen?” Tanya sarah langsung tanpa basa basi.
Jeny tersenyum mendengarnya. Wanita itu tidak menyangka jika sarah dan tomy ternyata memang tidak berjodoh. Yang lebih lucunya lagi adalah bahwa sarah adalah istri lorenzo.
“Aku baik kok kak...” Jawab jeny sambil mendudukan dirinya di atas brankar.
__ADS_1
“Syukurlah.. Aku udah 2 kali datang tapi nggak bisa masuk ke rumah sakitnya jen.. Maaf..”
Jeny tertawa mendengarnya. Sarah memang wanita yang tidak hanya cantik rupanya tetapi juga hatinya. Buktinya wanita itu tidak marah atau membenci jeny meskipun jeny sering jalan berdua dengan lorenzo saat itu.
“Nggak papa kak.. Aku ngerti kok.. Lagian di depan juga lagi banyak banget wartawan. Entah kenapa tomy nggak ngizinin aku untuk keluar dulu dari rumah sakit..”
Sarah tertawa di seberang telephone mendengar apa yang di katakan oleh jeny. Wanita itu tau bagaimana dan siapa tomy.
“Oya jen selamat yah atas kelahiran anak pertama kalian.. Aku do'akan semoga kelak dia menjadi anak yang berbakti dan berguna bagi semuanya.”
“Iya kak.. Amiinnn..” Angguk jeny tersenyum senang mendengar do'a yang terucap dari mulut sarah.
Beberapa menit jeny mengobrol ringan dengan sarah membuat jeny merasa sedikit terhibur. Apa lagi jeny juga sempat melakukan panggilan video dengan elo yang katanya sangat tidak sabar ingin sekali dapat melihat rupa tampan wajah bayi bagaskara itu.
Sedangkan di kediamanya tomy tampak sedang meneliti dengan benar hasil dari para pekerja bangunan yang memang sengaja langsung di carikan oleh reyhan untuk membangun kamar untuk putra pertamanya. Tidak tanggung tanggung tomy menyuruh reyhan untuk mencari para pekerja bangunan yang sudah sangat handal dalam melakoni bidangnya. Tomy juga menyuruh seorang yang sudah ahli dalam bidang mendekor kamar bayi agar hasilnya memuaskan. Semua itu tomy lakukan karna memang waktu yang sangat mepet. Tomy juga sudah sering mendengar keluhan dari istrinya yang sudah tidak betah berada lama lama di dalam rumah sakit. Awalnya tomy berpikir ingin menitipkan jeny sementara di rumah orang tuanya atau di rumah orang tua jeny tapi tomy kemudian kembali memikirkanya hingga akhirnya memutuskan untuk sementara jeny di rumah sakit saja.
“Bagaimana pak?” Tanya reyhan menatap penuh harap pada tomy yang masih memperhatikan ruangan baru yang ada di samping kamarnya dan jeny.
Reyhan sangat berharap hasil para pekerja ahli yang di carinya bisa pas di hati dan mata tomy. Begitu juga dengan hasil dekorasi kamar bayi itu.
“Eemm.. Bagus rey. Saya suka.. Terimakasih yah..” Senyum tomy menoleh dan menatap reyhan yang berada di ambang pintu penghubung antara kamar tomy dan jeny dengan kamar tersebut.
“Ya pak. Sama sama.” Angguk reyhan tersenyum lega.
Tomy mengangguk pelan kemudian kembali menatap keseluruh sudut kamar yang di dominasi dengan warna biru muda itu.
“Oya rey.. Sebentar lagi kamu ikut saya yah.. Saya mau bawa anak dan istri saya pulang hari ini juga..” Kata tomy masih dengan senyuman yang terukir di bibir tipisnya.
__ADS_1
“Oh iya pak, baik.”
Tomy menghela nafas pelan merasa senang dengan hasil memuaskan yang di lihatnya. 3 Hari membuat istrinya merasa jenuh karna harus terus berada di rumah sakit membuat tomy merasa sangat bersalah. Dan tomy sangat berharap jeny akan senang jika melihat apa yang sudah di siapkanya.