Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 289


__ADS_3

Reyhan menatap jengkel pada cindy yang baru saja keluar dari kosanya dan melangkah dengan gaya anggunya menuju mobil milik reyhan. Kesal sekali rasanya. Cindy hanya bertugas menemaninya mengawal maria agar tidak mengikuti tomy saat menjemput susan di bandara. Tapi yang malah mendapat untung adalah cindy. Wanita itu mendapat uang jajan dari tomy juga libur full sehari.


“Kenapa kamu natap aku begitu?” Tanya cindy ketika sudah masuk dan duduk di samping kemudi.


Reyhan melengos. Malas rasanya jika harus menjawab pertanyaan cindy. Namun reyhan tidak bisa memungkiri kali ini dirinya merasa tidak di adili oleh tomy.


“Kita jalan sekarang.” Katanya kemudian menghidupkan kembali mesin mobilnya.


“Oke..” Angguk cindy mantap.


Reyhan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen tomy yang di tempati maria. Kebetulan wanita itu tadi menelephone nya dan menyuruh reyhan untuk menjemput dan menemaninya belanja hari ini. Tapi sebenarnya reyhan juga sedikit was was wanita itu beralasan tidak membawa kartu debit, atau kreditnya lagi seperti saat itu.


“Rey, boleh tidak aku tanya sesuatu?” Tanya cindy dengan tatapan lurus ke depan ke jalanan ramai yang sedang di lewatinya bersama reyhan.


“Apa?” Tanya balik reyhan malas.


Cindy mengerutkan keningnya. Reyhan seperti sangat malas meladeninya.


“Nggak jadi.” Judes cindy melipat kedua tanganya di depan dada merasa kesal pada reaksi reyhan.


Reyhan menoleh sekilas kemudian berdecak pelan. Cindy memang sangat sensitif. Padahal wanita itu juga sangat suka meledek dan juga gampang sekali tertawa.


“Mau nanya apa cindy..?” Tanya reyhan yang tidak mau cindy berubah pikiran dan tidak mau menemaninya mengawal maria.


“Nggak.” Jutek cindy.


Reyhan menghela nafas. Wanita memang gampang sekali marah.


Dalam perjalanan menuju apartemen tomy baik cindy maupun reyhan keduanya sama sama diam dan tidak mau memulai lebih dulu percakapan di antara mereka. Cindy yang terus membuang muka dan reyhan yang fokus dengan kemudinya.


20 Menit perjalanan akhirnya mobil reyhan sampai tepat di depan gedung apartemen tempat maria tinggal. Pria itu segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi maria.


“Saya sudah di depan.” Katanya singkat kemudian segera memutuskan sambungan telephone nya tanpa berniat mendengar jawaban dari maria.


Cindy yang melihatnya menggeleng tidak percaya. Reyhan begitu sangat tidak sopan pada adik atasanya.


“Kamu sudah bosan kerja sama bos ya?” Tanya cindy tidak menyangka.

__ADS_1


Reyhan menoleh dan menatap cindy bingung.


“Maksudnya?”


Cindy menghela nafas. Reyhan belagak seperti orang bodoh yang tidak tau apa apa.


“Jangan pura pura bego reyhan. Kamu bersikap begitu sangat tidak sopan pada mbak susan. Kamu mau aku laporin ke bos biar di pecat?”


Reyhan melongo mendengarnya. Sedetik kemudian reyhan tertawa terbahak bahak bahkan sampai memukul mukul stir mobilnya. Rasanya sangat mustahil tomy memecatnya hanya karna reyhan tidak bersikap sopan pada maria.


Cindy yang melihatnya mengeryit bingung. Reyhan sama sekali tidak merasa takut dengan ancamanya.


“Reyhan aku serius. Aku bisa telephone bos sekarang.” Kata cindy membuat tawa reyhan langsung berhenti.


Reyhan kemudian menghela nafas. Tentang siapa maria memang hanya dirinya dan tomy juga jeny yang tau. Mungkin kedua orang tua bossnya juga tidak tau siapa sebenarnya susan yang ada di jakarta.


“Telephone saja. Saya tidak takut. Lagi pula bos juga nggak mungkin rela kehilangan asisten rajin seperti saya.”


Cindy memutar jengah kedua bola matanya mendengar reyhan yang begitu narsis. Sebenarnya cindy juga tidak sama sekali mempunyai niat melaporkan reyhan. Toh tidak ada untungnya juga untuk cindy. Yang ada cindy rugi karna akan kehilangan teman kerja yang murah hati seperti reyhan.


“Narsis.” Umpat cindy pada reyhan.


Cindy melirik reyhan yang berada di sampingnya. Pria itu sepertinya sama sekali tidak terpengaruh meskipun melihat cara berpakaian susan palsu yang kurang bahan.


Susan palsu atau maria masuk ke dalam mobil reyhan. Wanita itu mendudukan dirinya di kursi belakang dengan gaya bosinya. Ketika menyadari kehadiran cindy di samping reyhan susan palsu tertawa pelan.


“Dia pacar kamu reyhan?” Tanyanya dengan nada meledek.


Cindy yang mendengar itu mendelik tidak suka. Di liriknya reyhan yang tampak tidak perduli dengan pertanyaan meledek yang di lontarkan susan palsu atau maria.


“Mau kemana?” Tanya reyhan malas.


Cindy berdecak. Harusnya reyhan menjawab tidak agar adik bosnya tidak salah faham tentang hubunganya dengan cindy.


“Maaf sebelumnya, tapi saya ingin menjelaskan. Saya bukan pacarnya pak reyhan. Dan saya disini bertugas menemani pak reyhan mengawal anda mbak susan. Jadi tolong jangan berpikir berlebihan tentang saya dan pak reyhan. Hubungan kami hanya sebatas teman kerja saja tidak lebih dari itu.”


Maria mengeryit mendengar apa yang di jelaskan cindy padanya. Bukan tentang hubungan cindy dan reyhan, tapi tentang cindy yang bertugas menemani reyhan untuk mengawalnya.

__ADS_1


Reyhan berdecak pelan. Pria itu memejamkan matanya kesal. Apa yang di ucapkan cindy bisa saja membuat maria curiga.


“Bertugas menemani reyhan mengawal aku?” Tanya maria menyipitkan kedua matanya merasa curiga pada cindy juga reyhan.


Reyhan menggelengkan kepalanya. Mulut cindy memang sangat susah sekali di bungkam jika tidak dengan uang.


“Pak tomy hanya ingin perlindungan untuk kamu lebih ketat mbak susan.” Bohong reyhan memberi alasan.


Maria tersenyum mendengarnya. Wanita itu mengangguk merasa senang mendengar apa yang di katakan reyhan. Karna itu artinya tomy percaya dengan sandiwaranya.


“Oke.. Kita jalan sekarang. Ke mall yang paling besar disini yah.. Aku mau belanja.”


Mendengar kata mall ekspresi cindy langsung berubah. Kebetulan hari ini dirinya mendapat uang jajan yang tidak sedikit dari tomy.


“Ah kebetulan sekali, saya juga mau belanja.” Senang cindy.


Reyhan menoleh dan mendelik pada cindy seakan mengancam. Cindy yang mendapat pelototan dari reyhan langsung menciut. Senyuman senang di bibirnya sirna begitu saja.


“Sorry..” Gumamnya pelan.


Maria yang merasa aneh dengan tingkah kedua pekerja tomy hanya bisa menggelengkan kepalanya meremehkan.


“Sudahlah ayo jalan. Mau kalian pacaran atau bahkan mau menikah sekalipun itu bukan urusan aku.” Kata maria sombong.


Cindy ingin kembali membuka mulutnya namun langsung di tahan oleh reyhan dengan memelototinya sehingga cindy hanya bisa menghela nafas dan pasrah.


Sampai siang menjelang reyhan dan cindy terus mengikuti maria. Mereka membuntuti maria dari belakang yang langsung di manfaatkan maria dengan memerintah cindy dan reyhan agar membawakan barang belanjaanya.


“Nyesel aku ngikut kamu rey. Nggak bisa belanja tapi malah di suruh bawain belanjaan.” Dumel cindy dengan menghentak hentakan kakinya.


Reyhan hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya. Pria tampan berjambul itu hanya bisa diam dan tidak membalas dumelan cindy yang terus menyalahkanya demi bisa terus mengawasi maria.


Deringan ponsel dalam saku celana jins reyhan membuat reyhan berhenti melangkah. Pria itu mengeryit ketika mendapati nama tomy tertera di layar ponselnya. Tidak mau membuat atasanya menunggu reyhan pun segera mengangkat telephone tersebut.


“Hallo pak..”


Cindy yang merasakan capek pun mendudukan dirinya di sebuah kursi yang berada tepat di belakang reyhan berdiri.

__ADS_1


“Reyhan. Malam ini juga bawa maria ke rumah saya.”


__ADS_2