Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 192


__ADS_3

“Aku berangkat ya sayang.. Ingat kamu harus hati hati sama siapapun disini.” Kata tomy memeluk mesra jeny di depan sisi dan 4 body guard suruhanya.


“Iya by.. Kamu juga hati hati di jalan.” Senyum jeny membalas.


“Pasti.” Lirih tomy kemudian melepaskan pelukanya.


Jeny tersenyum dan menyalimi suaminya. Lambaian tanganya menjadi pengantar kepergian suaminya menuju perusahaanya.


“Sudah bu?” Tanya sisi yang berada di belakang jeny.


“Ya mbak. Ayo...”


Jeny dan sisi masuk ke dalam gedung tempatnya senam dan meninggalkan 4 body guard yang terus berjaga jaga untuknya.


Seperti biasanya para body guard itu langsung siap siaga menjaga jeny dari berbagai pintu masuk gedung tersebut. Mereka tidak mau sedikitpun lengah hingga akhirnya kecolongan.


“Permisi..”


Roy nama body guard yang berjaga di pintu utama gedung tempat jeny senam itu menoleh ketika mendengar suara berat lorenzo. Roy menatap tajam lorenzo yang tersenyum ramah padanya.


“Anda siapa? Dan ada keperluan apa kemari?” Tanya roy galak.


Lorenzo terus mengukir senyuman di bibirnya.


“Teman saya juga senam disini. Boleh saya masuk?” Tanya lorenzo berusaha ramah.


Roy terdiam sesaat. Tomy mengatakan untuk roy dan ketiga temanya waspada. Roy kemudian merogoh saku celana hitamnya. Rahangnya mengeras ketika melihat photo yang ada di ponselnya sama persis dengan rupa lorenzo. Dan tomy mengatakan untuk menjauhkan jeny dan selalu waspada dari lorenzo.


“Siapa nama teman anda?” Tanya roy lagi.


Lorenzo tertawa geli.


“Maaf sebelumnya apa anda keamanan disini?” Tanya lorenzo remeh.


Roy tidak menjawab. Roy hanya menjalankan tugasnya. Lorenzo adalah salah satu orang yang sangat harus di waspadai.


“Saya mau bertemu dengan teman saya. Saya yakin anda bukan pemilik disini. Tapi kenapa anda seolah melarang saya masuk?” Tanya lorenzo lagi dengan gaya sombongnya.


Roy tidak menjawab. Pria berbadan kekar dengan rambut cepak itu kemudian menghubungi salah satu temanya yang ada di dalam menjaga jeny.


Tidak lama datang lagi satu body guard bernama bisma yang menjaga pintu belakang gedung itu. Tatapanya begitu tajam mengarah pada lorenzo yang tampak terkejut.


”Apa apaan ini? Anda mau mengeroyok saya?”

__ADS_1


“Pergi atau kami habisi anda sekarang juga !” Bentak bisma sambil meremas tanganya sendiri.


Lorenzo mengeraskan rahangnya. Niatnya adalah untuk bertemu dengan jeny. Lama tidak bertemu dengan wanita itu membuat lorenzo merasa rindu.


“Pergi !!” Bentak roy lagi.


Lorenzo berdecak pelan. Pria bermata sipit itu kemudian berlalu dan memasuki mobilnya.


Sedangkan roy dan bisma, mereka terus menatap tajam pada mobil lorenzo yang mulai menjauh dari gedung senam itu.


“Dia orang yang di maksud boss..” Kata roy.


“Kenapa tidak langsung kita habisi tadi?” Tanya bisma jengah.


“Bos hanya menyuruh kita menjaga bu jeny.. Dan selalu waspada pada pria sipit itu.” Jawab roy datar.


“Tapi...”


“Sudah ayo jaga lagi. Ingat baik baik wajah pria itu tadi.” Sela roy tegas.


Bisma menghela nafas kesal kemudian kembali melangkah menjauh dari rekanya untuk berjaga di pintu belakang gedung.


Sedang di dalam jeny baru saja selesai senam. Wanita itu melangkah menghampiri sisi yang setia menemaninya.


“Ah ya bu.. Sebentar..”


Sisi langsung mengambil botol minum dan membuka tutupnya kemudian memberikanya pada jeny. Sisi tersenyum menatap jeny yang duduk di sampingnya. Rasanya sangat senang menatap tubuh gemuk jeny dengan perut buncitnya. Jeny juga begitu baik dan menganggapnya seperti keluarga. Sosok majikan yang tidak pernah sisi bayangkan sebelumnya.


“Bu, maaf tadi di luar ada pak lorenzo. Bos bilang supaya kami waspada pada pak lorenzo. Jadi harap ibu jangan dulu keluar sampai bos menjemput.”


Jeny terdiam. Tomy memang sangat tidak suka jeny dekat dengan lorenzo sejak dulu. Tapi jika di pikir kembali jeny juga enggan lagi bertemu dengan pria yang tidak bertanggung jawab seperti lorenzo. Meskipun hanya sebatas teman jeny pun sudah tidak sudi.


“Oke. Nggak papa..” Senyum jeny menganggukan kepalanya.


Jeny menyerahkan botol minumnya pada sisi kemudian mengelap peluh yang sedikit membasahi keningnya. Sebenarnya jeny masih tidak habis pikir dengan sikap lorenzo. Pria itu sudah sangat keterlaluan karna telah menelantarkan istri juga anaknya. Dan itu adalah sikap seorang pria yang tidak bisa lagi di toleransi.


Deringan ponsel jeny membuat jeny tersentak kaget. Wanita itu meraih ponselnya. Jeny mengeryit ketika mendapati nomor tidak di kenal yang tertera di layar benda pipih miliknya.


Jeny menelan ludahnya. Tomy selalu mewanti wanti agar dirinya tidak sembarangan dalam bertindak termasuk berkomunikasi dengan orang yang tidak dia ketahui siapa.


“Bu, kok nggak di angkat telephone nya?” Tanya sisi menatap jeny polos.


Jeny tersenyum.

__ADS_1


“Saya nggak kenal nomornya.”


Sisi menganggukan kepalanya. Sedang jeny, wanita itu memilih membiarkan ponselnya terus berdering. Jeny yakin jika penting si penelephone itu pasti akan mengirim pesan padanya.


“Sayang...”


Suara tomy berhasil mengalihkan perhatian jeny. Jeny tersenyum mendapati suaminya yang sudah berdiri tidak jauh darinya. Wanita cantik berbadan dua itu langsung berlari kecil dan berhambur memeluk tubuh tegap suaminya. Jeny juga tidak lupa memberikan kecupan di kedua pipi suaminya sebelum menyaliminya.


“Udah lama yah nunggunya?” Tanya tomy tersenyum menatap wajah cantik istrinya.


Jeny menggelengkan kepalanya.


“Baru beberapa menit.” Jawabnya.


Tomy tersenyum kemudian melirik sekilas pada sisi yang sudah membereskan semua barang bawaan jeny.


“Mau pulang sekarang?” Tanya tomy.


“Boleh.. Tapi by.. Beliin aku ice cream yang banyak yah..”


“Ice cream?” Tanya tomy dengan kening mengeryit.


“He'em..” Angguk jeny tersenyum.


“Sayang tapi..”


“Please....” Sela jeny memohon pada tomy.


Tomy menghela nafas. Setaunya wanita hamil tidak boleh terlalu banyak mengkonsumsi es. Tapi jika menolak permintaanya jeny pasti akan merajuk dan marah padanya.


“Baiklah.. Ayo kita pulang.” Angguk tomy kemudian meraih pinggang jeny dan menggiringnya keluar dari gedung senam tersebut.


“By...” Panggil jeny ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Ya sayang.. Kamu mau yang lain?” Saut tomy kemudian bertanya dengan lembut dan penuh perhatian.


Jeny menghela nafas. Tomy pasti akan lebih sangat waspada jika jeny mengatakan lorenzo datang ke tempat senamnya tadi. Meskipun memang lorenzo belum tentu berniat menemuinya namun memberi tahu suaminya tentang kedatangan pria itu juga penting untuknya.


“Kata alex tadi ada lorenzo di luar saat aku senam.”


Tomy tersenyum mendengarnya. Pria itu sudah lama menghilang dan kini kembali muncul di tempat jeny senam. Tomy yakin lorenzo pasti berniat menemui istrinya.


“Ya sayang.. Roy juga udah kasih tau aku tadi. Pokonya kamu harus selalu ingat apa yang aku katakan yah. Jangan dulu berkomunikasi secara tatap muka dengan orang lain. Aku nggak mau kamu kenapa napa sayang.”

__ADS_1


__ADS_2