Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 121


__ADS_3

Tomy terus menunggu jeny semalaman. Tomy bahkan sampai tidak bisa memejamkan matanya yang terus meneteskan air mata penyesalanya.


Tomy menghela nafas. Di usapnya lembut pipi chuby jeny. Wanitanya belum kunjung membuka kedua matanya. Itu artinya kondisinya benar benar membuat tubuhnya sangat lemah dan tidak berdaya.


“Kamu wanita yang kuat sayang.. Kamu wanita yang hebat..” Lirih tomy menatap wajah pucat istrinya.


Tomy menghela nafas. Dadanya terasa sesak melihat keadaan istrinya saat ini.


Pintu ruangan terbuka membuat tomy menoleh. Dari balik pintu ruang rawat jeny masuk mamah jeny dengan wajah paniknya.


“Ya tuhan.. Putriku..”


Tomy langsung bangkit dari duduknya. Pria itu memberi tempat pada mamah mertuanya yang tampak sangat mengkhawatirkan putri semata wayangnya.


Mamah jeny langsung mencium kening jeny penuh sayang. Wanita yang selalu bersikap tegas itu tampak sangat ketakutan melihat keadaan jeny saat ini.


“Apa yang terjadi sama jeny tomy? Kenapa dia bisa seperti ini?” Tanya mamah jeny menoleh menatap tomy yang berdiri di samping kursi yang di dudukinya.


Tomy hanya diam saja. Tomy sendiri tidak tau jelas apa yang terjadi pada istrinya. Tetapi yang pasti tomy tau penyebab keadaan istrinya saat ini.


“Jeny... Jeny kelelahan mah..” Jawab tomy.


Tomy tidak bohong. Apa yang di katakanya memang benar. Jeny kelelahan setelah seharian menemani fani jalan jalan.


“Ya tuhan...”


Air mata mamah jeny menetes. Jeny memang sering drop selama tomy tidak ada. Tetapi mamah jeny berpikir mungkin jeny akan baik baik saja dengan harmonisnya hubunganya dengan tomy.


Tomy memejamkan kedua matanya sejenak. Semua memang salahnya yang meninggalkan jeny begitu saja untuk rachel. Dan jika sampai mamah mertuanya dan jeny tau mereka berdua pasti akan kompak marah. Apa lagi mamah mertuanya. Mungkin wanita di sampingnya tidak hanya memarahinya tapi juga akan menamparnya.


“Mamah...”


Suara lemah jeny membuat tomy langsung menoleh. Dadanya langsung terasa lega begitu melihat istrinya membuka kedua matanya.


“Aku panggilin dokter.” Kata tomy cepat.


“Tunggu.” Cegah mamah jeny yang langsung berhasil membuat tomy urung melangkah.


“Jangan seperti orang bodoh dengan berteriak teriak di koridor rumah sakit. Itu akan sangat mengganggu pasien di rumah sakit ini. Kamu pengusaha yang pintar. Mamah pikir mamah tidak perlu memberitahu kamu untuk memencet tombol itu.”


Tomy langsung salah tingkah. Saking leganya melihat istrinya membuka mata tomy sampai tidak tau apa yang harus di lakukan. Dengan bodohnya tomy hendak berlari keluar untuk memanggil dokter. Padahal jelas jelas di samping brankar jeny ada tombol darurat untuk memanggil dokter.

__ADS_1


Jeny yang melihat itu tertawa lemah. Lucu sekali rasanya melihat suaminya yang begitu cerdas dan pintar sampai terlihat bodoh di depan mamahnya.


“Maaf mah...”


Tomy melangkah ke sisi kiri jeny kemudian memencet tombol tersebut untuk memanggil dokter.


Tidak lama menunggu dokter yang menangani jeny masuk. Dengan langkah cepat dokter wanita itu melangkah menuju brankar jeny dan segera memeriksanya.


“Bagaimana dokter?” Tanya mamah jeny dengan wajah panik.


Sedangkan tomy, pria tampan itu langsung mendekat pada jeny. Di kecupnya lembut kening jeny membuat wanita itu memejamkan mata dengan senyuman terukir di bibir pucatnya.


“I'm fine..” Bisik jeny menatap wajah tampan suaminya.


Tomy hanya tersenyum saja. Tomy tau istrinya tidak baik baik saja. Ucapanya yang mengatakan baik baik saja hanya berusaha untuk menenangkanya. Dan itu berhasil membuat tomy semakin merasa bersalah.


“Bagaimana dokter?” Tanya mamah jeny khawatir.


Dokter wanita yang menangani jeny tersenyum. Wanita itu melirik jeny dan tomy sekilas kemudian menatap kembali mamah jeny.


“Keadaanya sudah mulai membaik. Kalau sudah tidak merasa lemas lagi pasien sudah boleh pulang.” Jawab dokter tersebut.


“Baik. Kalau begitu saya permisi.” Senyum dokter wanita itu.


“Oh iya dokter.. Terimakasih.” Balas mamah jeny ikut tersenyum.


“Sama sama bu..”


Setelah itu dokter yang menangani jeny pun melangkah keluar dari ruang rawat jeny.


Mamah jeny menghela nafas. Wanita itu menoleh dan menatap jeny juga tomy yang terus mengusap pipi chuby jeny. Entah apa yang terjadi sebenarnya tetapi mamah jeny merasa ada sesuatu yang tidak dia tau. Mamah jeny juga merasa harus menemui mamah tomy untuk menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.


“Mah.. Papah mana?” Tanya jeny menoleh menatap mamahnya dengan suara pelan.


“Papah kamu sedang di luar kota sayang.. Tapi besok udah pulang kok..” Jawab mamah jeny.


Jeny mengangguk. Papah nya memang selalu sibuk. Namun meskipun begitu pria itu tidak pernah melupakan waktu berharganya bersama keluarga.


“Eemm.. Sayang. Mamah keluar sebentar yah.. Kamu mau apa? Biar bisa mamah beliin sekalian.”


Jeny tersenyum dan menggelengkan pelan kepalanya.

__ADS_1


“Nggak usah mah..” Jawabnya.


Mamah jeny mengangguk. Wanita itu kemudian menatap tomy yang terus menggenggam tangan putrinya.


“Tomy.” Panggilnya.


“Ya mah..” Saut tomy menatap mamah mertuanya.


“Mamah keluar dulu. Jaga jeny dengan baik.” Katanya kemudian berlalu tanpa mau mendengarkan balasan dari tomy.


Tomy menghela nafas. Mamah mertuanya pasti marah padanya karna membiarkan jeny sendiri sehingga jeny sampai mengalami pendarahan.


“Sepertinya mamah marah..” Kata jeny lirih.


Tomy tersenyum. Sekali lagi tomy mengecup lembut kening jeny.


“Mamah terlalu khawatir sama kamu sayang..” Senyum tomy mencoba menghilangkan prasangka tidak baik jeny pada mamahnya.


Jeny tersenyum tipis. Mungkin memang benar apa yang di katakan oleh suaminya.


“Oh iya by.. Kamu kemana tadi? Kenapa buru buru?”


Senyum di bibir tomy langsung pudar mendengar pertanyaan jeny. Jika tomy menjawab jujur jeny pasti akan marah padanya. Tomy bukan takut mendapat kemarahan jeny, tapi tomy takut jika jeny marah akan semakin berpengaruh buruk pada keadaanya yang baru saja membaik itu.


“Aku...”


Suara deringan ponsel di dalam saku celana jins yang di kenakan tomy membuat ucapan tomy terhenti. Pria tampan itu melepaskan genggaman tanganya pada tangan jeny dan merogoh saku celana jinsnya mengambil benda pipih bercasing hitam itu.


Jeny yang melihatnya hanya diam saja. Wanita itu menghela nafas kemudian memgedarkan pandanganya ke seluruh ruang rawatnya.


Sedangkan tomy, pria itu tidak langsung mengangkat telphone nya. Tomy menatap diam layar menyala ponselnya dimana nama reyhan tertera disana.


“By? Kok nggak di angkat?” Tanya jeny bingung.


Tomy tersentak. Pria itu tersenyum menatap istrinya. Reyhan menelphone nya pasti ingin memberitahunya tentang keadaan rachel saat ini.


“Sebentar sayang.. Aku angkat telphone dulu.” Senyum tomy kemudian berlalu.


Jeny semakin merasa bingung dengan tingkah suaminya. Tomy sampai keluar dari ruang rawatnya hanya untuk mengangkat telphone. Padahal biasanya tomy tidak pernah seperti itu. Tomy selalu mengangkat telphone dari siapapun di depanya langsung.


“Aneh..”

__ADS_1


__ADS_2