
Hubungan susan dan jeny semakin membaik seiring berjalanya waktu. Jeny bahkan telaten belajar memasak dengan susan. Sampai akhirnya jeny bisa menguasai bidang yang sangat ingin di kuasainya itu.
“Masak apa istriku?”
Jeny tersentak saat tiba tiba tomy memeluknya dari belakang.
“Ck, kamu ngagetin aja by..” Decak jeny pelan.
Tomy tersenyum mendengarnya. Pria itu merasa sangat senang karna istrinya sudah bisa melakoni bidang yang menurutnya sangat susah itu. Dan itu tentu saja karna susan adiknya. Sebulan ini susan begitu rajin dan tidak pernah absen mengajarkan jeny memasak.
“Aku lagi masak sop buntut by.. Kamu tungguin di meja makan aja sana..”
Bukanya melepaskan pelukanya, tomy malah semakin mengeratkan pelukanya di perut jeny.
“By..”
“Aku mau nemenin kamu masak sayang..” Balas tomy sambil menciumi tengkuk istrinya.
“Ya tapi jangan begini dong by.. Kamu bantuin aku aja siapin wadah atau itu pindahin nasinya..”
Tomy tersenyum menatap dapur yang sangat berantakan karna ulah istrinya. Jeny memang sudah pandai memasak, namun sepertinya jeny belum pandai dalam membenahi sesuatu.
“Oke sayang..”
Tomy melepaskan pelukanya. Namun sebelum itu tomy lebih dulu mencium pipi chuby istrinya.
“Faraz sama siapa by?” Tanya jeny yang terus mengaduk sop dalam panci besarnya.
Tomy menoleh pada istrinya. Jeny pasti sangat kewalahan meskipun memang itu adalah kemauanya sendiri.
“Faraz lagi main sama mbak sisi sayang. Makanya aku gantiin mbak sisi buat bantuin kamu sekarang.”
Jeny tersenyum mendengarnya. Jeny memang tadi menyuruh sisi dan bibi untuk mengerjakan yang lainya sementara dirinya memasak. Bukan sok pintar, jeny hanya ingin bisa menyuguhkan hasil masakanya sendiri pada tomy.
Setelah sop nya matang jeny langsung menuangkanya pada wadah yang sudah di siapkan oleh tomy. Setelah itu dengan di bantu oleh suaminya jeny membawa hasil masakanya ke meja makan.
“Akhirnya selesai juga. Aku udah nggak sabar pengin nyobain sop buntutnya sayang..” Kata tomy.
Jeny terkekeh pelan. Berkat ketelatenan susan jeny bisa memasak. Dan jeny sedikit merasa bersalah karna sempat berprasangka buruk pada adik iparnya sendiri.
“Duduk by..”
Tomy mengangguk. Pria itu kemudian memberikan piringnya pada jeny. Tomy benar benar merasakan bertubi tubi kebahagiaan saat ini.
“Makasih sayang..” Senyum tomy.
__ADS_1
“Sama sama by..” Balas jeny.
Jeny dan tomy makan malam dengan di selingi canda tawa. Mereka berdua bahkan sesekali saling menyuapkan makanan satu sama lain.
“Seneng banget ya bi liat ibu sama bapak..”
Bibi yang berdiri di samping sisi tersenyum dan menganggukan kepalanya setuju. Jeny dan tomy memang sudah seharusnya bahagia dengan cinta yang mereka miliki.
“Ya si.. Kita beruntung memiliki majikan yang baik dan sangat pengertian seperti mereka.”
Sisi mengangguk. Selama bekerja di rumah itu tomy dan jeny memang tidak pernah memarahinya. Tomy dan jeny juga sangat menghargainya meskipun status bibi dan sisi hanya seorang asisten rumah tangga di rumah itu.
5 Tahun kemudian.
“Mamah sayang !!”
Pekikan faraz membuat jeny menolehkan kepalanya. Jeny tersenyum mendapati putranya yang baru turun dari mobil dan langsung menghampirinya masuk ke dalam kliniknya.
“Jagoan mamah sudah pulang..”
Jeny menutup buku besar berisi daftar nama para pasienya. Wanita itu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan mencegat putranya sedang berlari menghampirinya.
Faraz langsung menyalimi jeny dan memeluk perut rata wanita cantik yang telah melahirkanya itu erat.
“Seperti biasanya mamah. Sangat menyenangkan.” Jawab faraz tersenyum mendongak menatap wajah cantik sang mamah.
Tomy yang saat itu baru turun dari mobilnya langsung menyusul faraz dengan masuk ke dalam klinik istrinya. Pria itu tersenyum ketika mendapati istri dan putranya sedang mengobrol ringan.
“Ah ya mamah, faraz punya sesuatu untuk mamah..”
Faraz langsung melepaskan pelukanya pada jeny dan melepas ransel di punggungnya. Faraz membuka ranselnya dan mengeluarkan sekuntum mawar merah yang sudah layu.
Jeny yang melihatnya tersenyum lebar. Faraz memang selalu memberikan sesuatu setiap pulang dari sekolahnya. Meskipun yang di berikanya hanya ikat rambut, gelang mainan, sandal rumahan, bunga dan sebagainya.
“Kali ini faraz nggak beli mamah.. Faraz memetiknya sama papah by di tepi jalan..” Cerita faraz.
Jeny langsung berlutut. Wajah putranya sangat tampan dan sama persis seperti wajah suaminya.
“Bunga yang cantik untuk mamah sayang yang paling cantik.” Kata faraz sambil menyodorkan sekuntum mawar merah layu di tanganya pada jeny.
Jeny tertawa geli. Faraz menirukan tomy dengan memanggilnya mamah namun di imbuhi kata sayang. Begitu juga pada tomy, yaitu memanggil tomy papah dengan kata by di belakangnya.
“Hahaha.. Kamu so sweet banget sayang. Makasih yah.. Mamah suka bunganya.” Tawa jeny menerima bunga yang di sodorkan faraz kemudian memeluk tubuh kecil putranya.
Faraz yang menyadari kehadiran tomy yang berdiri di ambang pintu klinik tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Tomy tersenyum dan ikut mengacungkan jempolnya. Usia putranya kini sudah berusia 5 tahun lebih 2 bulan. Selama itu pula tomy merasakan nikmat dan bahagianya hidup bersama orang orang yang di cintainya.
Di tempat lain, tepatnya di makam fani. Angel baru saja sampai di pusara putrinya. Sampai saat ini dirinya belum kunjung bisa mengingat apapun yang pernah di lakukanya pada putrinya. Meskipun rasa bersalah dan kehilangan terus merayapi hatinya tapi angel mencoba untuk terus melapangkan dada juga ikhlas menghadapi semuanya.
“Hy sayang..” Lirih angel tersenyum.
Angel berjongkok di samping makam putrinya. Di letakanya sebuket bunga lily yang di bawanya di depan nisan fani.
“Mamah mau cerita sesuatu sama kamu nak.. Hari ini mamah launcing produk terbaru di perusahaan kakek.” Lirih angel berbicara sendiri.
Setelah kepergian dokter axel angel memang memutuskan untuk mengambil alih perusahaan papahnya. Angel membangunya dengan susah payah selama 5 tahun ini hingga akhirnya perusahaan papahnya berkembang cukup pesat.
“Do'ain mamah yah.. Semoga apa yang mamah usahakan sekarang lancar dan terus berkembang..” Lanjut angel sambil mengusap lembut nisan putrinya.
Angel menghela nafas. Wanita itu tidak pernah bisa menghilangkan rasa bersalahnya. Meskipun memang angel tidak pernah bisa mengingat apapun tentang apa yang dia lakukan pada putrinya namun ucapan dokter axel yang mengatakan angel tidak pernah mengakui putrinya membuat angel tidak pernah bisa lupa dengan rasa bersalahnya.
“Mamah sangat sangat minta maaf sayang.. Meskipun memang mamah tidak bisa mengingatnya. Tapi mamah tau mamah sudah sangat berdosa sama kamu. Tapi kamu harus tau sayang. Mamah sangat menyayangi dan mencintai kamu.” Tangis angel.
“Semuanya sudah berlalu. Yang lalu biarlah berlalu. Aku yakin fani melihatnya sekarang. Dan dia bahagia melihat kamu yang kini perduli padanya.”
Angel menelan ludahnya mendengar suara yang sangat tidak asing di telinganya. Tanpa lebih dulu mengusap air matanya angel mendongak.
“Dokter..” Lirihnya saat mendapati sosok tegap dokter axel berdiri tepat di sampingnya.
Pria tampan dengan kemeja biru muda serta celana hitamnya itu tersenyum sangat manis dengan membawa sebuket bunga di tanganya.
“Hy.. Apa kabar?”
Dari kejauhan leo melihat semuanya. Pria itu menatap sebuket bunga yang di genggamnya. Sampai sekarang harapan itu masih ada di hatinya. Harapan agar bisa kembali merajut kehidupan bersama angel. Namun sepertinya tuhan tidak menggariskan takdirnya untuk kembali bersama angel. Tapi sebaliknya, angel justru kembali di pertemukan dengan dokter axel. Mantan kekasih yang pernah di sakitinya.
Leo menghela nafas. Pria itu kemudian memutar tubuhnya dan melangkah berlalu dari tempatnya berdiri. Leo tidak mau mengganggu pertemuan antara angel juga dokter axel. Karna sejatinya leo juga tau mereka masih memiliki perasaan indah itu.
Deringan ponsel membuat leo urung membuka pintu mobilnya. Leo segera merogoh saku celananya dan mengangkat telephone yang ternyata dari mommy nya.
“Ya mom..”
“Cepat pulang. Rachel sudah datang.”
Tut tuttt
Leo menghela nafas pelan. Mungkin mengikuti kemauan kedua orang tuanya saat ini adalah pilihan yang terbaik untuknya.
Leo kemudian masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari parkiran pemakaman umum itu dengan kecepatan sedang.
______________________THE END____________________
__ADS_1