
“Makasih...” Senyum angel pada dokter axel yang menunggu dan memegangi tali yang mengikat pinggangnya di depan pintu kamar mandi.
“Ah ya. Sama sama.” Jawab dokter tampan itu tersenyum kikuk.
Dokter axel menghela nafas. Entah kenapa di senyumi oleh angel membuatnya tidak tau harus bagaimana.
“Aku.. Mau di iket lagi ya?” Tanya angel dengan wajah sendu.
Dokter axel terdiam. Di tatapnya tangan dan kaki angel yang terluka akibat ikatan tali. Jika boleh jujur sebenarnya dokter axel tidak tega. Luka itu pasti sangat perih jika terkena gesekan tali. Tapi heranya angel tidak pernah mengeluh sakit atau perih padanya.
“Memangnya aku jahat banget yah sampe harus di kurung dan di ikat disini?”
Dokter axel tidak tau harus menjawab apa. Angel sepertinya memang tidak ingat apapun.
“Eemm.. Aku obatin tangan sama kaki kamu dulu.” Kata dokter axel.
Angel menghela nafas dengan wajah masih sendu. Wanita itu menurut saja saat dokter axel menggiringnya menuju ranjang.
“Kamu siapa sih sebenarnya? Aku juga, aku siapa?”
Pertanyaan angel membuat dokter axel menatapnya. Angel menatapnya dengan wajah polos pertanda wanita itu benar benar tidak tau apa apa. Dan dokter axel yakin angel memang benar benar kehilangan ingatanya.
“Kamu angelica mawardi. Dan saya axel. Saya dokter yang bertugas menjaga kamu.” Jawab dokter axel.
“Aku angel? Kamu axel?” Tanya angel lagi.
Dokter axel hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya. Pria tampan itu mulai mengoles obat pada pergelangan kaki angel yang dia letakan di pangkuanya.
“Apa kita saudara? Aku adik kamu mungkin?”
Dokter axel menghela nafas. Angel mulai banyak bicara. Itu bagus. Namun jika pertanyaanya membingungkan seperti itu dokter axel juga tidak tau harus menjawab apa. Tidak mungkin jika dokter axel mengakui secara langsung bahwa dirinya adalah mantan kekasih juga ayah dari anak yang pernah di lahirkan angel.
“Bukan. Kamu dan aku sama sama orang lain. Hubungan kita hanya sebatas dokter dan pasien.” Jawab dokter axel tegas.
Angel mengangguk anggukan kepalanya. Wanita itu kemudian tersenyum menatap wajah tampan dokter axel dari samping.
__ADS_1
“Kalau begitu aku panggil kamu dokter?” Tanya angel lagi.
“Terserah kamu saja.” Jawab dokter axel tidak perduli.
“Baiklah dokter axel yang ganteng.” Senyum manis angel.
Dokter axel berhenti membalut luka di pergelangan kaki angel dengan perban. Pria itu kemudian menoleh dan menatap angel yang sedang tersenyum manis padanya. Sikap angel membuat dokter axel kembali mengingat awal perkenalan mereka saat masih muda dulu.
“Dasar genit.” Umpat dokter axel pelan kemudian kembali melanjutkan membalut luka di pergelangan kaki angel.
Sedangkan angel, wanita yang kini tidak bisa mengingat siapa dirinya itu terus tersenyum menatap dokter axel yang begitu telaten membalut lukanya.
Selesai membalut luka di kedua pergelangan tangan dan kaki angel, dokter axel pun keluar dari kamar itu tentunya setelah kembali mengikat angel di atas ranjang. Pria tampan itu berniat mengambilkan makan malam dan menyuapi angel seperti biasanya.
“Dokter..” Panggil angel ketika dokter axel sedang mengaduk makanan di piring yang di pegangnya.
“Hhm..” Saut dokter axel.
“Eemm.. Dokter nyuapin aku terus dokter sendiri kapan makanya?”
“Kamu bisa diam tidak?” Tanyanya menatap angel dengan wajah kesal.
“Ah ya ya.. Maaf maaf..” Jawab angel meringis.
Dengan telaten dokter axel menyuapi angel sampai makanan di piring itu habis tak bersisa. Pria tampan itu juga tidak lupa meminumkan segelas air putih yang sebelumnya sudah dia siapkan.
“Makasih dokter ganteng yang baik..” Senyum angel manis.
Dokter axel terdiam. Entah kenapa tiba tiba dokter axel berpikir mungkinkah angel masih akan menganggapnya baik setelah mengingat kembali semua tentangnya. Mungkinkah angel masih akan mau tersenyum padanya jika mengingat bagaimana dokter axel dulu menodainya sampai hamil.
“Ya. Sama sama.”
Dokter axel bangkit dari duduknya dengan membawa piring kosong juga gelas kosong di tanganya keluar dari kamar tempat angel di kurung.
“Nggak axel. Kamu nggak perlu mikirin apapun. Setelah angel sembuh kamu bisa mengantar dia ke rumah orang tuanya. Angel bukan lagi siapa siapa kamu. Tidak perlu khawatir.” Gumam dokter axel meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Dokter axel melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga menuju lantai 1. Pria itu tidak ingin memikirkan apapun lagi tentang perasaanya. Dia hanya ingin fokus agar angel cepat sembuh dan ingatanya kembali. Setelah itu dokter axel bebas. Dia tidak perlu lagi merawat angel.
Suara bel dari pintu utama membuat langkah pria tampan itu kembali terhenti. Keningnya mengerut bingung karna tidak biasanya ada tamu yang datang jika malam tiba.
“Siapa?” Gumam dokter axel bertanya tanya.
Penasaran dokter tampan itu pun meletakan piring dan gelas kosong yang di bawanya di atas meja makan kemudian melangkah menuju pintu utama untuk membukanya.
Dokter axel terdiam ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu dengan posisi memunggunginya. Dokter axel tau siapa pria yang sedang memunggunginya.
“Pak leo..”
Leo langsung memutar tubuhnya kemudian tersenyum tipis pada dokter axel yang menatapnya datar.
“Untuk apa anda datang kesini?” Tanya dokter axel langsung.
“Saya kesini karna dokter malik bilang angel anda bawa pulang. Saya ingin menjenguknya.” Jawab leo tersenyum tipis.
Mengingat tentang dokter malik, dokter axel kembali teringat dengan obrolanya tadi bersama dokter yang di percayanya untuk menangani angel. Dokter malik adalah dokter yang di percaya oleh leo. Dan dokter itu juga yang membuat angel semakin gila dengan memberikan obat berbahaya itu.
“Anda kesini untuk memastikan angel semakin gila?”
Senyum di bibir leo langsung pudar. Meskipun angel sudah bukan siapa siapanya lagi namun wanita itu pernah menjadi istrinya. Bagian terpenting dalam hidupnya. Dan sejujurnya perasaan sayang itu masih ada meskipun hanya sedikit.
“Apa maksud anda? Saya kesini dengan niat baik. Tolong jangan bicara sembarangan.”
Dokter axel tersenyum sinis. Di lipatnya kedua tanganya di depan dada menatap remeh pada sosok leo yang tampak mulai terbakar emosi karna ucapanya.
“Pak leo...Anda pikir saya bodoh? Anda tidak usah pura pura baik. Saya tau anda bekerja sama dengan dokter malik untuk membuat angel semakin gila dan akhirnya mati.”
Rahang leo mengeras mendengar ucapan dokter axel. Sedikitpun pria itu tidak pernah berniat mencelakai angel apa lagi sampai berniat membunuhnya. Leo mempercayakan dokter malik karna leo yakin dokter malik bisa menangani angel dengan baik hingga sembuh.
“Jaga mulut anda dokter. Saya...”
“Dokter aku haus lagi !!”
__ADS_1
Ucapan leo terhenti karna pekikan angel dari lantai dua rumah dokter axel. Pri itu terdiam mendengar suara cempreng wanita yang pernah menjadi bagian dari hidupnya itu.