Cintai Aku

Cintai Aku
Episode 213


__ADS_3

Jeny menatap tomy yang tertidur setelah meminum obat. Badan pria itu demam dan terus menggigil setelah dokter axel dan leo juga angel pulang. Jeny menyentuh lembut pipi tomy. Jeny tidak menyangka jika tomy sampai mau menahan luka yang begitu parah di perutnya demi memenuhi janji padanya. Padahal jika tomy tidak menepatinya pun dan memilih untuk lebih dulu ke rumah sakit jeny bisa mengerti.


Jeny menghela nafas. Tomy pasti sangat berjuang demi bisa melumpuhkan lorenzo dan menghentikan kejahatan pria bermata sipit itu. Beruntung dokter axel dan leo mau ikut serta membantu sehingga tomy bisa menangani lorenzo. Meskipun memang tomy tetap terluka sekarang.


“Tuhan.. Tolong sembuhkan suamiku..” Lirih jeny merasakan kedua matanya memanas serta pandanganya mengabur karna air mata yang menggenangi kelopak matanya.


Jeny sangat tidak tega melihat wajah suaminya yang begitu pucat. Demamnya juga belum kunjung turun dan tubuhnya terus menggigil meskipun jeny sudah merangkap sampai 2 selimut untuk menutupi tubuh suaminya sampai batas leher.


“Permisi bu..”


Jeny menoleh dan tersenyum menatap bibi yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya. Jeny tau wanita itu pasti akan kembali mengingatkanya untuk makan malam.


“Bi saya nggak lapar..” Katanya pelan.


Bibi menghela nafas pelan. Wanita tua itu tau jeny mungkin tidak berselera makan karna sedih melihat keadaan suaminya sekarang. Tapi bagaimanapun juga jeny tetap harus makan. Jeny sedang hamil tua dan asupan makanan bergizi sangat penting untuknya juga anak dalam kandunganya.


“Bu.. Bapak pasti akan marah dan khawatir jika tau ibu tidak makan.. Dan sekarang sudah sampai 2 jam ibu telat makan malam..” Kata bibi menatap jeny sendu.


Jeny memejamkan kedua matanya. Tomy memang selalu marah padanya jika tau jeny telat makan.


“Saya bawakan kesini ya bu..?” Tanya bibi kemudian.


Jeny tersenyum menatap asisten rumah tangganya. Wanita itu begitu telaten dan sangat perhatian padanya. Jeny menganggukan kepalanya pelan menjawab pertanyaan bibi.


“Baik, sebentar biar saya ambilkan bu..”


“Bibi.. Terimakasih..” Lirih jeny.


“Sama sama bu.. Saya permisi ke bawah dulu..” Senyum bibi menganggukan kepalanya kemudian berlalu keluar dari kamar jeny untuk mengambilkan makanan.


Jeny kembali menoleh dan menatap wajah damai suaminya. Entah kenapa hanya karna luka sayatan tomy bisa sampai demam tinggi bahkan menggigil.


“Apa mungkin ada racun di pisau lorenzo..” Gumam jeny.

__ADS_1


Jeny terdiam. Luka yang bisa menyebabkan demam tinggi bahkan infeksi biasanya karna kandungan racun di pisau yang menyayatnya. Kalaupun tidak bercun pisau itu pasti berkarat. Tapi tidak mungkin jika lorenzo menggunakan pisau berkarat.


Deringan ponsel membuat jeny tersentak. Wanita cantik itu menoleh ke arah nakas dan segera meraih benda pipih miliknya. Jeny langsung mengangkat telephone yang ternyata dari dokter axel.


“Halo dokter..”


“Ya jeny. Bagaimana keadaan pak tomy?” Tanya dokter axel tanpa basa basi.


Jeny terdiam. Mungkin akan lebih baik jika jeny meminta tolong pada dokter axel karna pria itu pasti bisa dengan mudah mengetahuinya tanpa lebih dulu mengetesnya. Sedangkan dirinya, untuk naik turun tangga mengambil peralatan di klinik saja langkahnya harus pelan.


“Dokter, Suami saya demam tinggi. Tubuhnya juga terus menggigil sejak sore tadi. Saya curiga pisau yang di gunakan lorenzo beracun..” Kata jeny memberitahu.


“Apa?” Tanya dokter axel pelan.


“Kalau dokter tidak sibuk, tolong dokter periksa kembali luka suami saya. Saya takut akan berefek buruk dokter..” Lirih jeny menahan tangis.


Di seberang telephone dokter axel menghela nafas. Dan sayup sayup jeny mendengar angel yang sedang bertanya pada dokter axel tentang apa yang terjadi.


“Kamu jangan khawatir. Sebentar lagi saya kesana. Jangan menangis. Pak tomy pasti akan baik baik saja.”


Sambungan telephone terputus. Jeny tidak bisa menahan air matanya. Jeny takut luka tomy membahayakan. Jeny takut suaminya kenapa napa karna sampai saat ini demam tomy belum juga turun. Padahal jeny sudah mengompresnya juga sudah memberikanya obat demam. Tapi sepertinya obat demanya tidak ada efek apapun pada kondisi suaminya. Demam tomy tetap tinggi.


“Bu... Ini makananya saya taruh disini ya bu.. Di abisin ya bu.. Biar dede bayinya sehat. Dan mbak sisi juga sudah bikinin susunya..” Kata bibi sambil menaruh nampan dimana di atasnya terletak sepiring nasi dengan sayur dan lauk juga segelas susu dan air putih.


“Makasih ya bi..” Senyum jeny.


“Ya bu.. Saya permisi..”


Jeny menghela nafas. Di usapnya air mata yang membasahi pipinya. Jeny kemudian meraih segelas air putih dan meminumnya sedikit. Apa yang di katakan bibi memang benar, dirinya tidak boleh telat makan agar terus mendapat asupan gizi demi bayi yang sedang di kandunganya.


Jeny mulai memakan makananya. Wanita itu harus selesai makan sebelum dokter axel tiba di rumahnya.


“Ada apa dokter? Apa terjadi sesuatu pada pak tomy?” Tanya angel ketika melihat dokter axel sedang berbicara via telephone dan menyebut nama jeny.

__ADS_1


Dokter axel mengangkat tanganya ke udara mengisyaratkan agar angel diam. Pria itu kemudian menutup sambungan telephone nya setelah berkata akan datang segera ke rumah jeny.


“Dokter..”


“Kamu siap siap sekarang yah.. Kita harus segera ke rumah pak tomy.” Sela dokter axel.


Angel langsung menganggukan kepalanya. Wanita cantik itu langsung berlalu dengan berlari agar dokter axel tidak menunggu lama. Angel sangat senang karna dokter axel selalu mengajaknya kemanapun dokter axel pergi.


Sedang dokter axel, pria itu menuju tempat kerjanya dan mengambil peralatan medis yang di milikinya. Dokter axel juga membawa beberapa obat untuk di berikan pada tomy nantinya.


“Dokter apa yang sebenarnya terjadi pada pak tomy?” Tanya angel lagi ketika dokter axel hendak menghidupkan mesin mobilnya.


Dokter axel menghela nafas. Jika pertanyaan angel tidak di jawab, wanita itu pasti akan terus mengulangnya seolah dokter axel adalah orang tuli. Tapi jika di jawab nantinya akan ada pertanyaan susulan yang membuat dokter axel malas menjawabnya.


“Ada kemungkinan pak tomy terkena racun dari pisau yang di gunakan pak lorenzo siang tadi.” Jawab dokter axel mulai melajukan mobilnya.


“Apa? Tapi bagaimana bisa?”


Dokter axel hanya mengedikan kedua bahunya pertanda tidak tau. Pria itu kemudian menambah kecepatan laju mobilnya begitu keluar dari gerbang kompleks hunianya.


“Dokter..”


Deringan ponsel dokter axel membuat angel berhenti berkata. Wanita itu meraih ponsel milik dokter axel yang ada di dashboard karna tau tidak mungkin dokter axel mengangkat telephone saat sedang mengemudi.


“Siapa?” Tanya dokter axel tanpa menoleh pada angel.


Angel hanya diam saja. Awalnya jika yang menelephone jeny angel berencana mengangkatnya. Tapi karna ternyata leo yang menelephone angel merasa enggan.


“Pak leo..” Jawab angel pelan.


Dokter axel mengeryit. Leo menelephone pasti karna ingin menanyakan tentang kondisi angel. Tapi dokter axel merasa heran karna sepertinya angel tidak menyukai leo.


“Tolong angkat yah..”

__ADS_1


“Nggak mau.”


__ADS_2