Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 242


__ADS_3

Sarah dan leo berbincang dengan santai. Mereka berdua bahkan sesekali tertawa karna obrolanya yang di selingi candaan.


“Terimakasih atas waktunya pak leo. Dan semoga kerja sama kita membuahkan hasil yang baik.” Senyum sarah saat menjabat tangan leo.


“Ya bu sarah.” Balas leo tersenyum manis.


“Kalau begitu saya permisi.” Kata leo setelah melepaskan jabatan tanganya dengan sarah.


“Biar saya antar sampai depan pak..” Tawar sarah.


Leo hanya menganggukan kepalanya. Pria itu melangkah beriringan dengan sarah yang mengantarnya sampai depan pintu kaca utama gedung perusahaanya.


Sepeninggal leo sarah menghela nafas. Sarah merasa dunia sudah sangat sempit hingga sarah harus kembali bertemu dengan orang orang yang tidak sengaja di kenalnya.


Sementara itu di rumah sakit tomy dengan sangat terpaksa harus memanggil kembali para body guardnya untuk berjaga jaga di depan pintu ruang rawat istrinya. Bukan karna takut istri dan putranya terancam tapi karna banyak sekali para pemburu berita yang ingin meliputnya dan jeny. Mereka juga sangat penasaran dengan wajah tampan bayi bermarga besar bagaskara itu.


“By.. Memangnya apa salahnya sih kalau kita temui mereka? Toh mereka juga nggak akan macem macemkan sama aku? Kalau cara kamu begini kan yang ada aku nggak bakal bisa pulang sampai seminggu ke depan.”


Ucapan jeny di angguki kepala pertanda setuju dari kedua mamahnya. Mereka juga merasa sependapat dengan apa yang di ucapkan oleh menantu juga putrinya.


Tomy berdecak pelan kemudian menghela nafas. Pria itu mengusap lembut pipi gembul putra pertamanya dengan sangat lembut. Yah, tomy memang tidak pernah membiarkan bayinya tergeletak tenang di dalam baby boxnya. Tomy selalu mengayunya dengan bersenandung kecil saking senang dan bangganya bisa memiliki bayi di usianya yang masih cukup muda.


“Sayang.. Kamu nggak tau sih ganasnya paparazi. Aku takutnya tuh mereka nyenggol nyenggol anak aku.. Kan belum tentu juga mereka dalam keadaan bersih.. Misalnya mereka abis keringetan. Itu sangat tidak baik sayang buat anak kita..” Balas tomy beralasan.


Jeny menghela nafas merasa jengah dengan alasan yang selalu saja sama seperti kemarin. Jeny bukan tidak mau menurut pada suaminya. Jeny hanya merasa jenuh karna harus terus terusan berada di kamar rawat padahal dirinya sangat sehat juga bugar.


“Aku bosan disini tau.”


Dan sekali lagi kedua mamah cantik tomy dan jeny mengangguk setuju. Pasalnya keduanya juga terkurung tidak bisa pulang semenjak kemarin siang. Dan itu karna tomy yang terlalu lebay dalam beralasan.

__ADS_1


Tomy yang melihat kekompakan ketiga wanita itu hanya bisa diam. Sejujurnya tomy sedang menyiapkan kamar khusus untuk putranya yang memang belum sempat tomy siapkan selama jeny hamil. Tomy ingin memberikan kejutan pada istri juga putra kesayanganya.


“Aku mohon kalian mengerti..” Senyum tomy tipis.


Jeny berdecak sebal. Andai saja putranya pandai berbicara jeny pasti akan menyuruhnya untuk memohon pada tomy agar tomy mau menuruti apa yang di inginkanya.


Semenjak kabar bahagia jeny melahirkan putra pertamanya berhembus, para pemburu berita itu terus memenuhi parkiran depan rumah sakit tempat jeny bersalin. Mereka menunggu tomy dan jeny keluar dari rumah sakit itu dengan setia.


“Heran aku tuh.. Berita ini kan baik bukan skandal. Kenapa ya pak tomy terus mengurung diri di dalam ruang rawat istrinya..” Kata seorang pemburu berita sambil mengelap peluh yang membasahi keningnya akibat terik matahari yang menyengat.


“Entahlah.. Orang kaya memang menyusahkan.” Balas teman seperjuanganya.


Dari kejauhan mobil sarah berhenti. Wanita itu menghela nafas ketika mendapati para pemburu berita yang memadati halaman depan rumah sakit tempat jeny bersalin. Sarah sudah 2 kali ini datang ingin menjenguk jeny namun selalu terhalang karna banyak wartawan yang terus memadati halaman rumah sakit.


“Mamah kenapa sih olangnya banyak banget..” Kata elo dengan wajah sendu.


Sarah tersenyum dan mengusap lembut kepala putranya. Kasihan sebenarnya melihat putra kecilnya yang dari kemarin sudah sangat tidak sabar ingin melihat bayi tomy dan jeny.


Elo mengalihkan perhatianya dari para wartawan itu ke sarah. Wajah tampan anak laki laki itu memperlihatkan jelas kepolosanya.


“Mamah juga olang hebat kok menulut elo.”


Sarah tertawa mendengarnya. Putranya sangat polos namun juga sangat mengerti dan menyayanginya.


“Kalo mamah hebat berarti anak mamah harus lebih hebat yah.. Kamu kan laki laki kaya papah.. Jadi harus hebat..”


Ekspresi elo langsung berubah ketika mendengar apa yang di katakan oleh sarah. Anak kecil itu menghela nafas kemudian menundukan kepalanya lesu.


“Kalau elo halus hebat kaya papah belalti elo juga halus pukul pukul mamah? Elo nggak mau begitu mah.. Elo sayang sama mamah.. Elo pengin lindungi mamah..” Katanya.

__ADS_1


Senyum sarah langsung sirna mendengarnya. Sarah tidak menyangka jika ternyata elo memahami dan mengerti dengan apa yang di lakukan lorenzo padanya. Lorenzo memang tidak pernah kenal tempat jika marah dan memukul. Pria itu begitu ringan tangan meskipun berada di depan putranya.


“Mamah elo sayang sama papah meskipun papah seling pukul pukul mamah..” Sambung elo lagi.


Kedua mata sarah memanas mendengarnya. Elo sangat tulus menyayangi lorenzo. Dan di dalam lubuk hati sarah yang paling dalam sarah tidak pernah berhenti berharap lorenzo mau berubah dan menyayangi elo dengan sepenuh hati.


Tok tok tok


Sarah dan elo kompak menoleh ke arah samping dimana leo sudah berdiri dengan senyuman manis yang terukir di bibirnya di samping mobil sarah.


“Om leo..” Senyum elo senang.


Elo langsung mengulurkan tanganya dan langsung di sambut hangat oleh leo dan elo pun segera menyalimi leo.


“Pak leo..” Senyum sarah yang sama sekali tidak berniat turun dari mobilnya.


“Mobil aku tepat ada di belakang mobil kamu. Dan aku pikir mungkin kamu kesini juga mau jenguk jeny.” Kata leo.


Sarah mengangguk. Dirinya memang berniat menjenguk jeny dari kemarin. Tapi niat baiknya itu selalu terhalang karna para wartawan itu.


“Tadinya begitu pak. Tapi melihat banyaknya wartawan disana kayanya akan sulit untuk menerobos. Apa lagi mereka semua pasti tau saya temanya tomy dan jeny.” Senyum sarah tipis.


Leo mengangguk. Tomy memang bukan orang sembarangan. Bisnisnya yang begitu maju membuatnya seperti publik figur yang akan selalu di buru oleh para wartawan. Contohnya saat kecelakaan yang di rencanakan lorenzo, beritanya langsung menyebar dan membuat tomy susah keluar dari rumah sakit setelah mendapat penanganan. Leo memang tidak perduli saat itu karna tomy adalah daftar orang yang leo benci karna masalah fani.


“Ya juga ya..”


“Lalu menurut kamu baiknya bagaimana?” Tanya leo pada sarah.


Sarah mengerjap ngerjapkan kedua matanya mendengar pertanyaan leo. Pria yang sekarang menjadi rekan bisnisnya itu sedang bertanya padanya tentang bagaimana baiknya menjenguk jeny seolah mereka memang janjian untuk menjenguk jeny bersama.

__ADS_1


“Eemm.. Mungkin saya tunda dulu saja pak menjenguk jeny nya.”


__ADS_2