
Tok tok tok
Dokter axel baru saja hendak masuk ke dalam ketika suara ketukan pintu terdengar. Pria berkemeja putih tulang itu kemudian menoleh dan terdiam saat menemukan jeny dan tomy yang sudah berdiri di ambang pintu utama rumahnya yang terbuka.
“Pak tomy.. Dokter jeny..” Lirihnya.
Dokter axel menelan ludahnya. Pria itu yakin jeny dan tomy pasti melihat atau bahkan mendengar perdebatanya dengan angel beberapa menit lalu.
“Selamat siang dokter, Boleh kami berdua masuk?” Senyum ramah jeny pada dokter axel.
Dokter axel tersadar ketika jeny menyapa dan bertanya boleh atau tidaknya mereka berdua masuk. Pria tampan itu kemudian mengangguk dengan senyuman di bibirnya.
“Ah ya.. Selamat siang. Dan silahkan masuk.”
Dokter axel kembali melangkah menuju sofa. Dengan ramah pria itu mempersilahkan jeny dan tomy untuk duduk.
“Apa kabar dokter?” Tanya tomy begitu mereka sudah duduk berhadapan di sofa ruang tamu.
Sesaat dokter axel terdiam. Kabarnya jauh dari kata baik. Karna bayangan fani terus saja berada di depan matanya. Juga angel yang selalu datang dan mengganggunya.
“Seperti yang anda lihat pak tomy..” Jawab dokter axel tersenyum hambar.
Jeny dan tomy saling menatap sesaat. Dokter axel sangat kurus. Wajahnya pun pucat dengan lingkaran hitam di sekitar matanya pertanda pria itu tidak pernah bisa memejamkan matanya akhir akhir ini.
“Dokter..”
Jeny langsung menatap dokter axel yang memanggilnya.
”Jeny saja dokter..” Senyum wanita itu.
“Baiklah.. Jeny, saya sangat berterimakasih sama kamu.. Kamu sudah memberikan apa yang tidak pernah di dapatkan oleh fani.. Dan kamu juga sudah sangat menyayanginya menutupi rasa haus kasih sayang yang fani harapkan dari mamah kandungnya. Saya tidak tau harus bagaimana membalas kebaikan kamu.”
Jeny terdiam. Rasa sesak itu kembali menghimpit hatinya. Fani memang bukan anak kandungnya. Tapi rasa sayang jeny tulus pada gadis kecil itu. Dan jeny tidak pernah mengharapkan apapun dari dokter axel atas apa yang di berikanya pada fani.
__ADS_1
“Dokter.. Saya menyayangi fani dengan tulus.” Balas jeny.
Dokter axel tersenyum dan menganggukan kepalanya.
“Saya tau itu.. Kamu wanita yang baik.” Puji dokter axel.
Tomy tersenyum. Entah kenapa rasa bangga selalu menghampiri dan menguasai hatinya. Bahkan mungkin rasa bangga itu bisa menjadi rasa sombong jika tomy tidak menyadari siapa dirinya. Jeny membuatnya merasa sempurna. Jeny membuatnya seperti pria hebat yang mampu menaklukan malaikat.
”Axel...”
Suara bergetar seorang wanita membuat dokter axel langsung mengarahkan pandanganya ke arah pintu begitu juga dengan tomy dan jeny.
“Mommy..” Lirih dokter axel tidak percaya.
Di ambang pintu tempat jeny dan tomy tadi berdiri kini berdiri sosok wanita cantik yang sangat mirip dengan dokter axel. Wajah wanita cantik itu basah oleh air mata dengan bibir bergetar serta hidung mancungnya yang memerah. Tidak hanya itu. Kedua matanya pun sembab.
Dokter axel langsung bangkit dan berlari memeluk wanita itu erat. Tangis dokter axel pecah di pelukan wanita itu.
Jeny dan tomy yang melihatnya hanya diam saja. Mereka bisa menebak bahwa wanita itu adalah orang tua dokter axel karna dokter axel menyebut mommy begitu wanita itu muncul.
“By..”
“Sstt.. Jangan menangis. Kamu wanita kuat sayang... Kamu wanita yang hebat..” Bisik tomy mengusap air mata yang membasahi pipi chuby jeny penuh kelembutan.
“Dimana cucu mommy? Dimana dia axel? Jawab mommy?!”
Wanita itu melepaskan paksa pelukan dokter axel. Dengan meraung menangis wanita itu bertanya pada dokter axel. Bahkan wanita itu juga memukul mukul dada bidang dokter axel menuntut jawaban atas keberadaan cucunya.
Dokter axel tidak bisa menjawab. Pria itu hanya menangis dan terus menundukan kepalanya. Mommy nya memang belum sempat bertemu langsung dengan fani. Wanita itu hanya mengobrol lewat video call. Itupun jika sedang tidak sibuk.
“Kamu jahat.. Kamu jahat axel.. Hu hu hu..”
Tubuh wanita itu meluruh ke lantai yang langsung di tubruk oleh dokter axel. Tangisanya begitu keras hingga nafasnya ikut tersengal karna isakanya.
__ADS_1
Jeny yang mencoba untuk bertahan dan tidak menangis akhirnya tidak kuat. Tangis nya pecah dan langsung memeluk tubuh tomy yang ada di sampingnya erat. Ternyata banyak yang merasa kehilangan gadis kecil itu. Gadis yang tidak berdosa yang semasa hidupnya tidak pernah mendapat kasih sayang tulus dari ibu kandungnya.
“Maafkan axel my.. Maaf.. Axel nggak bisa apa apa.. Axel bukan tuhan.. Axel nggak bisa mengubah garis takdir..” Tangis axel memeluk tubuh bergetar mommy nya.
”Hu hu huu...Ya tuhan.. Cucuku...”
Berlahan tangis mommy dokter axel mulai mereda. Wanita itu tidak pernah sedikitpun membayangkan cucunya akan dengan cepat pergi. Padahal belum pernah sekalipun dirinya bertemu dan mendekap langsung tubuh fani. Wanita itu tidak pernah sempat berkunjung. Begitu juga dengan dokter axel yang tidak pernah berani membawa fani pergi dengan jarak yang jauh.
“Mom.. Kita harus ikhlas.. Axel tau dan axel merasakan sendiri bagaimana beratnya cobaan ini.. Tapi apapun itu kita harus menerimanya..” Lirih axel sambil mengusap air mata yang membasahi kedua pipi tirus mommy nya.
”Axel juga merasa sangat kehilangan mom.. Fani, dia anak axel.. Dia satu satunya harapan terbesar axel..” Lanjut dokter axel.
Wanita cantik itu akhirnya menganggukan kepalanya. Dia sadar putranya hanya manusia biasa. Pangkatnya sebagai dokter bukan jaminan untuk putranya bisa menyembuhkan segala penyakit termasuk penyakit cucunya.
“Ya tuhan...” Lirih mommy dokter axel memejamkan kedua matanya.
“Maafkan mommy.. Mommy salah.. Mommy selalu sibuk sampai nggak pernah ada waktu untuk datang kesini..”
Axel menganggukan kepalanya. Pria tampan itu paham bagaimana posisi mommy nya yang sebagai single parent.
Setelah semuanya tenang termasuk jeny, mereka akhirnya duduk bersama di ruang tamu. Dokter axel dengan sigap membuatkan minuman untuk di suguhkan meskipun hatinya dalam keadaan hancur.
“Mom.. Ini dokter jeny.. Dia rekan kerja axel di rumah sakit.. Dia juga mamah angkat fani.” Kata dokter axel mengenalkan jeny pada mommy nya.
“Dan yang di sampingnya, dia suaminya. Pak tomy.” Lanjut dokter axel sembari tersenyum menatap tomy yang duduk di samping jeny.
Mommy dokter axel tersenyum dan menganggukan kepalanya. Wanita dengan dress maroon selutut itu menatap jeny dari atas sampai bawah.
“Kamu cantik.. Dan saya yakin hati kamu secantik wajah kamu..” Puji mommy dokter axel tersenyum pada jeny.
“Tante terlalu berlebihan.” Senyum jeny merasa tidak enak.
Tomy tersenyum. Bukan hanya dirinya yang mengakui dengan bangga kebaikan istrinya. Mommy dokter axel bahkan yang baru pertama kali bertemu dengan jeny pun memuji kecantikan juga kebaikan istrinya.
__ADS_1
“Pak tomy.. Anda sangat beruntung mempunyai istri seperti dokter jeny. Tidak seperti putra saya.. Dia salah melabuhkan hati dan cintanya.”