Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 94


__ADS_3

Tomy terus saja menggoda jeny bahkan selalu mencuri ciuman wanita bergelar dokter itu. Dan hal itu membuat jeny selalu memekik merasa sebal namun tersenyum pada akhirnya.


“Kamu jangan berani lewatin pembatas ini. Atau aku bakal cabutin rambut kepala kamu satu satu.” Ancam jeny mendelik menatap tomy yang sudah berbaring di sampingnya sambil meletakan guling sebagai pembatas antara dirinya dan tomy.


Tomy tertawa. Tingkah jeny seperti remaja yang takut di sentuh oleh seorang pedofilia.


“Aku suami kamu loh..” Kata tomy santai.


“Yang bilang kamu suami mamah aku siapa?” Kesal jeny kemudian membaringkan tubuhnya memunggungi tomy.


Tomy menggelengkan kepalanya. Pria tampan itu memiringkan tubuhnya menghadap jeny. Di toel toelnya lengan terbuka jeny beberapa kali.


“Sayang..” Panggil tomy pelan.


“Aku ngantuk..” Saut jeny tegas.


Tomy tersenyum geli. Jeny nya sangat menggemaskan dan itu membuat tomy senang menggodanya.


“Sayang baby nya pengin deket sama aku deh kayanya.”


Mendengar itu jeny menunduk menatap perut ratanya. Rasanya tidak mungkin. Janin dalam perutnya belum terbentuk sempurna.


“Coba deh kamu sentuh.. Pasti nanti dia gerak.” Sambung tomy lagi.


Jeny mengeryit. Dirinya seorang dokter yang tentunya lebih tau dari tomy.


“Nggak usah ngaco kamu.. Aku lebih tau dari kamu.” Balas jeny tetap memunggungi tomy.


“Yaa emang sih kamu dokter. Tapi kan kamu bukan dokter kandungan. Dan aku papahnya. Ikatan batin aku sama baby nya lebih kuat sayang.”


Jeny menghela nafas. Dengan cepat jeny membalikan badanya dan menatap sebal pada tomy yang terus saja tersenyum menggoda menatapnya.


“Tuh kan.. Istri aku pinter..”


Jeny mendelik. Tomy memujinya seperti memuji anak kecil.


Tomy mengambil pelan guling yang membatasi mereka kemudian pelan pelan mendekat pada jeny.


“Eh eh.. Kok di buang. Kamu mau ngapain?” Tanya jeny waspada.

__ADS_1


“Aku kan udah bilang mau deketan sama baby..” Jawab tomy santai.


“Tapi kan..”


Cup


Tomy menyela ucapan jeny dengan ciuman singkat di bibir wanita itu. Dan apa yang di lakukan tomy berhasil membuat jeny tidak bisa berkutik.


“Kan nggak papa kalau suami mau deket deket sama istrinya.” Kata tomy dengan sangat lembut.


Jeny hanya diam saja. Tatapanya terus tertuju pada kedua mata teduh tomy. Meskipun sebenarnya jantungnya sedang berdetak sangat cepat namun jeny berusaha untuk diam dan tenang. Rasanya tidak mungkin jika jeny mendorong tomy menjauh darinya. Karna salah pergerakan sedikit saja jeny sendiri yang terjatuh dari ranjang.


“Sayang.. Ngomong dong.. Jangan diem aja.”


Jeny tersentak ketika tomy menepuk pelan pipi chuby nya. Wanita itu kemudian menghela nafas dan memejamkan kedua matanya sesaat.


“Tomy..” Panggilnya.


“Hemm..” Saut tomy sambil menyelusupkan tanganya masuk ke dalam baju piyama berwarna navy yang di kenakan jeny.


Jeny terdiam sesaat. Usapan tomy di perutnya sangat lembut. Sentuhan tanganya membuat aliran darah di tubuh jeny terasa sangat deras mengalir.


Tomy tidak langsung menjawab. Pria itu menyelusupkan wajahnya ke leher putih bersih jeny menghirup dalam dalam aroma vanila yang menguar dari tubuh mungil istrinya.


Jeny melenguh. Wanita itu mendongak memberi ruang pada tomy. Jeny tidak bisa menolak. Dan jeny juga tidak memungkiri sentuhan pria itu membuatnya merasa nyaman. Jeny bahkan sempat berpikir andai tomy menjamah tubuh nya penuh kelembutan saat itu mungkin jeny tidak akan merasa terluka. Justru sebaliknya, mungkin jeny akan merasakan nyaman dan menikmati sentuhan pria itu.


“Mungkin besok lusa.” Jawab tomy mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap wajah cantik jeny.


“Lalu bagaimana dengan pekerjaan aku?” Tanya jeny lagi.


Tomy terdiam sesaat. Mungkin lebih baik tomy mengatakanya dengan pelan pelan tentang keinginanya untuk jeny berhenti bekerja di rumah sakit itu.


“Sayang.. Aku pikir ada baiknya kamu berhenti bekerja.” Kata tomy pelan.


Jeny mengeryit menatap wajah tampan suaminya. Di tatapnya kedua manik hitam pekat suaminya dalam dalam. Jeny dapat melihat besarnya harapan pria itu dari tatapan teduhnya. Memang sulit untuk jeny jika harus berhenti bekerja. Bukan karna kekurangan uang. Tetapi karna jeny memang sangat mencintai profesinya. Jeny selalu merasa bangga juga senang saat ada pasienya yang sembuh dan pulang dengan senyuman lebar di bibirnya dari rumah sakit. Karna profesinya juga yang membuat jeny merasa berguna bagi orang yang membutuhkan jasanya sebagai seorang dokter.


“Aku nggak mau lorenzo berbuat macam macam sama kamu dan anak kita. Please kali ini dengerin aku....” Lirih tomy melanjutkan.


Jeny tersenyum. Wanita itu melingkarkan kedua tanganya di leher tomy.

__ADS_1


“Akan aku pikirkan nanti.” Balas jeny.


Tomy tersenyum mendengarnya. Meskipun jawaban jeny memang menggantungkan harapanya tetapi tomy sangat berharap jeny mau mendengarkan dan menuruti keinginanya.


Tomy mendekatkan wajahnya pelan pada wajah jeny dan jeny sama sekali tidak menghindar. Hal itu membuat tomy merasa di berikan lampu hijau oleh jeny sehingga semakin mendekatkan wajahnya pada istri tercintanya itu.


“Untuk kesekian kalinya aku meminta sama kamu sayang.. Love me please..” Bisik tomy kemudian meraup bibir jeny.


Jeny hanya diam saja. Kecupan lembut bibir kenyal tomy membuat nya tidak mampu menolak. Berlahan jeny menutup kedua matanya.


“Mungkin memang seharusnya seperti ini.” Batin jeny pasrah menerima sentuhan bibir tomy di bibirnya.


Tomy tersenyum. Jeny menutup kedua matanya dan mulai mengimbangi ciumanya. Itu artinya wanita itu benar benar siap menerimanya malam ini.


Cukup lama bibir mereka bertaut hingga akhirnya tomy melepaskanya. Dengan nafas tersengal pria itu mengangkat kepalanya. Posisinya saat ini berada di atas tubuh mungil jeny yang sudah pasrah padanya. Di kecupnya singkat ujung hidung mancung jeny dan itu membuat jeny kembali terbuai akan pesona dan kelembutan suaminya.


“Bolehkah?” Tanya tomy lembut.


Jeny terdiam sesaat. Tomy meminta izin padanya itu membuat jeny merasa sangat di hargai dan di cintai oleh nya.


Jeny menghela nafas. Wanita cantik itu berlahan tersenyum kemudian menganggukan kepalanya mengizinkan untuk tomy menyentuhnya.


Tomy mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Jeny mengizinkanya. Rasanya seperti mimpi dan hampir membuat nya tidak percaya.


“Kamu ngebolehin aku untuk...”


Cup


Jeny mengangkat kepalanya dan mengecup singkat bibir basah suaminya. Senyum tulusnya terus terukir di bibirnya dengan kedua tangan yang masih mengalung di leher jenjang tomy.


“I am yours.” Katanya.


Tomy tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanya. Pria itu langsung memeluk erat tubuh mungil jeny. Tomy benar benar tidak menyangka jeny mengizinkanya.


“Terimakasih.. Aku cinta sama kamu.” Bisik tomy.


Tomy melepaskan pelukanya. Pria itu kembali meraup bibir jeny. Mencecap dan menikmati manis nya bibir kenyal lembut jeny.


Sedang jeny, wanita itu pasrah dan menikmati sentuhan lembut suaminya. Sesekali jeny melenguh ketika tangan tomy menekan dan meremas bagian tubuh sensitifnya.

__ADS_1


“Mulai malam ini aku menyerahkan semuanya padamu suamiku..”


__ADS_2