Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 105


__ADS_3

Jeny menatap geli tomy yang begitu lahap memakan omelet buatanya. Itu hanya sebuah omelet bukan masakan lezat seperti yang di masak oleh elisa.


Jeny menghela nafas. Wanita cantik itu menggunakan tanganya untuk menyangga dagunya dan terus menatap tomy yang sepertinya tidak merasa sedang diperhatikan olehnya.


“Laper banget ya tom?” Tanya jeny pelan.


Tomy berhenti mengunyah omelet dalam mulutnya. Pria tampan itu menoleh dan tersenyum menatap wajah cantik istrinya. Omelet buatan jeny memang terasa biasa saja. Namun dapat memakan masakan jeny adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi tomy. Bahkan tomy sampai bertekad dalam hati, apapun rasa masakan jeny entah itu keasinan atau kemanisan tomy akan tetap melahapnya sampai habis tak tersisa.


“Eemm.. Ya.. Dan rasa omelet ini sangat langka. Rasa cinta.” Jawabnya dengan senyuman manis di bibirnya.


Jeny tertawa mendengarnya. Jeny tau rasa masakanya tidak seenak masakan mamanya. Tidak juga eenak masakan bibi. Apa lagi masakan elisa.


“Kamu bisa saja bohongnya.” Katanya.


Tomy mengeryit. Tomy tidak berbohong. Rasa omelet buatan jeny memang langka. Rasanya tidak seperti omelet buatan mamanya. Tapi tomy tetap menyukainya karna tomy merasa bahagia jeny mau memasakan sesuatu untuknya meskipun hanya sebuah omelet.


“Aku nggak bohong kok.”


Dengan sisa tawanya jeny menganggukan kepalanya. Jeny tidak mau tomy ngambek jika jeny tidak mengiyakan.


“Oke oke.. Aku percaya.”


Tomy menghela nafas. Pria tampan itu meraih segelas air putih yang di siapkan jeny untuknya. Tomy menenggaknya hingga habis tak tersisa.


“Udah?” Tanya jeny menatap piring dan gelas kosong yang berada di depan suaminya.


“Seperti yang kamu lihat. Aku udah habisin omeletnya juga air putihnya.” Senyum tomy menjawab.


Ketika jeny hendak meraih gelas dan piring tersebut, tomy langsung menahanya. Wanita cantik itu mengeryit ketika tomy malah menggenggam tanganya.


“Biar aku yang cuci.” Ujar tomy kemudian mengecup singkat punggung tangan jeny.


Jeny tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Sebenarnya jeny tidak berniat mencucinya. Jeny hanya ingin membawanya ke dapur karna besok pasti elisa akan datang lagi untuk beres beres. Tapi ternyata prasangka tomy begitu baik padanya sehingga sampai mengira jeny mau mencuci piring dan gelas tersebut.


“Oke...” Balas jeny.


“Kamu tunggu aja di kamar sayang.” Kata tomy tersenyum dengan mengedipkan sebelah matanya pada jeny.


Jeny mengeryit. Tomy seperti sedang menggodanya. pria itu dengan genitnya mengedipkan sebelah mata padanya.


Tomy bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju dapur dengan membawa piring dan gelas bekas makan dan minumnya.


Sesampainya di dapur tomy segera menaruh piring dan gelas kotornya di tempat cucian piring. Tomy kemudian menyalakan kran air dan mencuci piring dan gelasnya. Setelah selesai tomy menaruhnya di tempat pengeringan piring dan gelas.


Tomy menghela nafas dan tersenyum. Pria tampan itu kemudian melirik kulkas yang berada tidak jauh darinya. Tomy melangkah menuju kulkasnya kemudian membukanya. Senyumnya kembali mengembang ketika mendapati kulkasnya terisi penuh bahan bahan makanan. Padahal tomy tidak berencana lama di amsterdam tetapi elisa memenuhi kulkas dengan berbagai sayuran dan bahan makanan lainya seperti daging dan berbagai sosis.


“Banyak banget... Mana bisa jeny memasak semua bahan bahan makanan ini..” Gumam tomy.


Tomy menutup pelan pintu kulkasnya. Pria itu berpikir mungkin ada baiknya jika besok elisa kembali datang dan mengambil semua bahan makanan tersebut untuknya dan ibunya saja. Ketika hendak meraih ponsel dalam saku celananya tomy terdiam. Jika tomy memyuruh elisa untuk datang besok jeny pasti akan berpikir yang tidak tidak.

__ADS_1


“Hh.. Sudahlah nanti saja.” Gumam tomy menghela nafas


Tomy melangkah kembali menghampiri jeny yang masih duduk di meja makan. Padahal tomy tadi menyuruh wanita cantik itu untuk menunggunya di kamar.


“Loh sayang.. Kok masih disini?” Tanya tomy menyentuh lembut kedua bahu jeny.


Jeny menoleh. Seulas senyum kembali terukir di bibirnya. Jeny merasa bosan karna tomy sama sekali tidak mengajaknya keluar. Tomy seakan mengurungnya di dalam apartemen.


“Tomy..” Panggil jeny menatap tomy.


“Ya sayang.. Kenapa?” Tanya tomy menyentuh lembut pipi chuby istrinya.


“Apakah urusan kamu sudah selesai?” Tanya balik jeny.


Tomy terdiam. Urusanya di perusahaan memang sudah selesai. Dan tomy berencana mengajak jeny untuk jalan jalan mulai besok.


“Ya. Sudah selesai.” Jawab tomy tersenyum.


Jeny menghela nafas. Tomy tidak mengatakan ingin mengajaknya pergi. Itu artinya besok atau lusa dirinya dan tomy sudah bisa kembali lagi ke jakarta.


“Syukurlah.. Kapan kita kembali ke jakarta?”


Senyum di bibir tomy langsung pudar. Jeny menanyakan kapan kepulanganya ke negara asalnya. Padahal tomy berencana mengajak wanita itu untuk jalan jalan.


“Kok langsung ngomongin pulang sih sayang.. Lagian disini kan kita juga di tempat sendiri. Ini apartemen aku, bukan apartemen orang lain.”


“Kita kan bisa liburan dulu sayang.. Santai sejenaklah.. Jangan melulu kerja kerja dan kerja.. Lagian aku juga pengin bawa kamu jalan jalan besok..” Lanjut tomy.


“Jalan jalan? Kemana?” Tanya jeny bingung.


“Ke semua tempat yang kamu mau..” Jawab tomy.


Jeny terdiam lagi. Jeny tidak tau tempat apa yang ingin dia kunjungi. Karna jeny bukan termasuk orang yang suka mengunjungi tempat tempat yang banyak di kunjungi khalyak umum.


“Ya udah... Mending sekarang kita istirahat yuk?” Ajak tomy.


Tomy meraih tangan jeny dan menggenggamnya lembut.


Ketika jeny hendak bangkit tiba tiba bel berbunyi. Tomy dan jeny langsung menoleh kearah pintu utama apartemen.


“Siapa?” Tanya jeny pelan.


Tomy menggelengkan kepalanya. Tomy tidak menghubungi elisa ataupun reyhan untuk datang. Dan tomy juga tidak membeli atau memesan apapun.


“Kamu tunggu disini. Biar aku yang buka..”


Jeny menganggukan kepalanya. Wanita cantik itu menurut dan tetap duduk di tempatnya menunggu tomy mengecek siapa yang datang malam malam.


Ketika tomy membuka pintu apartemenya tiba tiba rachel langsung memeluknya hingga tubuh tomy nyaris terjungkal kebelakang. Rachel menangis tersedu sedu sambil memeluk erat tubuh kekar tomy. Wanita itu bahkan menangis begitu keras hingga berhasil menarik perhatian jeny.

__ADS_1


“Ada apa yah?” Gumam jeny.


Penasaran jeny pun bangkit dari duduknya. Jeny melangkah mendekat pada tomy yang tertutup oleh pintu apartemen bercat hitam itu.


“Verlaat me alsjeblieft niet tomy..”


Jeny mengepalkan kedua tanganya melihat rachel yang menangis dan memeluk erat tubuh suaminya. Jeny memang tidak terlalu pandai bahasa belanda. Tapi jeny tau apa yang di ucapkan oleh rachel.


“Rachel.. Lepaskan suami saya..” Geram jeny dengan kedua tangan mengepal erat.


Tomy langsung tersadar dari keterkejutanya. Cepat cepat tomy melepaskan pelukan rachel.


“Apa apaan kamu rachel.” Kesal tomy.


“Tomy aku..”


“Cukup.” Tegas jeny menyela.


Jeny meraih tangan tomy dan maju menghadap rachel. Dengan mengangkat dagunya jeny menatap rachel berani. Rachel memang cantik juga tinggi. Tapi jeny tidak pernah merasa ciut hanya karna kecantikan rachel. Karna bagi jeny tomy adalah suaminya. Tomy miliknya dan tidak boleh ada seorangpun yang merebutnya apa lagi rachel.


“Kamu pikir saya tidak berani sama kamu?” Tanya jeny menantang.


Rachel mengusap air matanya meskipun air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Dengan isakanya rachel membalas tatapan tidak suka jeny padanya.


“Aku mencintainya.” Katanya.


“Tapi saya istrinya. Dan tomy hanya mencintai saya.” Balas jeny tegas.


Rachel melirik tomy yang hanya diam di belakang jeny.


“Tapi kamu nggak mencintainya kan?” Tanya rachel dengan air mata kembali menetes di pipinya.


Jeny diam. Jeny memang tidak mencintai tomy. Tapi jeny tetap merasa tomy miliknya dan tidak ada seorangpun yang boleh merebutnya darinya.


“Apa buktinya kalau kamu mencintai tomy? Bukankah kamu cuma menganggap tomy sahabat?”


Jeny mengeryit. Bagaimana mungkin rachel bisa tau bahwa dirinya dan tomy dulunya adalah sahabat. Jeny menoleh pada tomy. Jeny tidak tau apa yang bisa membuktikan dan membuat rachel percaya bahwa jeny mempunyai cinta untuk tomy. Meskipun pada kenyataanya jeny sendiri tidak tau apakah dirinya mencintai tomy atau tidak.


Jeny menghela nafas kemudian menatap kembali pada rachel.


“Kamu. Dengar baik baik. Saya bukan orang yang suka pamer. Adanya saya disini itu sudah membuktikan bahwa saya mau selalu bersama dengan suami saya. Dan tentang cinta, kamu tidak pantas bicara bahkan meminta bukti sama saya tentang cinta atau tidaknya saya pada suami saya. Yang harus kamu tau adalah jauhi suami saya. Dan jangan pernah lagi temui suami saya. Mengerti?”


Jeny meraih tangan tomy kemudian segera menutup pintu apartemenya. Jeny benar benar tidak mau berlama lama menatap wajah penuh sandiwara rachel.


“Sayang kamu..”


“Tomy, aku capek. Aku tidur duluan.” Sela jeny kemudian berlalu.


Tomy tersenyum menatap punggung istrinya. Perasaan jeny padanya sama seperti perasaanya pada jeny dulu. Dan tomy yakin apa yang baru saja dilakukan jeny adalah bukti cinta secara tidak sadar dari wanita itu. Jeny takut kehilanganya.

__ADS_1


__ADS_2