Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 84


__ADS_3

“Tolong jangan kasih tau jeny tentang kehamilan nya.”


Rani terkekejut mendengar nya. Kedua tangan wanita itu mengepal erat merasa emosi dengan permintaan yang terlontar dari bibir tomy.


Saat rani hendak membuka mulut untuk membalas ucapan tomy suara pintu UGD yang terbuka membuat rani mengalihkan perhatian nya.


Rani menoleh lagi pada tomy dengan tatapan sengit nya kemudian menghampiri dokter kandungan yang di mintanya untuk menangani jeny.


“Sel, bagaimana keadaan jeny?” Tanya rani menatap khawatir pada dokter kandungan bernama sela tersebut.


Dokter sela tersenyum. Wanita itu melirik sekilas pada tomy yang sama sekali tidak menoleh padanya kemudian beralih lagi pada rani.


“Jeny kelelahan ran. Rasa sakit pada perut nya itu di sebabkan karna guncangan yang cukup kuat. Misalnya saat dia berlari atau berjalan terlalu cepat.” Jawab dokter sela.


“Lalu berapa usia kandungan nya?” Tanya rani lagi menatap serius dokter sela yang terlihat sedikit bingung karna tomy sama sekali tidak menanyakan keadaan jeny.


“Usia nya baru 4 minggu.”


Tomy menelan ludah nya. Andai dirinya bisa mengontrol emosinya saat itu semua ini tidak akan terjadi. Jeny tidak akan hamil dan dirinya pun tidak akan di hantui rasa takut seperti saat ini.


“Baik sel. Terimakasih.”


Dokter sela menganggukan kepalanya kemudian berlalu dari hadapan rani.


“Apa anda tidak bahagia dengan kabar kehamilan jeny pak tomy?”


Pertanyaan rani membuat tomy menoleh padanya. Ekspresi pria tampan itu sama sekali tidak bisa di tebak oleh siapapun.


Tomy menelan ludah nya. Bohong kalau dirinya tidak bahagia. Tapi akan lebih bohong lagi kalau dirinya tidak ketakutan akan kehilangan jeny setelah ini.


Tomy melangkah pelan mendekat pada rani. Masih dengan ekspresi yang sama pria itu menatap rani yang terlihat sangat kesal karna sikap diam nya.


“Tolong urus perpindahan jeny ke ruang rawat dok. Saya akan mengurus administrasinya.” Katanya.


Rani menggelengkan kepalanya. Padahal tomy selalu terlihat begitu sangat meng istimewakan jeny. Tetapi sekarang pria itu justru terlihat tidak perduli dengan kehamilan jeny.


“Dan tolong jangan kasih tau jeny dulu.”

__ADS_1


“Kenapa?” Tanya rani cepat.


Tomy kembali diam. Tomy hanya tidak mau jeny meninggalkan nya begitu tau dirinya hamil karna hasil paksaan tomy saat itu. Jeny akan sangat membencinya jika mengingat malam itu.


“Karna saya yang akan memberitahunya sendiri nanti.” Jawab tomy sekenanya.


Tomy berlalu dari hadapan rani setelah itu. Dengan langkah cepat pria itu meninggalkan ruang UGD dan memasrahkan perpindahan jeny ke ruang rawat pada rani.


“Dasar pria tidak jelas.” Umpat rani kemudian masuk untuk melihat keadaan sahabat sekaligus rekan seperjuangan nya dalam bidang kesehatan.


Setelah jeny di pindahkan tomy segera memerintahkan pak satpam untuk menjemput bibi di rumah. Pria itu meminta asisten rumah tangga nya untuk sementara menemani jeny karna rani yang sudah pulang di jemput oleh suaminya. Sedangkan untuk dirinya sendiri, tomy memilih berdiam di taman samping rumah sakit merenungi akibat dari perbuatan nya.


“Apa yang harus aku lakukan.. Apa yang harus aku katakan pada jeny..” Lirih nya dengan suara bergetar.


Tomy menyenderkan tubuh nya di sandaran kursi panjang bercat putih yang di dudukinya. Suasana sunyi taman malam itu membuat nya semakin merasa sendiri. Andai hamil nya jeny adalah hasil dari cinta mereka berdua mungkin tomy akan sangat bahagia begitu juga dengan jeny.


Tapi pada kenyataan nya tomy yang memaksa dan merenggut dengan kasar kehormatan wanita itu.


Tomy mengusap kasar wajah tampan nya. Semua itu sudah terjadi. Dan penyesalan nya sudah tidak lagi berguna.


Tomy menolehkan kepalanya. Pria itu menatap datar seorang anak kecil dengan baju pasien yang di kenakan nya.


“Om ngapain malam malam disini sendirian?” Tanya nya ramah.


Tomy melengos. Pria itu tidak berniat sama sekali menjawab pertanyaan anak kecil yang sama sekali tidak di kenal nya itu.


“Om lagi sedih yah?” Tanya nya lagi.


Tomy berdecak. Di tatap nya lagi anak kecil berbaju pasien yang masih menunggu jawaban atas pertanyaan nya. Begitu menatap lagi anak kecil itu tomy mengeryit ketika melihat wajah pucat dengan warna hitam di sekitar mata anak kecil itu.


“Keluarga om ada disini juga? dia sakit ya om? sakit apa?”


Tomy menggeser duduk nya memberi tempat pada anak kecil itu agar duduk di samping nya. Dan anak kecil tersebut langsung mengerti dengan maksud tomy.


“Nama aku fanisa oktavia om. Om bisa panggil aku fani.”


Tomy mengangkat sebelah alisnya. Tomy pikir anak kecil itu adalah laki laki karna tidak mempunyai rambut di kepalanya.

__ADS_1


“Kamu sakit apa?” Tanya tomy pelan.


“Aku nggak tau om. Tapi kata dokter jeny aku anak pintar dan kuat.”


Tomy mengeryit. Anak itu mengenal istrinya.


“Dokter jeny?” Tanya tomy penasaran.


“Iya. Dokter jeny itu sahabat aku. Dia cantik dan baik.” Jawab fani dengan senyum di bibir pucat nya.


Mendengar itu tomy merasa semakin bersalah pada jeny. Jeny memang wanita yang baik. Tapi sayang jeny tidak beruntung. Jeny tidak memiliki suami yang baik juga seperti dirinya.


Tomy melirik fani yang duduk di samping nya. Gadis kecil itu juga terus menatap nya dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari bibir pucat nya.


“Sejak kapan kamu kenal dengan dokter jeny?” Tanya tomy dengan tatapan lurus ke depan.


“Sejak aku di rawat disini om.. Sudah lama banget.”


Tomy yakin gadis kecil itu tidak tau bahwa jeny sekarang sedang di rawat di rumah sakit itu juga. Gadis kecil bernama fani itu juga pasti tidak tau jika yang sedang berbicara dengan nya adalah suami jeny.


“Kamu sakit kan? kenapa malam malam begini keluar sendirian. Mana keluarga kamu?”


Ekspresi gadis kecil itu langsung berubah sendu mendengar pertanyaan tomy. Raut kesedihan terlihat jelas di wajah pucat nya.


“Keluarga aku di rumah om. Aku lagi nungguin dokter jeny. Sudah 3 hari ini dokter jeny nggak datang ke kamar aku.”


Tomy terdiam. Bahkan gadis kecil yang tidak punya ikatan apapun dengan jeny saja bisa merasa begitu sedih karna tidak bertemu dengan jeny. Apa lagi jika tomy yang sampai tidak bisa lagi bertemu dengan jeny. Mungkin tomy tidak hanya sedih. Tetapi bisa gila bahkan mati.


“Om tau tidak mamah sama papah aku selalu sibuk. Mereka nggak pernah datang buat jenguk aku. Paling cuma nenek sama kakek yang datang. Itu juga kalau mereka lagi sehat.”


Tomy tidak tau harus berkata apa. Dirinya tidak pernah ada di posisi gadis kecil itu dimana kedua orang tuanya tidak memperdulikan nya.


“Padahal aku pengin banget loh om selalu di temani mamah sama papah disini. Aku kesepian. Tapi semenjak aku kenal sama dokter jeny aku nggak kesepian lagi. Dokter jeny juga bilang aku boleh menganggap dia sebagai keluarga aku sendiri.”


Mendengar semua itu tomy langsung teringat pada anak dalam kandungan jeny. Anak nya juga butuh perhatian darinya. Butuh kasih sayang dan kehadiranya.


“Saya antar kamu ke kamar rawat kamu sekarang.”

__ADS_1


__ADS_2