
“Tomy jadi kita naik ini?” Tanya jeny menatap tidak percaya pada privat jet yang ada di depanya.
Tomy dan reyhan saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya kompak.
“Tapi ini sangat berlebihan..”
Tomy terkekeh. Pria tampan itu kemudian mendekat dan meraih tangan jeny. Di genggam dan di ciumnya punggung tangan wanita cantik itu singkat.
“Tidak ada yang berlebihan untuk kamu sayang..” Katanya.
Reyhan yang melihatnya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Pria tampan dengan gaya rambut jambulnya itu kemudian memilih untuk masuk lebih dulu ke dalam pesawat jet pribadi itu karna tidak mau mengganggu moment manis atasanya.
Jeny menatap wajah tampan suaminya. Pria itu selalu tersenyum dan menyikapinya dengan lembut.
“Tomy...”
“Ssstt.. Jangan terlalu melebih lebihkan apa yang aku lakukan untuk kamu.. Mending sekarang kita masuk..” Senyum tomy menyela.
Jeny menganggukan kepala menurut. Senyum bahagianya mengembang ketika tomy menuntunya masuk ke dalam pesawat super mewah tersebut.
Jeny tidak habis pikir seberapa kaya suaminya sekarang. Tomy bahkan memiliki pesawat jet pribadi super mewah yang jeny tau hanya ada beberapa di dunia. Namun semua yang di miliki oleh suaminya bukanlah hal yang terlalu penting bagi jeny. Karna yang membuatnya bahagia bukan hanya harta tapi cinta dan ketulusan pria itu.
Jeny menatap sekitarnya. Fasilitas di dalam jet mewah itu sangat lengkap dan mewah. Dan jeny yakin apa yang di miliki oleh suaminya bukan hanya itu.
Jeny menghela nafas. Dulu tomy hanya seorang mahasiswa yang selalu bergantung pada kedua orang tuanya. Dan hebatnya dalam waktu singkat pria itu bisa memiliki segalanya yang tidak semua orang bisa memilikinya.
“Sayang.. Kamu mau makan buah?” Tanya tomy sambil menyodorkan potongan buah yang berada di taperware pada jeny.
Jeny menoleh. Senyuman manis terukir di bibirnya melihat tomy yang begitu sigap menyiapkan segala sesuatu yang jeny perlukan. Pria itu bahkan tidak menyuruh sisi atau bibi. Tomy melakukan semuanya sendiri.
“Ini aku yang potongin loh.. Pake bumbu cinta yang pastinya akan membuat rasa buahnya semakin manis.. Semanis kamu..”
Jeny terkekeh mendengar gombalan tomy. Lucu sekali rasanya seorang tomy yang terkenal pendiam dan kalem bisa melontarkan gombalan padanya.
“Nih.. Aaa..” Tomy meraih sepotong buah pir dan menyodorkanya di depan bibir jeny.
__ADS_1
“Tom.. Aku bisa makan sendiri...” Tolak jeny halus.
“Ini aku suapin pake tangan loh sayang.. Atau kamu mau aku suapin pake ini?” Tanya tomy sambil menggigit bibir bawahnya sendiri menggoda jeny.
Jeny mendelik terkejut dengan apa yang di katakan suaminya. Namun tidak lama seulas senyum terukir di bibirnya. Jeny melirik reyhan yang duduk tidak jauh darinya dan tomy. Jeny yakin tomy tidak akan berani melakukanya karna ada reyhan di antara mereka.
“Memangnya kamu berani?” Tantang jeny memberanikan diri dan berusaha melawan rasa gugupnya.
Tomy mengangkat sebelah alisnya. Jangankan hanya menyuapi jeny dengan bibirnya, menyentuh wanita cantik itu sekarang juga tomy bisa melakukanya.
“Ekhem !! Rey coba kamu cek berkas berkas yang saya bawa. Takutnya ada yang tertinggal.” Kata tomy pada reyhan.
“Baik pak..” Angguk reyhan kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan tomy dan jeny berdua.
Jeny membulatkan kedua matanya. Jeny tidak menyangka jika suaminya sepintar itu. Ingin sekali rasanya jeny berteriak menyuruh untuk reyhan berhenti. Namun rasanya mulutnya terasa kaku untuk berkata.
“Masih berani menantang hem?” Bisik reyhan sambil mendekatkan wajahnya pada jeny.
Jeny menelan ludahnya. Tomy sedikit menakutkan jika sedang seperti itu.
“Eemmm.. Aku... Aku tidak bermaksud tadi..”
“Tomy please.. Ada orang disini.” Lirih jeny menggigit bibir bawahnya sendiri takut jika tomy benar benar melakukanya di dalam jet yang sedang membawanya terbang menuju amsterdam.
Tomy semakin mendekatkan wajahnya hingga akhirnya ujung hidung mancung mereka saling menempel. Tomy sebenarnya ingin sekali tertawa melihat wajah panik istrinya. Namun tomy berusaha untuk menahan tawanya. Tomy tidak mau jika sampai jeny marah karna tomy menertawakanya.
“Tomy...”
Cup
tomy mengecup singkat bibir jeny kemudian segera menjauhkan lagi wajahnya. Pria itu kemudian menyuapkan sepotong buah pir pada jeny.
“Kamu..”
“Nggak bisa leluasa kalau disini sayang..” Senyum tomy sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda pada jeny.
__ADS_1
Jeny memejamkan kedua matanya. Wajahnya merona dengan senyuman malu yang terukir di bibirnya.
“Apaan sih...” Gumam jeny.
Selama dalam perjalanan tomy terus memperlakukan jeny dengan sangat istimewa. Pria itu benar benar melakukan semua yang terbaik untuk istri tercintanya.
Jeny menghela nafas. Beberapa kali wanita cantik itu mengubah posisinya dari duduk tegak, bersender, sampai terlentang di atas kursi mewah yang mirip sofa itu. Jeny mulai merasa tidak nyaman padahal perjalanan ke amsterdam masih sangat lama.
Tomy yang melihat dan mengerti ketidak nyamanan yang di rasakan istrinya tersenyum. Pria tampan itu bangkit dari duduknya meninggalkan jeny untuk mengambilkan sesuatu yang mungkin bisa membuat wanita cantik itu sedikit merasa rileks.
“Pak apa ada yang perlu saya bantu?” Tanya reyhan menawarkan bantuan pada tomy ketika melihat pria itu yang hendak menyedu secangkir coklat.
“Ah tidak perlu..” Senyum tomy menolak dengan halus.
Tomy ingin melakukan semuanya sendiri untuk jeny. Karna menurut tomy sesuatu yang di buat dengan tanganya sendiri akan lebih istimewa dari pada orang lain yang membuatnya.
“Kamu mau ngapain rey?” Tanya tomy basa basi.
“Saya mau ke toilet pak.” Jawab reyhan.
Tomy menganggukan kepalanya. Pria tampan itu mengaduk berlahan bubuk coklat yang sudah di sedu dengan air panasnya. Sebenarnya tomy bisa saja membayar orang untuk melayaninya dan jeny. Namun tomy tidak ingin melakukanya. Tomy ingin semuanya mereka lakukan berdua saja.
Tomy membawa secangkir coklat panasnya mendekat kembali pada jeny. Senyumnya kembali mengembang ketika melihat wanita itu memejamkan kedua matanya. Tomy tau jeny tidak tidur. Jeny hanya mencoba memejamkan matanya untuk mengusir rasa jenuhnya.
“Sayang... Mau coklat panas?”
Jeny membuka berlahan kedua matanya mendengar tawaran suaminya. Jeny menatap secangkir coklat panas yang berada di tangan suaminya.
“Perjalananya masih cukup lama sayang... Aku tau kamu jenuh.. Mungkin coklat panas bisa membuat kamu sedikit rileks..” Senyum pria tampan itu berkata dengan sangat lembut.
Jeny tersenyum. Tomy sangat pengertian. Namun sampai sekarang jeny masih bertanya tanya kenapa saat itu tomy bisa sangat kejam dan pemaksa kepadanya.
Jeny bangkit dan kembali duduk. Di terimanya secangkir coklat panas yang di sodorkan oleh suaminya.
“Makasih..” Senyum jeny kemudian menyeruput sedikit secangkir coklat panas buatan suaminya.
__ADS_1
Jeny memejamkan kedua matanya merasakan manis dan hangatnya coklat yang mengalir di tenggorokanya. Rasa jenuhnya berlahan mulai hilang tergantikan dengan rasa senang.
“Nggak perlu bilang makasih sama suami sendiri sayang.. Sudah kewajiban aku membuat kamu merasa nyaman dimanapun kamu dan aku berada.”