
Setelah bertemu dengan rekan bisnisnya yang bernama antinio tomy pun segera pulang. Pria tampan itu bahkan rela menahan lapar dengan menunda makan siangnya demi bisa segera pulang ke rumah dan bertemu dengan istri dan anaknya.
“Lain kali jangan begitu lagi. Makan itu penting. Jangan nunda nunda kalau sudah waktunya.” Omel jeny sambil meladeni tomy yang hanya diam mendengarkan omelanya.
“Kan biar kerjaan aku cepet kelar terus bisa cepet pulang sayang..” Kata tomy mulai membela diri.
“Apapun alasan kamu itu tetap saja tidak bisa di benarkan.” Tegas jeny.
Tomy menghela nafas. Pria itu melirik istrinya yang meskipun marah namun tetap mau meladeni dan menemaninya menyantap makan siangnya yang tertunda.
“Makan yang banyak biar nggak kurus.” Judes jeny.
Tomy ingin sekali tertawa. Jeny sangat menggemaskan saat sedang marah seperti itu. Dan tomy sangat tidak tahan ingin memeluk dan mencium tubuh mungil istrinya itu.
“Eemm.. Sayang gimana faraz hari ini?” Tanya tomy yang mencoba mengalihkan topik pembicaraan agar jeny tidak lagi marah padanya.
“Dia anteng kok by.. Meskipun maunya di gendong terus..” Senyum jeny menjawab.
Tomy ikut tersenyum mendengarnya. Menjadi seorang ibu memang tidak mudah. Begitu banyak pengorbanan yang harus di korbankan oleh seorang wanita demi buah hatinya. Tidak hanya berkorban jiwa dan raga, seorang wanita juga harus rela mengorbankan waktu juga kecantikanya demi mengurus buah hati yang selama 9 bulan lebih di kandungnya.
“Ah ya sayang tadi mamah kamu telephone. Dia bilang berkali kali telephone kamu tapi nggak kamu angkat.”
Jeny menepuk pelan jidatnya. Wanita itu memang tidak ada waktu untuk memegang ponselnya. Jeny mengerahkan semua waktu, juga tenaga dan pikiranya untuk putra sulungnya. Semua itu jeny lakukan karna tidak mau sedetikpun melewatkan hal terindah mengurus buah hati hasil cintanya dengan tomy.
“Ya ampun.. Akhir akhir ini aku memang jarang banget bisa main handphone by.. Terus mamah bilang apa sama kamu? Dia nggak marah kan?”
__ADS_1
Tomy menyuapkan sesendok nasi serta lauk dan sayur ke dalam mulutnya. Pria tampan itu menggelengkan pelan kepalanya menjawab pertanyaan istri tercintanya.
“Syukur deh kalau mamah nggak marah..” Hela nafas jeny merasa lega.
“Tapi mamah bilang dia mau ke bandung sore ini sama papah. Katanya papah ada kerjaan disana.”
“Apa? Terus mamah nggak kesini dulu buat pamit sama aku? Atau kita aja yang kesana abis ini buat nganter mamah sama papah ke bandara?”
Tomy tersenyum lagi. Pria itu meraih tangan kecil istrinya dan menggenggamnya erat.
“Mamah bilang nggak sempet buat kesini sayang.. Dia juga melarang aku bawa kamu kesana karna takut kamu kelelahan karna sudah mengurus faraz seharian ini..”
“Ck. Ya ampun.. Mamah tega banget sama aku..” Gerutu jeny merasa kesal juga sedih karna akhir akhir ini waktunya bertemu dengan sang mamah memang tidak ada.
Jeny bangkit dari duduknya dan hendak melangkah meninggalkan tomy namun langsung di tahan oleh tomy dengan mencekal lengan jeny lembut.
“Aku mau telephone mamah..” Jawab jeny.
Tomy mengangguk kemudian melepaskan cekalan tanganya pada lengan jeny. Pria itu membiarkan istrinya berlalu dan melangkah menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
Tomy menghela nafas. Sesaat pria tampan itu terdiam namun berlahan seulas senyum terukir di bibirnya. Tomy merasa lega karna selama proses penyelidikan susan kedua orang tua jeny sedang berada jauh darinya dan jeny. Mungkin saat ini dewi keberuntungan sedang memihak padanya karna jika sampai kedua mertuanya tau tentang susan mungkin itu akan menimbulkan masalah baru.
Selesai makan siang tomy segera menyusul jeny menuju lantai 2 dimana kamarnya berada. Dan begitu tomy masuk ke dalam kamar mereka tomy tidak menemukan istrinya disana. Di dalam kamarnya hanya ada faraz yang sedang terlelap di ranjang bayinya. Penasaran tomy pun keluar kembali dari kamarnya berniat mencari sosok cantik istrinya.
Ketika hendak melangkah tomy melihat pintu kamar samping kamarnya sedikit terbuka dan tomy menebak mungkin jeny sedang berada di dalam kamar tersebut. Tomy melangkah menuju kamar tersebut dan benar saja. Di dalam kamar itu jeny sedang memilih beberapa dress yang memang tomy belikan saat di amsterdam dulu.
__ADS_1
“Kamu lagi ngapain sayang?” Tanya tomy berdiri di ambang pintu dengan menyenderkan lengan sebelah kirinya.
Jeny menoleh mendengar suara suaminya. Ekspresinya langsung berubah sendu ketika menemukan suaminya yang berdiri di ambang pintu kamar tempat barang barangnya berada.
“By.. Dress ini tetap tidak muat meskipun aku sudah melahirkan. Perut aku udah nggak kenceng lagi.” Adu jeny merengek dengan wajah sendu.
Tomy tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Pria tampan itu kemudian melangkah mendekat pada istrinya yang sedang menunjukan dress yang sangat di sukainya semenjak dirinya pertama kali membuka kado berisi dress tersebut.
“Sayang.. Nanti muat kok.. Kamu kan baru beberapa hari melahirkan. Perut kamu juga nanti bakal kenceng lagi..” Senyum tomy mengusap lembut pipi chuby istrinya.
Jeny menghela nafas. Wanita itu menurunkan dengan pelan tangan tomy yang berada di pipinya. Jeny kemudian melangkah menuju cermin besar dan berdiri tepat di depan cermin tersebut. Jeny menaruh pelan dress yang di pegangnya di meja kecil samping lemari berisi barang barang miliknya. Wanita cantik itu kemudian menatap tubuhnya dari atas sampai bawah. Jeny merasa bentuk tubuhnya tidak lagi bagus. Lekuk indah tubuhnya kini sirna karna kulitnya mulai bergelambir tidak kencang. Jeny sadar mungkin itu efek dari melahirkan dan hamil selama 9 bulan lebih. Jeny tidak merasa sayang meskipun bentuk indah tubuhnya kini berubah tidak berbentuk. Tapi tomy, semua pria mengidamkan memiliki wanita cantik dengan bentuk tubuh yang sempurna. Jeny mendadak merasa khawatir tomy tidak lagi menyukai bentuk tubuhnya yang sekarang.
“Kenapa sayang?” Tanya tomy mengeryit bingung.
Jeny memejamkan kedua matanya sesaat sebelum akhirnya membukanya lagi. Jeny menoleh sebentar pada tomy yang masih berdiri di tempatnya kemudian kembali memusatkan perhatianya pada cermin yang menampakan bayangan tubuh tidak berbentuknya.
“Tubuhku tidak lgi seindah dulu.. Kulitku bergelambir dan tidak lagi kencang. Dan..”
Jeny berhenti berucap kemudian menyibak baju piyama yang di kenakanya di bagian perutnya. Jeny tersenyum masam melihat stretch mark yang membuat perut putih bersihnya kini bernoda.
“Kulitku tidak lagi bersih..” Lirihnya.
Tomy tersenyum mendengarnya. Pria tampan itu melangkah pelan menghampiri jeny dan memeluk tubuh istrinya itu dari belakang. Tomy ikut menatap dari atas sampai bawah tubuh istri tercintanya.
“Kamu liat sendirikan by? Aku tidak seindah dulu lagi..”
__ADS_1
Tomy mengecup bahu istrinya. Tanganya menyelusup masuk ke dalam baju piyama jeny dan mengusap lembut perut wanitanya.
“Aku tidak pernah mempersalahkan itu sayang.. Bagaimanapun kamu sekarang kamu tetap istri aku. Ibu dari anakku.. Dan kamu tetap wanita yang aku cintai untuk sekarang, besok, dan selamanya. Kita akan menua bersama. Hidup bahagia dengan anak anak kita..”