Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 226


__ADS_3

Pagi ini tomy menemani jeny jalan jalan keliling kompleks. Pria tampan itu mengenakan celana pendek selutut hitam yang di padukan dengan kaos pendek berwana putih polos. Dengan penuh kelembutan juga kesabaran tomy mengimbangi langkah pelan istri tercintanya. Tomy sebenarnya merasa kasihan pada jeny yang 2 bulan terakhir ini mulai kesulitan untuk berjalan cepat. Wanita itu bahkan gampang kelelahan meskipun sudah melangkah sangat pelan. Tapi meskipun begitu sepertinya jeny tidak pernah menghiraukanya. Wanita itu akan tertawa dan selalu mengatakan bahwa itu memang resikonya menjadi seorang istri.


“Sayang.. Kamu mau aku gendong?” Tanya tomy pelan.


Jeny berhenti melangkah kemudian menoleh dan menggelengkan kepalanya.


“Sayang tapi kamu kaya udah kelelahan banget..” Kata tomy menatap sendu wajah penuh peluh jeny yang memang sengaja jalan jalan pagi sembari berjemur.


“Iihh.. Nggak papa by.. Kan matahari pagi bagus buat aku, buat kamu juga.. Aku nggak capek capek banget kok. Cuma.. Ya sedikit ngap aja.” Balas jeny tersenyum.


Tomy hanya mampu menghela nafas. Pria tampan itu kembali menuntun tangan jeny kemudian mengiringi lagi langkah pelan wanita hamil itu.


Tomy terus diam dan hanya mendengarkan celotehan jeny saja. Pria itu hanya menanggapinya dengan kata Ya, hem, kemudian tawa kecil. Tomy tidak tau harus berkata apa untuk memuji segala ketulusan juga pengorbanan istrinya. Jeny rela tidak bisa tidur nyenyak di malam hari karna selalu kepanasan meskipun AC terus menyala. Jeny juga rela meninggalkan profesinya sebagai dokter demi kesehatan anaknya. Dan yang paling membuat tomy selalu merasa bersalah juga beruntung secara bersamaan adalah jeny rela berpisah dengan kedua orang tuanya demi mengikutinya. Terkadang tomy merasa apa yang dia lakukan untuk jeny selama ini tidaklah sepadan dengan pengorbanan yang sudah jeny lakukan untuknya.


“Eemm by.. Nggak lama lagi anak kita akan lahir..”


Tomy tersenyum dan menganggukan kepala mendengarnya. Tomy sangat menantikan hal itu. Tapi tomy juga menghindarinya. Tomy tidak mungkin bisa melihat istrinya kesakitan mempertaruhkan nyawa untuk kebahagiaanya.


“Aku seneng banget by..” Senyum jeny sambil mengusap usap perut besarnya.


“Sebentar lagi aku akan di panggil mamah.. Aku akan menjadi wanita yang sesungguhnya.. Meskipun aku memang belum ahli dalam memasak..”

__ADS_1


Jeny tertawa pelan di akhir katanya. Wanita cantik itu menertawakan dirinya sendiri yang sampai saat ini memang belum benar benar mahir dalam masak memasak.


Tomy tersenyum mendengarnya. Jeny bisa memasak atau tidak itu tidak terlalu penting untuknya. Karna yang paling penting dan selalu tomy utamakan adalah jeny betah dan nyaman hidup bersamanya.


Sekitar 20 menit berjalan mengelilingi kompleks tomy pun akhirnya mengajak jeny untuk pulang. Meskipun memang jalan jalan pagi di anjurkan oleh dokter sinta, namun jika terlalu lama berjalan sampai kelelahan juga pasti tidak akan baik untuk seorang wanita hamil seperti jeny.


Hari ini tomy sengaja menemani istrinya dari pagi sampai siang menjelang. Pria tampan itu ingin selalu ada di samping jeny selagi dirinya tidak sibuk. Tomy bahkan menyerahkan segala urusan pekerjaanya pada reyhan siang ini. Dan selama pekerjaan itu tidak menuntutnya harus benar benar hadir tomy akan lebih memilih menemani istrinya ketimbang berangkat ke kantor.


“Kalau sakit bilang ya sayang..” Kata tomy mengusap lembut kaki jeny yang ada di pangkuanya.


“Ya by.. Makasih yah kamu udah mau bantuin aku buat potong kuku..” Senyum jeny senang.


Tomy hanya tersenyum menanggapinya. Tomy bisa saja sebenarnya memanggil pegawai salon untuk melakukanya. Tomy juga bisa membayar berapapun yang di minta salon hanya untuk membantu memotongkan kuku jari kaki istrinya. Namun tomy sadar sebanyak apapun uang tidak akan bisa menggantikan perhatianya pada jeny. Dan lagi tomy ingin melakukan semuanya sendiri selama dirinya mampu.


Tomy menghela nafas. Beberapa kali tomy mengedipkan kedua matanya agar air mata yang menggenangi pelupuk matanya itu buyar dan akhirnya tidak menetes. Tomy tidak mau jeny tau bagaimana perasaanya saat ini.


“By...”


“Hem...” Saut tomy yang fokus dengan kaki jeny.


“Entah kenapa aku selalu merasa semua yang terjadi itu seperti mimpi.. Kita bersama sejak kecil.. Hingga akhirnya kita di jodohkan dan menikah.. Dan sekarang aku hamil bahkan sudah mau melahirkan. Lucu nggak sih menurut kamu?”

__ADS_1


Tomy menggelengkan kepalanya. Percintaanya dengan jeny memang tidak berjalan mulus. Mereka harus berpisah dengan waktu yang begitu lama. Jeny bahkan sempat membencinya bahkan ingin mengakhiri pernikahan itu. Tapi sekarang semuanya telah berakhir bahagia. Jeny mencintai tomy begitu juga sebaliknya.


“Lucu sih enggak sayang.. Cuma ya namanya hidup nggak semuanya bisa di dapatkan dengan instan kan?”


Jeny menganggukan kepalanya setuju.


Hidup adalah sebuah perjuangan. Dan perjuangan yang paling berat bagi jeny adalah meyakinkan dirinya juga hatinya sendiri. Jeny harus melawan keraguanya untuk terus bersama tomy. Tapi jeny juga pernah ingkar dengan rasa di hatinya saat membenci tomy.


“By.. Menurut kamu apa aku salah dulu selalu mengiyakan ajakan lorenzo?”


Pertanyaan jeny membuat tomy terdiam. Pria itu berhenti memotongi kuku jari kaki jeny kemudian menegakan kepalanya. Tomy menatap wajah cantik jeny yang menatapnya dengan serius menunggu jawaban atas pertanyaanya.


Tomy menelan ludahnya. Tomy tidak bisa menilai salah atau benar apa yang di lakukan jeny saat dirinya berada di ansterdam dulu. Karna tomy sendiri juga merasa salah karna telah meninggalkan istri tercintanya dengan waktu yang sangat lama.


“Aku juga salah meninggalkan kamu begitu lama sayang.. Aku percaya kamu bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Dan aku juga percaya alasan kamu menerima ajakan lorenzo hanya tidak menolak niat baik seseorang bukan?”


“Kamu nggak cemburu?” Tanya jeny lagi.


Tomy tertawa pelan.


“Cemburu itu adalah dinding benci di dalam rasa cinta sayang. Aku marah, aku bahkan sampai memaksa kamu untuk tinggal dan menempati rumah ini. Itu karna aku cemburu.. Aku pernah gagal menekan rasa benci itu bukan? Aku marah sampai kalap dan tanpa sadar aku menyakiti kamu. Menyakiti orang yang sangat ingin aku jaga dan lindungi..”

__ADS_1


Jeny tersenyum mendengarnya. Jeny tidak lagi merasakan sakit di hatinya meskipun bayangan bringasnya tomy menggagahinya masih begitu jelas. Jeny sudah menerima semuanya. Rasa kecewa dan sakit itu kini telah sirna berganti dengan rasa cinta dan bahagia.


“Eem.. Tapi kamu hebat loh malam itu.” Kata jeny mengedipkan sebelah matanya menggoda tomy.


__ADS_2