
Tomy menghentikan mobilnya tepat di depan gedung rumah sakit. Pagi ini tomy mengantar jeny untuk kembali bekerja sebagai seorang dokter seperti biasanya. Jika boleh jujur tomy sebenarnya tidak mau jeny bekerja. Tomy sudah cukup mapan bahkan sangat mapan. Dan menurut tomy jeny sudah tidak perlu lagi bekerja sendiri. Jeny bisa bersantai atau menghabiskan waktunya untuk shopping dengan segala fasilitas yang tomy berikan.
“Tom.. Kenapa?” Tanya jeny menatap bingung pada tomy.
“Nggak papa..” Jawab tomy tersenyum.
Jeny menghela nafas. Meskipun tomy tidak mengatakanya secara langsung tapi jeny tau apa yang sedang di pikirkan oleh suaminya.
“Sayang nanti siang aku jemput kamu yah.. Dan kamu juga jangan terlalu kecapek an. Ingat kamu lagi hamil anak aku.”
Jeny terkekeh mendengarnya. Tomy seakan sedang menegaskan bahwa yang sedang jeny kandung adalah miliknya.
“Dia anakku juga tomy..” Tawanya.
“Ya. Anak kita.” Sambung tomy.
Jeny menganggukan kepalanya. Anak tomy adalah anaknya. Anak mereka berdua. Karna tomy yang memberikan benih nya di dalam rahim jeny.
“Ya sudah kalau begitu aku turun yah.”
Tomy menganggukan kepalanya menjawab. Pria tampan itu kemudian mengulurkan tanganya yang langsung di salimi oleh jeny.
“Kamu hati hati yah.” Senyum jeny kemudian mengecup singkat pipi tomy dan turun dari mobil mewah pria itu.
Tomy terdiam. Ini kedua kalinya jeny berinisiatif menciumnya lebih dulu. Yang pertama jeny menciumnya karna tomy mengizinkanya menemui lorenzo. Dan pagi ini yang kedua karna tomy mengizinkan wanita cantik itu untuk kembali bekerja sebagai seorang dokter.
Tomy menghela nafas. 2 ciuman singkat itu membuat tomy merana. Tomy ingin jeny menciumnya karna cinta bukan karna sesuatu sebagai imbalan baginya. Tomy ingin jeny menciumnya karna perasaan tulusnya.
“Sabar tomy.. Sabar. Semuanya butuh proses.” Gumam tomy.
Sekali lagi tomy menghela nafas. Pria tampan itu menoleh dan menurunkan kaca mobilnya. Jeny sudah tidak lagi tampak di pandangan matanya. Itu artinya wanita cantik itu sudah masuk ke dalam gedung tersebut.
Tomy tersenyum. Tomy selalu berharap semua yang terbaik untuk hubunganya dan jeny.
Tomy kembali menutup kaca mobilnya. Pria itu menghidupkan mesin mobilnya kemudian berlalu dengan kecepatan sedang.
“Jeny...”
Jeny menoleh. Dokter cantik itu tersenyum ketika mendapati dokter sela memanggil dan tersenyum kepadanya.
“Dokter sela..”
__ADS_1
“Bagaimana keadaan kamu sekarang?” Tanya dokter sela ramah pada jeny.
Jeny tersenyum. Rani bilang dokter sela lah yang memeriksanya kemarin. Dokter sela adalah dokter spesialis kandungan. Wanita cantik berambut sebahu itu adalah salah satu rekan jeny juga. Meskipun tidak sedekat rani. Usianya juga mungkin sama dengan rani. Hanya saja dokter sela masih lajang tidak seperti rani dan jeny yang sudah berkeluarga.
“Aku baik dok..” Senyum jeny menjawab.
“Syukurlah.. Oya jen. Kamu jangan panggil aku dokter dong. Kita udah lama kenal. Panggil saja aku sela.”
Jeny tekekeh. Rasanya tidak sopan jika dirinya langsung memanggil dokter sela dengan menyebut namanya.
“Baiklah kak sela.”
“Kak sela?” Keryit dokter sela bingung.
“Kak sela lebih senior dari aku. Nggak papa kan kalau aku panggil kak?” Tanya jeny dengan senyuman manisnya.
”Oh baiklah. Itu jauh lebih terdengar santai dari pada panggil dokter sela.”
Jeny terkekeh lagi. Ternyata dokter sela tidak jauh berbeda dengan rani.
“Ya sudah aku ke ruangan aku dulu yah.. Kamu jangan terlalu banyak menguras tenaga kamu. Ingat ada baby di perut kamu. Dan selamat sekali lagi. Doakan aku supaya cepat memilikinya.” Kata dokter sela kemudian berlalu tanpa mau mendengar balasan dari jeny.
Jeny menghela nafas kemudian menggelengkan kepalanya. Wanita dengan rambut di cepol itu kemudian masuk ke dalam ruanganya. Ini pertama kalinya jeny kembali bekerja setelah cuty beberapa harinya.
Jeny meletakan tas selempang nya di atas meja kemudian mengenakan jas putihnya. Jeny terdiam sesaat. Jeny sebenarnya masih tidak menyangka jika dirinya hamil. Tomy hanya melakukanya sekali. Tetapi benih yang di tuainya langsung tumbuh dengan subur di dalam diri jeny.
Jeny menunduk. Dengan lembut di sentuhnya perut ratanya. Jeny tersenyum. Mungkin kehamilanya adalah salah satu cara tuhan untuk mempersatukanya dengan tomy.
Berlahan senyum jeny mengembang. 8 bulan bukanlah waktu yang singkat. Dan selama 8 bulan ke depan jeny akan menjadi ibu hamil. Jeny terkekeh membayangkan perutnya yang akan membuncit serta tubuh rampingnya yang akan melar.
“Sehat sehat ya anaknya papah..” Gumam jeny sambil terus mengusap usap perutnya.
Ya. Janin yang berada dalam kandunganya memang anak tomy. Karna jeny hanya melakukanya dengan pria tampan itu.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu berhasil mengalihkan perhatian jeny. Wanita cantik itu mengeryit.
“Apa itu kak lorenzo?” Gumam jeny bertanya tanya.
Jeny benar benar sedang tidak ingin bertemu dengan pria bermata sipit itu sekarang. Pria itu sangat keras kepala dan ngeyel. Itu yang membuat jeny mulai merasa malas meladeninya.
__ADS_1
Suara ketukan pintu kembali terdengar dan jeny masih tetap berdiri di tempatnya. Jeny enggan membuka pintu karna tidak ingin bertemu dengan lorenzo dan kembali membahas tentang perasaan pria bermata sipit itu padanya.
“Dokter.”
Kepala botak fani muncul dari celah pintu ruangan jeny yang dibukanya. Gadis kecil itu menatap polos pada jeny yang tampak terkejut karnanya.
“Fani?”
Jeny langsung mendekat pada fani dan membantu membukakan pintu ruanganya.
“Masuk sini..”
Jeny menuntun fani masuk kemudian mendudukan gadis kecil tidak berambut itu di kursi di depan meja kerjanya.
“Dokter kemana saja? Kenapa baru kesini?” Tanya fani menatap jeny polos.
Jeny tersenyum. Wanita itu mengusap lembut bahu gadis kecil berkepala botak tersebut penuh sayang.
“Aku sedikit sibuk kemarin.” Jawab jeny tersenyum.
Fani menganggukan kepalanya.
“Kemarin ada kakek sama nenek dokter. Mereka kesini njenguk aku.” Kata fani antusias.
Jeny menghela nafas. Seulas senyum kembali terukir di bibirnya. Jeny sangat merasa iba pada anak kecil itu. Fani tidak pernah di perdulikan oleh kedua orang tuanya. Adapun kakek dan nenek nya mereka hanya datang jika sedang dalam keadaan sehat.
“Syukurlah.. Aku seneng dengernya. Bagaimana keadaan mereka?”
“Mereka baik baik saja dokter. Nenek terlihat cantik dengan gaya rambut barunya kemarin.” Jawab antusias fani.
Jeny tertawa mendengarnya. Wanita tua itu memang sangat royal dan centil.
“Dokter..” Panggil fani pelan.
“Ya..” Saut jeny sembari mengusap pipi tirus gadis berwajah pucat dengan lingkaran hitam di sekitar mata belonya.
“Kapan aku bisa pulang?”
Jeny terdiam. Jeny tidak tau harus menjawab apa. Keadaan gadis kecil itu sangat tidak memungkinkan untuk pulang. Di tambah kedua orang tuanya yang selalu sibuk. Sedangkan kakek dan neneknya sering jatuh sakit.
“Nanti kamu pasti pulang kok. Kalau mamah sama papah kamu sudah tidak sibuk lagi.”
__ADS_1