
Jeny tersenyum menatap suaminya yang sedang menggendong putranya. Padahal putranya sedang terlelap tapi sepertinya tomy tidak bisa lepas dari bayi itu. Tomy selalu mengayunya meskipun mungkin badanya sendiri terasa pegal karna seharian bekerja di kantor.
“By.. Kamu nggak capek?” Tanya jeny yang sedang duduk di tepi ranjang menatap suaminya yang mondar mandir di depanya.
“Capek kenapa?” Tanya balik tomy mengeryit bingung.
“Ya capek.. Kan kamu seharian kerja.. Terus ini sudah hampir larut tapi kamu terus saja menggendong faraz.” Jawab jeny.
Tomy tertawa mendengarnya. Tomy sendiri tidak tau kenapa rasa capek dan pegal di seluruh tubuhnya terasa langsung sirna jika melihat wajah tampan putranya.
“Nggak sayang..”
Jeny tersenyum lagi mendengarnya. Mungkin karna terlalu semangat sehingga tomy melupakan rasa lelah yang mendera tubuhnya.
Deringan ponsel tomy membuat perhatian jeny teralihkan. Wanita itu menoleh ke arah nakas dimana ponsel mahal suaminya berdering dan bergetar disana. Tau suaminya tidak akan perduli jeny pun bangkit dari duduknya dan meraih ponsel tomy.
“By mamah kamu telephone..”
Tomy berhenti menciumi pipi gembul putranya kemudian menaruh tubuh gempalnya dengan sangat pelan dan hati hati ke ranjang bayi yang berada tidak jauh dari ranjangnya. Faraz memang belum menempati kamarnya sendiri karna menurut tomy dan jeny bayi itu masih harus selalu berada dekat denganya. Saat hendak tidurpun jeny memindahkan faraz agar tidur di sampingnya. Tepatnya di tengah tengah antara dirinya dan tomy.
Tomy menghampiri jeny kemudian menerima ponsel yang di sodorkan oleh istrinya itu. Senyumnya mengembang ketika melihat nama sang mamah tertera disana. Tomy dapat dengan mudah menebak kedua orang tuanya pasti akan menanyakan tentang cucu pertamanya itu.
“Halo mah..”
“Tomy kamu dimana nak?”
Senyum di bibir tomy langsung pudar ketika mendengar pertanyaan aneh yang di lontarkan oleh mamahnya. Wanita itu jelas jelas pasti tau tomy berada di rumah.
“Ada apa mah?” Tanya tomy merasa bingung.
“Ya tuhan.. Tomy susan..”
__ADS_1
Tomy melirik jeny yang terus menatapnya. Pria tampan itu tersenyum kemudian mengusap lembut pipi chuby istrinya.
“Sayang, aku keluar sebentar yah.. Aku takut faraz terganggu dengan obrolan aku dan mamah..” Katanya.
Jeny menganggukan kepala dengan senyuman di bibirnya. Jeny tidak menaruh kecurigaan apapun pada suaminya. Jeny percaya pada suaminya yang memang tidak ingin membuat putra sulung mereka terganggu dengan obrolanya.
Tomy keluar dari kamarnya menuju balkon. Pria itu kemudian kembali menempelkan benda pipih itu ke telinga kananya.
“Kenapa dengan susan mah..?” Tanyanya pelan juga khawatir.
“Nak.. Susan tadi telephone mamah.. Dan dia bilang akan pulang ke indonesia besok..”
Tomy terdiam. Tomy tidak tau harus senang atau tidak mendengar adik bungsunya itu akan kembali. Padahal tomy pikir susan sudah betah tinggal dan di anggap anak oleh adik papahnya. Tomy memang sangat menyayanginya tapi ketika tau susan menentang pernikahanya dengan jeny tomy menjadi sedikit kesal pada adiknya itu.
“Susan juga bilang pernah menghubungi jeny tapi jeny malah meledeknya dan tidak percaya bahwa dia adik kamu..”
Tomy menelan ludahnya. Tomy tidak pernah menceritakan apapun tentang susan sehingga wajar jika jeny tidak percaya bahwa susan adalah adiknya. Dan lagi tomy merasa tidak perlu menceritakan apapun pada jeny mengingat apa yang pernah di lakukan adiknya itu.
“Tomy, bagaimana ini?” Tanya mamah tomy dengan nada khawatir.
“Mamah tenang saja. Mungkin susan kembali karna merindukan mamah sama papah..” Kata tomy mencoba untuk menenangkan mamahnya.
“Nggak nak.. Mamah nggak bisa tenang. Susan jelas jelas sangat terobsesi sama kamu.. Mamah takut susan melakukan sesuatu yang membuat kamu dan jeny berantem..”
Tomy memejamkan kedua matanya. Tomy tau itu karna beberapa kali susan menyambanginya di amsterdam. Susan bahkan pernah hendak mencelakai rachel hingga akhirnya harus mendekam di penjara untuk beberapa bulan. Dan mungkin sekarang susan sudah di bebaskan.
“Ini semua salah mamah nak.. Harusnya mamah dulu nggak ngizinin om dan tante kamu bawa susan..” Tangis mamah tomy menyesal.
Tomy tidak bisa berkata apa apa. Perbuatan mamahnya memang salah dulu karna melepaskan begitu saja anak bungsunya. Tapi mamahnya mempunyai alasan kenapa melakukan itu. Dan yang jelas alasan itu adalah demi kebaikan susan.
Tomy menyaksikan sendiri bagaimana mamahnya yang hampir gila karna kehilangan susan. Tapi sayangnya saat keuangan mereka membaik susan sudah tidak mau lagi bersama mereka dan lebih memilih tetap bersama om dan tantenya.
__ADS_1
“Mamah nggak perlu nyalahin diri mamah sendiri.. Tomy tau mah saat itu memang itu yang terbaik..”
Mamah tomy tidak lagi membalas. Wanita itu menangis terisak di seberang telephone.
“Mamah takut nak.. Mamah takut papah kamu akan syok jika melihat sikap adik kamu..” Tangis mamah tomy.
Tomy sendiri tidak tau harus bagaimana saat ini. Susan sangat berbeda dengan mamah dan papahnya sekarang. Padahal saat kecil susan sangat manis dan penuh kasih sayang.
“Mamah tenang yah.. Tomy yang akan mengatasi susan nanti.. Mamah nggak perlu khawatir karna susan akan tinggal sama tomy sama jeny..”
“Nggak nak.. Nggak.. Mamah tidak mau susan menghancurkan rumah tangga kamu dan jeny..” Tolak mamah tomy tidak setuju.
“Mamah nggak perlu memikirkan yang tidak tidak.. Tomy dan jeny pasti bisa mengatasi susan.. Percaya sama tomy mah..”
“Nak tapi...”
“Mah.. Kalau susan disitu papah pasti akan sangat terpukul melihat sikapnya. Tomy nggak mau papah drop.. Mamah juga nggak mau kan itu terjadi?”
Isakan mamah tomy semakin jelas terdengar menyayat hati tomy. Tomy benar benar merasa sakit mendengar isak tangis memilukan mamahnya. Dan semua itu karna adiknya, susanti bagaskara.
“Ya sudah mending sekarang mamah istirahat yah.. Mamah harus tetap tenang.. Percaya sama tomy sama jeny..”
“Ya sudah nak.. Tapi sebelum susan benar benar sampai di jakarta kamu lebih baik kasih tau jeny dulu semuanya nak..”
Tomy tersenyum mendengarnya. Pria itu yakin bisa menangani susan jika bekerja sama dengan istrinya.
“Itu pasti mah..”
“Ya sudah mamah tutup telephone nya yah.. Selamat istirahat sayang. Salam dari mamah untuk jeny dan cucu mamah..”
“Ya mah..” Angguk tomy.
__ADS_1
Tomy menurunkan ponsel yang sedari tadi dia tempelkan di telinganya. Tomy pikir susan sudah melupakan perasaanya setelah apa yang tomy lakukan dengan menjebloskan susan ke dalam penjara. Tomy bahkan dengan sangat berat hati memenjarakan adiknya sendiri demi membuat susan membencinya dan melupakan rasa cintanya yang jelas jelas terlarang.
“Aku harus segera kasih tau jeny sebelum susan tiba di jakarta.”