
Tomy melewati pagi nya dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibir nya. Sangat terlihat dengan jelas bahwa mood CEO mudan nan tampan itu sedang sangat baik. Tomy bahkan tidak marah meskipun cindy membuat kesalahan di berkas metting nya. Dan tomy juga tidak memarahi OB yang lupa membuang sampah yang ada di tong sampah di dalam ruangan nya.
“Reyhan.”
Reyhan yang hendak membuka pintu ruangan tomy menoleh ketika mendengar cindy memanggil nya. Sebuah keryitan muncul di kening nya ketika cindy melambaikan tangan mengisyaratkan reyhan agar mendekat padanya.
“Ada apa?” Tanya reyhan bingung dan masih berdiri di depan pintu ruangan atasan nya.
Cindy berdecak.
“Sini..” Gemas nya dengan kedua mata melotot menatap reyhan.
Reyhan menghela nafas. Pria tampan berjambul itu kemudian mendekat pada cindy yang menatap nya dengan tatapan kesal bercampur gemas.
“Ada apa cin?” Tanya reyhan malas.
“Kamu nggak tau apa? si boss lagi aneh hari ini.”
Reyhan mengeryit.
“Aneh kenapa?” Tanya nya bingung.
“Ya aneh aja. Tau nggak tumben banget dia nggak murka padahal aku tadi salah membuat berkas buat metting. Dan lagi tadi pagi juga ada OB lupa buang sampah yang ada di ruangan nya tapi dia nggak marah. Tau sendiri gimana temperamental nya tuh si bos. Aneh kan?” Cerita cindy tentang keanehan yang terjadi pada tomy pagi ini.
Reyhan mengeryit lagi. Terdengar aneh memang. Apa lagi tomy memang sosok yang gampang terpancing emosi jika menyangkut pekerjaan dan ketidak disiplinan.
“Ya bagus dong. Jadi kamu nggak dapat semprotan amarah dari pak tomy.” Kata reyhan tersenyum.
“Ya memang sih. Tapi kan aneh. Lebih ngeri malah kalau si boss begitu.” Ucap cindy bergidig ngeri.
Reyhan menggelengkan kepalanya. Terkadang memang sikap manusia membuat bingung. Baik salah, galak lebih salah.
“Ya udah. Aku masuk yah..” Senyum reyhan kemudian berlalu meninggalkan cindy.
Cindy bergidig lagi. Wanita cantik nan sexy itu merasa tidak biasa dengan sikap tomy pagi ini.
__ADS_1
“Permisi pak..”
Tomy menegakkan kepalanya ketika mendengar suara asisten nya. Seulas senyum terukir di bibir nya ketika mendapati reyhan yang berdiri tidak jauh dari meja kerjanya.
“Ya rey. Ada apa?”
Sasaat reyhan terdiam. Di tatap nya wajah berseri seri tomy yang memang tidak biasa.
“Ini pak. Saya mau menyerahkan berkas keuangan bulan ini.” Jawab reyhan menaruh map yang di bawanya di atas meja tomy.
“Oke.. Terimakasih.” Kata tomy masih dengan senyuman yang tersungging di bibir nya.
Reyhan menghela nafas pelan. Reyhan ingin mengatakan tentang pertemuan rachel dan lorenzo pagi ini sebenar nya, tapi reyhan takut jika apa yang di katakan nya membuat wajah berseri tomy sirna.
“Rey. Kenapa?”
Reyhan tersentak ketika mendengar suara berat tomy. Reyhan menelan ludah nya. Tomy pasti bisa membaca raut kebingungan di wajah nya.
“Oh iya. Bagaimana lorenzo pagi ini?” Tanya tomy lagi.
Pria tampan itu menyenderkan punggung nya santai di sandaran kursi kebesaran nya menatap reyhan dengan senyuman yang tak kunjung pudar dari bibir nya.
Tomy menganggukan kepalanya. Pria itu tersenyum semakin lebar merasa senang dengan apa yang di katakan oleh asisten nya.
“Tapi pak.. Pagi ini pak lorenzo tidak sengaja bertemu dengan mbak rachel.” Lanjut reyhan.
Senyum di bibir tomy langsung pudar. Sebuah keryitan muncul di kening nya.
“Bagaimana bisa?” Tanya tomy terlihat penasaran.
“Saya rasa itu karna kebetulan pak. Karna pak lorenzo yang tidak sengaja melempar buket bunganya mengenai kaki mbak rechel.” Jawab reyhan.
“Lalu?” Tanya tomy semakin penasaran.
“Lalu pak lorenzo membawa mbak rachel masuk berniat bertanggung jawab karna kaki mbak rachel sedikit tergores dan mengeluarkan sedikit darah. Pak lorenzo juga sempat memaksa dokter rani untuk mengobati mbak rachel.”
__ADS_1
Tomy menelan ludah nya. Rachel adalah wanita yang baik selama tomy mengenal nya. Tapi melihat sikap nya kemarin pada jeny bukan tidak mungkin jika rachel bisa menjelma menjadi sosok yang kejam. Terlebih sekarang rachel dan lorenzo bertemu. Jika keduanya saling mengenal itu pasti akan berakibat tidak baik bagi hubungan nya juga jeny.
Tomy menghela nafas. Di tatap nya reyhan yang juga sedang menatap nya.
“Rey, kamu pastikan rachel dan lorenzo selalu berada dalam pengawasan kamu. Dan laporkan apapun tentang mereka sama saya.” Kata tomy dengan nada tegas.
“Baik pak.” Angguk reyhan patuh.
“Oke. Kamu boleh kembali bekerja.” Kata tomy lagi.
“Ya pak. Saya permisi.”
Reyhan menganggukan kepalanya kemudian membalikan badanya dan berlalu keluar dari ruangan tomy.
Tomy berdecak setelah kepergian reyhan. Hubungan nya dan jeny baru saja membaik. Tapi kehadiran rachel membuat tomy mulai tidak tenang. Jika hanya lorenzo saja mungkin tomy bisa dengan mudah mengatasinya. Tapi rachel, tomy rasa semuanya tidak akan bisa dengan mudah dia atasi seperti mengatasi lorenzo.
Di tempat lain tepat nya di kediaman kedua orang tua jeny, jeny sedang berkutat di dapur dengan sang mamah. Jeny memang sengaja datang untuk melanjutkan belajar masak nya bersama sang mamah.
“Kamu kenapa nggak kerja sayang? Tumben banget loh.” Kata mamah jeny sambil mencuci sayur kangkung yang sudah di potonginya.
Jeny tersenyum. Entah kenapa tiba tiba saja jeny ingin mengikuti apa yang di katakan tomy. Jeny ingin mencoba apa yang biasa di lakukan mamah nya.
“Dan kamu juga dari dulu nggak pernah loh mau bantuin mamah di dapur. Tapi kok tiba tiba kamu pengin bisa masak. Kayak nya ada yang mamah nggak tau nih..” Senyum mamah jeny menggoda jeny yang sedang memotongi bawang.
“Mamah apaan sih. Emang nya nggak boleh apa jeny bisa masak? Jeny kan juga pengin jago masak kaya mamah..” Balas jeny malu malu.
Mamah jeny terkekeh. Sebulan belakangan hubungan tomy dan jeny memang berangsur angsur membaik. Keduanya terlihat sering bersama dan berkomunikasi dengan baik. Jeny bahkan terlihat tidak keberatan dengan panggilan sayang yang selalu di lontarkan tomy. Dan mamah jeny ikut senang dengan perubahan baik itu. Wanita cantik itu berharap hubungan jeny dan tomy langgeng dan selalu harmonis.
“Udah nih mah.. Mau di apain bawang nya?” Tanya jeny pada sang mamah.
Mamah jeny menoleh dan mendapati irisan bawang nya berbentuk tidak beraturan. Ada yang tipis juga ada yang sangat tebal. Terlihat sekali jika jeny tidak bisa melakukan nya.
Mamah jeny menghela nafas. Di raih nya pisau yang jeny letakan di samping talenan dimana irisan bawang itu berada.
“Jen.. Kalau ngiris bawang itu biasakan harus tipis yah. Jangan begini.” Kata mamah jeny memberitahu.
__ADS_1
Jeny menatap irisan bawang nya kemudian meringis. Bahkan mengiris bawang saja dirinya tidak bisa. Itu berarti jeny perlu belajar dari awal.
“Maaf mah.. Jeny nggak tau.”